[Ficlet] I’ll Go To You

1492424301937

I’LL GO TO YOU

.

Angst, Romance, Drama || Ficlet || PG-15

.

Starring
SF9’s Chani and a girl

.

Inspired from
I Will Go to You Like First Snow by Ailee

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“I started to become greedy. I wanted to live with you, grow old with you, hold your wrinkled hands, and say how warm my life was.”

.

Satu bulan telah berlalu sejak kepergian Viola Cheon, sang kekasih, namun kesedihan Kang Chanhee belum jua hilang. Pemuda itu masih tak percaya bahwa gadis surai hitam kebiruan dengan senyum semanis macaroon itu telah pergi untuk selamanya, meninggalkan dunia beserta semua kenangan yang telah dibuat. Ia pergi dengan damai, tanpa peduli bahwa kini orang-orang terdekatnya dilanda suatu kekosongan yang tak terpulihkan.

Masih jelas dalam ingatan Chanhee akan hari-hari menjelang kepulangan Viola pada Sang Empunya Nyawa. Gadis itu memang sudah lama mengidap kelainan jantung bawaan – suatu kondisi yang miris dibandingkan dengan umurnya yang masih muda. Semakin hari kondisinya semakin memburuk, bahkan rumah sakit bagai menjadi rumah kedua bagi gadis Cheon itu. Kian hari badannya kian mengurus, matanya semakin cekung diikuti lingkaran hitam di sekitar mata yang makin terlihat jelas. Jangan abaikan pipinya yang tambah tirus.

Namun bahkan di tengah kondisi seperti itu pun senyum tak hilang dari ranum Viola. Itulah penanda semangat hidup dara tersebut selain sorot matanya.

Manusia boleh berusaha, namun Tuhan yang berkehendak. Viola mungkin berusaha untuk sembuh, namun bila Tuhan tak menyetujui, ia tak bisa membantah. Chanhee tak mau mengingat bagaimana oerasaannya saat detik-detik kepergian Viola. Gadis itu meminta Chanhee untuk memeluknya. Mengabaikan air mata yang mengalir semakin deras, Viola mengungkapkan bagaimana bersyukurnya ia bisa mengenal Chanhee dalam hidupnya, berterima kasih atas hadirnya Chanhee yang memberi warna dalam kesehariannya, dan meminta Chanhee untuk tidak melupakannya kelak. Semua itu ia ucapkan dengan terpatah-patah, di tengah suaranya yang serak dan napas yang bagai tersengal-sengal. Bahkan ketika Chanhee bermaksud untuk menyudahi dan menyuruh Viola beristirahat, dara tersebut menolak. Pun dengan tangan kurus bin lemahnya ia masih sempat menghapus likuid bening yang mengalir di pipi Chanhee.

“Jangan menangis, Chanhee-ya …. Kau dan aku akan baik-baik saja ….”

Itulah kata-kata yang Viola ucapkan sebelum ia menghembuskan napas untuk terakhir kalinya, sebelum kedua netra kelabu almon itu menutup untuk selamanya. Viola pergi, dan memilih untuk melepas nyawanya tepat di rengkuhan Chanhee.

CUKUP! Bila mengingatnya, Chanhee akan kembali menangis.

Sebulan telah lewat, namun rasa sesak yang menggerogoti dada tersebut masih bersemayam. Rasa rindu yang menyiksa jiwa, rasa kehilangan, kesedihan, lara, duka. Bayangan gadis itu kerap muncul dalam pikirannya, terutama saat malam hari kala Chanhee menatap nanar langit malam. Suara merdu serta tawa renyah Viola kadang terngiang di pendengaran Chanhee; membuatnya tersiksa. Bukan satu atau dua kali Chanhee menyalahkan takdir yang memanggil Viola terlebih dahulu, merebut Viola dari hidupnya.

Sebelum meninggalkan dunia, Viola sempat berpesan agar Chanhee tidak bersedih atas kepergiannya. Chanhee tahu Viola tak akan senang bila ia terus-menerus menangis. Namun, apa dayanya kala kesesakan membuncah?

Tidak bisa begini. Chanhee tak bisa terus menerus berkubang dalam kesedihan. Chanhee tak bisa selamanya hanya merindukan gadis itu, tanpa berbuat apa-apa. Chanhee tak bisa hidup tanpa Viola.

Karena itu, ia telah mengambil sebuah keputusan.

Ia akan menyusul Viola Cheon.

Chanhee mengambil satu langkah ke depan, membuatnya semakin dekat pada tepi atap gedung tingkat lima belas apartemennya. Jika ia melangkah satu jangkahan lagi, dapat dipastikan kedua tungkainya tak akan punya tempat pijakan, dan ia akan melayang mengikuti arus angin.

Mengedarkan pandangan pada lanskap gedung pencakar langit yang sejajar dengan netranya, Chanhee berusaha mengabsorp seluruh pemandangan yang ada. Mungkin ini akan menjadi kali terakhirnya menikmati angin senja yang berhembus sepoi-sepoi, berdiri dengan ditemani angkasa yang menyiratkan palet jingga – mentari hendak beranjak ke peraduannya.

Puas dengan suguhan view yang disajikan, Chanhee pun mengalihkan pandangan ke bawah. Ditatapnya kesibukan Seoul sore hari dengan pandangan kosong. Di bawah, kendaraan lalu-lalang, begitu pula puluhan insan yang melangkah dengan tergesa-gesa, tenggelam dalam kesibukannya sendiri. Chanhee menghela napas. Siapa yang akan peduli kesedihan dan kepahitan yang ia rasa?

Penglihatannya tertumbuk pada sebuah titik di trotoar, tepat sejajar arah pandangnya. Benaknya membayangkan untuk sesaat, bagaimana rasanya bila ia jatuh dan menumbuh titik tersebut? Apa rasanya sakit?

Kalau pun sakit, pasti tak akan sesakit yang hatinya rasakan sekarang.

Pemuda Kang itu pun menutup mata. Ia menarik napas dalam-dalam, kembali mengumpulkan serta membulatkan tekad untuk menyelesaikan (atau justru memulai?) kegiatannya semula. Ia mencoba mengabaikan kebisingan sore hari Seoul, berusaha mengabaikan eksistensi angin yang menerpa wajahnya, dan sekuat tenaga mengabaikan gelombang emosi yang kini kembali memporak-porandakan hatinya.

Likuid beningnya pun merembes keluar, turun menuruni pipi.

Viola-ya, aku datang … serunya dalam hati.

Bersamaan dengan itu, Chanhee melepas pijakannya dari tepi atap gedung. Masih dengan mata terpejam, ia merasakan angin yang membelai dirinya, melingkupi dirinya.

Chanhee tak peduli apa kata orang tentang perbuatannya. Yang ia inginkan hanya satu: kembali dipersatukan dengan Viola Cheon.

Dan kini, ia yakin, Viola tengah menunggu kehadirannya dengan senyum manis dan tangan terbuka.

.

“Some day, we’ll meet again; it’ll be the happiest day.
Forget everything and move on, because I will go to you.”

-fin-

 

Advertisements

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s