[Vignette] Oleh-oleh

1483005009990

OLEH-OLEH

.

Slice-of-life, Friendship || Vignette || General

.

Starring
SF9’s Rowoon, ninegust’s OC Pelangi

.

“Jadi, kau bawa oleh-oleh apa untukku?”

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Ya! Mujigae!”

“Mujigae ahgassi!”

“YA! PE-LANG-I!”

Tergopoh-gopoh, Pelangi menuruni tangga rumahnya. Suara bariton di bawah itu masih berteriak-teriak di bawah, membuat besar hasrat Pelangi untuk menyumpal mulutnya dengan triangle kimbap. Siapa lagi kalau bukan Kim Rowoon, tetangganya?

“Apa, sih?” Pelangi melipat tangan di depan dada. Dilemparkannya tatapan kesal pada pemuda yang kini sedang nyengir lebar itu. Mulut Pelangi pun mengeluarkan berbagai omelan dalam bahasa ibunya.

Tahu-tahu Rowoon mendekapnya erat-erat, membuat sang dara membelalakkan mata karena kaget.

Ya! Apa yang sedang kau lakukan?!” seru Pelangi seraya berusaha melepaskan diri dari pelukan Rowoon.

Rowoon melepaskan pelukannya, tetapi kedua tangan masih terletak pada pundak Pelangi. “Aku merindukanmu, ahgassi. Rasanya terasa asing bila sehari tak mendengar kecerewetanmu.”

Cih.” Pelangi mengangkat sebelah sudut bibirnya, tetapi tak bisa dipungkiri perkataan Rowoon cukup membuat hatinya berbunga-bunga. “Aku hanya pergi seminggu dan kau sudah hampir putus asa begitu? Ck, menyedihkan sekali hidupmu, tuan Kim. Lagipula, selama aku di Indonesia, mengapa kau tak ada menghubungiku?”

“Itu karena telepon interlokal akan memakan biaya yang sangat mahal.”

Aigoo!” Pelangi memberi sebuah jitakan pada kening Rowoon. “Teknologi sekarang sudah menyebar, bung! Bukankah ada yang namanya media sosial?”

Rowoon menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. “Eng … sebenarnya, ponselku hilang, jadi ….”

Kalimat yang bahkan belum selesai itu berhasil membuat Rowoon mendapat jitakan kedua, di titik yang sama.

“Omong-omong, apa kau membawa ginyeompum (oleh-oleh) untukku?” celetuk Rowoon masih dengan cengiran khasnya.

Ginyeompum itu apa?” balas Pelangi.

Rowoon tersenyum maklum. Gadis di hadapannya itu belum terlalu lama tinggal di Korea, dan kosakatanya masih belum banyak. Tak jarang di tengah percakapan seperti ini Rowoon mengajarkannya kosakata baru.

Ginyeompum itu adalah sesuatu yang kau beli saat kau bepergian untuk kemudian kau berikan pada orang lain saat kau kembali,” jelas Rowoon.

Gadis Indonesia-Thailand itu mengangguk. “Ah …. Oleh-oleh … “ ujarnya dalam bahasa Tanah Air.

“Apa katamu?”

“Tidak ada.” Pelangi menggeleng. “Kalau soal itu, aku memang sudah menyiapkan sesuatu untukmu.”

Pelangi setengah berlari menuju dapurnya, sementara Rowoon mengekorinya dengan langkah lebar. Gadis itu pun membuka salah satu pintu kabinet dapurnya, lalu mengeluarkan dua bungkus mie instan merek terkenal asal negeri kelahirannya.

“Ini?” Rowoon meraih mie instan tersebut. DIperhatikannya gambar mie goreng yang tertera pada bungkus dengan seksama. “Ini yang kau bawa untukku? Jangan bilang kalau ini adalah … ramen?”

Pelangi menganggukkan kepala kuat-kuat.

Eyy, ahgassi. Kalau ini, sih, di Korea juga ada!” ucap Rowoon.

Bola kepala sang gadis menggeleng, seolah tak menyetujui perkataan tetangganya. “Ini berbeda, Rowoon-ah. Percayalah, rasanya jauh lebih lezat! Ini adalah makanan favoritku di Indonesia!”

Mendengar penjelasan singkat Pelangi, pemuda Kim itu mengangguk. Rasa penasarannya mulai terbit. “Ah, geurae?”

Yap! Kau harus mencobanya!”

Rowoon tersenyum. Pandangannya dialihkan pada Pelangi dan ditatapnya gadis itu dengan berbinar-binar. “Bagaimana kalau kita mencobanya bersama-sama sekarang? Setidaknya satu bungkus, ya?”

“Eh?”

“Karena bila hanya merebusnya itu sudah terlalu biasa, bagaimana kalau kita buat sebuah menu baru menggunakan ramen khas Indonesia ini?” lanjut Rowoon.

Manik Pelangi seketika membola. “Kau mau memasak di sini?”

Rowoon mengangguk. “Boleh, kan?”

Well ….

“Kau punya telur?”

“Telur?”

“Ya, aku butuh paling tidak empat butir.”

Tanpa perlu dikomando dua kali, Pelangi berjalan menuju kulkas. Dikeluarkannya empat butir telur dari kulkas dan diletakkannya di dekat Rowoon. Sementara itu Rowoon dengan cekatan mengeluarkan beberapa mangkuk, sendok pengocok, talenan, pisau, serta panci, lalu menyusunnya di atas meja dapur.

“Sekarang tolong kau isi panci ini dengan air. Setengahnya saja. Lalu rebus sampai mendidih,” ujar Rowoon sambil menyerahkan panci pada Pelangi.

“Oke.”

Seperti yang Rowoon minta, Pelangi pun mengisi panci dengan air dari keran. Diletakkan gadis itu panci di atas kompor, lalu menyalakan kompor dan menunggunya sampai mendidih. Tak lama kemudian, atensinya teralih pada Rowoon di belakangnya yang kini sedang asyik memecahkan telur dalam mangkuk kaca.

“Rowoon-ah, apa lagi yang bisa kubantu?” ucap Pelangi.

Uhm, kau punya daun bawang?”

Pelangi menerawang, mencoba mengingat. “Rasanya punya. Kemarin ibu baru pergi berbelanja.”

“Baguslah! Aku tidak butuh banyak, kok.”

Sang dara mengeluarkan dua batang daun bawang berukuran kecil, lalu menyerahkannya pada Rowoon. Pemuda garis Kim itu pun membawanya ke keran pencucian piring, mencucinya di bawah aliran air, termasuk membuang akar serta membersihkan tanah-tanah yang masih menempel.

Sementara kini Rowoon mulai mengiris daun bawang menjadi potongan-potongan kecil, Pelangi melongokkan kepala untuk menengok air yang ia panaskan. “Hei, ini sudah mendidih. Kumasukkan saja mienya?”

Yap!

Tangan Pelangi segera memasukkan mie sesuai permintaan Rowoon. Ia bahkan mengambil garpu, sesekali mengaduk mie yang ia rebus.

Rowoon mengedarkan pandangan, tampak maniknya memindai jejeran kabinet yang tertutup. Pelangi yang mengartikan kegiatan Rowoon itu sebagai pertanda sedang mencari sesuatu pun bertanya, “Kau mencari apa?”

“Garam serta merica. Di mana kalian menyimpannya?”

“Ah …. Di sini,” balas Pelangi sambil berusaha membuka sebuah kabinet yang berada jauh di atas kepalanya. Bahkan dengan berjinjit pun tangannya masih tak dapat mengapai kenop pintu kabinet. Rowoon yang melihat itu tersenyum geli, lalu berusaha membantu Pelangi. Berbeda dengan gadis itu, Rowoon hanya perlu mengangkat tangannya sedikit dan kenop itu sudah ada dalam jangkauannya.

“Kau pendek, Mujigae,” celetuk Rowoon dengan senyum jahil.

Sebagai balasan, Pelangi memberinya injakan di kaki kanan, menyebabkan pemuda Kim itu mengaduh.

Pelangi kembali memusatkan perhatian pada mie rebusannya. Tangannya kembali mengaduk mie menggunakan garpu sebagai perantara. “Ya, Rowoon-ah! Apakah ini sudah matang? Sudah bisa diangkat?”

Rowoon melongokkan kepala sedikit. Maniknya melirik mie di dalam panci. “Eoh. Sudah boleh. Angkatlah. Hati-hati, ya.”

Tangan Pelangi bergerak dengan lincah dan lihai dalam mengeluarkan mie dari panci, termasuk menyaringnya secara hati-hati agar jangan sampai tangannya terciprat (atau parahnya tersiram) air bekas rebusan. Gadis itu pun menggoyangkan saringan perlahan agar sisa-sisa air yang masih ada ikut terbuang.

“Ini mienya kutaruh ke mana?” kata Pelangi.

“Langsung masukkan saja ke dalam mangkuk berisi telur itu,” sahut Rowoon.

Pelangi melakukan seperti yang diperintahkan oleh Rowoon. Ketika manik gadis itu menangkap bumbu bubuk mie instan yang masih tergeletak, ia berinisiatif untuk memasukkannya ke dalam adonan telur-mie.

“Bumbu ramen-nya kucampurkan ke dalam ya!”

“Silakan.”

Rowoon sendiri menuangkan beberapa sendok teh garam dan merica ke dalam mangkuk, lalu meminta Pelangi untuk mengaduknya hingga rata. Terakhir, dimasukkannya irisan daun bawang, dan kembali diaduk.

“Nah, sekarang tinggal menggoreng telurnya.” Rowoon menatap Pelangi. “Kau punya margarin? Sebenarnya kita bisa menggorengnya dengan minyak goreng biasa, tetapi akan jauh lebih enak dan lebih wangi bila menggunakan margarin.”

“Punya,” sahut Pelangi. “Sebentar.”

Kembali Pelangi membuka kabinet yang sama di mana ia menyimpan dua mie instan itu sebelumnya. Dikeluarkannya satu bungkus margarin yang masih tertutup rapat, dan diserahkannya pada Rowoon.

Rowoon mengoleskan margarin pada teflon hitam yang hendak ia gunakan untuk menggoreng, lalu dinyalakannya api kompor. Pemuda Kim itu menunggu beberapa saat, sampai panas pada teflon telah tersebar merata.

“Sekarang, masukkan telurnya! Cepat!”

Ne, kapten!”

Seperti yang Rowoon minta, perlahan-lahan Pelangi memasukkan adonan mie-telur dalam mangkuk ke teflon. Rowoon menggoyangkan teflon sejenak untuk menyebar adonan telur agar permukaannya rata.

“Tidak perlu menunggu terlalu lama, nanti bagian bawahnya akan gosong,” jelas Rowoon sambil menyandarkan punggung pada meja dapur.

Pelangi hanya menganggukkan kepala.

Tak lama kemudian, Rowoon meminta spatula besi pada Pelangi. Ternyata ia hendak membalik permukaan telur. Asap tipis yang mengudara meninggalkan harum masakan yang menggugah selera.

“Ah, aku tahu!” ujar Pelangi. “Kau memasak omelet, kan? Wanginya sangat menakjubkan! Kau hebat, Rowoon-ah!”

Gadis itu mengacungkan dua jempol, membuat mau tak mau Rowoon menyunggingkan senyum. Geli melihat tingkah sang gadis yang menurutnya imut.

Tak butuh waktu lama sampai akhirnya Rowoon memadamkan api kompor. Setelah meminta Pelangi untuk mengambilkannya sebuah piring saji yang agak besar, dengan hati-hati Rowoon meletakkan omelet mienya di atas piring. Digunakannya spatula besi untuk memotong omelet tersebut menjadi dua bagian.

Tertangkap oleh pandangan Rowoon sang gadis yang sedang meneguk ludah. Mungkin selera makannya sudah sangat tinggi sekarang. Bahkan manik gadis itu tak lepas-lepas dari omelet yang tersaji, seolah ingin menelannya bulat-bulat. Melihatnya, Rowoon tak bisa menahan diri untuk tak tertawa.

“Sudah, ambil piring, sana!” perintahnya. “Kau seperti akan menyerbu omelet itu dalam satu suapan.”

Dengan semangat dan tergesa-gesa Pelangi menghampiri rak alat makan untuk mengambil dua piring serta dua sendok. Untuknya dan untuk Rowoon.

Ketika Pelangi kembali ke meja makan, Rowoon bahkan telah menyiapkan sambal serta saus botol sebagai tambahan rasa bagi omelet mereka.

“Selamat menikmati, nona pe-lang-I,” ujar Rowoon.

Pelangi tertawa untuk sesaat. Baginya, pelafalan Rowoon saat menyebutkan namanya terdengar lucu.

Gadis itu tak tanggung-tanggung. Ia langsung mengambil satu potong besar telor dan meletakkannya di piringnya. Dituangnya sambal serta saus tomat banyak-banyak. Bahkan ia tak malu-malu untuk segera menyerbu hasil masakan tetangganya tersebut.

“Pelan-pelan, ahgassi. Nanti kau tersedak.”

Pelangi tak menjawab karena mulutnya yang penuh. Sebagai respon, ia mengacungkan jempolnya pada Rowoon.

“Ah … ini sangat enak, Rowoon-ah!” puji Pelangi, bahkan diiringi dengan tepuk tangan senang. Ekspresi gembira tergambar jelas di wajahnya. “Kau bahkan bisa membuat restoran sendiri dengan menu ini! Yeokshi, kau adalah koki terbaik!”

Rowoon menyunggingkan senyum tipis. “Kalau aku sukses dengan restoranku, kalau aku berhasil menjadi seorang koki terkenal, maukah kau berkencan denganku?”

Pelangi yang sedang menggigit omelet tahu-tahu mengangkat kepalanya. Maniknya membulat mendengar pertanyaan Rowoon barusan.

Aniya. Tak perlu kau pikirkan. Abaikan saja,” sanggah Rowon seraya mengibaskan tangannya.

Gadis itu pun kembali menikmati panganannya seolah tak terjadi apa-apa.

Rowoon memperhatikan Pelangi lekat-lekat. Kepalanya ia miringkan ke samping. Meski ia berkata pada Pelangi untuk tidak memikirkan kata-katanya, sebenarnya dari hati kecilnya yang paling dalam Rowoon ingin paling tidak gadis itu sadar bahwa ia menyimpan rasa terhadapnya.

-fin-

A li’l note:

Mujigae artinya ‘pelangi’ dalam bahasa Korea.

Advertisements

6 thoughts on “[Vignette] Oleh-oleh

  1. MAU SPOT TAPI GAJADI OTOKE KAK MEREKA BERDUA COUPLEFAV MILIQU, YARABBI AW BENER BENER LUCU PAS ROOWON BILANG PE LANG I YARABBI PELANGI KAMU ITU YA, UDAH ENAK BANGET AJA HIDUPNYA. BISA PULANG PERGI INDONESIA, MAKAN MIE, DIBIKININ LAGI YAKAN , CHEFNYA GANTENGNYA GA NANGGUNG PULA. CUMAN TINGGAL DUDUK DIEM, YARABBI HIDUPMU NAK😂. AKU GATAU MAU NGOMONG APA YANG JELAS MOM BENER BENER MASUKKIN POINT DIMANA ROOWON SUKA BANGET NGELIATIN PELANGI DALEM GITU AWWWWWWWWWWWWWW ASAAAAWWWWWWWWWW KEREN POKONYA AKU SUKA.

    KYAAAA MAKASIH MOM😘💕💓💖👌

    Like

    • aku juga mau bilang hal yang sama… hidup pelangi itu enak banget huhuhu… tetangga ganteng gitu hahahaha XD
      ikr, aku bayanginnya soalnya rowoon sayang plus gemesh banget sama pelangi jadi gitu dah…
      sama2 jg sayy.. makasih ya kamu jg udah mampir 😀

      Liked by 1 person

  2. MOM AKU KEPINCUT SAMA POSTERNYA! TERUS AKU AKHIRNYA BACA DAN KEPINCUT SEGALANYA! Ceritanya sweet banget, persahabatan mereka berdua lucu, terus yang bikin indomie bareng ((serius itu pasti indomie kan makanan kebanggaan indonesia)) /plak/ rowoon pasti ganteng to the max pas bikinnya yarabbi……..emang ya mau diapain pun dia tetep mengalihkan dunia serta jagat raya :” daaaannn aku baru tau kalo mujigae itu artinya pelangi hihihihihii…

    KEREN MOOOMMM!!!! HOW SWEET ROWOON ENDINGNYA ITU, SEMOGA MBA PELANGI PEKA YA?????? 😍😍

    Like

    • wahahahaa.. terima kasih btw… aku gamau nyebut merek ya nanti disangka endorse ahahahaha jadi bebas kamu mau anggep mienya apa 😀 dan saya juga mau ih punya koki pribadi macem rowoon /plak
      wakakakakaa semogaaaa… suruh pemilik OCnya aja bikin pelangi peka 😀
      makasih udah mampir

      Like

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s