[Vignette] Preguntando

preguntado-by-littlejungg.png

PREGUNTANDO

.

Friendship, Dystopia, Drama || Vignette || PG-13

.

Starring
ASTRO’s Eunwoo
and the rest of ASTRO’s members

.

“Bagaimana kalau ternyata ini adalah hari terakhir kita?”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot. Credit poster to littlejungg @ poster

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Pulau Jeju pada sore musim panas itu terasa sejuk. Mentari malu-malu memancarkan sinarnya dibalik gumpalan kapas langit, membuat cahayanya tak terlalu terik. Angin sepoi-sepoi bertiup, membuat ranting-ranting pohon melambai, mengibarkan rambut, memberikan hawa sejuk pada udara sekitar.

Dengan tangan yang terentang lebar Cha Eunwoo memejamkan mata, menikmati sensasi tiupan angin sore yang menerpa wajahnya. Suara deburan ombak di kejauhan menghampiri liang telinganya. Setiap kali ombak bergulung ke tepi pantai, Eunwoo dapat merasakan hangatnya air laut yang merendam pergelangan kaki.

Hoii Eunwoo!” seru seseorang dari kejauhan sana. Dari suaranya Eunwoo dapat mengetahui bahwa itu adalah teriakan MJ – pemuda Kim yang meminta dipanggil berdasarkan inisial namanya. Eunwoo tersenyum. Benaknya seketika merangkai skenario bahwa sebentar lagi MJ yang iseng akan mengusilinya dengan cipratan air laut.

PYASH!

Benar saja. Dalam rentang waktu dua detik, cipratan air laut mulai menghujani wajah putih Eunwoo, memaksanya untuk menghentikan aktivitas menikmati-musim-semi tersebut. Pemuda bergaris Cha itu pun tertawa.

“Hentikan … ” pintanya seraya tangannya berusaha melindungi diri dari serangan air laut berikutnya. “MJ, hentikan ….”

Bukannya berhenti, cipratan-cipratan air laut itu malah makin ganas mengenai wajahnya, kali ini diiringi dengan tawa geli. Oh, suaranya berbeda dengan suara yang menyerukan nama Eunwoo tadi.

“Sanha?” terka Eunwoo, menyebutkan nama teman termudanya.

Ah, ketahuan rupanya ….” Kali ini terdengar gerutuan kecil Sanha, yang disambut dengan tawa lepas Eunwoo. Segera pemuda itu menghampiri sahabatnya yang berambut cokelat keriting dan menepuk pundaknya.

“Makanya, jangan iseng menjahili hyung-mu seperti itu,” ujar Eunwoo sembari mengacak rambut Sanha. Pemuda Yoon itu hanya merespon dengan bibir yang mengerucut, membuat Eunwoo makin gemas. “Uh … imutnya … ” ujar Eunwoo lagi.

Melalui ekor matanya, Eunwoo dapat menangkap bayangan Rocky dan MJ yang sedang berlari ke arahnya. Meski dengan tungkai yang berjingkat-jingkat akibat harus melewati air laut, namun tak ayal senyum ceria tetap terpampang di bibir mereka. Walau dengan baju serta rambut yang sudah basah kuyup oleh air laut, namun tak ada sedikit pun ekspresi lelah atau kedinginan yang terlihat.

Rocky sampai terlebih dahulu. Ia memberikan sebuah tinju kecil pada perut Eunwoo, lalu berkata, “Kau terlihat seperti orang yang hendak menenggelamkan diri ke laut, hyung.”

Eunwoo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Benarkah?”

MJ mengangguk tegas.

“Tidak, kok … ” sanggah Eunwoo. Digelengkannya kepala kuat-kuat. “Aku hanya sedang menikmati sejuknya angin laut yang bertiup,” jelasnya sambil tersenyum manis. “Omong-omong, di mana Jinjin dan Moonbin?”

Tuh.” Sanha menunjuk seseorang yang sedang berjongkook di tengah lautan, dengan bagian pinggang ke bawah terendam air. “Biasa, Jinjin hyung sedang mencari kepiting.”

Sejenak Eunwoo dan Rocky terkikik. “Kalau Moonbin?” tanya Eunwoo lagi.

“Membeli es kelapa.”

“Untuk kita?”

“Tentu saja!” sahut MJ yang disambut dengan sorakan gembira dari ketiga temannya. Untuk sepuluh detik berikutnya, ketiga sahabat itu menari-nari dalam formasi melingkar dengan tangan yang saling menggenggam. Ketiganya menyanyikan La la la dengan nada yang tidak jelas, nada yang saling bertabrakan, dan rasanya tak menghiraukan aduhan yang keluar dari bibir MJ karena cipratan air laut yang mengenai wajahnya. Melihat kelakuan tiga kawan yang lebih muda darinya itu, MJ hanya bisa menggelengkan kepala.

Di tepi pantai sana, Moonbin berteriak memanggil mereka berlima – termasuk Jinjin yang sedang asyik dengan kepiting. Tanpa perlu dikomando ulang lima orang itu segera berlari menghampiri pemuda bermarga asli Park tersebut, tak peduli meski harus kembali berjingkat-jingkat melewati air laut. Bayangan akan es kelapa yang manis serta segar membuat keenam sahabat itu bersemangat.

Keenam pemuda itu membaringkan diri di atas pasir yang hangat nan lembut. Sesekali menegak es kelapa, merasakan sensasi air manis yang menuruni kerongkongan. Lalu berteriak dan tertawa ketika Sanha mulai menjahili hyung-hyung-nya dengan memasukkan potongan es ke dalam pakaian.

Ah, such a beautiful day,” gumam Eunwoo seraya mengangkat tangan ke kepala sebagai bantalan. “Cuaca cerah, angin segar, ombak yang menawan, dan es kelapa. Bukankah ini adalah musim panas terbaik, Rocky?”

I know, right?” balas Rocky dengan mata yang tak lepas dari langit biru.

“Tapi ….” MJ menggeser posisi berbaringnya mendekati Eunwoo. Kepalanya menoleh menatap sahabatnya itu lekat-lekat. Ekspresi khawatir tergambar jelas di wajahnya.

“Bagaimana kalau ternyata ini adalah musim panas terakhir kita?”

***

“TIDAAAAKKK!!! KUMOHON JANGAN TINGGALKAN IBU!!!”

Suara teriakan sangat keras yang diikuti dengan tangisan yang meraung-raung dari seorang ibu memaksa Moonbin terbangun dari tidur tidak nyenyaknya. Tangannya bergerak untuk mengucek kedua mata. Ketika perutnya kembali bergemuruh meminta diisi, serentetan gerutuan muncul di hatinya. Demi Tuhan, kalaupun ia tidak dapat makanan, tak bisakah setidaknya ia tidur dengan tenang?

Belum ada yang berubah sedikit pun sejak bencana tsunami yang melanda Jeju lima hari yang lalu. Tenda pengungsian masih penuh, memaksa setiap penghuninya untuk tinggal seadanya. Tidur hanya beratapkan terpal beralaskan tikar, harus berterima kasih pada ramen yang selama ini setia mengisi kekosongan perut mereka. Setiap hari setidaknya satu nyawa harus pergi, sehingga suara tangisan dan raungan bukanlah hal yang asing di telinga. Jangan tanya soal rumah atau harta-benda, intinya aktivitas berbagai insan di pulau Jeju terhenti sudah.

Moonbin memutuskan untuk meninggalkan tenda pengungsiannya yang pengap sejenak. Mungkin mencari udara segar. Bagaimana pun Jeju masih mempunyai pantai yang senantiasa memberi angin sejuk, walau pemandangan di sekitar yang amat rusak rasanya bagai mengurungkan niat pemuda itu.

“Hei, Moonbin-ah!

Seruan itu menarik atensi Moonbin yang sedang menatap nanar mobil hitam yang terbalik. Dilihatnya sosok Rocky yang melambaikan tangan padanya, seolah menyuruhnya untuk cepat menghampiri. Moonbin melangkahkan tungkai-tungkai mendekati sahabatnya beberapa meter di depan itu.

“Ada apa?” tanya Moonbin, membaca ekspresi khawatir serta ketakutan di wajah Rocky.

“Eunwoo hyung ….”

Moonbin teringat akan pemuda Cha yang kemarin dibawa ke tenda medis karena sesak napas akut. Bagaimana keadaannya sekarang? “Ada apa dengan Eunwoo hyung?” tanyanya panik.

Rocky tidak menjawab. Ia menarik lengan Moonbin, menyeret pemuda itu menuju tenda medis.

Pertanyaan Moonbin terjawab sudah begitu melihat Sanha yang terisak di samping tempat tidur Eunwoo. Pandangan Moonbin mengarah pada Eunwoo, yang sedang terbaring dengan netra terbuka dan senyum manis terukir. Ingin rasanya Moonbin memukul kepala pemuda itu dan berkata, “BERHENTI SENYUM-SENYUM SETELAH MEMBUAT KAMI KHAWATIR!”

“Dia belum meninggal, ‘kan?” tanya Moonbin pelan saat menghampiri Jinjin, yang hanya direspon dengan gelengan kepala.

“Tapi sejak tadi ia mengatakan hal yang aneh-aneh,” sambung MJ. “Hyung bilang ia melihat surga terbuka dan kedua orang tuanya menunggu di sana.”

Pernyataan itu sukses membuat tenggorokan Moonbin tercekat.

Hyung ….” Moonbin mengguncang bahu Eunwoo. Hatinya mendadak terasa sesak begitu menatap pipi Eunwoo yang tirus dan wajahnya yang pucat. “Bangun. Jangan begini terus. Kau ‘kan janji suatu hari akan mengajak kita berwisata ke Seoul. Kau belum menepati janjimu.”

Susah payah pemuda Cha itu menolehkan kepala. Ketika pandangan Moonbin bersirobok dengan manik Eunwoo, Moonbin hanya bisa menegak ludah.

“Oh, kau sudah di sini rupanya,” gumam Eunwoo serak. “Kalian sudah berkumpul semua, ‘kan? Aku bisa pergi dengan tenang kalau begitu.”

HYUNG!” seru Sanha, yang beberapa kemudian kembali terisak.

Eunwoo menarik napas panjang sejenak. “Aku senang mempunyai sahabat seperti kalian. Sahabat yang mau mengerti diriku, walau mungkin aku susah dimengerti. Maafkan aku mungkin sebagai yang paling tua secara tak sadar sering merendahkan kalian. Tapi ketahuilah, aku menyayangi kalian semua seperti adikku sendiri. Meski selama ini aku tinggal tanpa orang tua, tetapi bersama dengan kalian aku bagai mempunyai keluarga baru.”

Begitu Eunwoo memejamkan mata sambil kembali menarik napas dengan susah payah, air mata Moonbin menetes. Sahabatnya itu pun melanjutkan, “Musim panas ini, aku senang telah menghabiskannya dengan kalian. Mungkin lebih tepatnya aku senang menikmati setiap musim bersama kalian, tetapi menurutku musim panas inilah yang paling mengesankan untukku. Walau kemarin adalah musim panas terakhirku, tetapi tak sedikit pun aku menyesal.”

“Jangan kalian menangis ketika aku pergi. Lagipula suatu hari kelak kita bisa bertemu kembali. Aku hanya pergi sejenak menyusul orangtuaku. Berjanjilah padaku bahwa kalian akan membantu untuk membangun Jeju kembali. Dan jika suatu hari kalian merindukanku,” Eunwoo menatap kelima sahabatnya satu per satu yang sudah meneteskan kristal bening. “Datanglah ke tepi pantai. Bermainlah seolah aku ada di sana bersama kalian.”

Perlahan manik Eunwoo menutup. Begitu napas terakhirnya terhembus dan kepalanya terkulai ke sebelah kiri, lima pemuda itu menangis keras-keras, berteriak dengan suara yang terdengar amat memilukan hati. Berpasang tangan mengguncang pemuda Cha itu, mencoba membangunkannya. Nihil. Eunwoo tetap saja berbaring dengan mata yang terpejam dan ranum merah yang mengukir senyum tipis.

Cha Eunwoo pergi meninggalkan lima sahabatnya.

***

Kilas balik, dua minggu sebelum peristiwa tsunami.

“Bagaimana kalau ternyata ini adalah musim panas terakhir kita?”

Eunwoo menerawang. Benaknya membayangkan apa yang terjadi kalau gempa bumi datang dan meluluhlantakkan pemukiman mereka. Membayangkan apabila dirinya terseret air laut dan tak akan pernah kembali.

“Tak apa,” balas Eunwoo dengan senyum. Ia tetap bersikap tenang. “Setidaknya aku tidak akan merasa menyesal. Mengapa? Karena aku telah menghabiskan musim panas terakhirku bersama kalian.”

 

-fin-

Advertisements

One thought on “[Vignette] Preguntando

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s