[Oneshot] Don’t Mess with Me

gxchoxpie___don_t-mess-with-me-copy

DON’T MESS WITH ME

.

Gore, Supranatural, slight!School-life || Oneshot || PG-19

.

Starring
Dreamcatcher’s Gahyeon, BTS’ Jungkook

.

“Kau bermain-main dengan orang yang salah.”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

This fic was inspired by Good Night by Dreamcatcher. I only own the plot. Credit poster to Poster by #ChocoYeppeo

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“Oh baby, run, run, run it, to a place you can’t see
You can’t escape, no matter how much you try, oh.”
–Good Night (Dreamcatcher)

.

Suasana ruang kelas 3-4 tak ubahnya dengan pasar malam. Bising, ramai, meriah. Hal yang selalu terjadi setiap pergantian pelajaran. Five-minute-party, demikian para murid mengistilahkan untuk waktu luang yang mereka punya dan biasa diisi dengan keriuhan hingga guru mata pelajaran sellanjutnya datang. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Bercengkrama dengan kawan lain, pergi ke toilet untuk buang air atau merapikan penampilan, membalas chat yang tertimbun di ponsel, mencatat bahan pelajaran yang belum selesai disalin, atau saling melempar bola-bola kertas; entah apa faedahnya.

Berbanding terbalik dengan suasana kelas yang ramai, di pojok kelas, tepatnya dekat jendela, seorang gadis diam dalam kesendiriannya. Bila diperhatikan, ia hanya duduk sendiri, dengan tatapan nanar memandang papan tulis. Sejak tadi, bahkan sejak hari-hari yang lalu, tak seorang pun yang mengajaknya bercakap-cakap. Paradoks; ia kesepian di tengah keramaian khalayak.

Lee Gahyeon, demikian yang tertera pada tag nama seragamnya. Gadis yang diketahui yatim piatu akibat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya tiga tahun lalu, dan membuatnya mengalami pem-bully-an secara mental. Dikucilkan, dijauhi, dan tak dianggap eksistensinya. Interaksi yang ia dapatkan adalah sapaan dengan nada menghina atau perintah dengan nada pedas. Selebihnya berupa perlakuan seperti pelemparan sampah, penjegalan kaki, atau pemberian lem pada tempat duduk.

Gahyeon menghela napas panjang, kemudian menelungkupkan wajah. Percuma berharap, toh eksistensinya tak pernah dianggap. Atau lebih baik begini, dibandingkan dianggap ada hanya untuk diberi perlakuan buruk. Gahyeon mendesah. Ia berharap hari panjangnya akan segera berakhir.

“Kau sakit?”

Kalimat tanya yang mengandung dua kata itu membuat Gahyeon mengangkat kepala sejenak. Tampak olehnya Jeon Jungkook, si ketua kelas, yang menatapnya agak khawatir – kalau Gahyeon tak salah mengartikan. Gadis itu kembali menegakkan punggung, lantas menggeleng.

“Kalau kau tak enak badan, bilang saja. Nanti kau pergi ke ruang kesehatan; aku yang akan memberi tahu pada guru,” ujar Jungkook kemudian. Gahyeon hanya merespon dengan anggukan.

“Omong-omong, tugas matematikamu telah selesai? Biar aku kumpulkan.”

Gahyeon merogoh laci mejanya, lalu menyerahkan selembar LKS pada Jungkook, masih tanpa sepatah kata pun. Bahkan sampai Jungkook berlalu pun suara Gahyeon masih tak terdengar.

Di antara 25 penghuni kelas, tampaknya hanya Jungkooklah satu-satunya insan yang menyadari dan mengakui keberadaan Gahyeon. Jungkooklah yang memperlakukan Gahyeon layaknya warga kelas yang lain, mencakapinya, sesekali menanyakan keadaannya, bahkan beberapa kali membela gadis itu dari pem-bully-an teman-temannya. Gahyeon sadar itu adalah bentuk tanggung jawabnya senagai ketua kelas, namun tak bisa dipungkiri Gahyeon yang miskin atensi sangat tersanjung dengan perhatian-perhatian kecil berian Jungkook.

Itulah alasannya tak dapat menahan diri untuk tak jatuh hati pada pemuda Jeon tersebut. Di samping itu Jungkook punya paras yang tampan, wajah atletis, senyum manis, dan otak cemerlang. Bukankah ia tipikal cowok idaman?

Gahyeon paham betul terhadap kecilnya kemungkinan Jungkook akan menyadari perasaannya. Gahyeon pun tak berharap lebih, tak terlalu berharap Jungkook akan membalas perasaannya. Tak apa, bagi dara Lee itu perhatian-perhatian kecil dari Jungkook sudah cukup. Selama dirinya masih ada dalam penglihatan Jungkook dan keberadaannya tak diabaikan oleh pemuda itu, sudah cukup. Gahyeon merasa puas dengan mencintai Jungkook diam-diam.

***

“Aku tidak menyukainya!”

Seruan dengan warna suara yang familiar itu tertangkap oleh pendengaran Gahyeon, membuat langkah gadis itu terhenti untuk sesaat. Gahyeon tahu jelas siapa pemilik suara tersebut. Tak lain dan tak bukan adalah Jeon Jungkook. Seingatnya, waktu belum terlalu lama berlalu sejak ia meninggalkan kelas untuk menuju kamar kecil. Apa yang terjadi selama lima menit kepergiannya dan membuat Jungkook yang biasa pendiam tahu-tahu berteriak?

Gahyeon hendak mengabaikan, bermaksud melanjutkan kembali langkahnya, namun suara Jungkook kembali mengurungkan niatnya.

“Dengar, aku memang beberapa kali mengajaknya berbicara. Mungkin di antara kelas kita akulah satu-satunya orang yang masih mau berinteraksi dengannya. Namun apa itu berarti aku memiliki rasa padanya? Tidak! Aku hanya merasa bertanggung jawab sebagai ketua kelas.”

Siapa yang sedang mereka bicarakan?

“Tak usah berdalih dan membawa-bawa jabatanmu, Mr. Jeon,” sahut seorang gadis yang Gahyeon kenal dari suaranya sebagai Siyeon. “Kalau kau benar hanya menganggapnya tak lebih dari warga kelas, perhatianmu tak akan seberlebihan itu. Ini jelas kau punya perasaan lebih terhadapnya.”

“Betul!” sambut teman-teman yang lain dalam suara yang universal.

“Ini lebih dari sekadar peran sebagai ketua kelas. Hampir setiap hari kau menyapanya, menanyakan kabarnya. Coba pikir dengan insting laki-lakimu. Bukankah itu tampak seperti konversasi yang dijalin oleh pria yang sedang pedekate?”

Gahyeon mencoba mengintip ke dalam kelas. Tampak Jungkook yang sedang berdiri di depan kelas, bagai terdakwa yang sedang diadili. Lebih mengerikannya, satu diadili oleh 23 siswa. Perbandingan yang sangat tidak seimbang.

“Katakan sejujurnya, Jungkook-ah,” kali ini terdengar suara Taehyung. “Bagaimana perasaanmu terhadap Lee Gahyeon? Tidakkah kau merasa dia sedikit aneh?”

“Bukan sedikit. Melainkan sangat aneh!” timpal yang lainnya.

Aku? Gahyeon menunjuk diri sendiri. Mereka sedang membicarakan tentangku?

Gahyeon merasakan hatinya yang bertalu-talu menanti jawaban apa yang hendak keluar dari mulut Jungkook. Kuriositasnya melesat hingga mencapai titik puncak. Ia tak berharap banyak akan pengakuan teman-temannya, namun tak bisa dipungkiri ia menyimpan asa yang besar kepada ketua kelasnya. Selama ini hanya Jungkooklah yang bisa ia jadikan andalan.

Lantas apa penilaian Jungkook terhadapnya?

See? You’re hesitating!” celetuk Namjoon. “It means kau punya perasaan terhadapnya, hanya takut untuk mengakuinya di hadapan kami, right?!”

Detik-detik terasa berlalu begitu lama bagi Gahyeon. Demi dreamcatcher perak yang tergantung di depan pintu kamarnya, mengapa Jeon Jungkook tak jua memberi jawaban?

“TIDAK!!!” seru Jungkook akhirnya. Suaranya keras, bahkan ini teriakan terkeras Jungkook yang pernah Gahyeon dengar. Gemanya menyeruak hingga ke lorong luar kelas.

“Dengar! Kalian salah paham! Aku sama sekali tak punya rasa padanya! Aku tidak menyukainya! Hei, sama seperti kalian, aku pun menganggapnya aneh. Gadis terkucil si yatim piatu. Dara pendiam yang lusuh. Aku juga berpikir demikian tentangnya. Puas?!”

Rentetan kata yang diucapkan Jungkook barusan bagai menikam hati Gahyeon. Ralat, tak sekadar menikam, namun menusuk berkali-kali. Gadis itu tak menyangka Jungkook yang selama ini baik terhadapnya rupanya tak lebih dari ular. Alim di depan namun busuk di belakang. Munafik.

Kenyataan menampik Gahyeon terlalu keras, membuat sang gadis tak mampu lagi menahan air matanya agar tidak tumpah.

“Lantas mengapa selama ini kau memperlakukannya dengan baik kalau kau tahu gadis itu tak pantas mendapatkannya?”

“Aku hanya tak mau mencari masalah dengan guru dengan statusku sebagai ketua kelas. Jika kalian tak memaksaku menjadi ketua kelas waktu itu, tentu aku sudah bergabung dengan kalian untuk menyiksanya. Asal tahu saja, aku juga menganggap dia menyebalkan. Aneh.”

Jeon Jungkook, kumohon! Hentikan! jerit Gahyeon dalam hati.

Tak tahan lagi, Gahyeon memberanikan diri masuk ke kelas. Persetan dengan anggapan teman-teman mengenai dirinya. Toh sudah terbukti bahwa mereka membencinya, termasuk Jungkook sekalipun. Mengabaikan tatapan kawan sekelas, Gahyeon menerobos masuk, dan langsung menuju bangkunya. Sesuai dugaannya, kelas mendadak sunyi; semua terkejut dan bungkam karena kedatangan si objek pembicaraan. Secepat mungkin Gahyeon memasukkan semua barang-barang yang berceceran ke dalam tas, dan segera angkat kaki dari ruangan rasa neraka tersebut.

Air mata masih mengalir saat gadis itu melangkahkan kaki meninggalkan kelas. Rasa benci, marah, kecewa, dan muak bercampur menjadi satu. Kekecewaan dan kemarahan terbesar ditujukan pasa Jungkook, manusia terbusuk yang pernah ia temui. Omong kosong dengan semua sapaannya, hati pemuda itu sama juga busuknya dengan mereka yang jelas-jelas mem-bully-nya di depan umum. Bahkan lebih parah; di balik sifat pendiamnya tersimpan akhlak yang buruk.

Tidak bisa begini. Gahyeon tak bisa membiarkan diri terus-menerus menjadi korban. Suatu hari ia akan membalas dendam. Ya, pasti.

***

Jarum jam dinding bulat yang tergantung di atas papan tulis kelas telah menunjukkan pukul setengah lima sore ketika Gahyeon selesai mengerjakan tugas perbaikan biologinya. Gahyeon memiringkan kepala sedikit, meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Maniknya pun ia kerjapkan beberapa kali guna mengistirahatkan indra penglihatan yang terasa penat.

“Sudah selesai? Biar aku yang kumpulkan.”

Suara bariton itu lagi. Suara bariton yang kini Gahyeon benci mendengarnya. Dulu suara itu berhasil membuat senyumnya terulas, namun kini gadis itu malah ingin muntah ketika mendengarnya. Muak.

Oh, sejak kejadian beberapa hari yang lalu, Gahyeon dapat merasakan kecanggungan yang tercipta di antara mereka. Tak sekali dua kali gadis itu menangkap perasaan bersalah yang tersirat di wajah Jungkook ketika mereka berpapasan. Akan tetapi bagi Gahyeon sekadar guilty feeling tanpa aksi tak ada gunanya. Lagipula, kalau Jungkook meminta maaf sekalipun, dara Lee itu tak sudi mengampuninya.

Gahyeon tak langsung menyerahkan tugasnya pada Jungkook. Ia terlebih dahulu memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, bersiap untuk pulang. Setelah beres dan tas ransel telah terpanggul dengan baik di punggungnya, Gahyeon menghampiri bangku Jungkook.

“Aku pulang dulu,” ujar Gahyeon seraya memberi dua tepukan pada pundak sang pemuda Jeon. Setelahnya ia beranjak meninggalkan kelas.

Sambil tungkainya menguntai langkah menyusuri lorong, ranum merah tipis gadis itu mengulas senyum miring.

“Gahyeon-ah!”

Gema tersebut menyeruak di sepanjang lorong. Gahyeon menghentikan langkah, lantas senyum miringnya makin terukir lebar.

Ketika gadis itu berbalik, Jungkook sudah terlebih dahulu berlari menghampirinya. Tak sekedar itu, ia bahkan menyelipkan lengannya dengan lengan Gahyeon, bagai menggandeng gadis itu.

“Jangan tinggalkan aku,” ujar Jungkook. “Aku hendak pergi bersamamu.”

Gahyeon memasang ekspresi terkejut. “Woah, ada apa denganmu, tuan Jeon? Kau hendak ikut denganku, ke mana pun aku pergi?”

Jungkook mengangguk pelan.

“Baiklah,” Gahyeon kembali menepuk pundak Jungkook, “kau akan ikut ke rumahku.”

Jeon Jungkook, kau ada dalam kendaliku sekarang! pungkas Gahyeon dalam hati.

***

Gelap.

Adalah hal pertama yang Jungkook rasakan ketika kesadarannya kembali. Semua hitam pekat tanpa pencahayaan. Tak ada yang bisa terlihat meski ia telah membuka mata lebar-lebar. Gulita menyelimutinya dengan lekat.

Hal berikutnya yang pria itu sadari adalah kedua kaki dan tangannya yang terikat kuat. Tampaknya dipautkan erat pada kursi yang kini ia duduki. Percuma Jungkook menggeliat berusaha melepaskan diri karena yang ia dapatkan adalah ikatan itu semakin erat seiring pergerakannya plus sedikit demi sedikit serabut tali mulai menancap pada kulitnya. Perih.

Di mana aku?

“Oh? Kau sudah bangun?”

Jungkook menolehkan kepala cepat ke arah sumber suara. Bersamaan dengan itu, sebuah lampu teplok menyala. Pencahayaannya tak terlalu baik, masih menimbulkan kesan remang-remang, tetapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

“Lee Gahyeon?”

Pemuda tersebut butuh sekitar tujuh detik untuk mengonfirmasi bahwa penglihatannya tak salah. Kini, di hadapannya, seorang gadis sedang berjongkok. Matanya menatap Jungkook tajam. Sebelah sudut bibirnya terangkat.

“Ya, ini aku.”

Gahyeon berdiri. Saat itu Jungkook baru menyadari bahwa penampilan Gahyeon berbeda dari biasanya. Crop tee merah ati tanpa lengan yang mengekspos baik pundak mulus maupun perut ratanya. Hot pants hitam setengah paha, memberi kesempatan bagus untuk menunjukkan sepasang tungkai jenjang.

Melihat Gahyeon yang beda dari biasanya – tak bisa dipungkiri – membuat Jungkook menelan ludah.

Namun, akal sehatnya kembali bekerja. Firasatnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tak beres.

“Ini di mana? Mengapa aku di sini?”

Gahyeon melangkah menuju belakang Jungkook. Dibelainya garis dagu pria itu dengan lembut. Namun, itu malah membuat Jungkook bergidik ngeri.

“Aku akan membuat ini menjadi malam yang tak terlupakan untukmu,” bisik Gahyeon.

“Ma-maksudmu?”

Gahyeon masih menunjukkan senyum miring penuh misteri. “Hari di mana kau menghinaku di depan teman-teman sekelas, aku tak akan melupakannya. Karena itu, hari ini, aku akan membuatmu merasakan hal yang sama. Memiliki sebuah memori yang akan kau ingat seumur hidup.”

Gadis itu mendudukkan bokong tepat pada pangkuan Jungkook sebelum melanjutkan, “Setelah ini mungkin kau merasa ingin melarikan diri. Namun, maaf, tak ada jalan untuk kabur. Bahkan berteriak pun adalah percuma; tak akan ada orang yang mendengarmu dari sini.” Gahyeon menyisir pelan poni Jungkook dengan jemari lentiknya. “Like this, stay in this nightmare forever.”

“Gahyeon-ah, wae geurae? Aku …. Bukan itu maksudku beberapa hari yang lalu. Aku – “

Jungkook terpaksa membiarkan kata-katanya terpotong ketika tahu-tahu Gahyeon memagut labiumnya.

“Bagaimana?” celetuk sang gadis. “Apa bibirku semanis ceri?”

Tampaknya Gahyeon memang tak membutuhkan jawaban, karena dua sekon kemudian ia bangkit berdiri, lalu berjalan beberapa langkah ke depan, menghampiri sebuah meja kecil. Ia kembali dengan dua buah benda di tangannya.

“Kau tahu apa ini?” tanya Gahyeon sambil mengacungkan tangan tepat depan wajah Jungkook.

Cutter di tangan kiri dan teddy bear ukuran sehasta di tangan kanan. Jungkook pun memberi tatapan penuh tanda tanya pada gadis itu.

“Kau tahu voodoo?”

Voo … doo?”

Yep. Dengan dua benda ini aku dapat menyiksamu semauku. Hebatnya lagi, aku bahkan tak perlu menyentuhmu. Cukup dengan melampiaskannya pada boneka tak berdosa ini. Mengerti maksudku?”

“Tunggu sebentar. Kenapa aku – “

SRET!

Gadis itu membuat sebuah sayatan melintang dengan ujung cutter pada lengan bonekanya. Hanya sebuah sayatan kecil, tetapi sukses membuat korbannya mengalami pendarahan hebat di lengan. Teriakan Jungkook pun lepas tanpa kendali.

Evile smile Gahyeon terulas. “Let the game begin, Mr. Jeon!”

Sebuah sayatan lagi, membuat Jungkook tercekat hebat. Ia meronta kuat-kuat minta dilepaskan. Kepalanya bergerak dengan gelisah nan liar. Sesuatu terasa mencekik lehernya kuat-kuat, menyebabkan ia kesulitan untuk bernapas.

Sebuah sayatan. Tiba-tiba kepalanya terasa pening. Penglihatannya buram dan amat sakit. Rasanya bagai ada yang menusuk indra penglihatannya dengan benda tajam.

Sebuah sayatan, menyebabkan punggung Jungkook ngilu luar biasa. Seolah ada yang menancapkan bertubi-tubi jarum pada rangkanya. Tak hanya itu, perutnya serasa ditonjok berkali-kali, membuat pemuda itu merasa mual yang tak terkira.

Jungkook sempat mengira penderitaannya akan berakhir ketika melihat Gahyeon yang berjalan ke arahnya. Namun, dugaannya salah. Satu-satunya yang gadis itu lakukan adalah melepaskan ikatan Jungkook pada kursi, dan membiarkannya berbaring meringkuk di lantai yang dingin dan berdebu – tentunya masih dengan ikatan pada tangan dan kaki.

“Melihatmu dengan posisi ini lebih baik,” ucap Gahyeon.

Penyiksaan kembaki dimulai. Kali ini, Gahyeon menusuk lengan teddy bear-nya dengan solder yang entah sejak kapan telah siap. Suhu tinggi merusak kain boneka tersenut, membuatnya berlobang. Hal demikian juga terjadi pada lengan Jungkook. Panas, berlubang, dan beraaap.

AAAARRGGHT!!!” Jungkook menjerit sejadi-jadinya saat rasa panas merobek kulit lengannya di beberapa titik secara bersamaan. Darah segar seketika mengucur deras.

Dalam keadaan seperti itu, Gahyeon malah terbahak. Puas.

“Lagi, Jungkook-ah! Berteriaklah!”

Gahyeon menggerakkan soldernya mengelilingi kepala teddy bear. Tahu-tahu darah merembes dari kepala pemuda itu, disertai dengan rasa sakit yang hebat.

Kembali teriakan kesakitan Jungkook mengudara, disambut tawa puas nan jahat Gahyeon.

“Kumohon hentikan, Gahyeon-ah … “ rintih si pemuda Jeon.

“Hentikan? Wah, aku baru saja mulai.”

Bosan dengan dua senjatanya, kali ini Gahyeon memutuskan untuk menggunakan tangannya sendiri. Dengan tenaga penuh, ia meremas teddy bear itu.

Beberapa meter di depan, Jungkook mengalami kejang-kejang yang hebat. Matanya mendelik ke atas, sementara darah masih mengucur dari kepalanya.

“Ah, ini menyenangkan!”

Meski dengan pandangan yang sudah mengabur, namun gambaran akan Gahyeon yang duduk manis dengan kaki menyilang masih tertangkap oleh Jungkokk. Belum lagi suara tawa gadis itu yang terdengar menjijikkan dan menakutkan. Walau masih terikat, Jungkook tak dapat menahan diri untuk mengepalkan tangannya. Marah.

Sementara itu Gahyeon melemparkan bonekanya ke lantai, lantas menginjak-injaknya dengan tenaga ekstra. Jungkook pun merasakan akibatnya. Sekujur tubuhnya sakit bagai dijatuhi batu besar berkali-kali. Tak hanya itu, setiap pijakan pada boneka membuatnya mengeluarkan darah dari nulut. Muntah darah.

Jungkook sudah tidak kuat. Kesadarannya sudah menurun drastis. Kini ia bagai berkubang dalam darahnya sendiri. Sekujur tubuhnya gemetar, pandangannya sudah tak awas, dan ngilu di setiap inci badannya.

Melalui suara sepatu hak tinggi yang dikenakan sang gadis, Jungkook tahu bahwa Gahyeon kini menghampirinya. Namun, ia sudah tak punya tenaga untuk peduli.

“Oh, kau rupanya lebih lemah dari yang kukira,” celetuk Gahyeon. “Ini bahkan belum puncaknya. Huft, kurasa setelah ini kau tak akan bertahan begitu lama.”

Kembali jemari gadis itu menyisir surai kecoklatan Jungkook. “Pelajaran untukmu, Tuan. Berhati-hatilah dengan siapa kau mencari masalah. You’ve messed with the wrong person.”

Menggunakan sebuah tali rafia yang tergeletak di lantai, tangan Gahyeon dengan cekatan bergerak untuk melilit leher boneka teddy bear-nya erat. Di sana, Jeon Jungkook terbatuk-batuk hebat karena saluran pernapasannya terhambat; tercekik.

“Selamat malam, Jungkook-ah. Semoga kau menikmati tujuan terakhirmu.”

Sebagai sentuhan akhir, Gahyeon meletakkan boneka di lantai dengan posisi tertelungkup. Kemudian ditancapkannya cutter pada punggung bawah boneka tersebut. Beberapa saat kemudian, muncullah sebilah pedang yang tahu-tahu telah tertancap dalam pada punggung Jungkook. Merobek dagingnya sangat dalam, mengakibatkan rasa perih nan ngilu yang teramat hebat seraya darah segar mengalir deras.

Rintihan Jungkook bahkan sudah tak terdengar, akibat dari kesadarannya yang sudah menipis.

Tak tok tak tok.

Sepatu hak tinggi itu mengeluarkan suara mengetuk lantai seraya sang pengguna melanglang meninggalkan ruangan. Kini tinggallah Jungkook sendirian, berkubang dalam aliran darahnya, menunggu ajal yang sedang dalam perjalanan untuk menjemput.

.

“In the endlessly repeating nightmare
Stay trapped like this forever.”
–Good Night (Dreamcatcher)

-fin-

A/N

So, it’s really my first time write someting unsual for myself: Gore ft Supranatural. Makanya jatohnya aneh banget ini. Feel-nya belum dapet, hasil pemikiran otak sama hasil eksekusi masih belum sejalan hwhwhw

Tapi bener deh kalian harus banget denger lagu Dreamcatcher yang satu ini. Well, lagu mereka yang Chase Me juga enak sih. Pokoknya kalian harus banget cari tahu tentang girl group ini! Dark conceptnya dapet banget, koreonya keren, lagunya enak. Dabest banget! /seketika promosi

Udah ah ini keknya author notes paling ngelantur punyaku hahaha… Don’t forget to RCL ya 😀

Advertisements

9 thoughts on “[Oneshot] Don’t Mess with Me

  1. WAH KAK PARAH

    KU KIRA SI GAHYEON INI PEMBUNUH BERDARAH DINGIN YANG MAINNYA LANGSUNG TANPA PERANTARA /GA/ INI BAGUS KAKGEEE, KENAPA BILANG GAPEDE ISH SEBEL. MALES.

    TERUS COBA BAYANGIN YA:’) DALAM POSISI MODE ACASHA, BAGAIMANA DARA ITU MEMBACA INI SEMUA. PINGSAN IYA, MAU IKUT JUNGKOOK IYA /GA/

    JADI INI AGAK SUPERANATURAL GITU YA?! AH KEREN, MAU COBA /DITIMPUK/ OKE KAKGE KEEP WRITING DAN SEMOGA TINGKAT-GAK-PEDENYA HILANG YA YA YA!!

    Liked by 1 person

  2. Kakceeeeeeeeeeee sial! Kukira si Jungkook yang bakal saikoin Gahyeon, ternyata engga gituuuu.
    Aku kaget pas Gahyeon bawa cutter sama teddy bear, seketika bilang dalem hati “anjir disantet anjir kena vodoo mampus lu mampus” dan ternyata iya beneran si Gahyeon sama bejatnya kaya Jungkook /krik/

    Terakhir, aku suka ficnya! ❤️❤️ akhirnya ya kakcee nulis out of zona nyaman heheyy, tapi enggak fail kok. Ini kerenn 👍🏻👍🏻 keep writing yaa, kapan2 bikin gore lagi okesipp😆

    Liked by 1 person

  3. Ya ampun kak cee. Walau aku ikut nyumbang ide tapi ini penggambarannya mantap, aku suka. Buat yang pertama kali buat ginian, ini bagus banget❤❤❤ pas adegan voddoo itu aku bacanya sampe meriding

    Padahal awalannya aku kasian sama si Gahyeon gitu ya yang terhina gitu, temen sekelasnya jahat tapi sayangnya dia salah kaprah pada akhirnya 😂😂😂

    Keep writing kak ce 😘

    Liked by 1 person

    • Wakakaka iya sa tks bgt utk lapak konsultasinya ya hwhwhwwhw wah aku ga menyangka bakal dpt compliment gini 😄 makasi looohh..
      Pan kapan blh ya konsultasi lg.. Unch😘

      Like

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s