[Ficlet-Mix] It’s Okay

PicsArt_06-11-10.10.54.jpg

IT’S OKAY

.

Hurt-Comfort || Ficlet-Mix || General

.

Starring
ex-Produce 101 S2 (Yuehua Ent. Trainee)
Lee Euiwoong

.

Also read
thehunlulu’s || ninegust’s

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

.

I only own the plot

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“I actually lied to you. You also know that it’s not okay. You know my whole heart.”
–I’m Okay (Kim Na Young – Ruler: Master of the Mask OST)

.

[1]

Habis sudah air mataku untuk menangis. Terkuras sudah seluruh emosiku sebab rasa gundah yang menyesakkan. Aku lelah, baik secara fisik maupun pikiran. Sejak kemarin malam mentalku tidak stabil. Padahal bukan aku yang mengalaminya. Aku hanya sebagai penonton; penonton bodoh yang membiarkan perasaannya diombang-ambingkan oleh acara yang terkenal kejam itu. Dan inilah akibatnya: isakan yang terus memohon dikeluarkan meski aku sudah tak punya tenaga.

Kemarin malam kami sekeluarga sepakat untuk menutup toko tiga puluh menit lebih cepat dari jadwal. Oh, ini adalah tradisi keluarga kami setiap hari Jumat, dimulai sejak sekitar tiga bulan yang lalu. Biasa kami sekeluarga akan lekas pulang, membersihkan diri dan beres-beres, kemudian berkumpul di ruang keluarga kami yang meski kecil namun nyaman. Sambil meringkuk di sofa, fokus kami bertiga – aku dan kedua orangtuaku – penuh pada layar televisi. Menanti saat-saat Lee Euiwoong, bungsu kami tampil.

Kami sudah agak jarang bertemu dengan dia, omong-omong. Sejak ia memutuskan untuk menjadi trainee di salah satu agensi, kami jarang berkomunikasi. Ia masih menghubungi, tetapi hanya sekali-kali, sekadar untuk menanyakan kabar dan meyakinkan kami bahwa ia baik-baik saja.

Karena itu, ketika kami mendengar bahwa ia mengikuti sebuah acara survival di televisi, kami amat gembira. Amat sulit bertemu dengannya secara langsung, setidaknya kerinduan kami akan terobati dengan melihatnya di layar kaca. Lagipula, ini adalah sebuah batu loncatan yang baik untuk meraih cita-cita sejak kecilnya.

Meski, terkadang agak kusesali, kemunculannya di televisi cukup jarang dibandingkan beberapa peserta yang lainnya. Tetapi melihatnya tersenyum membuat kami senang. Ia bahagia.

Hingga kemarin malam.

Well, salahkan tabiatku yang agak tidak sabaran, aku membuka semua SNS-ku untuk mencari kabar bagaimana hasil eliminasi kali ini. Euiwoong kami sudah melakukan yang terbaik dan ia masih bisa lolos dari dua kali eliminasi – sebuah hal yang membuatku bangga padanya. Terkadang aku ingin menanyakan kabarnya, apakah ia menjalani harinya dengan baik, apakah ia masih bisa lolos. Tetapi aku yakin Euiwoong yang baik akan merahasiakannya. Aku gemas, karena itu aku memutuskan untuk mencari kabar dari sumber lain.

Sumber mengatakan bahwa kali ini peringkat Euiwoong termasuk rendah, dan ia tidak lolos. Bukan hanya satu sumber, melainkan sumber lainnya. Aku memutuskan untuk tidak memercayainya. Aku tahu, Euiwoong cukup baik hingga bisa menarik hati para produser nasional. Tak sehari pun aku lupa untuk memilihnya di situs acara tersebut. Tidak mungkin. Ini hanya rumor; kebenarannya belum bisa dibuktikan. Seperti eliminasi-eliminasi sebelumnya, ia pasti lolos.

Jumat kemarin aku menonton dengan perasaan cemas. Seraya atensi tak teralih sekali pun dari layar, selaksa doa dalam hati kuucapkan.

Sayangnya, semua rumor itu benar.

Perjuangan bungsu kami di acara itu harus berakhir sampai di sini.

Dan malam itu kami bertiga habiskan dengan penuh uraian air mata, serta saling merangkul erat.

Akibat kemarin malam tidak tidur dengan baik, hari ini aku tak ubahnya dengan zombie. Zombie bermata sembab. Kerjaku hanya duduk, melamun, sesekali mengecek ponsel apakah Euiwoong menghubungi atau tidak, kemudian terpaku dengan tatapan kosong. Tak ada selera makan, tak ada gairah hidup. Yang kuinginkan sekarang hanya mendekap kecilku itu erat.

Tok tok tok

Ibu sedang sibuk di dapur dan ayah sedang pergi ke toko. Otomatis aku yang harus membuka pintu. Dengan tanpa tenaga kuseret tungkaiku menuju pintu rumah.

Dan, coba tebak, siapa yang mampir ke rumah siang bolong ini?

Lee Euiwoong. Lengkap dengan cengirannya.

“Hai, noona.” Ia bahkan masih sempat menyapa.

Babo ya!” adalah respons pertamaku begitu melihat pemuda enam belas tahun yang masih kuanggap bocah ini. Kupukul pundaknya berkali-kali, meski dengan pukulan tanpa tenaga.

“Kenapa tersenyum, eoh?! Kenapa tidak bilang kalau kau tereliminasi? Kenapa kau tidak pulang sejak kemarin-kemarin lalu menangis bersama kami? Kenapa baru sekarang pulang dengan masih memasang senyum?!”

Ia menunduk. “Maaf, noona. Aku gagal.”

Sontak kutarik dia dalam dekapanku. Saat itulah isakannya keluar. Punggungnya bergerak naik turun dan cengkramannya di bagian belakang bajuku terasa kuat.

“Berhenti bersikap terlalu dewasa, Woong-ah. Berhenti menyembunyikan semua kesedihanmu sendirian. Berhenti menjadi anak yang sok riang padahal hatimu pilu.”

Ia masih menangis.

Kuelus surai hitamnya perlahan. Rambutnya masih sama; lembut ketika dibelai. Caranya mencengkram bajuku pun masih sama. Kunikmati setiap momen dengannya. Ini adalah saat-saat terbaik untuk melepas rindu yang membuncah.

Saat itu pula kubulatkan tekad. Aku akan mendukung Euiwoong untuk mencapai impiannya. Menjadi seorang entertainer adalah cita-cita Euiwoong sejak kecil, bahkan sejak ia masih merupakan seorang bocah penurut yang taat ketika diminta untuk menjaga toko. Aku tahu, Euiwoong bukanlah pemuda yang mudah menyerah.

Woong-ah, ayo, gapai impianmu. Jangan menyerah. Noona akan selalu mendukungmu. Noona akan selalu berada di sisimu sampai suatu hari kau bisa tampil di panggung dengan senyum lebar khasmu.

== 000 ==

[2]

Hari ini adalah hari eliminasi ketiga. Sejujurnya aku sudah cukup lelah dengan semua permainan perasaan plus tenaga yang jelas-jelas menguras pikiran ini. Jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin pulang. Ingin kembali merasakan kehidupanku yang normal tanpa tekanan dan ketidakpastian yang terus menerus menghantui.

Namun, ketika dipikir ulang, mengingat bahwa ini adalah langkah awal yang baik untuk menggapai impianku, dan toh aku sudah hampir sampai, kurasa aku masih bisa bertahan sedikit lagi.

Kami semua berkumpul di back stage, menunggu ruangan eliminasi dibereskan. Ruangan ini penuh dengan 35 kontestan yang juga diliputi perasaan campur aduk. Pikiran akan apakah kami harus pulang atau diizinkan lanjut terus membayangi kami. Kami coba mengabaikannya dengan bercengkrama satu sama lain, melontarkan lelucon, tertawa, atau setidaknya merapikan penampilan. Hitung-hitung, kegiatan kami ini direkam dan akan ditampilkan pada para produser nasional. Kalau kami bisa menghibur mereka, mengapa tidak?

Walau itu semua tak mampu menghapus gundah di hati kami.

Kuedarkan pandangan sekeliling, mencari satu-satunya teman seagensiku yang tersisa. Tiga teman kami yang lain tereliminasi saat ronde kedua, meninggalkan perasaan sesak di hati sekaligus beban pada pundak. Dengan tereliminasinya mereka, diharapkan kami berdua bisa melanjutkan perjuangan mereka hingga ke babak akhir.

Oh, dia di sana. Sedang duduk agak memojok sambil memainkan buku jari.

“Woong-ah!”

Ia menoleh dan otomatis tersenyum. Tak usah cengar-cengir, aku tahu kau gugup, begitu kataku dalam hati. Tetapi tak ayal kubalas pula senyumannya.

Ia memberi sebuah tinju ringan pada pundakku seraya aku meletakkan bokong persis di sebelahnya. “Takut?” pancingku.

Euiwoong menggeleng.

Ck. Dusta.”

Teman yang kini kuanggap adik kandungku itu tertawa. “Hyung sendiri?”

“Hmm … sedikit. Tetapi kita harus yakin bahwa kali ini kita akan selamat. Benar, ‘kan?”

Ia mengangguk sebagai respons.

Seorang staf wanita memberi tahu bahwa tiba saatnya kami masuk ruangan. Lagu Me, It’s Me dimainkan, sementara kami masuk dengan pose masing-masing. Aku dan Euiwoong mencoba membuat pose seimut dan selucu mungkin.

Kami duduk bersebelahan, dan Euiwoong tidak berhenti menggenggam tanganku. Kurasakan tangannya yang dingin serta gemetaran.

Semua peserta telah masuk ruangan. Musik ceria berganti dengan musik menegangkan, seakan menambah parah ketegangan yang terlebih dulu ada di hati kami. Aku benci suasana ini. Suasana ketidakpastian.

Hyung, aku belum mau pulang sekarang,” lirih Euiwoong. Aku menoleh dan mencoba memberikan senyum menenangkan sebaik yang kubisa. “Aku juga, Woong-ah.”

BoA seonsaengnim masuk. Kami semua berdiri dan memberi tepuk tangan.

Kemudian, momen menakutkan itu kembali dimulai.

Dimulai dengan pembacaan peserta dengan peringkat sembilan belas hingga dua belas. Aku harus puas dengan peringkat empat belasku. Dari kursi nomor empat belas kulihat Euiwoong yang masih duduk di kursi peserta. Wajahnya lesu.

Woong-ah! Jangan patah semangat dulu! Mungkin rank-mu kali ini tinggi!

Setelah istirahat untuk beberapa saat, pembacaan rank dilanjutkan. Aku sudah mulai was-was ketika peringkat enam dibacakan, tetapi nama Euiwoong belum juga disebutkan. Gelombang ketakutan menghadangku.

Akankah Euiwoong tereliminasi?

Tidak. Ia pasti terpilih, ujarku dalam hati sambil menggelengkan kepala.

Saat peserta lain dipanggil, aku mencoba untuk tersenyum, senang, dan bertepuk tangan. Tetapi sebenarnya hatiku ada pada Euiwoong. Ia masih duduk di sana, memasang cengiran yang kutahu palsu, berbanding terbalik dengan suasana hatinya.

Sayangnya, bahkan sampai peringkat pertama disebutkan, nama Euiwoong pun tak jua disebut.

Setengah harapanku pupus sudah.

Oh! Seketika mataku tertumbuk pada kursi nomor dua puluh yang belum terisi. Meski itu peringkat terakhir, tetapi, berarti Euiwoong masih punya kesempatan, ‘kan?

Ia sudah menunduk sejak tadi. Aku paham benar perasaannya. Ia pasti takut, bercampur sedih. Aku frustrasi karena tak ada yang dapat kulakukan mengingat kami kini sudah berbeda posisi. Ingin rasanya aku berlari meninggalkan kursiku dan langsung mendekapnya erat. Tetapi itu tak mungkin kulakukan ditengah proses recording acara. Jadi, yang dapat kulakukan hanya mengulurkan tangan, berharap bahwa aku dapat menggapainya.

Sekarang pembacaan peringkat 35 hingga 22. Setelah itu ada dua orang yang tersisa untuk peringkat 21 serta dua puluh. Sengaja dipisahkan; itulah yang membuat acara semakin menarik.

Sayangnya, Euiwoong mendapat peringkat 23. Cukup tinggi, tetapi tak mampu untuk membuatnya bertahan.

Sementara ia menunduk, kutatap ia dengan sedih. Pandanganku perlahan kabur oleh air mata. Demi dorm-ku yang tampak seperti kapal pecah, haruskah aku merelakan seorang lagi dari agensi kami untuk pergi? Haruskah aku melepas kepergian satu lagi anggota keluargaku?

Kemudian Euiwoong mendongak, dan pandangan kami bertemu. Ia masih sempat menyunggingkan senyum, walau kutahu matanya pasti basah.

Ingin kutoyor kepalanya saat itu juga. Kalau perlu kutempeleng habis-habisan. Jangan tersenyum, bodoh! Menangislah! Untuk apa tersenyum padaku? Baik perasaanku maupun perasaanmu akan tambah hancur!

Setelah menyampaikan salam terakhir pada produser nasional, cepat-cepat kuhampiri Euiwoong dan kupeluk dia erat. Ia langsung menangis di pelukanku. Ia mencengkram bajuku erat. Tangisannya tumpah.

Sejatinya, aku sebagai hyung harus tegar agar mampu memberikan dia kata-kata penghiburan. Tetapi apa daya, aku pun sama sedihnya dengan dia. Aku pun tak rela melepas ia pergi, seperti ia pasti tak rela menerima hasil eliminasi ini.

Seobi hyung, aku takut … “ isaknya.

Tak ada yang mampu kuberikan selain tepukan berkali-kali di pundak serta punggungnya.

“Kau harus bekerja keras, hyung,” ucap Euiwoong akhirnya setelah tangisnya mereda. “Tinggal kau yang tersisa. Kau harus debut. Kami akan selalu mendoakan dan mendukungmu.”

Aku mengangguk. Kujadikan itu tekad bulat yang kupatrikan dalam hati. “Pasti, Woong-ah. Pasti.”

Woong-ah, kau telah bekerja keras. Semua keringat dan air matamu pasti akan terbayar. Istirahatlah kau untuk sejenak, untuk menyongsong masa depan yang kita yakini pasti akan jauh lebih baik.

.

“I’m okay. I’m really okay. It doesn’t feel hurt.
But when I tried hard to smile, I can’t.”
–I’m Okay (Kim Na Young – Ruler: Master of the Mask OST)

 

-fin-

A/N

Nontonin acara eliminasi emg nguras air mata, emosi, sama pikiran ya?
Sekian

Salam jinjja yerobun.

Advertisements

10 thoughts on “[Ficlet-Mix] It’s Okay

  1. “Hyung, aku belum mau pulang sekarang,” lirih Euiwoong.

    ini….kenapa…? ada apa ini…? hatiku….kenapa?

    saya gabisa komen apa2 lagi, waktu lagunya kuputer terus nikmatin kalimat demi kalimat itu berasa nonton trailer film sedih kak. serius.

    terus juga makin sedih waktu mereka itu jelas2 hatinya hancur tapi masih maksa buat senyum, padahal sekali peluk langsung pecah 😥 😥

    aaaaaaa saya gatau kudu komen gimana kak, intinya ini nyatu banget sama lagunya. makasih. ung, jangan putus asa yaa, jalanmu mungkin bukan di produce, masih banyak jalan yg terbuka lebar buat kamu lalui ❤ jangan patah semangat ung-ah!!!

    Liked by 1 person

    • semacam kek backsound backsound perpisahan gitu ya…. aku jg nangis dengernya sama baca ficnya…
      tbh ini lagu yg kudengarkan jg pas baca fic guanlinmu makanya aku lgsg ambyar haha
      iya kenapa masih maksain senyum astaga.. padahal hati perih gitu…
      makasih udah mampir saayyy

      Like

  2. Ah Ce tolong 😦

    Ini ngebaperin banget huhuhuhu YUEHWA boys yang nyisa cuma si Hyungseop kamu harus debut Cup karena kamu membawa mimpi teman-temanmu juga:(

    Pengen meluk both Euiwoong dan Hyungseop dan bilang terima kasih gitu. Yang satu makasih karena udah kerja keras, yang satu makasih karena udah bertahan. Kalian semua hebat aku menyayangi kalian:’)

    Buat Ung, ini bukan akhir dari segalanya, tapi baru awalnya aja. Jalanmu masih panjang nak, sekarang waktunya pelan-pelan menapak di jalan itu sampe nanti kamu ada di puncak okeeeh ❤

    FFnya keren Ce, aku sukaaa

    Liked by 1 person

    • in the end he didn’t make it too (cri sekebon)
      aaaaa but terkesan dengan perjuangan mereka, kerja keras mereka, senyum dan penampilan yang udah mereka berikan selama ini yaaaa (beserta para peserta lainnya tentunya)
      menunggu debutnya yuehua boys aja ah kalo kangen mereka dyv hahahaha thanks udh mampir 🙂

      Like

  3. waahhhhh ga ga ga bisa kakkk…. Kak ini kok aku jadi ngerasa kita ada hubungan batin? Tau ga kak aku tuuu juga udah nyiapain buat euiwoong :3 tapi lagi setengah jalan :’) waahhh kemaren yang bilang cari pijual lagi, aku juga pas banget.. :3

    Dann… Aaaaaaaaaaaaaa sial :3 aku rindu euiwoong :3 ga mau ga mau… Aaaaaaa 💔💔

    wis kak mbuh ah aku dadi inget ekspresi euiwoong lagi :3 miris aku nontonnya….

    :’)

    Liked by 1 person

    • aku jg rindu wiwung dif… otoke…
      gpp2 bentar lagi yuehua boys debut ya (menghibur diri sendiri) jd kalo kangen ntar lagi mereka debut yha kmrn jg dia sm ucup v-live kok yawlaah imut bgt hwhwhwhw thanks udh mampir difaann 🙂

      Liked by 1 person

  4. Pingback: It’s Okay – S K Y B L U E

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s