[Vignette] Pillow Talk

picsart_10-07-06-49-56

PILLOW TALK

.

Family, Slice-of-life || Vignette || General

.

Starring
VIXX’s Hongbin, NCT’s Jeno, OC’s Heidi Lee

.

Curahan hati tiga saudara Lee

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

I only own the plot and the OC

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Layar besar di hadapannya masih menjadi fokusnya kini. Tangan besarnya sibuk memencet setiap tombol pada stik pes terkadang dengan gemas. Umpatan juga tak jarang lolos jika pemainnya membuat kesalahan – meski sejatinya kesalahan itu disebabkan olehnya.

Derap langkah terburu-buru dari luar kamarnya sempat memecah konsentrasi pemuda Lee itu. Sekon berikutnya, gebrakan keras disusul rengekan manja memenuhi rungunya sedangkan manik gelapnya menangkap eksistensi seorang gadis yang amat ia kenali. Adalah Heidi, sang adik yang kini bersungut-sungut di hadapan si sulung keluarga Lee itu. Ada beberapa hal yang membuat Hongbin menghentikan permainannya dengan terpaksa, lekas melontarkan pertanyaan pada gadis yang kini bergelung tak karuan di atas kasurnya.

“Kau kenapa? Seperti orang tak waras begitu.”

Subjek yang ditanya tak langsung menjawab. Heidi hanya bungkam sambil memeluk sebuah bantal putih dengan eratnya. Bibirnya mengerucut.

Hafal akan tindak tanduk sang adik yang apabila sudah memasuki fase merajuk akan bertahan untuk paling sebentar lima belas menit, Hongbin pun memutuskan untuk beranjak sejenak dari lantai yang didudukinya. Ia meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja belajar, menghubungi kedai mie yang biasa ia kunjungi. Menurutnya, lebih baik merogoh kocek sedikit untuk makan malam daripada menyuruh Heidi yang dalam mood tidak baik untuk memasak dan menyebabkan perang dunia ketiga. Yah, hitung-hitung ia sedang mentraktir kedua adiknya sekarang.

“Jeno-ya!” Seruan Hongbin menggema ke seluruh penjuru rumah, yang sebenarnya ditujukan pada sang adik bungsu di dalam kamar. “Kalau PR-mu sudah selesai, cepat ke kamar kakak, ya!”

Ne!”

Hongbin kembali duduk di samping Heidi. Ditepuknya pelan bahu gadis itu. “Ada apa? Ada masalah?”

“Heidi sebal sama Dahyun!”

“Dahyun?” Hongbin mencoba mengingat nama yang rasanya kurang familiar di telinganya. “Temanmu?”

“Sahabat. Dulu. Sekarang Heidi nggak anggap dia sahabat lagi.”

“Lho, kenapa?”

Fokus Heidi yang sejak tadi hanya menatap lantai kini berpindah menjadi pada kakaknya sendiri, walau masih dengan ekspresi wajah penuh kekesalan sangat. “Tadi ketika Kak Doyoung lewat, Dahyun bilang Tuh pacarmu, tuh cowok yang kamu suka, begitu Kak. Sambil sikutnya berapa kali menyenggol perutku begitu.”

Lah? Terus? Doyoung lihat kalian berdua saat itu?”

“Lihat!” Nada suara Heidi makin tinggi, membuat Hongbin tersentak untuk sesaat. “Makanya aku benar-benar malu, Kak! Dahyun juga sikut-sikut itu terlihat dengan jelas, dan suaranya tuh keras banget! Huh, kesal aku, Kak!”

Hongbin mencoba menahan senyum mendengar cerita adiknya. “Kamu naksir Doyoung, ya?”

Pertanyaan itu membuat ekspresi kesal Heidi berangsur menghilang, digantikan dengan raut malu-malu. “Siapa sih yang tidak suka sama Kak Doyoung? Dia baik, dia perhatian, dia ramah, dia tampan, dia pintar. Tipikal pacar idaman sekali, Kak.”

“Jadi benar kamu suka sama dia?”

Heidi tidak menjawab. Tahu-tahu raut kesalnya kembali lagi, membuat Hongbin bingung. “Oh ya! Heidi juga kesal pada Professor Yoo!”

“Professor Yoo? Ada apa?”

“Tugasnya banyak sekali!” ujar Heidi menggebu-gebu. “Kak Hongbin bayangkan saja, dia sama sekali tak pernah memberi suatu materi pun setiap kali masuk ke kelas, selalu menyuruh kita mencari bahan sendiri, membuat makalah dan presentasi sendiri, selalu minta tugas-tugas dikumpulkan. Dan yang lebih parah lagi, MINGGU DEPAN IA AKAN MENGADAKAN ULANGAN!”

Satu hal tentang Heidi, ia mampu membawakan cerita dengan penuh ekspresi, sehingga pendengarnya akan terbawa suasana dari setiap ceritanya. Sama seperti Hongbin yang kini ikut membelalakkan mata. “Aduh! Banyak sekali!”

“Benar, kan?”

“Tapi kamu jangan mengeluh dulu. Semua itu bisa selesai kalau kamu kerjakan. Cicil saja mulai dari sekarang, jangan malam sebelum ujian kamu baru mulai membuat semuanya.”

“Tentu saja tidak, Kak. Aku memang sudah merencanakan untuk menyicil, hanya tetap saja rasanya kesal ketika akhir pekan pun aku masih harus memegang materi pelajaran.”

Suara ketukan tiga kali di pintu kamar disusul dentingan bel pintu rumah menghentikan percakapan dua saudara itu untuk sejenak. Hongbin melongokkan kepala sejenak, menemukan Jeno yang dengan raut wajah lesu berdiri di depan pintu. Anak sulung keluarga Lee tersebut memberi isyarat masuk pada sang adik bungsu, sebelum beranjak dan melangkahkan tungkai menuju pintu depan.

Oh, rupanya jjajangmyeon pesanannya telah sampai.

Setelah membayar, Hongbin membawa tiga porsi jjajangmyeon itu ke dalam kamar, mendistribusikannya pada kedua adik masing-masing satu, lalu memimpin doa makan. Begitu kata Amin diucapkan, ketiganya langsung menyantap panganan dengan lahap.

“Wajahmu kenapa lesu sekali, Jeno-ya?” Raut wajah Jeno yang kusut rupanya tertangkap oleh sudut netra Hongbin. “Nilai ulanganmu ada yang jelek?”

Ani.” Si Bungsu menggeleng pelan.

“Lalu?” Kali ini Heidi yang bertanya.

Jeno tak langsung menjawab. Maniknya menatap Heidi dan Hongbin bergantian, tampak ragu-ragu, sebelum akhirnya ia membisikkan sesuatu di telinga Hongbin. Tiga sekon, kemudian Hongbin terkikik.

“Kenapa?” tanya Heidi, penasaran.

His crush,” sahut Hongbin, yang langsung mendapat hadiah berupa tonjokan kecil di bagian perut. Bonus, wajah kesal Jeno.

“Ah ….“ Heidi mengulum senyum. “Jeno kecil rupanya sudah mulai suka-sukaan, nih. Siapakah gerangan dara yang berhasil memikat perhatianmu?”

Noona!” Jeno mengusap rambutnya kesal, tetapi tak dapat ia sembunyikan ekspresi malunya. “Hentikan!”

Hongbin bagai teringat sesuatu. Cepat-cepat ia mengunyah jjajangmyeon yang masih tertinggal dalam mulut lalu buru-buru menelan. “Oh ya. Kau bilang kau akan menembak gadis Kim itu. Sudah jadi?”

“Sudah.”

“Lalu?”

Si Bungsu menghela napas. “Ditolak.”

Ups. Hongbin melipat bibirnya ke dalam mulut, sadar bahwa seharusnya ia tak mengangkat topik tersebut. Rasa bersalah makin menyelimutinya ketika ia melihat sang adik yang tampak makin lesu dan sepertinya mulai tidak berselera makan. Sejak tadi sumpit kayu itu hanya digunakan untuk mengaduk jjajangmyeon, tanpa ada satu suap pun yang masuk.

Menyadari atmosfer di ruangan itu, Heidi menepuk pelan pundak Jeno berkali-kali. “Jangan sedih. Di luar sana masih banyak gadis yang pasti mau menerima cintamu. Meski noona tidak tahu siapa gadis yang kau suka, tetapi noona yakin ia bukan jodohmu. Soulmate-mu masih ada di luar sana, yang masih harus kau cari.”

“Begitu?”

“Tentu!” Hongbin ikut mendukung. Kepalanya mengangguk. “Perjalanan cinta memang tidak selalu mulus. Ada kalanya kau mencintai seseorang tetapi orang itu tak merasakan hal yang sama. Ada kalanya kau harus menunggu hingga cinta yang tepat itu datang.”

“Apakah Hyung dulu juga begitu?”

Hongbin kembali mengangguk.

“Dia bahkan lebih parah,” Heidi menambahkan. “Dikhianati oleh pacarnya sendiri.”

“Benarkah?!” Kini kedua manik Jeno membelalak.

Hongbin hanya mengulum senyum. Mendengar adik perempuannya berkata demikian seolah-olah membuka luka hati lamanya. Cerita yang sudah ia kubur dalam-dalam seakan kembali terangkat, memaksa untuk ia ingat.

“Dikhianati bagaimana, Hyung? Kenapa Hyung tidak pernah menceritakaannya padaku?”

“Ceritanya panjang, Jeno-ya,” balas Hongbin, yang sebenarnya lebih kepada tak ingin mengingatkan kisah menyakitkan itu lagi.

“Kekasihnya berselingkuh,” celetuk Heidi, membuat Hongbin melontarkan ringisan kesal. Dasar gadis keras kepala! Bukankah sudah jelas dari nada serta gesturnya bahwa ia sama sekali tak ingin membicarakan hal tersebut?

“Sudah, sudah ….“ Heidi berujar. “Jangan dibahas. Nanti dia galau lagi.”

Oh, rupanya gadis itu sadar.

“Selain itu kau punya cerita apa lagi, Jeno-ya?” tanya Hongbin.

Jeno tampak berpikir sejenak, kemudian ekspresi kesalnya perlahan kembali muncul. “Tadi sore diadakan kompetisi olahraga antarkelas. Kelasku bertanding sepak bola dengan kelas 1-C. Jaemin bermain curang! Ia sengaja menjegal kaki Mark tetapi tidak mau mengakui sebagai foul!” Kisahnya menggebu-gebu. “Wasitnya juga bodoh, mau saja percaya bahwa itu adalah murni kesalahan Mark yang terjatuh.”

“Wah! Tidak bisa begitu dong!” Hongbin ikut kesal mendengarnya. “Seharusnya kalian bisa mendapat kesempatan free kick!”

“Benar, kan?!” Jeno merasa mendapat dukungan.

Heidi yang tidak tahu apa-apa soal olahraga hanya diam saja, sesekali ikut tersenyum mendengar celotehan beberapa saat kedua saudara laki-lakinya tentang permainan bola tersebut. Bingung bagaimana harus berkomentar ketika ia tak paham satu pun. Akhirnya, dalam diam ia mengumpulkan mangkok plastik sisa makan malam dua saudaranya.

“Omong-omong, Kak,” celetuk Heidi. “Bagaimana topik skripsi Kakak? Sudah disetujui?”

“Ah, itu ….” Senyum Hongbin merekah. Jelas sekali raut gembira terpancar dari wajahnya. “Akhirnya topik skripsiku diterima! Sepertinya penelitian akan kulakukan mulai minggu depan, atau paling lama dua minggu lagi. Aku harus mendapat izin dulu dari perusahaan yang akan kudatangi dan kuteliti.”

Jeno ikut menimpali. “Sidang skripsi? Kalau sidang skripsinya kapan diadakan?”

Aigoo …. Tentu saja masih lama! Aku bahkan belum memulai penelitiannya. Kemungkinan tercepat sidang akan diadakan enam bulan lagi. Atau bahkan tahun depan. Begitulah.”

“Ah ….“

Tak terasa jarum jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Kepala Hongbin mulai terasa berat, begitu juga dengan kelopak matanya. Dengan perlahan ia mulai membaringkan diri ke tempat tidur.

“Kalian tidak mengantuk?”

Ajaib, tiga kata itu mampu menyebabkan kedua saudaranya menguap pada waktu yang hampir bersamaan. Sepertinya keduanya juga sudah lelah, dan ini memang mendekati jam tidur mereka.

“Kak Hongbin, Heidi malas ke atas,” ujar adik perempuannya yang memang memiliki kamar di lantai atas. “Boleh nggak mala mini Heidi tidur di sini?”

“Jeno juga … “ tambah si Bungsu.

“Bertiga tidur di kamar ini, begitu? Memangnya cukup?”

“Atur saja posisi kita agar cukup. Dijejerkan layaknya menyusun ikan bakar.”

“Analogi yang bagus, Jeno-ya.”

“Omong-omong siapa yang akan mencuci piring?”

“Mangkok plastik dari delivery tidak perlu dicuci kan, Hyung? Cukup dibuang saja?”

Hongbin yang sudah dengan mata terpejam pun mengangguk. “Hmm.”

Tak ada kata yang terucap untuk beberapa lama ketika ketiganya sedang berusaha mencari posisi berbaring yang nyaman di tengah menyesuaikan diri pada kasur berukuran double tersebut.

“Ah, Heidi-ya, Jeno-ya. Sebenarnya aku masih ada tugas yang harus kuketik, tetapi mataku rasanya sudah sangat berat.” Jeda sejenak karena Hongbin menguap. “Apa yang harus kulakukan?”

Heidi menjawabnya dengan suara yang berat. Sepertinya kesadaran gadis itu sudah setengah di bumi dan setengah di alam mimpi. “Besok saja, Kak. Kita bangun pagi-pagi.”

Ah, geurae?” Hongbin pun menyalakan lampu kecil di samping tempat tidurnya. “Selamat malam, dua adikku. Mimpi indah!”

***

Sinar matahari yang menyusup dari balik tirai memaksa Heidi untuk keluar dari alam mimpi. Cahaya yang menembus kelopak mata yang tertutup, mengaburkan mimpi indah setiap insan. Setengah sadar Heidi mengucek matanya, kemudian menarik selimut sampai ke kepala. Bermaksud untuk melanjutkan mimpinya yang terputus.

Tunggu sebentar.

Gadis Lee itu tertegun sesaat. Cahaya mentari? Heidi adalah tipikal gadis yang bahkan sudah bangun lebih dulu sebelum mentari terbit. Jadi kalau sampai cahaya matahari sempat mengusik tidurnya, maka …

Heidi cepat-cepat terduduk. Nyawanya seakan mendadak terkumpul. Pandangannya ia arahkan pada jam bundar yang tergantung di atas kalender dinding di kamar sang Kakak.

Pukul tujuh lebih sepuluh.

Gadis itu menegak ludah, seraya maniknya membola.

“KAK HONGBIN! JENO-YA!! PPALI IREONA!!! KITA TERLAMBAT!!!”

 

-fin-

Advertisements

2 thoughts on “[Vignette] Pillow Talk

  1. Omo omo omo jinjaaaaa!!! /Alay, lebay, maafkan/ aduh lucu deh keluarga mereka jadi iri dehh *iri mulu dari tadi san-_-* mau atuh aku juga punya kakak dan adik ganteng macam mereka cee. Kasih satu buat aku ):

    Like

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s