[Ficlet] By Those Swings

by-those-swings

BY THOSE SWINGS

.

Friendship, Romance, Slice-of-Life, Fluff || Ficlet || Teen

.

Starring
Xu Minghao aka SVT’s The8 and a girl

.

“Aku hanya berpikir, apakah aku harus menjadi seorang noona agar bisa mendapatkan hatimu? Tampaknya aku masih seperti anak kecil di matamu.”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Langkah demi langkah Minghao untai sepanjang perjalanan ke rumahnya. Senyum di bibirnya terukir. Suasana hatinya sedang dalam keadaan baik, seirama dengan langit biru cerah di atas sana. Pepohonan melambai ditiup angin senja, menerbangkan daun-daun yang mulai menguning. Oh, rupanya musim gugur sudah datang tanpa diundang.

“Kak Minghao!”

Satu seruan itu menghentikan langkah Minghao. Kepalanya berputar, mencari sumber suara. Maniknya kemudian tertumbuk pada sosok seorang gadis yang sedang duduk di ayunan taman kompleks. Seraya tersenyum, tangannya bergerak melambai kuat-kuat. Amat kuat bahkan hingga membuat pony tail-nya bergerak-gerak.

Tawa geli Minghao terlontar keluar, sebelum tungkainya melangkah menghampiri sang gadis. Menyimpang sejenak dari rute menuju rumah tak ada salahnya, pikirnya. Minghao mendudukkan bokong ke ayunan kosong di sebelah sang gadis, lalu mengayunkannya dengan kaki.

“Sedang apa kamu di sini?” Minghao membuka percakapan. “Kamu tidak langsung pulang?”

“Menunggu Kak Minghao!” sahut si gadis ceria tanpa malu-malu, membuat pemuda itu kembali tergelak geli.

“Menunggu aku? Untuk apa?”

Sang gadis tak langsung menjawab. Ia mengaduk isi ranselnya sejenak sebelum mengeluarkan sebuah kotak plastik putih, lalu menyodorkannya pada Minghao.

“Apa ini?” Minghao menatap benda dalam genggamannya.

“Kue. Aku coba membuatnya saat pelajaran memasak tadi di sekolah.”

“Ah ….“

Minghao membuka tutupnya, lalu menemukan enam keeping kue kering berbentuk hati, dengan taburan choco chip di bagian atas. Pemuda Xu itu meraih satu, lalu menggigitnya kecil.

Begitu rasa manis mengecap di lidahnya, manik Minghao membulat. “Ini enak, Seol-ah! Benar-benar enak!”

Mata gadis itu terlihat berbinar-binar, seraya ekspresi senang bercampur bangga terpancar jelas di wajahnya. “Wah, benarkah?”

Yap!” Minghao masih sibuk mengunyah. “Kau bisa membuat toko kue sendiri dengan ini. Aku yakin kau akan sukses besar!”

“Ide bagus!” Gadis itu bertepuk tangan – yang menurut Minghao sangat menggemaskan. “Kalau aku sudah sukses, apa yang akan Kak Minghao berikan untukku?”

Ehm … entahlah?” Minghao berpikir sejenak. “Teddy bear?”

Bukannya sebuah kegembiraan atau cubitan kesal yang Minghao dapat, gadis itu hanya bungkam dengan binar mata yang meredup. Senyumnya pun perlahan memudar.

Minghao menatap lembut tetangga seberang rumahnya itu. “Hei, kau marah?”

“Kak Minghao, kalau kau harus memilih antara gadis yang lebih muda atau lebih tua darimu, mana yang akan kau kencani?”

Agak terkejut memang. Minghao tak menyangka pertanyaan tersebut akan keluar dari bibir Lee Seol, tetangga yang terpaut empat tahun di bawahnya. Namun Minghao mulai berpikir. “Ehm, sepertinya gadis yang lebih tua, karena cara berpikirnya lebih dewasa.”

Melihat kurva sang gadis yang makin lama menghilang, Minghao cepat-cepat menambahkan, “Tapi berkencan dengan gadis di bawah umurku juga menyenangkan, kok. Apalagi gadis itu lucu sepertimu.”

Sayangnya, dua kalimat itu pun tak mampu mengembalikan senyum sang gadis. Ia memang tersenyum, tetapi terlihat jelas dipaksakan.

Lee Seol buru-buru menutup tas ranselnya, lalu bangkit berdiri dari ayunan yang didudukinya. “Aku pulang dulu, Kak. Terima kasih sudah menemaniku. Kuenya habiskan saja, kotak bekalnya boleh kau kembalikan kapan saja sesuka hatimu.”

Gadis itu berbalik, berjalan beberapa langkah meninggalkan Minghao. Merasa ada yang tidak beres, Minghao buru-buru beranjak menyusul sang gadis. Ditahannya pergelangan tangan gadis Lee itu, lalu menatapnya lurus-lurus. Sementara Seol membalas tatapannya dengan netra membelalak.

“Kau ….“ Minghao terdiam sejenak, mencoba merangkai frasa yang tepat. “Apa sebenarnya yang ingin kau katakan padaku?”

Seol buru-buru menarik tangannya dari genggaman Minghao, dan tertunduk. “Tidak ada.”

“Bohong. Katakan, apa apa?”

“Tidak mau. Aku malu.”

Minghao melembutkan nada bicaranya. “Katakan saja. Aku tak akan mencelamu setelah ini.”

Kata-kata yang diucapkan sang gadis berikutnya membuat Minghao tertegun.

“Aku hanya berpikir, apakah aku harus menjadi seorang noona agar bisa mendapatkan hatimu? Tampaknya aku masih seperti anak kecil di matamu.”

 

-fin-

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] By Those Swings

  1. Minghaooo yaampun kenapa kamu ndak peka gitu sih? :’) Seol-ah, jangan patah semangat buat memperjuangkan cintamu, nak… Aku tahu itu sakit karena perjuanganmu tidak dibalas….namun setidaknya biarkan Kak Minghao tau kalau kamu selalu ada untuknya /HALAH DON/ /MUSNAH DON MUSNAAAAAH/

    Keep writing moom!! Izin ngublek2 blognya mom yaaa mwah ❤

    Like

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s