[Ficlet] A Day with You

1468477337789

A DAY WITH YOU

.

Slice-of-life, Fluff, Romance || Ficlet || PG-13

.

Starring
GOT7’s Mark, OC’s Jacqueline Park

.

“Denganmu senang hati terasa, selamanya kamu hanya untuk aku.”
–Kisah Sebentar, Tulus

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot and the OC

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Sebenarnya hidangan yang tersaji di meja makan keluarga Tuan hari ini terbilang lezat. Lihatlah mangkok yang berisi jjajangmyeon dengan asap mengepul itu. Belum lagi mangkok berikutnya yang berisi kimchi segar buatan juru masak keluarganya. Tetapi menu tersebut bahkan tak dapat membangkitkan selera makan Mark.

Apa ini faktor kesepian? Apakah ini disebabkan oleh rumahnya yang terasa sepi akibat ditinggal orang tuanya yang lebih mementingkan pekerjaan? Apakah karena ia sendirian di rumah besar itu?

Entahlah, yang pasti Mark hanya mampu melahap tiga suap jjajangmyeon serta mencicipi sepotong sayuran dari kimchi-nya. Selera makannya sama sekali tidak ada. Ia belum makan apa pun, tetapi perutnya terasa penuh bagai tak mampu menerima pemasukan apa pun.

Pemuda itu merogoh kantung celananya untuk mengambil ponsel. Jari telunjuknya bergerak di layar mencari kontak seseorang. Hingga akhirnya sebuah nama muncul di layar. Saat itulah jari Mark berhenti bergerak. Ditekannya tombol telepon untuk menghubungi nama tersebut.

“Halo?” Suara lembut seorang gadis menghampiri liang telinganya. Spontan sudut-sudut bibir Mark terangkat.

“Jacqueline?” balas Mark, yang lalu memberondongnya dengan segudang kalimat. “Sedang apa kau? Sendirian? Atau sedang bersama adikmu? Sudah makan? Belum, kan? Ayo makan bersama denganku. Aku sedang tidak berselera makan sekarang. Kau ada di mana? Di rumah? Cepat ganti baju. Aku akan menjemputmu sebentar lagi.”

Dan tanpa menunggu balasan dari sang gadis di seberang telepon, Mark memutuskan panggilannya begitu saja. Cepat-cepat ia berlari menuju kamarnya, mempersiapkan penampilan diri yang baik untuk berjalan-jalan dengan sang kekasih, Jacqueline Park.

***

Tak ada hal yang lebih menyenangkan bagi Mark selain menghabiskan waktunya bersama dengan Jacqueline. Sekadar menyusuri alun-alun kota saja sudah berhasil mengembalikan keceriaan Mark yang sempat hilang. Mengelilingi kota dengan sepeda motor sambil merasakan angin yang menerpa wajah, selama gadis itu ada dalam boncengannya dan memeluk perutnya erat, kebahagiaan Mark lengkap sudah. Mendengar teriakan, gerutuan sekaligus tawa Jacqueline akan angin bandel yang kerap mengibarkan rambut gadis itu terasa sudah lebih dari cukup untuk Mark.

Bagi Mark, setidakpenting atau semembosankan apa pun kegiatan yang ia lakukan, selama ia melakukannya bersama sang kekasih, segalanya akan terasa menggembirakan.

Bahkan kegiatan memilih kepiting dari akuarium di restoran seafood untuk makan siang mereka pun menjadi kegiatan yang mengesankan.

“Oh … yang itu, yang itu!” Jacqueline dengan semangat menunjuk seekor kepiting besar yang sedang merayap ke pojok akuarium.

Dengan bantuan sebuah pencapit panjang, Mark meraih kepiting terpojok itu. Tawa kecil mengiringi rontaan capit sang kepiting yang minta dikembalikan ke tempat asalnya. Secuil rasa kasihan muncul di hati Mark, menyadari bahwa sebentar lagi kepiting itu harus menemui ajalnya untuk dicerna oleh perut dua insan yang dilanda kelaparan.

“Kalau dilihat-lihat kepiting ini tampak sepertimu,” ujar Mark sambil mengacungkan kepiting tangkapannya – masih dengan bantuan pencapit. Pemuda itu mengarahkannya ke depan wajah Jacqueline seraya tertawa jahil. Spontan gadis itu memekik lalu menghadiahi Mark sebuah pukulan keras di pundak.

Menunggu dua puluh menit hingga menu makan siang mereka datang tak lagi menjadi sebuah hal yang menjemukan. Keduanya mengisi waktu dengan bertukar candaan satu sama lain. Satu hal, tawa riang Jacqueline adalah sebuah candu yang mengikat bagi Mark.

Lelaki itu menatap sang gadis yang hanya mengetuk-ngetuk cangkang kepiting rebus dengan sendok, dan seketika tawa gelinya terdengar. Spontan Mark menyodorkan mangkok kecil berisi potongan daging kepiting yang telah ia korek beberapa menit yang lalu.

“Kau tidak bisa membuka kepitingnya, kan? Makan saja punyaku,” ujar Mark.

Jacqueline mengerjap beberapa saat sebelum menjawab. “Gomawo.”

Rasa kaget menghinggapi sang gadis begitu melihat Mark yang dengan lahapnya menyantap hidangan yang tersaji. Mulut pemuda itu bagai tak berhenti mengunyah, tangannya tak berhenti memasukkan santapan ke dalam mulut. Bahkan jatah kimchi yang menurut Jacqueline kurang enak pun diambil olehnya.

“Tadi kau bilang kau sedang tidak selera makan,” ujar Jacqueline yang masih belum pulih dari keterkejutan. “Apa yang kau katakan itu benar?”

“Tentu saja!” jawab Mark dengan mulut penuh daging ikan. Dikunyahnya daging ikan itu beberapa saat, menelannya, kemudian kata-katanya berlanjut, “Mungkin karena aku sendirian di rumah, selera makanku sama sekali tidak ada. Sekarang karena ada yang menemani, seketika rasa laparku muncul.”

Jacqueline menganggukkan kepala. “Ah … I see ….” gumamnya.

Selama menikmati makan siang pun percakapan mereka terus mengalir tanpa henti. Tak peduli setidak penting apa pun hal yang mereka bahas, tetap saja selalu ada topik yang bisa dibicarakan. Macam-macam hal yang mereka perbincangkan, mulai dari pemilihan kepala negara yang sebentar lagi akan dilaksanakan, dosen mereka di kampus yang sudah tua tapi tetap menyebalkan, hingga mimpi mereka masing-masing ketika tidur kemarin malam.

“Kalau kita menikah nanti, kau mau punya anak berapa?” celetuk Mark tiba-tiba sambil tangannya meletakkan sepotong udang pada piring Jacqueline.

Pertanyaan mendadak Mark membuat Jacqueline tersedak untuk sesaat, hingga kekasihnya harus mengambilkan segelas air putih untuknya. Setelah batuk-batuknya mereda, gadis Park itu merespon, “Kenapa tiba-tiba bertanya tentang menikah? Bahkan belum ada satu pun dari kita yang sudah lulus kuliah, Mark…”

“Jawab saja.” Mark masih ngotot dengan pertanyaannya.

Jacqueline menerawang untuk beberapa saat. Kemudian ditatapnya sang kekasih lembut. “Dua? Satu anak laki-laki, tampan dan murah senyum sepertimu, satu lagi perempuan, dia bisa menari balet.”

Bola kepala Mark mengangguk. “Kedengarannya menyenangkan.”

Dituntut rasa penasaran, Jacqueline balas bertanya, “Kau sendiri?”

Mark menggunakan tangan kirinya yang tidak terkena noda seafood untuk mengusap rambut sang gadis. “Berapa pun tak masalah, selama aku bisa mengurus mereka bersamamu.”

Mendengar itu, tanpa bisa dicegah senyum Jacqueline mengembang.

***

Siapa yang menyangka malam akan menjemput secepat ini? Bagi sepasang insan tersebut, waktu melaju begitu kencang. Tak ada yang sadar hingga tahu-tahu langit sudah berubah menjadi gelap, mentari telah digantikan oleh sinarnya bulan, ditemani oleh kerlipan ribuan bintang yang memancarkan cahaya seolah-olah berebut ingin menjadi yang paling terang.

Kedua insan itu melangkahkan tungkai sepanjang jalan menuju rumah Jacqueline. Walaupun harus melewati jalan mendaki, tak terasa melelahkan karena masing-masing merasa ditemani oleh sang kekasih. Kurva riang itu tak kunjung hilang dari ranum merah mereka, begitu juga dengan perasaan bungah di dada. Tangan mereka saling menggenggam, jemari mereka saling mengait, seolah tak mau terpisahkan.

Hingga tak terasa kediaman Jacqueline telah terlihat di depan mata.

Ragu-ragu, Jacqueline menarik tangannya dari genggaman Mark. Malu-malu netranya melirik sang kekasih, yang sejak tadi tak henti-henti menghujaninya dengan tatapan lembut.

“Aku … masuk dulu,” ucap Jacqueline sembari ibu jarinya menunjuk istana berpagar putihnya. Kendati berkata demikian, hati kecilnya berujar lain. Tak ada niatan gadis Park itu sama sekali untuk kembali ke rumah.

“Terima kasih untuk hari ini. Aku benar-benar senang,” lanjut Jacqueline. “Untuk menu makan siang, es krim, dan tiket bioskop yang kau bayar hari ini, aku sangat berterima kasih.”

Mark mengulurkan tangannya untuk mengacak-acak poni gadisnya. “Aku akan melakukan apa pun asalkan kau senang.”

Tadinya Jacqueline hendak berbalik, hendak masuk ke rumahnya, tetapi niatnya dicegah oleh sebuah pikiran yang tiba-tiba melintas di benaknya.

“Mark, kau tahu bagaimana cara membuat waktu berjalan begitu cepat dan tidak terasa membosankan ketika kau sendirian?”

Pemuda Tuan itu menyunggingkan senyum geli. “Tak ada hal seperti itu. Bagiku, hanya ada satu cara untuk membuat waktu terasa berjalan dengan cepat.”

Sinar penasaran terpancar dari manik Jacqueline. “Apa itu?”

Being with you.”

Tiga kata yang berhasil menimbulkan semburat merah pada pipi gadis itu, tak peduli walau malam itu terasa dingin.

Mark maju dua langkah, mendekatkan wajahnya pada puncak kepala sang kekasih, lalu menempelkan permukaan bibirnya dengan kening Jacqueline. Dikecupnya kening gadis itu lembut.

“Berjanji padaku kalau selamanya kita akan terus bersama,” ujar Mark setelah melepaskan kecupan singkatnya. DItatapnya sang gadis dalam-dalam. “Goodnight, my dear. Remember that I will always love you.”

 

-fin-

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] A Day with You

  1. KAK GECE!!!! Ya tuhan.. Mark kuuuuu… :”””
    “Goodnight, my dear. Remember that I will always love you.” – IYA AKAN AKU INGAT, jikalau Mark Tuan mencintai difanti/GAAA/

    KAK KAK KAK, EH INI MARK NYA KENAPA GINI BANGET YA, YA AMPUNNN…. /maaf caps nya tdk dikondisikan/
    Aku kaget kak, baru tadi kamu ngomongin Mark ama mbajac eh eh eh..ini… :””” …katanya udah punya bernyit bernyit..tapiii ini masih pacaran..ahh sudahlah semuanya terserah sama yang punya oc mau dibawa kemana. Intinya aku suka MARK TUAN/g/ ..wkwk, nda kok.. Aku suka fic nya.. Luv kak gece ❤ luv Mark Tuan..😍, pankapan OC nya difanti pairing dengan Mark Tuan dong./wkwkwkwk//lalu ditebas/
    Lanjutkan kak gece❤❤ nice fic❤❤

    Like

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s