[Vignette] Cocanophilia (Serenade’s Side)

Processed with VSCO with a2 preset

COCANOPHILIA

.

Alterate-Universe (AU), Romance, Angst || Vignette || PG-17

.

Starring
ex-Produce 101 S2 (Brand New Music Ent. Trainee)
Kim Donghyun, ninegust‘s OC Serenade Im

.

WARNING!
Children underage unallowed. Parental guidance. Read wisely.

.

© 2017 by Gxchoxpie & thehunlulu

.

We only own the plot
.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Suasana kampus sudah sepi. Sore itu, kulihat Donghyun sedang berjalan terburu-buru meninggalkan kampus. Namun, sebelum sempat sampai di gerbang, aku lekas mencegatnya. Ia menoleh dan menatapku tidak suka. Terlihat jelas bahwa ia menghindariku.

“Donghyun-ah! Tunggu!”

Aku masih menahan pergelangan tangannya, tetapi ia terus berusaha untuk melepaskan diri. Ekspresinya panik bagai orang ketakutan. Donghyun terus melawanku, berjuang untuk pergi, tetapi aku tetap menahannya.

“Sebenarnya ada apa dengan dirimu?!” tanyaku langsung. “Apakah ada hubungannya dengan jawabanku beberapa hari yang lalu?”

Kepalanya yang tertunduk pun mengangkat sedikit, seraya tatapan menusuk itu mulai menyerang penglihatanku. Satu sisi hatiku perih melihat Donghyun yang beda dari biasanya. Dulu Donghyun adalah pria dengan tatapan teduh dan senyum manis yang menenangkan. Tetapi, sejak konfesinya beberapa hari yang lalu, semua berubah. Ia menjadi pria yang dingin dan ketus.

“Aku tak mau bertemu denganmu lagi,” tukasnya akhirnya, dengan penekanan pada setiap kata. Air matanya berlinang.

“Tapi ini tidak normal, Kim Donghyun!” balasku sarat emosi. “Sebenarnya ada apa?! Oke, aku minta maaf atas penolakanku padamu beberapa hari yang lalu, tetapi bukankah kita sudah berjanji untuk tetap menjadi sahabat? Tidak menjadi pacarmu bukan berarti aku akan meninggalkanmu seterusnya, Donghyun-ah. Berhenti bertindak kekanak-kanakan atau bersikap aneh seperti ini.”

Donghyun hanya bungkam, tak berani menatap mataku.

Setelah kuperhatikan, sejak tadi ia mendekap ransel hitamnya erat, membuat kuriositasku sedikit tergelitik. “Apa yang kau sembunyikan dalam ransel itu?” tanyaku pelan.

Donghyun buru-buru mendekap tasnya lebih erat lagi. “Bukan apa-apa,” sahutnya ketus lantas berbalik berusaha meninggalkanku. Namun, aku bukan gadis yang percaya begitu saja pada kata-katanya. Aku sudah mengenal Donghyun cukup lama untuk tahu kapan saat dia berdusta, kapan saat dia jujur.

Sekuat tenaga kucoba merebut tas ransel itu dari dekapannya. Terjadi aksi tarik-menarik sejenak, sebelum tas ransel hitam corak abu-abu itu terjatuh ke tanah, dan membuatku terkejut begitu melihat isinya yang bertumpahan.

“Donghyun-ah … kau … pakai – “

Sahabatku itu buru-buru menunduk dan lekas membereskan jarum suntik, bungkusan pil serta serbuk putih yang kini berserakan, sementara aku masih terpaku tak mempercayai penglihatanku. Ketika ia berdiri, tatapan menusuk itu kembali menghujam irisku.

“Aku hancur, Ren!” serunya. “Kau boleh pikir itu hanyalah sebuah penolakan biasa, tetapi tidak untukku yang telah menganggap bahwa kau adalah segalanya! Persetan dengan masih bisa menjadi sahabat! Memang, kita bersahabat. Tetapi akan tiba saat di mana kau lebih mencintai kekasihmu dibandingkan sahabatmu. Ini hanyalah masalah waktu! Cepat atau lambat kau pasti akan meninggalkanku, ya ‘kan?!”

Aku terkejut dengan rentetan kalimatnya. Tidak. Aku sama sekali tidak punya maksud demikian. Itu hanya kesimpulan Donghyun sendiri; hasil kesimpulan yang ia buat dengan mental tidak stabil.

“Donghyun-ah … aku – “

“Lupakan,” potongnya. Ia mengambil langkah mundur. “Mulai hari ini, urusi kehidupan kita masing-masing. Jangan pernah temui aku lagi.”

Kemudian ia berbalik dan menjauh dariku.

Aku tak lagi dapat menahan air mata serta rasa sesak yang telah bersarang di dada. Sambil berjongkok di tengah lengangnya halaman kampus, aku menangis tersedu-sedu. Kutumpahkan semua perasaanku bersama air mata yang keluar.

Aku tak bermaksud untuk menyeret Donghyun ke dalam keputusasaan, apalagi sampai menemui jalan hidup kotor. Bukan ini yang kuinginkan ketika menolak cintanya. Aku memang menyayanginya; bagaimanapun ia adalah sahabatku sejak kecil. Tetapi, haruskah sebuah penolakan cinta berakhir dengan depresi yang glia?

***

Kepenatanku akhir pekan itu dalam menyelesaikan laporan praktikum tiba-tiba terusik dengan sebuah dering telepon dari ponsel. Oh, bukan hanya sebuah, karena ketika aku mencoba mengabaikannya, ponsel itu kembali berdering lagi dan lagi. Menebak bahwa itu adalah sebuah panggilan penting, akhirnya kuputuskan untuk menunda pekerjaanku barang beberapa menit dan menjawab deringan tersebut.

Rumah Donghyun. Demikian identitas yang tertera di layar ponsel.

Yeoboseyo?”

“Nona Im!” Suara di ujung telepon berseru, setelah itu menangis tersedu-sedu. “Tolong aku …. Tolong aku ….”

Dari suaranya, aku tahu bahwa ini adalah suara Nam ahjumma, perempuan paruh baya yang selama ini tinggal di rumah Donghyun dan mengurus pemuda itu sejak ia kecil. Ahjumma sudah berperan layaknya ibu Donghyun sejak kesibukan yang kerap menyita orang tuanya dan membuat Donghyun amat jarang bertemu dengan mereka. Ahjumma juga mengenalku dengan baik.

Aku heran dengan suara tangisan beliau. Ada apa? Apa yang terjadi?

“Donghyun …. Donghyun ….”

“Ya? Ada apa dengan Donghyun, Bi?”

Butuh satu tarikan napas panjang sebelum beliau bisa kembali menjawab. “Sejak kemarin malam hingga sekarang ia tidak keluar kamar. Bibi takut terjadi sesuatu dengannya ….”

Keningku mengernyit. Kalau ini terjadi pada masa-masa dulu, mungkin aku masih bisa lebih tenang. Donghyun tak akan berbuat sesuatu yang mencelakakan dirinya. Tetapi, setelah obat-obatan itu mulai merusak mentalnya sekarang, siapa yang tahu apa yang dia lakukan sendirian di ruangan terkunci begitu?

“Bi, tunggu. Aku akan segera ke sana,” pungkasku akhirnya.

***

Melalui cerita Ahjumma aku tahu bahwa ini bukan pertama kalinya Donghyun mengurung diri di kamar. Bahkan beliau juga mengakui kelakuan Donghyun akhir-akhir ini sangat aneh dan betul-betul berbanding 180 derajat dari yang dulu. Aku paham kekhawatiran perempuan paruh baya tersebut, tetapi tak ingin menceritakan kebenarannya. Aku takut beliau akan tambah sedih.

Mendobrak pintu kamar adalah suatu hal yang mustahil, mengingat di rumah ini hanya ada aku dan Bibi Nam yang sama-sama wanita. Akhirnya kucoba cara lain. Beruntung, jendela kamar Donghyun tidak dikunci dan aku pun memutuskan untuk bertindak layaknya maling dan menyelundup masuk ke kamar yang gelap tersebut. Sebuah bau menusuk menyambut kedatanganku.

Ketika aku berhasil menemukan saklar lampu di pojok kamar dan menyalakan satu-satunya sumber cahaya tersebut, terlihatlah oleh netraku sebuah pemandangan yang sama sekali tidak ingin kulihat. Putaw, sabu-sabu, suntik, botol, dan berbagai pil-pil lainnya yang tak kuketahui jenisnya berserakan di lantai. Donghyun sendiri tergeletak di lantai, di sudut lain kamar, sambil sesekali mengerang. Segera kuhampiri ia dan kupeluk dirinya erat. Ia hanya menatapku dengan tatapan hampa.

Aku menangis. Badannya begitu kurus. Matanya cekung dan penuh lingkaran hitam. Ia benar-benar menjadi Donghyun yang lain dari yang kukenal. Hatiku hancur melihatnya seperti ini.

Hari itu, kuputuskan untuk menemani dia seharian. Kubersihkan semua barang-barang haram yang tertinggal di kamarnya – bahkan aku sampai membongkar lemari serta lokernya untuk menemukan semua obat-obatan yang ia punya. Aku membuang semuanya. Donghyun harus bebas dari lingkaran setan ini. Mungkin ini akan menyakitkan di awal, tetapi ia harus sembuh.

Di tempat sampah, kutemukan selembar foto yang tampak telah diremas. Rupanya itu adalah foto yang kami ambil berdua di menara Namsan. Kami berdua sama-sama tersenyum lebar saat itu. Namun, sepertinya Donghyun telah mencorat-coret bagian wajahku dengan tinta merah. Aku menghela napas. Ia pasti sangat sakit hati ketika melakukannya.

Semua ini membuatku bertanya-tanya: sebesar apa rasa cinta Donghyun padaku? Apakah salah aku menolaknya? Apakah aku menghancurkan kehidupannya hanya dengan satu kata tidak?

***

Bel pintu apartemenku berdering tepat saat aku hendak mengangkat sunny-side-up-ku dari teflon. Bel pintu itu sepertinya ditekan berulang kali, membuatku gemas pada entah siapa pun yang berkunjung tersebut sebab ia terlihat tak sabar. Sambil merengut aku melangkahkan tungkai ke arah pintu rumah.

Hampir saja kusemburkan amarahku pada tamu tersebut kalau saja aku tidak melihat siapa yang kemari. Kim Donghyun. Lengkap dengan tatapan menusuknya.

“Donghyun-ah ….”

Ia maju beberapa langkah dengan gestur mengintimidasi, membuatku otomatis mundur dengan takut. Menelan ludah, aku pasrah dengan apapun yang akan ia lakukan padaku pagi ini.

Apakah ia marah? Ya Tuhan, semoga Donghyun bisa mengerti alasanku membuang barang-barang tersebut ….

“Belum cukup kau mengganggu hidupku?! Sekarang, bahkan dengan puing-puing kebahagiaan yang tersisa, kau masih mau merebutnya kembali daripadaku?! Bukankah sudah kubilang untuk tidak muncul lagi di hadapanku atau tak menemuiku lagi?!”

“Donghyun-ah, aku hanya – “

“PERSETAN!”

Demi Tuhan, sekarang ia bahkan main fisik! Tangan yang dulu sering merangkulku saat sedih, tangan yang sama pula ia gunakan untuk mendorong bahuku amat keras bahkan hingga aku jatuh terduduk di lantai. Aku tak kuat lagi untuk menahan tangis.

“Tak usah basa-basi. Sekarang katakana padaku DI MANA KAU MENYIMPAN SEMUA BARANG-BARANGKU!”

“Kim Donghyun. Aku ini sahabatmu. Aku tidak rela melihatmu hancur seperti ini. Sahabat mana yang mau membiarkan sahabatnya terjerumus dalam lingkaran setan yang tak ada ujungnya? Please, Donghyun-ah. Sangat tidak masuk akal kalau kau sampai menghancurkan hidup serta masa depanmu hanya karena seorang gadis, hanya karena cinta ….”

“Omong kosong!” Ia bahkan hampir menamparku kalau aku tidak menghindar. “Aku tidak peduli. Kenyataannya adalah aku hancur karena dirimu! Karena kau menolakku! Semuanya sudah berakhir, Rena-ya. Semuanya sudah berantakan. Aku sudah terjerumus, dan tanpa barang-barang itu aku bisa mati!”

“Biar saja kau mati! Itu lebih baik dibandingkan melihatmu tersiksa saat sakau!” Aku meninggikan nada suara akibat emosi yang bertumpuk.

Ekspresi wajah Donghyun berubah mendengar kata-kataku yang terakhir. Tatapan menusuknya pun tergantikan dengan tatapan yang tak dapat kuterjemahkan artinya. Ia memang tersenyum, tetapi aku benci melihat senyum tersebut.

Well, kalau memang lebih baik aku mati ….”

“Hyun-ah, bukan begitu maksudku ….”

Ia lekas berdiri dan beranjak dari apartemenku tanpa berkata sepatah kata apapun. Aku menitikkan air mata.

“Hyun-ah, asal kau tahu, kau masih sahabatku! Aku masih menyayangimu!” Demikian teriakan terakhirku di lorong sebelum ia berbelok.

Dan tahu-tahu aku diliputi firasat tidak enak.

.

.

.

DHUAAARRKKK!! THIIIIINNN!!! THIIIIINNNN!!!!

Kelengangan siang hari itu tiba-tiba terpecahkan oleh suara tabrakan yang amat keras di depan apartemenku. Aku buru-buru berlari menuju lokasi kejadian. Orang-orang sudah berkerumun di sana.

“Mobil biru itu yang menabrak!”

“Ya, sepertinya mobil biru itu sengaja menabrak truk tersebut!”

Aku betul-betul penasaran. Dan ketika aku tiba di tempat kejadian perkara, apa yang kutakutkan pun terjadi.

Itu adalah mobil Donghyun.

“DONGHYUN-AH!!!” Aku histeris, apalagi begitu melihat tangannya yang terkulai keluar dan sudah setengah terbakar. Aku mencoba untuk menyelamatkannya; mengeluarkannya dari mobil dan memeluknya erat, tetapi para warga menghalangiku karena takut mobil itu akan meledak.

Jadi … inikah yang Donghyun maksud lebih baik mati?

Bukan, bukan Donghyun yang mengucapkannya, tetapi aku.

BODOH!

Percuma menangis sekeras apapun bahkan hingga mengeluarkan darah dari mata. Tak ada yang bisa kulakukan untuk menyelamatkan Donghyun.

Ini konyol! Hanya karena cinta, persahabatan kami hancur, bahkan seseorang harus merelakan nyawanya. Apakah memang tak ada persahabatan murni antara lelaki dan wanita? Apakah semua pertemanan indah harus berakhir tragis seperti ini?

To be Continued

A/N

Syok? Ya, kami mengerti. *ketawa saiko ala Bapak Jaehwan*

Advertisements

5 thoughts on “[Vignette] Cocanophilia (Serenade’s Side)

  1. ahh kalian menyuruhku buka blog untuk ini kyaaaaaaaa

    Aduh gatau nih harus bilang apa yang jelas aku seneng soalnya ada yang debutin rena sama donghyun /nangis/ Sek kok ini aku kebawa suasana ya, jadi pengen meluk donghyun asik wkwkwkwk

    Donghyun sebesar itukah putus asa jika dirimu ditolak cewek hyun yaallah, hshshdjsjsiejjej lucu:-( aku nungguin yang donghyun side dannnnnnnnnn TERIMAKASIH MOM DONNA AKU SAYANG KALIAN

    TAPI GAK LEBIH DARI DONGHYUN /pulang

    Like

  2. Pingback: Cocanophilia (Donghyun’s Side) – SPARQUARIUS

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s