[Oneshot] I G I T U R

screenshot_2016-12-19-16-55-57-1

I G I T U R

.

AU, Angst, Hurt-Comfort, Romance || Oneshot || PG-17

.

Starring
BTS’
Jimin and a girl

.

Inilah yang harus Jimin terima ketika ia dipertemukan dengan sesuatu bernama konsekuensi

 

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

Credit moodboard to pearl.moonlight

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Jimin tak bermaksud untuk memulai hari dengan perasaan hati yang buruk. Buktinya, ketika alarm pagi dari ponselnya berbunyi, kemudian kedua maniknya menjumpai cahaya mentari yang menyusup melalui celah jendela kamar kost-nya, senyum seketika tersungging di ranum merah sang pemuda Park. Seuntai syukur ia panjatkan dalam hati pada Sang Pencipta atas rahmat-Nya yang masih dapat dirasakan. Kemudian Jimin terduduk, meregangkan kedua tangannya ke atas, mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang masih melayang, dan bangkit berdiri. Ia siap untuk menghadapi rutinitasnya.

Semua tampak baik-baik saja, bahkan saat ia sedang melipat selimut sekalipun.

Sampai ponselnya berdenting. Sebuah pesan singkat masuk.

Pesan dari Kang Hyeeun, kekasihnya.

Saat membaca, seketika jantung Jimin bagai berhenti berdetak.

Jimin-ah. Aku hamil.

Hanya tiga frasa, namun itu sudah cukup menarik seluruh kebahagiaan yang telah Jimin kumpulkan. Seluruh kekuatan yang ada di tulang punggung serta tungkainya bagai dihisap, hingga ia bahkan tak dapat berdiri dengan tegak. Cepat-cepat ia mendudukkan bokong di tepi tempat tidur. Matanya mendelik, masih membaca tiga kata itu berulang-ulang, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.

Tidak, tidak ada yang salah. Netranya masih sehat seperti sebelum-sebelumnya.

Godam penyesalan menghantam dada pemuda Park tersebut bertubi-tubi. Tak cukup, ia bahkan mengantukkan kepalanya ke tempat tidur karena marah. Marah pada dirinya sendiri. Kesal, kecewa, takut, galau, frustrasi, semuanya teraduk menjadi satu. Hatinya hancur, perasaannya kacau balau, kepalanya terasa mau pecah.

Ia dan Kang Hyeeun adalah sepasang kekasih yang masih menjalani pendidikan beda jurusan di Seoul National University. Keduanya bukan tipe insan penikmat nafsu dunia. Mereka hanyalah mahasiswa baik-baik yang masuk kelas tepat waktu, mengerjakan tugas, dan mendapat nilai sepantasnya. Bukan tipikal mahasiswa dengan nilai sempurna yang patut menjadi teladan, hanya sekedar bertahan hidup sampai mendapat gelar sarjana.

Seharusnya tinggal setahun sebelum keduanya selesai menempuh bangku kuliah. Dua belas bulan lagi menuju gelar sarjana. Namun semuanya rusak karena keteledoran Jimin. Pupus sudah harapan dua insan tersebut mencapai cita-cita akibat satu malam.

Berawal dari acara perayaan ulang tahun teman mereka, Namjoon, sekitar beberapa minggu yang lalu. Sebagai kekasih yang bertanggung jawab, Jimin berencana mengantar Hyeeun pulang ke apartemennya. Tak ada yang salah malam itu, termasuk pakaian yang keduanya kenakan. Hyeeun mengenakan gaun tanpa lengan berwarna soft pink yang panjangnya mencapai tiga per empat paha, sementara Jimin tampil all black dengan kemeja dan celana panjang hitam. Tidak ada yang salah, semuanya masih dalam kendali.

Namun libido pemuda Park itu mulai bekerja di tengah jalan. Ia tak bisa menahan netranya untuk tidak melirik paha Hyeeun yang terbuka walau sedikit. Surai hitam sang gadis yang disasak membuat pundak mungilnya yang mulus terekspos dengan sempurna. Fantasi Jimin mulai liar. Sepertinya paha itu menarik untuk disentuh. Tampaknya menyenangkan bila Jimin berhasil menggerakkan jemarinya menyusuri pundak bahkan dada Hyeeun. Dan lihatlah ranum kemerahan tersebut. Sejak kapan ranum itu begitu menggoda seolah minta dilumat?

Pasangan yang pada awalnya hendak menuju apartemen Hyeeun pun akhirnya berganti destinasi. Keduanya singgah di sebuah hotel kecil. Memesan sebuah kamar yang paling murah, keduanya pun memutuskan untuk menghabiskan malam dengan tidur bersama.

Sesuatu yang patut disayangkan, malam itu pula, Hyeeun mengizinkan Jimin untuk mengambil keperawanannya.

BODOH!!!

Jimin kembali mengantukkan kepalanya, kali ini ke dinding. Seandainya malam itu ia tetap pada destinasi awalnya, seandainya malam itu ia mengatar Hyeeun dengan selamat, seandainya malam itu ia tak membiarkan libidonya mengambil alih, tentu masa depan cerah masih terbentang di hadapannya sekarang, termasuk untuk gadis itu.

Bahkan Jimin merasa lebih baik Hyeeun menamparnya dan mengatakan bahwa ia adalah pria brengsek lalu memutuskan hubungan manis dua tahun mereka malam itu ketimbang jatuh dalam rayuan kata-kata Jimin untuk tidur bersama dengannya. Jauh lebih baik hubungan merekalah yang berakhir ketimbang masa depan mereka yang hancur berantakan.

***

“Berapa bulan usia bayi itu?”

Ne?”

Sebuah desahan lolos dari mulut Jimin. Oh, ayolah. Ini bukanlah percakapan yang ingin ia bicarakan untuk waktu yang lama. Kalau bisa, ia ingin mengakhiri sambungan telepon secepatnya.

“Berapa usia bayi itu sekarang?” Jimin mengulang pertanyaannya. “Satu bulan? Dua bulan? Tiga bulan?”

“Sepertinya baru beberapa minggu.”

“Kalau begitu itu bukanlah bayi,” balas Jimin cepat dengan nada datar. “Itu hanya segumpal daging yang masih bisa dibuang. Huft, kau mengagetkanku saja. Aku belum siap menjadi seorang ayah.”

Jimin tak mengerti bagaimana rangkaian kata tak berperasaan macam itu bisa keluar dari mulutnya, dari mulut seseorang yang notabene mudah mengucapkan kata-kata manis pembangun semangat. Ia tampak seperti bukan dirinya sendiri. Yang Jimin sadari berikutnya hanyalah suara isakan sang gadis di ujung telepon.

“Lagipula, kau perlu memeriksa apakah itu benar-benar bayiku atau bukan.”

Makin dicerna, makin terasa bahwa kalimat yang terucap oleh Jimin itu memuakkan.

Terdengar sahutan lemah dari Hyeeun. “Tapi, aku belum pernah melakukannya selain bersamamu.”

Jimin mengusap rambutnya dengan kasar, frustrasi. Demi Tuhan, sebutlah ia brengsek atau bajingan, tetapi ia benar-benar tidak mau berurusan dengan bayi, setidaknya untuk saat ini. Ia masih ingin melanjutkan sekolah, mengejar cita-citanya yang sudah ia idamkan sejak kecil; seorang arsitek. Omong kosong tentang tanggung jawab. Selain itu, bagaimana ia bisa bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga barunya apabila ia sendiri tak punya masa depan yang menjamin?

Aish! Aku tak peduli!” ujar Jimin kesal. “Urus saja dirimu dan bayi itu, dan jangan pernah temui aku. Anggap saja kita adalah orang yang tak saling kenal. Aku tak mau terlibat dalam masalahmu.”

“Tapi, Jimin-ah – “

KLIK!

Jimin memutuskan sambungan. Ia tak ingin melanjutkan percakapan yang hanya merusak suasana hatinya. Setelah menekan tombol off, Jimin melempar ponsel ke tempat tidurnya. Ia meraih mantel terdekat. Pemuda Park itu sudah memutuskan untuk meninggalkan rumahnya seharian. Ia punya firasat bahwa Hyeeun akan mendatanginya kemari, dan ia tak mau mengambil resiko untuk bertemu dengan kekasihnya. Pengecut, memang, tetapi inilah dirinya sekarang. Tak berani menghadapi akibat dari perbuatan cerobohnya.

Pria itu memutar kunci rumahnya dua kali. Setelah memastikan bahwa rumahnya terkunci dengan sempurna, tungkainya mulai melangkah meninggalkan kediamannya. Ia masih tak tahu akan pergi ke mana. Yang pasti, ia ingin menghindari kedatangan Kang Hyeeun. Ia tak ingin bertemu dengan gadis tersebut.

***

Melarikan diri ke jembatan sungai Han sepertinya tak menyelesaikan masalah. Meski telah mencoba menghindar bahkan dengan mengelilingi kota Seoul menggunakan sepeda motor, fakta bahwa kini Hyeeun telah mengandung tetap berputar di benak Jimin. Sesuatu seakan memaksanya untuk berbalik, menyalahkannya karena tak mau bertanggung jawab, mengatakan bahwa ia adalah pemuda pengecut yang lari dari masalah. Seberapa jauh pun Jimin berusaha bersembunyi, rasa bersalah tetap saja bisa menemukan dan menyerangnya, membuat pemuda itu gila.

Tak ada yang Jimin bisa lakukan memang di jembatan sungai Han untuk mengurangi beban persoalannya, kecuali kalau ia memutuskan untuk melanggar pagar pembatas jembatan dan menjatuhkan dirinya ke dalam air. Ia dihadapkan pada sebuah dilema; berbalik dan kembali pada Hyeeun lalu berjanji pada sang gadis untuk bertanggung jawab, atau sekalian mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke sungai Han.

Bagai orang gundah, Jimin berjalan bolak-balik mondar-mandir dalam radius sekitar empat meter, layaknya sebuah setrika. Berbagai kemungkinan dan pertimbangan berputar di benaknya, sementara ia berpikir keputusan apa yang harus ia ambil. Entah sudah berapa kali pemuda Park tersebut mengusap rambutnya dengan kesal, atau berteriak tidak jelas melampiaskan emosi. Oh, ayolah. Ini bukanlah keputusan yang mudah ditentukan. Ia harus siap dengan segala resiko yang menyertai setiap pilihan.

Frustrasi? Jelas.

Depresi? Hampir.

Menghilangkan nyawa dengan menceburkan diri terkesan adalah pilihan termudah. Ia tak perlu menjadi seorang ayah atas bayi dalam kandungan Hyeeun, dan tak perlu dihantui rasa bersalah seumur hidup. Hyeeun mungkin amat sedih, pasti. Tetapi berkencan dengan gadis Kang itu selama dua tahun membuat Jimin paham benar bahwa Hyeeun adalah gadis yang kuat. Ia adalah dara yang mudah untuk survive.

Namun, sebuah skenario muncul di otaknya. Seorang anak, bernama Park Jimin, bertanya pada sang ibu mengapa tak ada sosok ayah dalam rumahnya. Sang ibu pun menjawab ayahnya telah meninggalkan si ibu ketika Jimin masih di dalam kandungan, tak bertanggung jawab atas kehamilannya. Jimin melihat sang ibu jatuh terduduk karena amat sedih, amat pilu, sementara pada iris sang anak terpancar sorot amarah.

Jimin membelalakkan mata. Dibayangkannyalah hal serupa akan dilakukan Hyeeun beserta bayi dalam kandungannya, entah lelaki atau perempuan. Jimin membayangkan kesedihan yang sama akan diutarakan oleh Hyeeun, rasa hancur yang sama akan merusak perasaan kekasihnya, sementara tatapan penuh kebencian yang serupa akan terpancar dari bola mata anaknya.

Pemuda itu akhirnya jatuh terduduk, dengan perasaan kacau balau yang menggerogoti batinnya, Tak dapat ia tahan lagi likuid bening yang sudah sejak tadi berkumpul di pelupuk mata. Dibiarkannya mengalir menuruni pipi. Ia bahkan tak segan untuk tersedu-sedan meski ia sekarang sedang berada di pinggir jalan raya. Ungkapan bahwa pria tak boleh menangis sejenak terlupakan olehnya.

Isakannya mengudara, sekaligus hatinya yang hancur. Teriakannya menguap, menunjukkan jelas beban yang sejak pagi menganggu akal sehatnya. Tangannya memukul pagar pembatas jembatan, entah sudah berapa kali.

Rasa bersalah dan penyesalan kembali menghantamnya. Di sela-sela raungan, ia kerap mengucapkan permintaan maaf pada sang kekasih, berharap bahwa angin dapat menyampaikan kata-katanya. Mengutarakan frasa penyesalan atas tindakannya yang gegabah, atas sikapnya yang bagai pengecut, atas ketidaktanggungjawabannya.

Masih belum kering air matanya, Jimin mengenakan kembali helm hitam yang ia gantungkan di motor. Pemuda itu memutar kunci, menghidupkan mesin motornya. Tancap gas, ia segera beranjak dari tempat yang sering digunakan orang untuk mengakhiri hidup tersebut. Melaju dengan kecepatan tinggi.

***

Sepasang tungkai tersebut merajut langkah dengan lunglai. Sang pemilik langkah hanya berjalan secara terseret-seret, sambil menghela napas berat. Kepalanya kian tertunduk, sorot matanya nanar. Kalau diperhatikan, kedua maniknya sembab, kantung matanya terlihat jelas, dan sinar kesedihan serta lelah jelas terpancar dari obsidiannya.

Jimin menghentikan langkah di depan pintu abu dengan nomor 305. Hatinya kembali dilanda kerisauan. Ketika pintu di hadapannya itu terbuka, apa yang akan ia lakukan? Memeluk Hyeeun? Tentu saja. Menghibur gadis itu dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja? Pasti. Setelah itu? Masalah tentu tak hanya berakhir di sana, kan? Fakta bahwa ada sebuah jiwa dalam kandungan Hyeeun harus dipikirkan.

Ting-tong.

Jimin pun memberanikan diri untuk menekan bel pintu. Bahkan ia sempat berujar di interkom, “Ini aku, Jimin.”

Detik-detik berikutnya terasa berjalan amat lambat.

Pintu abu-abu itu pun terbuka. Bukan wajah putus asa Hyeeunlah yang menyambutnya, melainkan tatapan terluka seorang ibu, disusul dengan amarah seorang ayah.

Jimin menelan ludah. Ia tidak menyangka orang tua gadis itulah yang akan menyambut kedatangannya. Buru-buru Jimin membungkukkan badan, sebisa mungkin menyembunyikan wajah dari dua insan di hadapannya. Ia tak punya muka, malu.

A-annyeonghaseyo … eomeonim … abeo – “

PLAKK!!!

Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kanan Jimin, meninggalkan rasa pedas dan panas. Jimin memegangi pipinya beberapa saat. Ketika ia kembali mengangkat kepala, sebuah sorot tajam bagai hendak menerkam terarah kepadanya.

“KAU!!!” Sang ibu berseru. “Apa yang sudah kau lakukan pada anakku?!”

Jimin hanya menundukkan kepala dengan wajah penuh penyesalan. Tak ada satu kata pun yang terucap dari mulutnya. Ia tak bisa menyangka, tetapi tak yakin dengan berkata jujur akan menyelesaikan semuanya.

“CEPAT JAWAB!!!”

PLAKK!!!

Tamparan kembali melayang, kali ini ke pipi kiri, disusul dengan pukulan putus asa berkali-kali di bahu serta dadanya, kemudian tarikan di kerah jaket. Suara isakan dan raungan mengiringi.

“Apa yang sudah kau lakukan pada putriku, BAJINGAN?!”

Nyonya Kang terus menangis dan meraung, melancarkan serangan-serangan lemah pada Jimin, yang pemuda itu pahami sebagai pelampiasan dari amarahnya. Jimin tidak menghindar. Ia sadar bahwa ini adalah salah satu hal yang harus ia terima. Ini adalah resiko yang harus ia hadapi ketika ia bertemu dengan konsekuensi atas segala tindakannya.

Suasana terasa ricuh. Seruan, makian, isakan, diselingi dengan ucapan untuk menghentikan kegiatan tarik-menarik pakaian, permohonan untuk tidak lagi memukul dan berteriak. Tetapi selama itu, Jimin hanya bungkam.

“Kau membuat putri kami menanggung aib!” Nyonya Kang kembali berseru. “Kau tinggalkan benih dalam kandungannya, lalu apa?! KAU TAK MAU BERTANGGUNG JAWAB?! KAU KATAKAN ITU BUKAN BAYIMU?!”

Meski diminta oleh sang suami untuk menahan emosinya, namun Nyonya Kang tetap melancarkan luapan amarahnya.

“Kau pikir putriku apa, huh?! Gadis jalang, yang mau seenaknya menyerahkan diri pada pria hidung belang di luar sana, HAH?!

Pemuda Park itu hanya menggelengkan kepala, tetapi bibirnya masih terkatup rapat.

“Lalu apa?! APA YANG AKAN KAU LAKUKAN PADA HYEEUN SEKARANG?! APA BENTUK PERTANGGUNGJAWABANMU?!”

Bahkan dalam situasi menegangkan seperti ini pun benak Jimin masih harus dipaksa berpikir keras. Otaknya berputar, mencari jawaban sekaligus mempertimbangkannya. Semua yang ia katakana memiliki resiko yang tidak kecil, karena itu ia harus memikirkannya baik-baik.

“CEPAT JAWAB!!!”

Sebuah tamparan kembali mendarat, menambah rasa panas yang bahkan belum pulih. Bersamaan dengan itu, ekor mata Jimin menangkap sosok Hyeeun yang berlari ke arahnya, menuju percakapan panas di depan pintu tersebut.

Eomma, HENTIKAN!”

Sayangnya, tampak seperti Nyonya Kang tidak dalam akal yang baik sekarang, karena bisa-bisanya beliau menangkis tangan putrinya yang berusaha melepaskan genggamannya dari jaket Jimin, hingga putri tunggal keluarga Kang itu terjungkal ke belakang, menumbuk lantai. Melihat adegan tersebut, Jimin sadar bahwa ia harus memberi jawaban secepatnya, atau keadaan akan bertambah parah.

Pemuda tersebut melangkah cepat menghampiri Hyeeun, mengabaikan seruan Nyonya Kang untuk tidak menginjak wilayah apartemen anaknya, lalu membantu sang kekasih untuk berdiri. Dipeluknya gadis Kang itu erat, didekapnya dengan hangat, membiarkan sang gadis menumpahkan seluruh likuid bening serta luapan emosinya. Bahkan Jimin menggunakan tangannya untuk mengusap surai cokelat gelombang Hyeeun.

“Saya akan menikahinya,” celetuk Jimin.

Kali ini spontan sang ayah yang menyahut. “MWO?!”

“Aku akan menikahinya, abeonim, eomeonmin,” ulang pemuda tersebut. “Saya akan bertanggung jawab terhadap Hyeeun serta bayi yang ada dalam kandungannya. Saya merasa amat menyesal telah bertindak gegabah dan lebih menuruti nafsu sendiri, lalu menyeret Hyeeun dalam penderitaan. Saya juga memohon maaf atas sikap saya sesaat yang sangat salah, bersikap layaknya seorang pengecut, lari dari tanggung jawab, bahkan sempat menuduh bayi dalam kandungan Hyeeun bukanlah bayi saya. Saya sangat minta maaf.”

“Kau pikir masalahnya hanya sampai situ?” Ibu Hyeeun masih berseru dengan nada tinggi. “Bagaimana dengan biaya-biayanya? Siapa yang akan menanggung? Kalian berdua, kan, belum menyelesaikan kuliah. Bagaimana kau akan menghidupi keluarga kecilmu, HAH?! Mau kau beri makan apa anak serta cucuku?

“Saya akan mencari pekerjaan, eomonim,” sahut Jimin. Kepalanya masih tertunduk. “Saya berjanji akan menjadi menantu yang dapat membanggakan eomonim dan abeonim, juga menjadi suami yang baik bagi Hyeeun, pemimpin yang bertanggung jawab bagi keluarganya, kepala keluarga yang bekerja keras.”

“Ibu … “ isak Hyeeun, seolah ikut membujuk ibunya agar membuka hati terhadap Jimin.

Pemuda itu bahkan berlutut di hadapan kedua orang tua sang gadis, bersujud. “Saya mohon, terimalah saya sebagai bagian dari keluarga ini. Izinkan saya menikahi Hyeeun dan menjadi menantu eomonim serta abeonim.”

Nyonya Kang tidak menjawab apa-apa. Jimin maklum, pasti tak mudah baginya menyerahkan sang putri begitu saja kepada pria yang hampir lari dari tanggung jawab seperti dirinya, pria yang nyaris bertindak sebagai seorang pengecut yang bahkan sempat terpikir untuk menghilangkan nyawa. Tetapi, melihat uluran tangan dari Tuan Kang yang memintanya untuk berdiri, memberi Jimin secercah asa. Pengharapan terbersit di lubuk hatinya yang terdalam, membuatnya mampu menyunggingkan senyum penuh haru.

“Tolong jaga putri kami baik-baik.” Beliau berujar dengan suaranya yang tegas dan dalam. “Sebagai ayah Hyeeun, sejujurnya berat bagiku melepas putri kesayanganku pada pemuda sepertimu, yang sudah jelas pernah menyakiti hatinya. Tetapi, aku memberikanmu kesempatan kedua. Perbuatlah seperti yang kau katakan tadi, jangan pernah terpikir untuk melukai hatinya lagi. Jangan sampai kau membuat Hyeeun kembali menangis.”

Jimin menganggukkan kepala cepat dan tegas. Tetes demi tetes likuid bening menuruni pipinya, terharu. Ia bahkan kembali bersujud saking tak menyangka. Pengampunan yang ia terima, kesempatan kedua, semuanya terasa begitu menakjubkan untuk sang pemuda.

“Ya, saya berjanji, abeonim! Eomeonim! Saya akan menjaga Hyeeun baik-baik!”

Dekapannya terhadap gadis Kang itu makin erat, seraya Hyeeun kembali terisak. Jimin menggunakan tangannya untuk mengelus lembut puncak kepala sang gadis, menenangkannya.

Gwaenchanha … gwaenchanha. Semua akan baik-baik saja,” bisiknya.

Jimin sadar tanggung jawab yang akan ia hadapi tidaklah mudah. Sebuah tugas besar menanti untuk ia pikul. Mengatakan bahwa ia akan menikahi Hyeeun memang mudah, tetapi pelaksanaannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia yakin, pasti akan ada saat di mana ia berselisih pendapat dengan Hyeeun, merasa kesal saat mengurus anak-anaknya, jenuh di tempat pekerjaan, tetapi Jimin berketetapan untuk tetap setia di sisi gadisnya, mengarungi lautan kehidupan.

Karena Jimin tahu, ini adalah resiko yang ia harus terima ketika ia dipertemukan dengan sesuatu yang bernama konsekuensi.

 

-fin-

Advertisements

4 thoughts on “[Oneshot] I G I T U R

  1. Duh kak ce maafin aku yg baru bisa komen padahal aku baca ini kemaren ahaha.

    Sumpah ya aduh si Jimin bejat banget awalnya. Gak tanggung jawab huhuhu, mana mau bunuh diri segala. Untung inget masa kecil dia yg gak ada ayah juga :(( kamu udh ngelakuin itu sama Hyeeun ya harus tau konsenkuensinya lah ngiks. Kukira ya si Jimin mau bunuh diri beneran atau pas datengin rumah Hyeeun si Hyeeunnya udah bunuh diri ahah. Good job lah akhirannya Jimin mau tanggung jawab, banyak lika-likunya mah wajar XD XD

    Keep writing kak ce 😘

    Like

    • haii sayaang….. pertama2 aku mau ucapin makasih ya sudah mampir di cerita gaje ini hahahaha
      iyaaaa… well aku jg gatau kenapa aku bikin dia bejat di sini tp entahlah mgkn akibat dia sering nari2 seksi(?) di panggung ya….
      wkwkwkwk.. ndak kok untung akhirnya doi mau tanggung jawab yaa… makasih loh say udah mampir hahha 😀

      Like

  2. DEMI APA JIMIIIN..!!! apa yg kamu lakukan, kawan? huhuhu

    aku bayangin jimin di sini jadi galau sendiri… antara kasihan tapi juga pengin maki. makanyaa lah yaa punya nafsu dijaga, dari mata turun ke paha subhanallah itu tuh sangat bahaya, kawanku yg baik hatinya. du berat emang ya
    hyeeun kok ya mau sih, mbak, dianuanu jimin? huft… sudahlah nasih terlanjur jd bubur.

    baper aku baca ini, ge. tulungiiin TT anw, keep writing yaa gece ^^

    Like

    • dia… hamilin anak orang kak /plak
      dia pasti marah sama dirinya sendiri, ga jaga nafsu… nah makanya.. terkadang apa yang ktia lihat itu bs jadi pencobaan kak hahaha
      mgkn karena hyeeun terlanjur cinta?

      hahhaha jan baper kak.. nanti kudatengin yenani deh biar kakak ga baper 😀 makasih kaknee sudah mampir 😀

      Liked by 1 person

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s