[Vignette] Extremum Fato

req-grace-ex-fato.png

EXTREMUM FATO

.

Romance, Drama, Angst, (slight!) Idol-life || Vignette || PG-15

.

Starring
EXO’s Luhan and a girl

.

“Terima kasih karena sudah mengabulkan permintaan terakhirku.”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot. Big thanks to  IRISH for the beautiful poster.

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Saya sangat berterima kasih apabila Tuan Luhan mau meluangkan waktunya untuk mengunjungi putri saya. Terima kasih atas perhatiannya.

Hormat saya,
Mr. Lee

Luhan melipat kertas surat tersebut dan menyerahkan pada manajernya. Tangannya terangkat memijit pelipisnya yang mendadak berdenyutt. Helaan napas terdengar keluar dari mulutnya.

 “Sudah berapa surat yang dikirimkan oleh Tuan Lee ini?” tanya Luhan tanpa mengangkat wajah

“Bersama dengan surat ini, semuanya ada tujuh surat, Luhan,” sahut sang manajer.

“Bagaimana kondisi gadis itu sekarang?”

 “Menurut kabar yang saya dapat dari para penggemar, kondisi gadis itu memang makin parah. Gadis itu bahkan sudah dipindahkan ke ruang ICU sejak minggu lalu. Diperkirakan, hidupnya tidak akan lama lagi.”

Luhan menganggukkan kepalanya. “Hmm …. Begitu ya ….”

Sudah tiga bulan terakhir ini Luhan dikirimi surat dari orang tua salah satu penggemarnya. Gadis penggemar bernama Lee Mey Chan itu menderita leukimia akut dan sampai sekarang kondisinya tidak ada perbaikan. Orang tua gadis itu – dengan bantuan dari para penggemar – mengirimi surat kepada Luhan memintanya untuk paling tidak satu kali mengunjungi putri tercinta mereka, sebagai permintaan terakhir dari gadis itu. Pihak agensi Luhan sudah pernah memberikan album baru bertanda tangan Luhan pada sang gadis, tetapi dengan surat yang terus saja datang sepertinya meminta Luhan untuk benar-benar mengunjunginya.

Bukannya Luhan tidak mau, masalahnya adalah ia sangat sibuk. Pekerjaannya sebagai artis sekaligus penyanyi menuntut Luhan untuk banyak menghabiskan waktunya di jalan, studio rekaman, dan tempat syuting. Ia bahkan hanya punya waktu tidur tiga sampai empat jam sehari.

Luhan mengangkat wajahnya, menatap manajernya. “Apa kegiatanku akhir pekan ini?”

Sang manajer mengeluarkan iPad mini-nya, perangkat yang setia menemaninya, tempatnya mencatat semua jadwal Luhan. Ia menekan layarnya beberapa kali untuk sesaat. “Pemotretan untuk sampul depan majalah Vogue China, dilanjutkan dengan wawancara dengan tabloid Xiao Pei. Setelah itu bertemu dengan Tuan Fang untuk membahas tentang peluncuran album barumu.”

Sambil menggigit bibir bawahnya, Luhan berpikir sejenak. Sempat terbersit di benaknya untuk menjenguk penggemar yang sakit itu. Bagaimana pun, karena dukungan penggemarnyalah Luhan bisa mendapatkan semua popularitas seperti sekarang ini.

“Tolong pindahkan semua jadwal itu ke hari selanjutnya. Kalau tidak salah hari itu jadwalku hanyalah makan bersama keluarga besarku, kan? Tolong kau hubungi semua pihak majalah dan tabloid untuk menggeser jadwalnya. Huft … sepertinya aku juga harus menghubungi ibuku karena untuk kesekian kalinya aku tidak dapat ikut makan malam keluarga besar.”

Manajer Luhan hanya mengangguk patuh. “Baiklah.”

***

Akhir pekan itu Luhan memutuskan untuk mengunjungi gadis penggemar itu. Dari informasi yang agensinya dapat, Lee Mey Chan dirawat di China National Hospital. Sebagai orang terkenal, berita kunjungan Luhan ke rumah sakit tersebut dapat langsung diketahui oleh banyak orang. Tidak heran begitu Luhan sampai di rumah sakit, banyak wartawan yang telah menunggunya di depan pintu lobi. Hanya saja Luhan tidak mengizinkan para wartawan tersebut untuk mengikutinya sampai ke kamar pasien. Luhan pun tidak berkata apa-apa saat para wartawan mulai mewawancarainya, ia hanya membiarkan manajernya membuka jalan baginya.

Ruang ICU 1365. Luhan membuka pintu putih itu dengan perlahan. Seorang ibu dan seorang bapak menoleh ke arahnya. Luhan mengerjapkan mata sejenak. Ingatannya berkata bahwa kedua orang tersebut familiar baginya. Luhan memandangi wajah kedua orang yang menghampirinya itu, sambil berusaha menggali memorinya. Hingga…

“Luhan! Jangan lepas tanganku! Nanti aku jatuh!”

“Bodoh! Jangan menyetir dengan kecepatan tinggi seperti itu!”

“Memang tidak ada manusia lain yang lebih jelek dari dirimu, Tuan Xi.”

“AKU BILANG AKU TIDAK MAU JANGKRIK BAKAR!!!”

“Bisa kau temani aku sepulang kuliah?”

“Orang tuaku ingin bertemu denganmu.”

Dan juga..

“Selamat datang. Kau pasti Luhan, kekasih putriku, ya kan? Mey Chan banyak bercerita tentangmu.”

“Kami titipkan Mey Chan padamu. Tolong jaga dia dengan baik, ya..”

Luhan terkesiap. Memori itu …. Memori itu …. Memori tentang gadis tercintanya bertahun-tahun yang lalu ….

“PAMAN?”

Lelaki berusia lebih dari setengah abad itu memeluk Luhan erat-erat. Luhan tidak mampu membalas pelukan lelaki itu. Berbagai perasaan bercampur aduk di dadanya. Rindu, cemas, sedih, bingung.

Mengapa … mengapa orang tua gadis itu bisa ada di sini?

“Luhan sayang, kau benar-benar datang ….” Kali ini sang ibu pun ikut memeluk Luhan. Isak tangis terdengar dari bibir beliau.

Setetes air mata jatuh menuruni pipi Luhan. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi.

Tuan Lee menepuk punggung Luhan beberapa kali, seolah memberikan kekuatan pada lelaki itu. Saat itulah Luhan tidak dapat menahan air matanya lagi.

“Paman, Bibi, apa yang terjadi dengan Mey Chan?” Nada suara Luhan seolah menuntut jawaban.

Tuan dan Nyonya Lee tidak menjawab. Mereka hanya meminta Luhan untuk melihat keadaan putri semata wayang mereka sendiri.

Luhan berjalan pelan mendekati tempat tidur Mey Chan. Gadis itu terbaring dengan mata terpejam. Tangan kirinya dihubungkan dengan selang infus, sementara tangan kanan terhubung dengan kantong yang berisi darah. Selang oksigen melintang di sebelah atas bibir gadis itu.

Luhan menggamit tangan Mey Chan. Tangan putih itu terasa amat dingin baginya. Sebelah tangannya lagi mengelus kepala Mey Chan dengan pelan.

“Mey Chan. Bangun. Ini aku, Luhan,” bisik Luhan tepat di telinga kanan Mey Chan.

Seolah-olah mendengar bisikan Luhan, gadis itu membuka matanya. Perlahan, seolah membuka mata merupakan pekerjaan terberat baginya. Kepalanya menoleh, dan maniknya bertemu manik Luhan. Tak dapat ia cegah, kristal bening langsung berkumpul pada kelopak mata gadis itu.

“Luhan … ” bisiknya parau.

Luhan berusaha untuk tersenyum, menahan semua rasa galau yang menyerbu dadanya. Ia yakin Mey Chan tidak mau melihatnya dalam keadaan bersedih. “Ya, Mey Chan?” sahut Luhan sambil terus mengelus rambut Mey Chan.

“Terima kasih sudah datang ….” Gadis itu memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya lagi. “Terima kasih sudah mengabulkan permintaan terakhirku.”

Tuan Lee menepuk bahu Luhan dua kali. “Kau tahu? Mey Chan terus membujukku untuk menulis surat memintamu untuk datang. Dia ingin sekali bertemu denganmu untuk terakhir kalinya. Ia sangat merindukanmu, Luhan.”

Luhan tersenyum. Matanya kembali menatap gadis itu. “Sejak kapan kau berubah menjadi seorang Lufan, Nona Lee Mey Chan?”

Mey Chan tidak menjawab pertanyaan Luhan. Gadis itu hanya tersenyum kecil. Ibu Mey Chanlah yang seolah mewakili gadisnya menjawab pertanyaan Luhan. “Semenjak kau debut pertama kali, ia langsung menjadi penggemarmu. Ia sering menyisihkan uang untuk membeli album-albummu. Kalau kau masuk ke kamarnya, kau akan menemukan poster dirimu memenuhi dinding kamarnya.”

“Ia bahkan beberapa kali mendatangi konsermu,” tambah Tuan Lee.

Mata Luhan membulat mendengar penjelasan itu. Ia menoleh ke arah Mey Chan. “Kau mengunjungi konserku? Kenapa kau tidak bilang?”

Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya sambil tetap tersenyum.

“Luhan ….”

“Ya?”

“Bisa kau bantu aku duduk? Aku ingin memelukmu untuk terakhir kalinya.”

Demi Tuhan, haruskah ia mengakui kalau bulu kuduknya merinding setiap kali ia mendengar frase terakhir kalinya? Dan sudah berapa kali keluarga Lee mengucapkan dua kata keramat itu hari ini?

Awalnya Luhan ragu untuk mengabulkan permintaan Mey Chan. Luhan menoleh kepada kedua orang tua gadis itu, meminta persetujuan mereka. Tuan dan Nyonya Lee hanya mengangguk singkat. Mata Luhan beralih ke arah Mey Chan, bertemu pandang dengan manik gadis itu yang memancarkan permohonan dengan sangat padanya. Tak bisa menolak, Luhan pun membantu gadis itu untuk duduk di tempat tidur rumah sakit. Tangan kanannya menopang punggung Mey Chan.

Mey Chan memeluk Luhan erat – walaupun sebenarnya Luhan hanya merasakan cengkraman lemah pada bagian belakang bajunya. Kepala gadis itu bersandar pada dada bidang Luhan. Mey Chan memejamkan matanya, merasakan sentuhan tangan Luhan yang membelai rambutnya lembut.

“Luhan ….”

“Hmm?”

Gadis itu mendongak sejenak menatap Luhan. “Terima kasih telah mencintaiku – setidaknya pernah mencintaiku. Terima kasih karena pernah mengizinkanku menemani hari-harimu. Kau tahu, aku tidak pernah merasa menyesal pernah mengenalmu. Aku tidak tahu apakah perasaanmu terhadapku masih sama, yang pasti kau harus tahu bahwa aku masih mencintaimu.”

Luhan tidak dapat menahan air matanya. “Aku juga masih mencintaimu, Lee Mey Chan ….”

Gadis itu hanya membalas perkataan Luhan dengan senyuman. Perlahan, ia menutup kedua manik indahnya.

Dan sejak itu Mey Chan tidak pernah membuka matanya lagi.

***

Dua bulan kemudian…

Ballroom itu hampir penuh dengan kedatangan hampir 1500 penggemar. Hari ini adalah hari peluncuran album terbaru Luhan, yang diberi judul Extremum Fato. Para penggemar sangat berantusias mengikuti rangkaian acara dari awal sampai akhir. Dimulai dengan acara foto bersama, lalu pembawa acara juga mengadakan permainan kecil berhadiah, bahkan seorang penggemar yang beruntung mendapat kesempatan untuk merasakan sensasi dipeluk oleh Luhan sendiri dalam sebuah permainan.

Tiba saatnya acara bedah album. Saat dimana Luhan akan diwawancara mengenai album barunya, dari mulai persiapan awal album barunya, proses rekaman, syuting video klip, dan berbagai hal lainnya.

“Luhan, lagu utama dari album Extremum Fato ini adalah The Time We were in Love. Dan sepertinya dari semua lagu, lagu inilah yang memiliki makna paling dalam. Lagu-lagu lainnya memiliki makna yang dalam, hanya menurut saya serta para penggemar lagu inilah yang membuat siapapun yang mendengarnya meneteskan air mata,” jelas sang pembawa acara. “Bisa kau ceritakan apa yang menjadi insiprasimu saat membuat lagu ini?”

Luhan menerawang sejenak. Jujur, ia tidak terkejut mendengar pertanyaan ini. Ia sudah menebak akan mendapat pertanyaan ini ketika ia membuat lagu tersebut.

“Sebenarnya, lagu itu adalah lagu paling terakhir yang aku buat. Lagu itu menceritakan tentang sepasang kekasih yang saling mengasihi tetapi karena suatu hal mereka harus terpisah. Kemudian ada suatu kesempatan dimana mereka dapat bertemu untuk yang terakhir kalinya, namun ternyata mereka harus menyerahkan segala yang mereka punya agar mendapatkan kesempatan berharga itu. Di situlah konflik batin muncul,” jelas Luhan.

Pembawa acara bertepuk tangan sejenak. Raut wajahnya terlihat tertarik. “Kalau boleh tahu, apa ada seorang gadis yang menjadi inspirasimu dalam membuat lagu ini?”

Luhan tersenyum. Kepalanya ia anggukkan tegas. “Ya. Gadis itu adalah gadis yang spesial untukku.”

“Siapakah gadis istimewa tersebut?”

Luhan menyapukan pandangannya pada para penggemar. Ia ingin para penggemarnya juga merasakan apa yang ia rasakan, memahami perasaannya, mengerti betapa pentingnya gadis istimewa itu dalam hidupnya.

“Lee Mey Chan. Gadis yang telah mengajarkanku apa arti cinta, bagaimana rasanya mengasihi, dan membuatku belajar bahwa cinta selamanya harus memiliki. Ada kalanya kau tidak mendapatkan cinta yang kau inginkan, tapi bukan berarti itu adalah akhir dari kisah cintamu, kan?”

***

Flashback
5 tahun yang lalu..
Satu bulan sebelum hari debut Luhan

 

“Kudengar agensimu melarangmu untuk berpacaran untuk tiga tahun pertama, kan?”

Luhan menatap gadis itu sedih. Sejujurnya ia juga benci dengan fakta menyedihkan tersebut, tapi mau tidak mau Luhan harus menjalaninya. Akhirnya Luhan hanya mengangguk.

“Kalau begitu, kita akhiri saja hubungan kita?”

Luhan mengangkat wajahnya, menatap gadis itu. Manik Mey Chan sudah berkaca-kaca sejak tadi, menambah rasa pilu dalam dada Luhan.

“Mey Chan, aku – “

“Ssshh ….” Mey Chan meletakkan telunjuknya pada bibir Luhan, menyuruh lelaki untuk diam.

“Tidak apa-apa, Luhan. Aku tahu ini impianmu sejak dulu, menjadi penyanyi terkenal. Aku tidak mungkin menjadi egois dengan menghalangi kesempatanmu yang sudah ada di depan mata, bukan?”

Luhan meraih Mey Chan ke dalam pelukannya, merengkuh gadis bertubuh mungil itu erat. Ia tak bisa mengelak kalau ia sangat mencintai gadis itu.

“Luhan ….”

“Ya?”

“Janji padaku satu hal, kalau kau tidak akan melupakanku, bahkan ketika kau sudah menjadi orang terkenal sekalipun. Oke?”

“Pasti.” Luhan mengangguk tegas. “Tidak akan pernah.”

.

 “Even if it’s the only chance, or if it’s the last chance, I will be alright.”
–Back in Time (Lyn)

 

-fin-

Advertisements

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s