[Ficlet] Rain

rain-req

RAIN

.

Slice-of-life || Ficlet || Teen

.

Starring
EXO’s Luhan and a girl

.

“Haruskah aku membenci hujan lagi?”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot. Poster was made by Kyoung©Poster Channel

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Luhan melompati genangan air terakhir sebelum akhirnya berteduh di halte bus. Dalam hatinya ia menggerutu. Musim hujan sialan. Sekarang hampir setiap hari – oh, mungkin lebih tepatnya setiap hari – hujan deras turun mengguyur kota Seoul. Lebih parahnya lagi, bila hujan sudah turun, akan lama berhentinya. Padahal Luhan ingin cepat sampai di rumah. Kan kalau sudah berada di rumah, banyak hal yang bisa ia lakukan. Dari mulai tidur-tiduran di tempat tidur sambil mendengarkan musik sampai mengganggu adik perempuannya hingga menangis.

Sebenarnya ibunya telah berkali-kali menyuruh Luhan membawa payung atau jas hujan, agar bila hujan turun tiba-tiba seperti ini, Luhan tetap bisa pulang ke rumah tanpa harus menunggu. Tetapi Luhan selalu menolaknya. Oh, ayolah. Buku-buku pelajarannya itu sudah mengisi tas ranselnya hingga hampir penuh dan ia masih harus menambah payung di dalamnya? Dan apa kabar dengan tulang punggungnya nanti? Bagaimana kalau ia jadi bungkuk bila sudah tua? Bagaimana kalau tubuhnya itu menjadi pendek padahal ia adalah anggota tim inti basket sekolah?

Luhan menggosok-gosok rambut serta lengannya yang sedikit basah terkena hujan dengan sembarangan. Berlaksa-laksa doa ia panjatkan dalam hati agar hujan cepat berhenti.

Aw! Hati-hati!”

Suara seorang gadis. Luhan menoleh ke belakang. Oh, rupanya seorang gadis manis sedang duduk di belakangnya. Gadis manis yang mengenakan bando merah muda itu mengusap tangannya yang terkena titik-titik air hasil cipratan Luhan sengaja tak sengaja.

Luhan membungkukkan badan sedikit. “Ah, maaf. Aku tidak melihatmu ada di situ,” ujarnya sembari melemparkan senyuman meminta maaf. Luhan melanjutkan kegiatannya mengusap lengan dan rambut, tapi kali ini lebih hati-hati agar tidak menciprat siapapun lagi.

Gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Manis sekali.

Tanda-tanda hujan akan berhenti belum terlihat, sementara Luhan sudah mulai bosan. Ya, untuk seorang Xi Luhan yang aktif diminta untuk menunggu dengan diam seperti ini bagaikan sebuah hukuman untuknya. Karena hanya ada dirinya serta gadis manis itu di halte, Luhan pun memutuskan untuk mengajaknya bicara.

“Hai.” Luhan mengulurkan tangannya. “Aku Xi Luhan. Namamu siapa?”

Gadis itu membalas uluran tangan Luhan. “Namaku Park Sherin.”

“Ah …. Senang berkenalan denganmu, Sherin-ssi.”

Lagi-lagi gadis itu tersenyum.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Luhan tidak ingin hujan cepat berhenti. Rupanya Park Sherin adalah seorang gadis yang sangat menyenangkan untuk diajak bicara. Banyak hal yang mereka perbincangkan selama menunggu hujan berhenti di halte bus itu. Dari mulai sekolah, pelajaran yang disukai dan yang tidak disukai, sampai hobi mereka. Ternyata gadis itu juga menyukai olahraga basket.

“Apa hobimu, Luhan-ssi?” tanya gadis itu.

“Aku? Mengganggu adik kecilku, mendengarkan musik, dan basket,” sahut Luhan.

“Basket? Wah, aku juga penyuka basket!”

Senyum Luhan merekah. Ia mengangkat tangan kanannya, mengajak gadis itu ber-high five.

“Aku adalah anggota tim inti sekolah. Bulan depan kami akan mengadakan pertandingan di Seungri High School dalam raga kompetisi olahraga mereka,” cerita Luhan.

Gadis itu bertepuk tangan sejenak. “Hebat sekali. Tadinya aku juga mendaftar untuk menjadi anggota tim inti basket putri sekolahku, tetapi tidak diterima. Katanya aku kurang tinggi,” ujar gadis itu dengan raut wajah sedih, membuat Luhan mau tidak mau tersenyum geli mendengarnya.

Luhan juga menceritakan tentang masa kecilnya di Cina dan gadis itu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Sherin balas menceritakan pengalamannya ketika berlibur ke Cina tahun lalu.

“Waktu pergi ke Cina bersama Chanyeol oppa, eomma, dan appa, kami mengunjungi tembok besar china. Wah, kakiku pegal-pegal menyusurinya. Padahal kami tidak menyusuri seluruh temboknya,” cerita gadis itu. “Lalu aku juga mencoba cemilan yang terbuat dari kecoa dibakar. Awalnya aku geli melihatnya, tetapi setelah dimakan rasanya enak juga.”

Luhan tersenyum. “Waktu kecil itu adalah jajananku setiap hari. Selain itu ada juga belalang bakar, jangkrik goreng. Kau sudah coba?”

Sherin menampilkan ekspresi jijik sejenak, setelah itu menggeleng.

“Kau harus coba. Rasanya enak.”

Menghabiskan waktu dengan mengobrol membuat waktu tak terasa berlalu begitu cepat. Tahu-tahu hujan telah berhenti, tinggal tersisa titik-titik air yang menetes turun dari kanopi halte. Sherin bangkit berdiri. Ia menundukkan badannya sejenak ke arah Luhan. “Luhan-ssi, karena hujan telah berhenti, aku harus pulang dulu. Senang berkenalan denganmu. Annyeong!”

Sherin melambaikan tangannya. Belum sempat Luhan membalas lambaian tangannya, gadis itu sudah berlari menyusuri trotoar. Luhan hanya bisa menatap punggung gadis itu dengan tatapan kosong sebelum akhirnya melanjutkan perjalanannya ke rumah.

***

Semenjak hari itu, Luhan yang tadinya sangat membenci hujan sekarang malah menunggu hujan turun. Ia ingin bertemu gadis bernama Park Sherin itu lagi. Bodohnya ia, tidak menanyakan dimana gadis itu tinggal, dimana gadis itu bersekolah, atau bahkan nomor teleponnya. Sayangnya akhir-akhir ini hujan justru jarang turun, atau hanya turun sebagai gerimis titik-titik atau baru turun hujan deras setelah Luhan sampai di rumah.

Akhirnya hari yang Luhan tunggu-tunggu pun tiba. Sore itu hujan turun dengan lebatnya. Sementara teman-temannya segera kembali ke gedung sekolah untuk berteduh, Luhan malah berlari ke luar sekolah menuju ke halte bus tempat ia bertemu dengan Sherin, mengabaikan tetesan hujan yang dengan ganas mengguyur tubuhnya.

Di halte itu tidak ada siapa-siapa selain Luhan. Luhan tersenyum. Otaknya memikirkan topik pembicaraan yang akan ia obrolkan dengan Sherin. Tak lupa Luhan mengecek penampilannya melalui pantulan bayangan di kaca halte, meskipun rambutnya basah terkena air hujan, tetapi tetap saja terlihat keren.

Waktu berlalu. Tidak ada tanda-tanda gadis itu akan datang. Hujan sudah mulai mereda. Mendadak Luhan merasa dirinya bodoh. Siapa tahu gadis itu tidak ada urusan di dekat sini. Mungkin saja gadis itu sudah pulang sebelum hujan turun atau pulang dengan dijemput. Perasaan kecewa perlahan menghampiri hati Luhan.

Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di seberang jalan. Kaca jendelanya terbuka. Seorang gadis yang Luhan kenal sebagai sosok Sherin melambaikan tangannya dari dalam mobil.

“Luhan-ssi! Hujannya sudah berhenti, tuh! Kau sudah bisa pulang! Aku akan pergi ke Busan untuk kepindahan sekolah! Kapan-kapan kita bertemu lagi, ya!”

Kaca mobil itu perlahan menutup kembali, dan tak lama mobil itu melaju, meninggalkan Luhan hanya bisa terdiam menatap kepergian mobil hitam itu dengan jantung yang seolah sudah turun sampai ke kaos kakinya.

Park Sherin-ssi, haruskah aku mulai membenci hujan lagi?

-fin-

Advertisements

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s