[Vignette] Beranjak Dewasa

3688c29f5dad2adf80224a45611283df

BERANJAK DEWASA

.

Slice-of-life, Romance, Friendship || Vignette || Mature

.

Starring
SF9’s Chani and You as the girl

.

“Kau tahu mengapa aku ingin cepat-cepat menjadi dewasa?”

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

Specially made to celebrate Chani’s 18th (Korean age) b’day

.

I own the plot

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Hari ini adalah ulang tahun Chanhee, sahabatku sejak batita. Umurnya sekarang 18 tahun. Ups, not to mention dia sudah memasuki masa dewasa. Chanhee memang masih memiliki cengiran bodoh yang sama, tetapi suara cemperengnya sudah berubah menjadi suara berat yang dalam sejak beberapa waktu yang lalu. Ia yang dahulu lebih pendek dariku tahu-tahu bertumbuh pesat, menjulang, hingga aku harus mendongak untuk menatap iris gelapnya.

Ssst! Jangan bilang-bilang, ya. Aku sudah mempersiapkan sebuah kejutan untuknya. Chanhee sejak kecil menyukai cupcake, maka dari itu kubawakan satu kotak cupcake berwarna-warni untuknya. Beserta lilin-lilin kecil tipis yang juga berwarna-warni.

Menjadi tetangga sejak kecil membuat kami sudah saling mengenal, termasuk kedua orang tua kami. Maka dari itu ketika aku mengetuk pintu rumah Chanhee dan dengan hanya mengacungkan kotak cupcake, ibunda Chanhee seolah tahu maksud kedatanganku dan langsung menyuruhku masuk.

Kuketuk pintu cokelat Chanhee yang penuh dengan stiker merek mobil. Menunggu beberapa saat. Tak ada jawaban. Kuketuk sekali lagi, masih juga tak ada jawaban. Terakhir aku berinisiatif untuk langsung membuka pintu kamar tersebut.

Sepertinya Chanhee masih menggulung diri di balik selimut. Tempat tidurnya masih berantakan. Aku menghela napas. Ck, kebiasaannya belum berubah. Bila hari libur, Chanhee tak akan bangun sebelum jam sebelas siang.

SAENGIL CHUKHAHAMNIDA, SAENGIL CHUKHAHAMNIDA … SARANGHANDA CHINGUYA … SAENGIL CHUKHAHAMNIDA ….”

Berhasil! Teriakan bernadaku sukses menarik Chanhee keluar dari alam mimpi. Kulihat gulungan selimut itu bergerak, berguling ke tepi tempat tidur. Kemudian sepasang tangan yang terentang disusul dengan suara erangan pelan.

Dan terakhir, Chanhee terduduk dengan mata masih setengah terpejam. Yang membuatku tergugu adalah ia tak mengenakan baju atasan saat itu. Dada bidang hingga perut ratanya yang terekspos membuatku menelan ludah. Gugup.

Ia mengucek mata untuk beberapa saat, kemudian menatapku dengan manik menyipit. “Kamu ngapain di sini?” gumamnya.

Ah, ya. Pemandangan tak kusangka sejenak tadi menyebabkanku lupa maksud kedatanganku yang sebenarnya. Kuacungkan kotak cupcake padanya, seraya menyunggingkan senyum seadanya.

“Kejutan!” ucapku cepat, menutupi rasa gugup. “Selamat ulang tahun, Kang Chanhee!”

Ia tertawa kecil. Berani sumpah, senyum serta tawanya adalah hal termanis yang pernah kau lihat.

Aku mengeluarkan pemantik api kecil dari kantong celana, lalu menyalakan sepuluh lilin batang yang sudah tertancap di cupcake. Kini, api menari-nari dengan indah di atas sumbu lilin.

Make a wish,” ucapku.

Chanhee melakukan sesuai yang kuminta. Ia melipat tangan dan menutup mata. Bibirnya kembali menyunggingkan senyum. Kuberi ia waktu beberapa saat untuk menyampaikan asanya.

Kemudian ia membuka mata, lalu meniup semua lilin hingga apinya padam, menyisakan kepulan asap yang pun hilang dibawa angin.

Aku menaruh kotak cupcake ke lantai, lalu bertepuk tangan. Respon Chanhee rupanya lebih daripada yang kuperkirakan. Ia menarik tanganku lalu membawa tubuhku dalam dekapannya. Chanhee memelukku erat–terlalu erat, menurutku. Punggungku seketika menegang dan manikku membulat. Tak bisa kucegah jantungku untuk tak berdegup terlalu kencang.

Dibandingkan dengan pundak lebar serta dada bidangnya, aku tampak sangat mungil.

“Chanhee-ya,” ujarku lirih, berusaha melepas diri, namun tampaknya tak ada tanda-tanda Chanhee rela melepas rengkuhannya.

Ayolah, ini adalah Kang Chanhee, teman kecilku. Aku bahkan sudah pernah mandi bersamanya saat berenang bersama tiga belas tahun yang lalu. Jadi, apa yang salah? Bukankah wajar jika seseorang mendekap teman kecilnya dengan erat?

Seharusnya, sih, tidak. Hanya, entahlah. Aku tak mampu mendeskripsikan dengan jelas apa yang kurasakan.

Setelah sekitar tujuh sekon berlalu, barulah Chanhee melepas pelukannya. Ia menatapku dalam-dalam. Jarinya ia gerakkan untuk mengelus wajahku lembut.

“Kamu masih mengingat ulang tahunku rupanya,” ujarnya.

Aku tertawa kecil, menutupi kegugupan. “Hahaha, tentu saja. Kau adalah sahabatku sejak kecil. Mana mungkin aku bisa lupa akan hari pentingmu?” balasku, mengabaikan jantungku yang makin menggila.

“Sahabat?” ulang Chanhee. Kulihat senyumnya sedikit memudar. Apa aku salah bicara?

“Tak bisakah hubungan kita lebih dari sekedar sahabat?” lanjutnya lagi.

“Eh?”

“Lupakan,” tukas Chanhee akhirnya. Pandangannya teralih. Bola matanya kini tak lagi menatap irisku. Kuikuti arah pandangnya, rupanya iris gelap itu kini menatap bibirku. Bahkan ibu jarinya mulai bergerak menyentuh ujung bibirku.

“Kau tahu apa wish-ku tadi?” tanya Chanhee tanpa melepas pandangannya.

Aku hanya menggeleng.

“Merasakan manisnya plum merah milikmu.”

Jawaban Chanhee membuat bola mataku membulat. Bagaimana mungkin ia mengatakan hal tersebut tanpa keraguan sedikitpun? Tak tahukah ia kalau hatiku sudah berdebar tidak jelas rasanya?

Ah …. Hahahaha ….” Aku tak tahu harus merespon apa.

“Aku serius,” sanggahnya. Mungkin ia agak tersinggung karena aku hanya tertawa. Kini ia kembali menatap mataku lurus-lurus.

“Bolehkah aku menciummu?”

“Eng … kurasa–”

Kata-kataku terpotong begitu kulihat ia mulai mendekatkan wajah ke arahku. Jarak yang terbentang di antara kami perlahan terkikis.

Saat jarak kami hanyalah sebatas helaan napas, perlahan kupejamkan kelopak mata–setidaknya ini yang kulihat di drama-drama. Jantungku bertalu-talu menunggu detik-detik krusial ini.

Hingga akhirnya kurasakan sesuatu yang lembut dan basah menempel di permukaan bibirku.

Bahkan Chanhee tak sekedar menempelkan bibirnya, namun ia mulai mengulum bibirku. Lembut, manis.

Seraya bibirnya bergerak, tangannya pun tak ia biarkan diam. Sentuhan demi sentuhan ia berikan, dari mulai mengelus rambut, meraba wajahku, hingga sentuhan jemari di leherku.

Aku mendadak teringat akan kejadian saat kelas 2 SD, di mana Chanhee kutemukan sedang menangis di kebun belakang sekolah. Ketika kutanya mengapa, ia menjawab bahwa ia tak sengaja mengecup pipi Siyeon, teman sekelas kami.

Demi koleksi Hot Wheels miliknya, pria yang sedang melumat ranumku ini adalah Chanhee yang sama yang ketakutan karena mengira telah menghamili Siyeon dengan kecupannya.

Tepat di saat aku ingin melepas tautan bibir karena mulai sesak napas, Chanhee menghentikan lumatannya. Namun, ia tampak tak mau jauh dariku karena kini kami saling berhadap-hadapan dengan hidung menempel.

“Aku tahu kau menginginkan diriku,” celetuknya.

Aku mengernyitkan kening. Pagi ini hal-hal yang Chanhee ucapkan terasa bermakna ganda.

Ia pun membaringkan diri di tempat tidur, lalu mengajakku melakukan hal yang sama di sebelahnya. Ketika ia menangkap keraguanku, tangannya segera menarik pergelanganku. Tenaganya terlalu kuat untuk kulawan, dan seketika aku berbaring dengan kepala berada di lengan atasnya.

Sebelah lengannya kembali melingkar, membawaku mendekat.

Perlahan, kugerakkan tangan menyusuri dada hingga perutnya yang polos tanpa sehelai benang pun.

“Kau tahu? Sejak dulu aku ingin bertumbuh menjadi besar dengan cepat. Aku tak sabar ingin merasakan apa yang dirasakan orang dewasa, melakukan apa yang dilakukan orang dewasa. Dan ketika hari ini tiba, hari di mana aku sudah mulai beranjak dewasa, aku sangat gembira.”

Aku tersenyum. “Memangnya apa yang ingin kau lakukan?”

Ia mengecup bibirku untuk sekilas, kemudian kembali memberi tatapan lembut yang dalam. “Menyatakan cinta pada wanita yang aku sukai.”

Meski sebenarnya sudah tahu jawabannya, namun tetap saja aku ingin mendengarnya dari mulut Chanhee langsung. Jadilah kulontarkan pertanyaan ini.

“Siapa gadis yang kau sukai itu?”

Chanhee menyelipkan beberapa helai anak rambutku sebelum menjawab. “Kau. Aku menyukai dirimu.”

Barulah saat itu aku tak dapat menahan diri untuk tak memeluknya. Kulingkarkan lengan di sekeliling lehernya dengan erat. Berjuta perasaan bermain di dalam hatiku, membuatnya terasa ingin meledak.

Sebelah tangan Chanhee berusaha menggapai ujung selimut yang masih berantakan di atas tempat tidurnya, kemudian ia kembali mengalihkan atensi padaku.

“Mau main tenda-tendaan?” tawarnya.

Tenda-tendaan adalah permainan kami sejak kecil, di mana kami akan berbaring di tempat tidur bersebelahan lalu menutupi seluruh tubuh kami dengan selimut. Di dalam kami akan membicarakan banyak hal, dari mulai jajanan hingga tugas sekolah, teman yang baik hingga guru yang menyebalkan. Tak jarang juga kami berakhir dengan tertidur di dalam.

Meresponi tawaran Chanhee, aku mengangguk. Dengan cepat dan bersemangat ia pun menutupi tubuh kami berdua dengan selimut, lalu menggerak-gerakkan kaki menyesuaikan posisi agar tubuh kami tertutup dengan sempurna.

Aku punya firasat bahwa ini tidak akan menjadi sekedar tenda-tendaan. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada sepasang insan yang dalam usia puber di balik selimut?

Namun, apa pun yang terjadi, aku percaya pada Chanhee. Sejak kecil kami sudah saling memiliki; aku miliknya dan ia pun milikku.

Maka dari itu, aku siap untuk menyerahkan segalanya, untuknya.

 

-fin-

A/N

Iya jangan tanya kenapa saya buat dedek Chanhee jadi kayak cowok dewasa banget di sini padahal notabene dia lebih muda dari saya hwhwhwhw entahlah, dia sudah legal sekarang sudah bisa menarik hati noona-noona untuk kesengsem sama dia… Jahat kamu, dek!

Anyway, happy birthday to SF9’s cutiepie maknae Kang Chanhee… All the best for you, dear! Lav ya!

Advertisements

6 thoughts on “[Vignette] Beranjak Dewasa

  1. grace this is too much :”) aku ga ngikutin sf9 dan ga tau member-membernya, tapi sering denger si chani-chani ini. dia maknae bukan sih? kaget juga dia dibikin jadi gini, mana aku jarang banget baca yang rated m. intinya aku kaget hahaha :”)

    Like

    • kak nad jangan tanya saya juga kaget kenapa daku bisa beginian yawlah ini semacam menistakan adek sendiri ._.
      iya dia maknaenya kak hahahaha tapi paling jago mencuri hati noona2 /gaaa
      makasih loh kaknad sudah mampir ke sini btw..

      Like

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s