[Oneshot] Forget Me Not

1496381652716

FORGET ME NOT

.

Friendship, Sad, Tragedy || Oneshot || PG-15

.

Starring
ex-Produce 101 S2 (Star Road Ent. Trainee) Takada Kenta,
OC’s Adachi Yuri

.

Based on prompt by Dyvictory
“I don’t want to be friends with you anymore.”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot and the OC. Big thanks to ayshry for the moodboard

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Truk besar yang terparkir di seberang rumah masih menjadi fokus Adachi Yuri saat ini, meninggalkan sejenak PR Matematika yang sejak tadi sedang ia kerjakan. Dari balik jendela rumah ia menatap orang-orang yang lalu-lalang, sibuk memindahkan barang dari truk kuning tersebut ke dalam rumah berpagar cokelat di seberang; dari mulai perabot hingga koper.

“Yuto-kun!” panggil Yuri pada kembarannya yang sedang asyik dengan PSP. “Sepertinya kita punya tetangga baru!”

Yuto hanya melirik sejenak ke arah jendela, kemudian tenggelam kembali pada dunia awalnya.

Seorang anak laki-laki terlihat keluar dari rumah, kemudian berdiri di samping kotak pos dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kedua tangannya dimasukkan pada kantung jaket abu yang ia kenakan. Yuri menyipitkan mata agar bisa melihat sosok pemuda itu dengan lebih jelas.

Ketika secara tak sengaja Yuri menangkap senyum tipis yang disunggingkan lelaki tersebut, Yuri tak dapat menahan kedua sudut bibirnya untuk tak terangkat.

Tampan, batinnya.

Menuruti kata hati, Yuri pun mengambil keputusan untuk menghampiri pemuda tersebut. Berkenalan dengan tetangga baru tak ada salahnya, kan?

Mengabaikan seruan Yuto, Yuri pun segera bergegas menuju rumah seberang.

“Hai!”

Bahkan Yuri tak keberatan menjadi pihak pertama pembuka konversasi. “Kalian baru pindah kemari?”

Anak lelaki itu tak menyahut. Sebaliknya, ia hanya memandang Yuri bingung.

“Ah, perkenalkan,” Yuri mengulurkan tangan. “Namaku Adachi Yuri. Panggil saja Yuri. Rumah kita berhadap-hadapan.”

Namun, balasan pemuda itu sungguh di luar dugaannya.

“Maaf, tapi aku tak mau berteman denganmu.”

***

Satu hal yang perlu disyukuri, Yuri bukanlah orang yang mudah menyerah begitu saja. Baginya penolakan bukan halangan, malah sesuatu yang makin menarik kuriositasnya untuk mencari tahu lebih informasi orang tersebut. Beruntung, kedua ibu mereka akhirnya berkenalan dan tampaknya mulai berteman baik, sehingga Yuri mempunyai kesempatan untuk menjalin relasi dengan pemuda tersebut.

Namanya Kenta. Takada Kenta, lengkapnya. Usianya terpaut tiga tahun dari Yuri. Hasil dari pengamatannya diam-diam, lelaki ini mempunyai senyum yang manis, walau tak pernah sekali pun menunjukkannya langsung di hadapan Yuri.

Meski kerap kali kedatangan dan segala kata-katanya diabaikan oleh Kenta, tetapi Yuri tak pernah menyerah. Ia terus mengajak pemuda itu bercakap-cakap, tak peduli mendapat sahutan atau tidak.

“Kau punya sepeda?” tanya Yuri.

Kenta hanya menoleh dan menatap gadis itu datar.

“Kenta-san, kau punya sepeda?”

Mungkin jengah karena terus ditatap minta jawaban dari gadis itu akhirnya pertahanan Kenta pun luruh. Dagunya pun diarahkan menunjuk ke arah garasi, tempat ia menyimpan sepeda gunungnya.

Sebenarnya Yuri tak masalah kalau harus bermain sepeda sendirian, selama ia yakin bisa menjaga diri agar tidak terjatuh dan terluka. Sebab terluka sedikit sudah merupakan bencana baginya. Namun, di luar dugaanya, pemuda Takada itu ternyata mengekorinya, meski tetap menjaga distansi beberapa meter. Yuri berpikir mungkin Kenta ingin memastikan bahwa sepedanya baik-baik saja.

“KENTA-SAN! KEMARI!” Yuri melambaikan tangan.

Meski telah dipanggil, tetapi Kenta tetap pada titik pijakannya.

Yuri menyunggingkan senyum jenaka. Diletakkannya telapak kaki pada pedal sepeda, kemudian dikayuhnya pedal tersebut kuat-kuat. Sepeda pun melaju pesat, membelah jalan kompleks yang hening di senja hari.

Sesekali Yuri menengok ke belakang. Kurva jenakanya semakin lebar melihat Kenta yang tampak kewalahan berlari untuk mengejarnya. Yuri pikir ini akan menjadi sesuatu yang menarik.

Walau lagi-lagi tanpa konversasi, tetapi gadis itu berhasil mengukir sebuah memori baru hari ini.

***

Hari ini Yuri kembali ikut ibunya berkunjung ke rumah Kenta untuk membagi sedikit udon kuah kari ayam buatan beliau. Seperti biasa, sementara kedua ibu asyik berbincang di ruang tamu ditemani dua cangkir ocha hangat dan kue-kue kecil, Yuri yang merasa sudah dekat dengan keluarga Takada tersebut langsung melangkahkan kaki masuk ke bagian tengah rumah.

Awalnya ia hanya mau mencari Kenta, meski ia sendiri tak yakin apa yang akan ia lakukan setelah ia bertemu pemuda itu. Sejujurnya, ia sangsi kali ini ada sebuah perubahan pada Kenta dan lelaki itu akan membalas semua ucapannya, dan mereka akan berbincang layaknya teman lama. Yuri yakin delapan puluh persen pemuda Takada itu akan terus mempertahankan mode bisunya.

Namun, atensi gadis itu teralih ketika melihat sebuah baskom ukuran sedang di atas rumput taman tengah rumah tersebut. Bukan hanya baskom, tetapi terdapat juga tongkat panjang yang tercelup di dalamnya. Ketika dilihat dengan lebih dekat, rupanya itu adalah sebaskom cairan sabun yang biasa digunakan untuk membuat gelembung.

Senyum Yuri terukir. Setelah melihat sekeliling untuk sesaat, ia mulai meraih tongkat panjang tersebut, kemudian mengayunkannya ke udara. Lapisan sabun pada lubang-lubang kawat yang dirangkai di ujung tongkat membuat banyak gelembung yang kini mengudara.

Yuri tertawa, takjub akan pemandangan tersebut.

Ia mengulang kegiatan tersebut bahkan hingga lima kali berturut-turut. Mengayunkan tongkat, tertawa, mengayunkan tongkat, tertawa, begitu terus. Tanpa sadar ia berputar-putar demi mengikuti arah terbangnya gelembung.

Hingga pandangannya bersirobok dengan Kenta yang rupanya sedang duduk di gazebo taman.

“Kenta-san!” Yuri melambaikan tangan. “Ini punyamu? Aku pinjam, ya!” ujarnya tanpa rasa bersalah.

Kenta hanya bungkam dengan tatapan datar. Yuri mengartikannya sebagai ya.

Entah sudah berapa lama Yuri asyik dengan gelembung tersebut hingga tanpa ia sadari cairan gelembung dalam baskom telah berkurang sepertiganya. Umur memang menjelang pemudi, tetapi sebenarnya jiwa anak-anak masih bersarang dalam diri Yuri dan membuat tingkahnya terkadang tak ubahnya dengan anak sekolah menengah pertama.

***

Gadis itu datang lagi.

Awalnya Kenta memang tak senang dengan presensi gadis yang ia ketahui bernama Adachi Yuri itu dalam hidupnya. Kenta tak punya niat untuk menjalin pertemanan sejak awal. Begitu ia tahu keluarganya akan pindah rumah karena alasan pekerjaan ayahnya, Kenta sudah bertekad untuk menutup diri dari lingkungan; dari teman-teman sebaya. Ia akan mengurung diri di rumah, menjauhkan diri dari sosial, entah bagaimana pun caranya.

Sayangnya, gadis itulah yang terlebih dahulu menghampirinya. Cara yang simpel: berkenalan, berjabat tangan meski sejujurnya Kenta enggan membalasnya. Bahkan Kenta sudah terang-terangan mengatakan bahwa ia tak mau menjadi temannya, tetapi tampaknya gadis itu tak mengenal apa yang namanya penolakan. Ditolak sekali, ia pun mencoba strategi lain: datang bersama ibunya. Mungkin bisa dibilang sebuah kesialan, tak seperti dirinya, ibunya sangat menerima kunjungan dan undangan pertemanan dari tetangga, sehingga kini dua ibu tersebut bagaikan kawan lama yang tak pernah kehabisan bahan obrolan. Dan sepertinya hal itu dimanfaatkan oleh sang gadis untuk menemuinya.

Gadis bernama Yuri itu cerewet dan kadang semaunya sendiri. Benar-benar tebal muka. Kenta telah memberi bahasa tubuh tidak setuju, tetapi gadis itu tampaknya dungu untuk mengerti gestur dan tetap melanjutkan apa yang ia mau. Ia mengendarai sepedanya – oh, mungkin ia berencana membawanya pergi kalau Kenta tak mengikutinya, seenaknya meminjam mobil remote-nya, bahkan menghabiskan pai blueberry buatan ibunya tanpa merasa bersalah.

Namun, Kenta terlalu enggan untuk mengeluarkan suara demi mengutarakan kekesalannya. Menyebalkan, memang.

Tetapi lama-lama kedatangan gadis itu bagai menjadi sebuah rutinitas bagi Kenta. Frekuensi kedatangan Yuri yang cukup tinggi membuat rasanya ada yang ganjil bila gadis itu sedang tak mampir ke rumahnya. Sepi, tak ada yang mengomel atau berceloteh sendiri atau bahkan tertawa sendiri.

Saat itulah Kenta sadar bahwa sedikit demi sedikit dunianya diubahkan. Kenta tak lagi merutuki presensi gadis itu, tetapi malah menantikannya.

Hari ini Yuri datang lagi. Kenta menemukannya sedang asyik dengan cairan sabun dan tongkat gelembung, Well, bicara jujur, sebenarny Kenta sengaja menaruh dua benda itu di taman, mengingat Yuri akan langsung memainkan semua barang di rumahnya yang ia anggap menarik. Dugaannya benar; Yuri akan terperangkap dalam gelembung sabunnya.

Melihat Yuri tersenyum membuat Kenta diam-diam tersenyum. Mengetahui bahwa gadis itu bahagia menimbulkan perasaan gembira tersendiri pada hati Kenta. Pada momen seperti ini, besar hasrat Kenta untuk bergabung dalam kegembiraan gadis itu, dan mereka akan mengukir momen bersama.

Terkutuklah sifat tertutup dan antisosialnya ini!

Ketika iris mereka bertemu, Kenta buru-buru menundukkan kepala. Namun, ia masih dapat menangkap senyum yang tersungging di labium Yuri.

“Kenta-san! Ini punyamu? Aku pinjam, ya!” seru gadis itu.

Sejujurnya, Kenta berharap seperti hari-hari sebelumnya Yuri akan mengajaknya untuk bermain bersama. Kali ini Kenta pasti akan menuruti permintaan gadis itu. Namun, seperti tebakannya, gadis itu kini asyik dengan dunianya.

Kenta menghela napas. Mungkin gadis itu mengira ia tak akan bergabung seandainya diajak.

Perlahan, tangannya bergerak mengambil polaroid putih yang telah ia siapkan. Mengambil fokus yang paling baik, jari telunjuknya pun menekan tombol foto.

KLIK!

Lampu kilat berkelip.

Kenta meringis. Sial! Mengapa ia bisa lupa mengatur lampu kilatnya?

Ia tak heran ketika Yuri menoleh. Oh, gadis itu menyadarinya.

“Kau baru saja memotretku?”

Pemuda itu buru-buru menggeleng.

Eyy, tak usah berbohong. Aku melihatnya tadi.”

Kenta yang takut Yuri akan mendekat buru-buru menyelipkan lembaran polaroid di bawah pahanya.

Ternyata, tak seperti dugaannya, Yuri tetap diam di posisinya. Tetapi kini gadis itu berpose layaknya seorang model.

“Tadi aku belum siap untuk difoto. Nah, sekarang ambillah gambarku! Ayo! Berhubung aku sedang dalam keadaan baik! Ayo! Ambil sebanyak-banyaknya!”

Mau tak mau Kenta pun tersenyum.

***

Jarum digital di kamar Takada Kenta sudah menunjukkan tengah malam, bahkan sudah berganti hari, tetapi si empunya kamar belum juga terlelap. Pandangan serta pikirannya sedang terfokus pada dua lembaran di atas selimut logo Hot Wheels-nya. Lembaran pertama, sebuah surat dengan kop rumah sakit. Lembaran kedua, foto polaroid Yuri yang diambilnya dua minggu yang lalu.

Dan dua lembaran tersebut berhasil memporak-porandakan suasana hatinya malam ini.

Kesedihannya kembali terulang. Pengalaman buruk itu terjadi lagi. Déjà vu. Kenta sudah tahu akhirnya akan seperti ini; akhir yang akan membuat batinnya tercabik-cabik.

Seharusnya Kenta tak menampakkan diri di hadapan gadis itu. Seharusnya Kenta tidak mengizinkan Adachi Yuri mengenalnya. Seharusnya Kenta tidak membiarkan Yuri masuk dalam kehidupannya. Seharusnya …. Seharusnya …. Seharusnya Kenta menjaga hatinya agar tidak terikat dengan gadis itu.

Mungkin akan lebih baik jika mereka tidak dipertemukan sejak awal.

Dalam kehidupannya yang dulu, Kenta sudah membuat banyak orang menangis. Banyak air mata yang tertumpah karenanya. Sahabatnya, keluarganya, teman baiknya, semua menitikkan air mata ketika Kenta melupakannya. Bukan bermaksud demikian, sungguh. Kenta pun tak ingin tersiksa dengan kenyataan. Tetapi apa daya; memorinya hilang sehingga ia tak bisa mengenal mereka.

Itulah sebabnya Takada Kenta memutuskan untuk menutup diri. Takada Kenta yang terkenal ramah dan ceria berubah menjadi Takada Kenta yang dingin dan ketus. Sengaja, agar tak ada orang yang mau berkenalan dengannya. Tidak perlu ada ingatan tentang Kenta dalam kehidupan mereka, sama seperti mereka tiada dalam memori Kenta.

Dan kini ia menyesal telah mengizinkan Adachi Yuri mengisi lembaran kehidupannya.

***

Yuri meringis kala angin malam yang menusuk berhasil menembus mantel ungu tebalnya. Masih dengan kantong plastik putih di tangan, ia memeluk dirinya erat. Musim gugur mulai tiba, angin dingin bertiup kencang, apalagi bila malam menjelang. Yuri menghela napas. Ia ingin cepat-cepat sampai di rumah dan menggulung diri di balik selimut hangat.

Tadi ibunya menyuruh ia pergi ke minimarket luar kompleks untuk membeli sebotol arak guna memasak esok hari. Yuri sempat mengeluh karena Yuto malah bermalas-malasan di tempat tidur sementara ia yang pergi. Namun, kembarannya itu mengaku sedang kurang enak badan. Meski disertai omelan kecil, pada akhirnya Yuri pergi juga setelah mendapat pesan hati-hati di jalan dari kembarannya itu.

Jalanan tampak gelap. Beberapa lampu penerangan jalan sepertinya rusak dan tidak berfungsi, membuat penglihatan Yuri harus lebih awas, baik pada jalan maupun pada lingkungan sekitar. Tingkat pemerkosaan di Jepang cukup tinggi, omong-omong.

Saat ia masih berjalan sambil mulutnya bersenandung, tiba-tiba ia merasakan sebuah kain yang menutupi baik hidung maupun mulutnya. Tak hanya itu, badannya pun digiring paksa oleh seseorang yang tak diketahui siapa. Mata Yuri membulat. Ia ingin berteriak tetapi kain kasar itu menghalangi niatnya.

Untungnya ia tidak digeret terlalu jauh, karena beberapa saat kemudian ia merasa terdorong dan punggungnya terhempas ke dinding yang dingin. Mulut dan hidungnya tak lagi dibekap, tetapi tangan tersebut kini menahan bahunya agar terus menempel di dinding.

Terang saja Yuri gemetar. Selaksa doa diucapkannya dalam hati agar Ia masih bisa pulang dengan selamat setelah ini. Entah kepercayaan akan kontak batin antar kembaran itu benar adanya atau tidak, tetapi sekarang Yuri mengirimkan pesan singkat melalui hati pada Yuto untuk segera menyelamatkannya.

“Tenang. Ini aku.”

Suara itu terdengar lembut dan familiar di telinga Yuri. Gadis Adachi itu pun membuka kelopak matanya. Titik ia berpijak sangat gelap, tentu saja. Tetapi sebisa mungkin ia mencoba melihat sosok yang kini ada di hadapannya.

“Kenta-san?”

Punggung gadis itu pun rileks seketika. Rasa takutnya menguap sebagian. Tetapi ia mengernyitkan kening karena bingung.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Yuri, yang langsung mendapatkan isyarat untuk diam dengan jari telunjuk Kenta pada bibirnya.

“Maafkan aku karena membawamu dengan cara seperti ini,” bisik pemuda itu, “tetapi aku harus memberi tahu secepatnya sebelum ingatanku hilang dan aku tak sempat mengatakannya lagi.”

“Oke, teruskan.”

Pemuda itu terlihat menarik napas sesaat dan membasahi bibir bawahnya. “Yuri­-chan, terima kasih telah mau berteman dengan orang sepertiku. Maaf kalau selama ini aku terkesan mendiamkanmu.”

Yuri menganggukkan kepalanya pelan.

“Dan, apapun yang terjadi … tolong jangan lupakan aku.”

Permintaan terakhir Kenta membuat Yuri mengerjap. Gadis itu mencoba mencerna makna yang tersembunyi di balik kalimat arti ganda tersebut.

“Hei. Ada apa? Apa kau akan pergi ke suatu tempat?” Yuri pun kembali bertanya karena tak dapat menahan kuriositasnya.

Kenta tidak menjawab. Ia hanya melepas pegangannya dari pundak Yuri, kemudian tersenyum tipis. “Kau boleh pulang sekarang.”

Setelah itu pemuda itu berlari, meninggalkan Yuri yang masih terpaku di titik pijakannya. Bingung.

***

Menurut informasi yang Yuri dapat, hari ini adalah hari ulang tahun Kenta. Tentu saja gadis itu telah menyiapkan hadiah ulang tahun untuk tetangga seberang rumahnya tersebut. Bermodalkan uang tabungannya (serta memaksa Yuto menyumbang sedikit), Yuri membeli sebuah tart berukuran kecil. Yuri pun membelikan sebuah dasi yang dibungkus apik dengan kotak biru kecil, dengan model dan warna hasil diskusinya dengan Yuto.

Yuri bermaksud untuk memberikan kejutan pada tetangganya itu. Ia hanya menyampaikan maksud kedatangannya pada ibunda Kenta yang menyambutnya dengan senyum cerah dan memberi tahu bahwa Kenta sedang berada di gazebo.

Sudut-sudut bibir Yuri seketika terangkat begitu menemukan sosok pemuda Takada tersebut.

HAPPY BIRTHDAY!!!

Ia berjalan mendekati Kenta. Pemuda itu mengangkat kepalanya dan menatap gadis itu dengan bahagia – sesuatu yang tak disangka oleh Yuri. Tadinya Yuri pikir Kenta akan menatapnya dingin dan acuh seperti biasa.

Bahkan Kenta tampak tak ragu untuk meniup dan memadamkan lilin kecil yang tertancap di tart tersebut.

“Selamat ulang tahun, Kenta-san!” ucap Yuri riang.

Senyum memang masih merekah di bibir pemuda itu. Namun, kali ini tatapan yang ia berikan pada Yuri tampak mengandung sebuah makna yang sulit diartikan.

“Terima kasih. Aku bahkan tidak ingat kapan ulang tahunku. Kau tahu darimana?”

“Ibumu. Beliau yang memberitahukannya.”

“Oh ….” Kenta mengangguk. Kemudian ia kembali menatap Yuri. Dan pertanyaan yang diajukan sang pemuda membuat Yuri terperanjat.

“Kita … saling mengenal?”

***

Gadis itu menangis.

Gadis di hadapannya kini menangis. Bukan tangisan meraung-raung, tetapi entah sudah berapa tetes kristal bening yang mengalir turun di pipi putih kemerahan itu. Sesaat yang lalu gadis ini masih terlihat ceria sambil membawakan sebuah tart untuknya. Namun, begitu Kenta mengatakan bahwa mereka tidak saling mengenal, gadis itu menangis.

Kenta tertegun. Apa yang salah?

“Hei ….”

Tak ingin suasana bertambah sedih, Kenta mencoba menghapus air mata gadis itu dengan usapannya. Meski demikian, gadis berponi itu tetap saja menangis.

“Aku minta maaf,” lirih Kenta, meski sejujurnya ia tak tahu di mana letak kesalahannya.

Gadis itu tetap tidak mau berhenti menangis.

Kenta pun mencoba untuk diam dan berpikir. Dipaksanya benak untuk menggali memori-memori lama, tak peduli walau kini kepalanya mulai terasa sakit. Apakah dulu mereka pernah saling mengenal? Mungkinkah dulu mereka berteman?

Entahlah. Sekeras apapun ia mencoba, nyatanya tak ada satu pun bayangan gadis ini dalam ingatannya. Ini membuat Kenta frustrasi. Meski ini bukan salahnya penuh, tetapi kenyataan bahwa ada gadis yang menangis karena perkataannya membuat hati Kenta sakit.

***

Penyakit Alzheimer adalah kondisi kelainan yang ditandai dengan penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku pada penderita akibat gangguan di dalam otak yang sifatnya progresif atau perlahan-lahan.

Seiring perkembangan waktu, gejala akan meningkat. Penderita penyakit Alzheimer kemudian akan kesulitan melakukan perencanaan, kesulitan bicara atau menuangkan sesuatu ke dalam bahasa, kesulitan membuat keputusan, kerap terlihat bingung, tersesat di tempat yang tidak asing, mengalami gangguan kecemasan dan penurunan suasana hati, serta mengalami perubahan kepribadian, seperti mudah curiga, penuntut, dan agresif. Pada kasus yang parah, penderita penyakit Alzheimer bisa mengalami delusi dan halusinasi, serta tidak mampu melakukan aktivitas atau bahkan tidak mampu bergerak tanpa dibantu orang lain.

Tangan Adachi Yuri otomatis terarah untung menutup mulutnya, seraya ia tak kuasa diri untuk menahan tangis. Netranya berulang kali membaca kalimat demi kalimat yang tertera pada layar komputernya. Tak hanya membaca, ia pun berusaha untuk mencernanya. Tetapi semakin ia membaca, semakin perih hatinya terasa.

Yuri tidak pernah menyangka di usianya yang tergolong muda Takada Kenta akan menderita penyakit mengerikan seperti ini. Kenta yang tampak riang dari luar ternyata memiliki kelainan. Kenta bukan sengaja melupakannya hari itu, tetapi ia memang benar-benar lupa. Mungkin, memorinya akan Adachi Yuri telah terhapus sepenuhnya.

Yuri kembali terisak begitu teringat akan Kenta yang hampir menculiknya saat malam hari. Saat dimana pemuda itu memintanya untuk tidak melupakannya. Yuri mengerti sekarang; Kenta berusaha mengatakannya sesegera mungkin mengingat waktunya yang sudah tak banyak. Berpacu dengan waktu sebelum seluruh ingatannya hilang.

Tak tahan dengan perasaan gundah yang kini menggerogoti dirinya, Yuri pun beranjak dari meja belajarnya dan segera berlari menuju rumah tetangga seberang. Ia sendiri pun tak tahu apa yang hendak ia lakukan. Yang jelas, ia ingin bertemu Kenta saat ini juga.

Tepat seperti permintaan hatinya, Kenta sedang berada di halaman rumah, terlihat asyik dengan sehelai daun kuning kecoklatan. Tanpa berkata apa-apa, Yuri segera memeluk lelaki itu erat. Tangisnya kembali pecah saat itu juga.

Tanpa ia hiraukan Kenta yang menatapnya bingung.

“Kenta-san … “ isaknya. “Maafkan aku …. Maafkan aku ….”

***

Hampir seluruh penghuni blok E kompleks tempat tinggal keluarga Adachi dilanda kegemparan. Sebuah berita tak diduga seolah mengguncangkan ketenangan plus kedamaian sore musim gugur hari itu. Kabar yang sama sekali tak disangka-sangka oleh semua orang.

Takada Kenta ditemukan tewas dengan gantung diri di kamarnya.

Tak satu pun menyangka bahwa hidup seorang pemuda yang tampan itu akan berakhir demikian. Para tetangga mungkin tidak terlalu dekat satu sama lain, tetapi yang mereka tahu Kenta-san adalah seorang anak laki-laki yang terlihat baik dan patuh, sama sekali jauh dari hal-hal bersifat pemberontakan. Maka dari itu, ketika berita ini tersiar, mereka semua tampak terkejut dan segera berbondong-bondong mengunjungi kediaman keluarga Takada untuk memberi bela sungkawa.

Adachi Yuri merasakan guncangan yang sama. Perasaannya campur aduk. Padahal yang meninggal bukanlah anggota keluarganya, tetapi sejak tadi ia tak berhenti menangis meski Yuto sang kembaran telah berkali-kali mencoba menghiburnya. Ada sebuah perasaan kosong yang memilukan di batin Yuri. Dalam hatinya terdapat sebuah luka besar yang menganga.

Hari itu juga Yuri sekeluarga pun memutuskan untuk ikut mengunjungi rumah tetangga seberang, ikut berduka cita. Yuri tak dapat menyembunyikan matanya yang sembab dan wajahnya yang sayu.

Ketika ibu Kenta memeluknya, Yuri pun tak kuat untuk menahan tangisnya. Bagai sepasang ibu dan anak, keduanya menangis hingga meraung-raung; meratapi kepergian orang yang mereka cintai.

Dari hasil eksplorasinya di internet, Yuri tahu bahwa penderita Alzheimer tak hanya mempunyai masalah dengan ingatan, tetapi juga dengan mental. Ada kalanya mental mereka terganggu, kemudian mereka menjadi orang yang sensitif, agresif, atau penuh kecurigaan. Yuri tahu, dan Yuri sudah bertekad untuk selalu menemani Kenta melalui masa-masa sulitnya. Namun, ia tak menyangka depresi akan menguasai seorang Takada Kenta separah ini hingga ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

“Yuri-­chan,” lirih ibu Kenta saat tangisnya mereda untuk sesaat. Beliau merogoh kantung pada terusan hitamnya, mengeluarkan selembar kertas yang terlihat kucel dan meletakannya di telapak tangan Yuri.

“Kurasa Kenta menulis ini untukku,” ujar beliau. Ia menatap mata Yuri lekat-lekat meski berkaca-kaca. “Terima kasih, karena sudah mau berteman dengan anakku.”

Yuri membalasnya dengan sebuah anggukan dalam.

***

Dan teruntuk Adachi Yuri. Aku tidak tahu apakah kami saling mengenal, tetapi aku tidak merasa mengenalnya. Hanya saja, akhir-akhir ini nama ini terus berputar di kepalaku. Aku tidak tahu apa relasi yang tercipta di antara kami. Meski demikian, siapa pun kau Yuri-san yang membaca tulisan ini, kumohon kau tidak melupakan diriku.

Yuri bahkan sudah tidak bisa menghitung sudah berapa kali ia menangis seharian ini. Membaca tulisan terakhir Kenta untuknya membuat hatinya bagai terasa perih. Bahkan sampai saat-saat terakhir pun Kenta tak mengingat siapa dirinya. Tetapi lelaki itu mengingat namanya. Yuri tak tahu harus merasa senang atau justru tambah sedih.

Gadis itu masih menangis. Terduduk di lantai, punggung disandarkan pada dinding kamar, dan tangan yang terkepal serta terarah ke dada, menandakan batinnya yang terasa perih. Ia ingin marah pada takdir yang mempertemukan mereka kemudian memisahkan secara paksa. Namun, Yuri pikir, kalau pun ia bisa memilih kembali, ia tetap memilih untuk mengenal Takada Kenta.

Jangan khawatir, Kenta-kun. Aku tak akan melupakanmu. Tak akan pernah.

 

-fin-

A/N

Pertama, big thanks to Dyvictory aka Dyva yang sudah mau menyumbang prompt ya walaupun ini mungkin agak failed executed ….

Kedua, jangan tanyakan aku kenapa menyeret Takada Kenta kedalam genre sad ending gini mengingat bahwa dia adalah Kentalay dengan kealayan segudang dan kegresekan segaban

Ketiga, who missed Kentalay? Acung! /ikut acung tangan/
Serius, masih nggak nyangka dia keeliminasi dua hari yang lalu.. Bakalan kangen sama kealayan dia, kehebohan dia, gingsulnya dia, semuanya tentang dia … Cepet debut ya Japanese Boy koeh… ❤ ❤ ❤ ❤

Last but not the least, mind to review? 🙂

Advertisements

8 thoughts on “[Oneshot] Forget Me Not

  1. TOLONG
    ASDFGHJKLOVE
    YA ALLAH
    AKU MENAHAN TANGIS KARENA SEDANG PUASA APA KAMU TAU???????????
    YOU KNOWWWWW HAAH YOU KNOOOOOOWWWW ((terus side effectnya malah jadi marah ke Gece)) ((apabanget))
    KENTA-KUN KENTA-SAN KENTA-KI (?)
    SAYANGQ
    BELOM MUVON DARI DIA DI PRODUCE TERUS DI SINI SENPAINYA MALAH TEWAS??????
    YAMETE KUDASAI-KAN(?) SEMUA INI!!!!!!!!!
    Aku bener-bener sedih plis aku kira tuh si Kentaki orangnya sombong tida mau berteman, atau dia suka pindah-pindah rumah terus takut suka sama Yuri jadinya nga mau temenan (?)
    Taunya malah………
    Dari Ada Kenta jadi Tak-ada Kenta:'( *masih sempet-sempetnya ngereceh bye*
    Sama-sama ya untuk promptnya, terima kasih sudah dibuat menjadi FF yang sangat HQQ sedemikian rupa ala-ala agar supaya:(
    Bagus sekali aku sangat daisuki *ketularan kentalay*
    Keep up the good work always, Ce! ❤

    Liked by 1 person

    • MAAF UDAH BIKIN KAMU HAMPIR SAJA BATAL YA ASTAGA miyane jg sudah menistakan(?) kenta senpai begini hwhwhwhwh akibat kangen dia sayy .. kangen gingsul dia kangen alaynya dia kangen hotness nya dia kangen semua ttg dia…
      iya dari takada kenta jd tak ada kenta yawlah sdii aku jg…

      makasih ya cinta wes mampir wkwkwkwk

      Liked by 1 person

  2. OLE TERUNTUK KAKCE… WIS MBUH AKU MARAH WISSS.. KOK KAMU TEGAAAA TEGAAAAA!!!!! AKU JADI INGET KENTA LAGI…. 💔💔💔

    tiba-tiba jadi inget kenta yang menyunggingkan senyum manisnya memperlihatkan gingsulnya yang menambah kesan manis.. Aaaaaaaaaa wis ah mbuh mbuh.. Aku nangis eeee…

    KAKCEEE WAAAAA wis aku ga bisa berkata kata lagi!!! thx kak and keep writing 💙💜💙💜

    Liked by 1 person

  3. DEMI KENTALAY DAN SEGENAP KEALAYANNYA

    saya bener2 ga terbersit sedikitpun pikiran ‘wah nax alay bisa rude juga sama tetangga’ serius enggak! ARIGATOU GOZAIMASU GECE-SAN SAYA BENER-BENER MENIKMATI SETIAP KALIMAT DI CERITA INI.

    Enggak tau kenapa tapi setiap baca ff yang castnya orang jepang itu saya mesti terhanyut dalam kesedihan yg dibawakan ya kak? Apa karena tontonan saya sad mulu tiap fudulin film jepun ughhh ((lalu keinget film2nya kento yamazaki)) /pulangdon/

    Saya suka kakcee! Bayangin kenta yang pendiem plus selalu masang wajah datar itu tiba2 senyum manis, ngeliatin gingsulnya…. WOW YURI-SAN SURGA SEKALI HIDUPMU MBA? /gelindingan/

    Aku kira si Kentalay—ups maaf lupa kalo konteksnya lagi sad, Kenta maksudku—bakal kehilangan ingatannya setelah seminggu(?) jadi seminggu sekali ingatan dia kehapus dan begitu seterusnya😭 (kaya filmnya kento yamazaki dong saya selalu keinget dia entah kenapa) /dibuang/
    Taunya dia kena alzheimer ya kak, aku jg sering denger ttg itu katanya walau enggak berpotensi kematian tapi ttp aja bahaya, kita kudu bisa mengawasi penderitanya biar enggak melakukan hal2 yg tidak diinginkan😭😭

    Aku paling suka waktu Kenta motret Yuri pake kamera polaroid kak, lucu banget pasti aaaaaaa😭😭😭😭

    Makasih kakcee uda bikin baper, bikin makin kangen Kenta aaaaaaa😭😭😭😭😭😭😭😭😭

    Keep writing kak!

    Liked by 1 person

    • HAI CINTAAAAAAAA wkwkwkwkwk

      aku jg sbnrnya gatau kenapa nyeret kenta-san kedalam ff sedih baper begini yawlah padahal jelas-jelas dia tuh riang banget anaknya yha…. sbnrnya ini inspired dr drama korea gtu jd cowonya jg ngelupain cwenya gegara pnyakit ini… cm, utk endingnya.. yha.. yha…
      maafkan sdh mmbuatmu menangis hwhwhwh thanks udh mampir saayy

      Like

  4. “Kita … saling mengenal?”

    kentaki, tak ada kenta tak asyique

    INI APA KAK, KENTA YANG MASA LALUNYA DARK X ALAY SEKALI DIJADIIN BEGINI DHSJNANSJSJEEJEIEJE ASTAGFIRULLAH ALADZIM SAYA SALAH APA KALO INGIN MENGHUJAT KENTA

    MAMAS:( MASA KAMU LUPAIN MBA YURI, MBA YURI AJA DILUPAIN PALAGI AQ MAS:-(

    SUMOAH YA KAK INI BAOERBSHHSJSEHEJJEJSEUEJ ABISNYA MASA IYA PLOT TWISTNYA SHSJDBDJJDDJDJJDJEJEJEJEJ KENTA ASTAGFIRULLAH KEKNYA HARUS TIA CIUM DULU BIAR INGET /ditampol/

    MOM INI BAGUS SHSHEHEHSHSIEJ ASTAGFIRULLAH INGIN MENGUMPAT AJA SOALNYA INI INGENTNYA KENTA YANG MUKANYA MEMEABLE MAAF:-)

    OQ BIARKAN SAYA BERIMAJINASI MALAM INI DAN KEEP WRITING MOM❤❤❤❤❤💓

    Like

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s