[Ficlet] In A Piece of Letter

PhotoGrid_1498610413462.png

IN A PIECE OF LETTER

.

Romance, Hurt-Comfort, Friendhsip || Ficlet || PG-13

.

Starring
[Seventeen] Joshua, [OC] Choi Eunha

.

“Untuk semuanya, maafkan aku.”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot and the OC.
Recommended background song:
If It was You
by Jung Seung Hwan

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Bukan sekali atau dua kali dalam kesendirianku aku berpikir, apa yang akan terjadi jika aku tak pernah bertemu dirimu? Akankah petak hidupku berubah? Akankah momen-momen yang kulalui menjadi berbeda? Akankah lebib banyak kebahagiaan yang kudapatkan daripada air mata?

Perjumpaan kita memang manis. Kau yang pertama menghampiriku, masuk ke kehidupanku dan memutuskan untuk membaur denganku. Kau tahu bahwa aku tak seperti gadis lainnya yang hidup dengan penuh tata krama; aku lebih sering mengandalkan instingku dan bertindak seenaknya. Kau tahu duniaku, keseharianku, warna-warniku. Dan kau terima semuanya dengan senyum. Kau tak keberatan ketika aku mengganggu rutinitasmu hanya demi celotehan tak penting yang tak dapat lagi kupendam sendirian. Kau tak menolak ketika aku tiba-tiba muncul dengan segudang kisah yang harus ditumpahkan saat itu juga. Kau juga tak pernah mengusirku ketika aku datang dengan mata berkaca-kaca dan dada sesak. Saat itu kau segera membuka tangan dan membiarkan aku menghambur ke pelukanmu.

Kita berbagi hidup. Berbagi kisah. Berbagi suka dan duka. Berbagi tangis dan tawa. Senyuman dan air mata. Perbincangan kita tak ada habisnya. Kau menceritakan kisahmu dan aku merespons dengan ceritaku. Bertukar pengalaman dan pelajaran hidup. Saling membagikan prinsip, motto, serta visi dan misi. Sama-sama menceritakan impian serta cita-cita, pun saling mendoakan.

Sahabat. Itu yang sering kita katakan. Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi saudara dalam kesukaran. Hubungan yang indah dan manis. Tangan yang saling menggenggam saat berjalan bersama, tawa yang mengudara saat melihat sesuatu yang lucu, dan juga senyum yang terukir di bibir kita masing-masing. Bahagia. Merasa dengan adanya sahabat sudah cukup untuk menghadapi pergumulan dunia.

Dulu kita bahagia. Dulu kita gembira.

Sampai perasaan itu datang.

Aku tak tahu kapan tepatnya rasa itu muncul. Aku tak lagi dapat melihatmu seperti dulu. Aku tak lagi dapat menggenggam tanganmu tanpa merasakan apapun. Aku tak lagi dapat menatap matamu atau bertukar pembicaraan denganmu tanpa membuat jantungku berdegup tak keruan. Aku yang cerewet melebihi burung beo menjadi pendiam layaknya koala setiap melihatmu. Kata-kataku hilang pun pikiranku kosong. Pipiku otomatis memanas begitu melihatmu tersenyum.

Ada apa? Apa yang terjadi denganku?

Orang bilang aku jatuh cinta, tetapi berkali-kali aku menepis pemikiran tersebut. Tidak, tidak mungkin. Kau dan aku hanyalah sahabat. Layaknya saudara kembar yang menjalani keseharian bersama. Kita terlalu sering membagi pergumulan serta saling menguatkan. Itu sebabnya perasaan ini tumbuh. Perasaan membutuhkan dan merindukan.

Tetapi, tampaknya mereka benar. Aku berubah. Aku tak hanya rindu akan presensimu setiap saat, tetapi juga menjadi cemburu bila kau berbincang dengan wanita lain. Perasaan melayang akibat sikapmu terhadapku makin menjadi-jadi, padahal itu adalah perbuatan yang biasa kau lakukan padaku sehari-hari. Aku tak lagi leluasa untuk berbicara padamu seperti dahulu. Aku cenderung menyimpan banyak rahasia darimu, tak bisa bebas mengutarakan isi hatiku sepenuhnya. Mengapa? Aku takut. Takut kalau-kalau perasaan terpendam ini tak sengaja terucap dan kemudian merusak kedekatan kita. Membuat kita menjadi canggung satu sama lain dan menjauh. Hubungan kita berangsur renggang.

Aku takut.

Satu sisi aku memang tak ingin kau tahu perasaanku yang sebenarnya. Biar saja, setidaknya persahabatan dan kedekatan kita tidak terpecah dan aku masih bisa menghabiskan waktu denganmu. Tetapi di sisi lain, aku ingin kau paham tentang rasa yang kusimpan. Ingin rasanya kau bisa menerka isi hatiku. Tahu bahwa aku menyimpan rasa terhadapmu. Mengerti bahwa di sini ada seorang gadis yang telah terbuai oleh sikapmu.

Seiring waktu berjalan, aku pun disadarkan bahwa hubungan kita tampaknya akan terus seperti ini. Bersahabat. Dekat. Ada untuk satu sama lain saat dibutuhkan. Kedekatan layaknya seorang saudara kembar. Aku senang, sekaligus sedih. Perasaan ini tak terbalas. Kau memang memperlakukanku dengan manis, dengan spesial, dengan istimewa. Tetapi itu tak berarti kau juga menyerahkan hatimu untukku, ‘kan? Bukan berarti kau juga merasakan apa yang kurasakan, benar?

Kurasa selama ini kau hanya menganggapku sebagai adik kecil yang manis dan penurut.

Berat rasanya hanya dapat memendam perasaan ini sendirian. Apakah begitu sulit untuk menerka perasaan orang lain? Apakah begitu sulit untuk membalas rasa seorang gadis yang menyukaimu?

Bayangkan jika kau ada pada posisiku. Apa yang akan kau lakukan? Apa yang akan kau perbuat ketika ditempatkan pada hari-hari yang terasa gila ini? Apakah kau akan tetap tersenyum atau tertawa seperti sekarang?

Orang bilang jatuh cinta akan membuat bahagia. Tetapi mengapa aku tidak merasa demikian? Sebaliknya, air mataku harus tertumpah banyak akibat rasa yang tak dapat kucegah datangnya ini. Mengapa?

Maaf jika akhir-akhir ini aku kerap menghindarimu, terus-menerus menyembunyikan diri dari pandanganmu atau melarikan diri dari presensimu. Sejujurnya, hatiku sakit bila terus melihatmu. Aku bisa gila jika bertemu denganmu. Itu sebabnya aku lari, bersembunyi layaknya pengecut, tanpa peduli bahwa rupanya kau merindukan keberadaanku.

Walau tak bisa dipungkiri aku pun tersiksa atas keputusanku sendiri. Aku harus menahan rindu yang menyesakkan terhadapmu.

Sekali lagi, maaf untuk rasa tak tertahankan yang mengacaukan persahabatan kita. Maaf untuk menyukaimu, maaf untuk tak memberitahumu sebelumnya.

Mungkin suatu hari akan tiba kembali saat di mana aku bisa melihatmu tanpa merasakan apapun dan menganggapmu hanya seperti sahabat. Sampai saat itu tiba, kumohon maafkan aku.

***

Sebenarnya bukan maksud Joshua untuk mencampuri urusan orang lain. Tetapi orang lain ini adalah Choi Eunha yang ia temukan sedang tertidur dengan lelapnya di perpustakaan kampus, dengan wajah tertelungkup di atas meja. Buku-buku tebal serta beberapa catatan materi kuliah tersebar di sekitarnya. Plus beberapa remasan kertas.

Joshua penasaran akan bola-bola kertas tersebut. Mungkin untuk orang lain ia tak akan berani lancang untuk membuka remasan kertas itu. Namun, ini adalah Choi Eunha, sahabat tempatnya berbagi cerita hingga rahasia. Tak ada hal yang disembunyikan di antara mereka. Oleh sebab itu Joshua bisa mengambil dan membuka remasan kertas tersebut tanpa rasa bersalah.

Tetapi, begitu ia selesai membaca, ia tertegun. Joshua tak menyangka bahwa Choi Eunha bisa menulis sebuah surat – mungkin lebih tepatnya pengakuan – yang menyayat hati. Setiap kata demi kata yang tertulis terasa menggema baik di hati maupun telinganya.

Joshua mendapati dirinya bertanya-tanya, untuk siapa surat tersebut dituliskan?

Apakah untuk dirinya?

Tidak mungkin. Choi Eunha yang cuek bagai laki-laki tak mungkin bisa jatuh cinta padanya.

Tetapi bila ditilik dari setiap frasa yang tertulis, ini seperti menceritakan hubungan serta pengalaman-pengalaman baik dirinya dan Eunha.

Joshua bimbang pun galau. Sambil memijat pelipis, ia mencoba menenangkan perasaannya yang bergejolak.

Haruskah ia membangunkan gadis itu sekarang dan meminta konfirmasi?

Tidak. Tidak perlu.

Joshua pun meremas kembali surat tersebut dan meletakannya di atas meja, persis di tempatnya semula. Ia bangkit berdiri, mengelus kepala Eunha lembut untuk beberapa saat, dan pergi meninggalkan perpustakaan.

Ia memutuskan untuk tidak tahu-menahu soal surat tersebut dan akan tetap memperlakukan Eunha seperti biasa.

Karena, sejujurnya, ia pun tak tahu apa yang ia rasakan terhadap gadis surai kecoklatan tersebut.

.

“Do you know that I’m becoming more ruined
a
s I look at you?”
–If It was You (Jung Seung Hwan)

-fin-

A/N

Finally aku bisa kambekin Josha aaaaaa rasanya seneng banget gitu bisa membangunkan mereka kembali setelah menelantarkan(?) mereka untuk sejenak.. maaf ya… aku akan mulai telaten ngurus kalian lagi kok 🙂

Anyway, mind to review? 🙂

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] In A Piece of Letter

  1. Kakce tanggung jawab soalnya aki juga baper :”””””’) Tolong itu suratnya dikondisikan tolong dakuh gk kuat T_T Jojo juga minta dipites, masa si Eunha sampe nulis banyak frasa tentang mereka tapi dianya masih kagak peka??? Setiap aku baca ff mu tentang Josh-Eunha tuh rasanya si Jojo emang kebangetan enggak pekanya xD Kakce, apakah ini puncaknya??? Kalau bisa si Eunha dikasih ff kayak gini terus aja kak, biar Josh entar gk kepikiran dua cewek yaitu aku dan Eunha //lalu dibalang sapu dan cikraknya sekalian//

    Nice fic kakce ❤ ❤ Teruskan kisah mereka sampai Eunha lelah dan memutuskan untuk bunuh diri //diculek kakce//

    Like

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s