[Vignette] Of A Burnt Cake and A Wish

1472113532740

OF A BURNT CAKE AND A WISH

.

Family, Slice-of-life, Hurt-comfort || Vignette || General

.

Starring
Day6’s Dowoon, OC’s Yoon Sharon

.

“Setidaknya kamu harus tiup lilin. Tak usah dimakan kuenya juga tidak apa-apa. Ya?”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

Specially made to celebrate Dowoon’s 23rd (Korean age) b’day

.

I own the plot and the OC

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Tanggal 25 Agustus adalah tanggal yang selalu ditunggu-tunggu Yoon Dowoon dalam sepanjang tahun. Dahulu ketika kecil, setiap jam 12 subuh kedua orang tua serta kakak perempuannya akan masuk ke kamarnya, membangunkannya dari alam mimpi, memaksanya menyibak selimut di tengah malam yang dingin, lalu bersama-sama akan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun sambil bertepuk tangan. Suasana malam yang hening dan damai mendadak meriah. Biasanya setelah itu Dowoon kecil akan diminta untuk melipat tangan dan menutup mata, mendoakan apa yang menjadi keinginannya selama setahun ke depan serta bersyukur untuk setahun yang telah lewat. Berikutnya, masih dengan setengah mengantuk Dowoon akan meniupkan napas keras-keras, memadamkan lidah api yang menari-nari pada lilin, lalu disambut dengan tepuk tangan meriah.

Tradisi itu berangsung setiap tahun, bahkan Dowoon belajar bagaimana berpura-pura tidur agar ia tidak perlu terlalu terkejut saat keluarganya mulai datang memberi kejutan.

Sampai lima tahun lalu, saat ia mulai tinggal di sebuah apartemen, hanya dengan kakak perempuannya. Kakak yang terpaut dua tahun darinya. Kakak yang cuek, acuh, yang menganggap ia ada dan tiada. Kakak perempuan yang terlihat sibuk dengan dunianya sendiri. Sharon Yoon nampaknya tak peduli jika adiknya sudah pulang atau belum, sudah makan atau belum, apalagi apa yang Dowoon rasakan. Mungkin tak ada bedanya bila dibandingkan andai-andai Dowoon tinggal sendirian tanpa sang kakak, selain tersedianya santapan di meja makan setiap pagi begitu pemuda itu terjaga dari lelapnya.

Bulan-bulan awal terasa menyiksa bagi Dowoon. Ia merindukan kehangatan rumahnya dulu. Sampai akhirnya lambat laun pemuda Yoon itu berhasil beradaptasi akan kesunyian apartemennya. Ia mulai mencari kesibukan sendiri, sementara Sharon asyik dengan kuliah arsitekturnya. Sibuk di luar rumah hingga lelah dan akhirnya keduanya bertemu di apartemen hanya untuk beristirahat. Hari berlalu tanpa ada interaksi antara dua kakak-beradik itu.

Bahkan Dowoon sudah lupa bagaimana rasanya ulang tahunnya dirayakan di tengah malam.

Sama seperti tahun ini.

Pagi tadi Dowoon terbangun dengan perasaan biasa-biasa saja, sampai akhirnya otaknya mengingatkan kalau hari ini adalah tanggal 25 Agustus, dan itu membuat hatinya sedikit mencelos. Ia menghela napas panjang, merutuki kenyataan. Untuk apa diingatkan? Toh pada akhirnya tak akan ada yang peduli. Dowoon bukanlah attention seeker yang akan mengatakan pada seluruh dunia kalau ini adalah hari ulang tahunnya lalu membuat dunia gempar. Tidak. Biar saja orang lain yang mengingatkan. Kalau ada yang mengucapkan selamat, syukur. Tidak ada juga tidak apa-apa.

Walau jauh dalam lubuk hatinya, ia ingin setidaknya satu orang peduli.

Dowoon menguap, mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang masih melayang, lalu merajut langkah menuju ruang makan. Begitu membuka tudung saji, dwimaniknya membola sejenak ketika menyadari keberadaan semangkuk kecil sup rumput laut di antara panganan lainnya.

Bibir Dowoon mengulas senyum tipis. Oh, seseorang rupanya ingat akan ulang tahunnya.

***

Sore harinya …

Dowoon menekan bel pintu apartemen untuk ketujuh kalinya. Ia mendecakkan lidah. Seharusnya pada jam ini kakak perempuannya sudah berada di rumah. Biasanya hanya butuh maksimal dua dentingan bel dan pintu berwarna abu-abu itu akan dibukakan.

Namun ini sudah menjelang menit ke lima belas sejak ia tiba di depan pintu apartemennya dan belum ada tanda-tanda pintu tersebut akan terbuka. Dowoon mengulurkan tangan ke arah kenop pintu, lalu sedikit terkejut ketika menyadari bahwa ternyata pintu itu sama sekali tidak terkunci. Dengan kening yang mengernyit ia melangkah memasuki kediamannya.

Tadinya Dowoon hendak langsung ke kamar, berganti pakaian. Namun matanya tahu-tahu menangkap sosok kakaknya yang tertidur di sofa. Dowoon menghampiri, ingin membangunkan, namun tak tega. Dowoon tahu akhir-akhir ini Sharon Yoon kurang tidur akibat menyelesaikan satu proyek pembangunan dari kantornya. Meski begitu, Sharon masih menyempatkan diri untuk menyiapkan sarapan pagi untuknya. Dowoon menyelipkan helaian anak rambut Sharon di belakang telinga. Senyumnya terukir. Sharon Yoon, kakak perempuan yang cuek, tapi Dowoon tahu dalam hatinya sebenarnya Sharon menyayanginya.

Dowoon bangkit berdiri, kali ini benar-benar berniat hendak berganti pakaian, namun sebuah bebauan aneh yang menusuk indra penciumannya mengurungkan niatnya. Keningnya kembali mengernyit. Ia mulai menganalisis bau menusuk tersebut. Hangus, terbakar, gosong …

ASTAGA!

Setengah berlari pemuda bergaris Yoon itu menuju ke dapur. Benar dugaannya. Di dapur ia menemukan oven dengan asap mengelilingi. Bergegas Dowoon mengambil sarung tangan dapur, dan dengan cekatan membuka tutup oven, mengeluarkan loyang berisi kue yang mulai menghitam, lalu menutup kembali oven tersebut. Diletakkan loyang panas itu di atas meja makan dengan lap meja sebagai alasnya. Dowoon mengibaskan tangan beberapa kali, membantu proses pendinginan kue hangus tersebut.

Begitu asap dari kue mulai berkurang, Dowoon kembali menghampiri sofa di mana kakaknya masih berbaring. Dengan lembut ditepuknya bahu kakaknya pelan. “Kak ….“

Tak ada jawaban. Sharon masih dengan mata terpejam dan irama napas yang damai.

Dowoon mencoba sekali lagi, kali ini diikuti dengan guncangan bahu yang agak keras. “Kak Sharon ….“

Berhasil. Gadis itu menggeliat, kemudian sebelah matanya terbuka. “Hmm?”

“Kue di oven gosong.”

Empat frasa tersebut mampu mengembalikan seluruh kesadaran Sharon, membuat obsidian gadis itu terbelalak lebar dan seketika ia duduk dengan punggung menegak. Ditatapnya sang adik dengan mata membulat. “AKU TIDUR BERAPA LAMA?!” tanyanya panik.

Dowoon menggelengkan kepala. “Nggak tahu. Aku baru saja datang, Kak. Tadinya mau kubiarkan saja Kakak tidur lebih lama tetapi ternyata kue di oven hangus. Kue itu buatan Kakak?”

Sharon tidak menjawab. Tak mempedulikan rambut yang agak awut-awutan dan leleran air liur yang masih menempel ia bergegas berlari menuju dapur. Napasnya terasa lega sesaat begitu melihat kuenya telah diselamatkan dengan cukup baik di atas meja. Namun tetap saja, melihat permukaan kue yang menghitam, gadis itu kembali merengut. Sedih.

“Kueku … “ ratapnya.

Dowoon mengelus-elus punggung kakaknya. “Kakak capek banget, ya? Sampai tertidur saat menunggu kue matang?”

Gadis itu tak menghiraukan pertanyaan Dowoon. Sebaliknya, ia malah mengajukan pertanyaan lain. “Aku harus bagaimana, Dowoon-ah?”

Alis Dowoon terangkat. “Huh?”

Sharon berbalik, menatap iris adik yang lebih tinggi darinya itu lekat-lekat. “Tadinya kue itu untukmu. Untuk merayakan ulang tahunmu.”

Oh? Dowoon mengerjap beberapa kali, mencerna perkataan sang kakak. Sejak kapan kakaknya peduli akan hari ulang tahunnya? Kenyataan itu membuatnya mengulum senyum.

“Ya sudah, Kak. Tak usah pakai kue. Kita menyanyi saja kalau begitu. Atau mungkin Kakak akan mentraktirku makan di luar malam ini?”

Sharon tersenyum kecil, merasa terhibur. “Tapi aku sudah beli lilin, kok! Setidaknya kamu harus tiup lilin. Tak usah dimakan kuenya juga tidak apa-apa. Ya?”

Dowoon mengangguk. “Boleh.”

Sharon cepat-cepat menuju kulkas. Tepatnya di atas kulkas ia sudah menyiapkan lilin angka dua dan angka tiga. Dua puluh tiga, umur Yoon Dowoon tahun ini.

Sambil menancapkan lilin pada permukaan kue hitam tersebut, kenangan demi kenangan akan dirinya dan Dowoon mulai bermunculan di benak Sharon. Bagaimana rasa bahagia yang gadis itu rasakan ketika tahu bahwa ia akan punya adik, bermain sepeda bersama, hari di mana Sharon menangis karena rambut Barbie-nya digunduli oleh Dowoon, pembalasan dendamnya dengan merusakkan robot-robotan milik Dowoon, hari kelulusan sekolah menengah Dowoon, penampilan pertama pemuda itu sebagai drummer dari band-nya, dan banyak hal lainnya yang dulu terasa lalu begitu saja namun bila sekarang diingat kembali rasanya mengesankan.

Dowoon membantu kakaknya dengan menyalakan korek lalu mendekatkan api ke kedua sumbu lilin. Setelah itu Sharon mengangkat loyang hingga kue tersebut sejajar dengan dada Dowoon, dan tersenyum.

“Sebutkan keinginanmu,” ujarnya.

Dowoon menurut. Dipejamkannya kedua mata, sambil dalam hatinya ia mengucapkan harapannya untuk setahun ke depan. Tak lupa pula ia ucapkan syukur atas segala berkat yang telah ia alami selama ia hidup.

Selesai.

Dowoon membuka matanya, lalu meniup dua lilin tersebut keras-keras. Api padam, menyisakan sehelai kecil asap yang perlahan menghilang di udara.

Sharon meletakkan kue hangus tersebut di atas meja, lalu memeluk adiknya erat. Tawa kecilnya keluar ketika Dowoon balas memeluknya dan badannya yang mungil terasa tenggelam ketika dipeluk oleh sang adik.

“Selamat ulang tahun, Dowoon-ah … “ bisik Sharon.

.

.

.

=EPILOG=

“Dowoon-ah ….“

“Hmm?”

“Apa yang kau ucapkan tadi sebagai harapanmu?”

Dowoon menatap kakaknya dengan tatapan jenaka, membuat kakaknya salah tingkah.

“Ya, Kakak hanya penasaran … “ ujar Sharon akhirnya.

“Bukankah Kakak sendiri yang bilang kalau aku memberi tahu harapanku nanti harapanku ini tidak dapat menjadi kenyataan?”

“Ya sudah.”

Hening. Kedua kakak beradik itu sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Aku harap Kakak bisa membuat kue dengan benar.”

Eh? Memangnya masakanku tidak ada yang benar, huh? Yang kau makan tiap pagi itu apa?”

“Kue kak, kue.”

“Itu, kan, hanya karena aku ketiduran.”

“Baiklah … baiklah. Harapanku adalah supaya Kakak terus sehat selama menyelesaikan proyek di kantor Kakak. Jangan terlalu sering tidur larut malam, Kak.”

“Hanya itu? Untukmu sendiri?”

“Tidak ada. Tak terpikir, tepatnya. Aku hanya berpikir tentang Kakak tadi.”

Kata-kata tersebut membuat Sharon terharu.

“Terima kasih, Dowoon-ah.”

“Sama-sama, Kak. Semangat, ya!”

 

-fin-

Advertisements

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s