[Vignette] In A Bottle of Soju

Processed with VSCO with a6 preset

IN A BOTTLE OF SOJU

.

Slice-of-life, Hurt-comfort, Friendship || Vignette || PG-13

.

Starring
SVT’s Joshua, OC’s Choi Eunha
(mentioned!)
SVT’s S.Coups & Boys24’s Jaehyun

.

Namun, Joshua lebih membutuhkan presensinya sekarang.

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

Specially made to celebrate Joshua’s 22nd (Korean age) b’day

.

I own the plot and the OC

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Dering telepon yang berupa musik rock keras memaksa Choi Eunha yang sedang terlelap keluar dari alam mimpi. Gadis surai cokelat itu mengerang beberapa saat, seraya untaian umpatan terbit di hatinya. Mengacak-acak rambut karena kesal, ia pun menggerakkan tangannya berusaha menggapai ponsel yang entah ia letakkan di mana.

Siapa sih yang menelepon larut malam begini? batin Eunha sebelum maniknya menangkap nama penelepon yang tertera di layar. Joshua Hong.

Tenggorokan Eunha bagai tercekat. Ia pun menarik napas dalam-dalam dan berdeham beberapa kali.

Eoh, Joshua. Ada apa?” ujar Eunha begitu mengangkat telepon.

YA! CHOI EUNHA!!!”

Spontan Eunha menjauhkan ponsel dari rungunya begitu mendengar suara teriakan yang tiba-tiba itu. Kantuknya seketika hilang. Kemudian keningnya mengernyit. Seorang Joshua Hong, sejak kapan ia bisa berteriak?

“Hei, kau kena – “

“Kau ada di mana, HUH?!” Suara di ujung sana masih berteriak-teriak tidak jelas. “Ayo bergabung bersamaku!!!”

Sebuah firasat tidak baik muncul di hati Eunha. “Josh, kau mabuk?”

“MABUK?! SAMA SEKALI TIDAK!!! HAHAHAHA ….

Eunha menggelengkan kepala. Gumaman-gumaman tidak jelas yang tertangkap pendengarannya selanjutnya membenarkan tebakan gadis itu. Pemuda Hong yang sedang menghubunginya saat ini sedang dalam pengaruh alkohol.

“Josh, kau di mana sekarang? Biar aku ke sana.”

“KE RUMAHKU?! Tidak PERLU!!!” Kemudian terdengar suara tawa terbahak-bahak yang amat keras, berbeda jauh dengan tawa Joshua yang selama ini.

“Tapi boleh juga kau kemari. AKU MERINDUKANMU, EUNHA-YA!!!” lanjut sang pemuda.

Persetan dengan kalimat terakhir yang diucapkan Joshua, yang kalau saja diucapkan pemuda itu dalam keadaan sadar sehat walafiat tentu sudah membuat hati Eunha berbunga-bunga. Nyatanya Joshua mengatakannya dalam keadaan tidak sadar, menyebabkan Eunha malah was-was mendengarnya.

“Josh, kututup dulu teleponnya. Tunggu aku di sana,” ujar Eunha akhirnya.

“Eunha-ya, nan neol sarang – “

KLIK!

Lebih baik Eunha memutuskan sambungan secepatnya dan segera bersiap pergi daripada harus mendengar celoteh tidak jelas pemuda itu lebih lanjut.

Oke, sekarang ada masalah berikutnya yang Eunha hadapi. Ia sedang berada di rumah sendirian. Jaehyun sedang ke luar kota untuk mengikuti perlombaan dance bersama grupnya. Sementara Seungcheol? Entahlah, ia hanya bilang hendak pergi tadi siang dan entah kapan akan kembali.

Sebenarnya ada mobil yang bisa Eunha gunakan untuk pergi. Dan bukannya Eunha tidak bisa menyetir. Ia bisa, dengan gaya menyetir yang Jaehyun dan Seungcheol bilang sebagai trip menuju keabadian.

Ah, masa bodoh. Joshua Hong lebih membutuhkan presensinya sekarang dibanding pertimbangan akan gaya menyetirnya yang ugal-ugalan.

***

Eunha menekan bel pintu rumah Joshua untuk ketiga kalinya. Sambil menunggu pintu di hadapannya terbuka, Eunha memeluk erat tubuhnya yang terbungkus oleh mantel tebal. Sesekali gadis itu juga merapikan surai cokelat yang belum sempat ia sisir karena terburu-buru (memangnya dalam keadaan santai pun ia akan menyisir rambut?).

Sudah hampir tujuh menit Eunha berdiri di teras rumah Joshua dan belum ada tanda-tanda pintu putih itu akan terbuka. Rasa sesal serta kesal perlahan muncul di hatinya.

Josh, lebih baik kau buka secepatnya atau –

Pintu itu tiba-tiba terbuka, menyebabkan Eunha menghentikan omelannya untuk sesaat.

Terlihat Joshua yang melongokkan kepala dari dalam. Meski dengan pencahayaan remang-remang, Eunha dapat menangkap mata pemuda itu yang sembab. Bau alkohol yang menusuk pun tercium dari udara pernapasannya.

“Josh, kau ….”

“Oh, Eunha-ya. Wasseo?”

Tubuh Joshua tiba-tiba ambruk, dan bisa dipastikan akan menumbuk tanah kalau saja Eunha tidak sigap menangkapnya. Tak yakin pemuda itu masih punya kekuatan untuk berjalan, Eunha pun memutuskan untuk membopong Joshua ke kamarnya.

Dalam perjalanan menuju kamar, pandangan Eunha sempat tertumbuh pada lima botol kaca hijau yang terletak di atas meja makan. Eunha mengenal botol kaca hijau itu sebagai botol soju, dan gadis itu pun menggelengkan kepala.

Ckckck …. Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Josh?”

Pemuda garis Hong itu hanya menggumam tidak jelas sebagai respon.

Sebenarnya dari segi postur tubuh, Joshua tidak seberapa besar bila dibandingkan dengan Seungcheol. Hanya saja, bagi Eunha yang kurus, lelaki Hong itu terasa berat. Susah payah Eunha membopong Joshua menuju kamarnya.

Huft …. Duduklah dulu di sini, Josh,” ujar Eunha begitu sampai di kamar Joshua. Eunha menyuruh – lebih tepatnya membantu – pemuda itu duduk di tempat tidur. Napas Eunha terengah-engah, akibat harus naik tangga sambil membopong Joshua.

Eunha bermaksud meninggalkan kamar, mengambil segelas air putih untuknya dan untuk Joshua, tetapi begitu ia bangkit berdiri, pergelangan tangannya ditahan oleh Joshua. Pemuda itu kemudian menariknya, memaksanya duduk di sebelahnya.

“Eunha-ya … “ ujar Joshua serak. “Kau, kau pernah merasakan jatuh cinta?”

Eunha menelan ludah, agak terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba tersebut. Bagaimana ia harus menjawab? Haruskah ia mengakui perasaannya sekarnag, di depan Joshua yang sedang mabuk berat?

Rupanya Joshua tidak membutuhkan jawaban, karena dua sekon kemudian ia mulai bercerita.

“Aku juga pernah, Eunha-ya. Namanya adalah Jacellyn Song. Gadis itu manis, baik, cantik. Matanya selalu berbinar-binar, senyumnya indah. Suaranya merdu. Ia sangat ramah pada semua orang, terutama padaku.”

“Aku menyukai Jace, dan aku pikir ia pun menyukaiku,” lanjut Joshua. “Keramahannya, kebaikannya, ketulusan hatinya, kepeduliannya, perhatiannya, semuanya itu berhasil membuat hatiku berdebar-debar. Aku selalu merindukannya.”

Entahlah bagaimana Eunha harus merespon, karena semakin banyak frasa yang Joshua ucapkan, semakin perih ia rasakan di hatinya. Joshua mungkin tidak sadar, tetapi pemuda itu sedang menceritakan suatu hal yang sensitif bagi seorang gadis yang menyukainya. Susah payah Eunha menahan air matanya agar tidak tumpah. Sekuat tenaga gadis itu mengabaikan perasaan mencelos yang terbersit di batinnya.

“Sayangnya,” bibir Joshua mengukir senyum pahit, “sayangnya gadis itu ternyata lebih memilih pemuda lain dibandingkan dengan diriku. Jace tidak pernah menceritakan tentang pemuda itu sebelumnya, tahu-tahu kudengar mereka telah menjalin hubungan. Aku serasa dikhianati, Eunha-ya. Rasanya sakit.”

Aku juga, Josh, jerit Eunha dalam hati. Aku juga serasa dikhianati olehmu.

“Cinta itu menyakitkan, ya, kan, Eunha?”

Eunha hanya menganggukkan kepala pelan, seraya setetes likuid bening lolos dari pelupuk matanya.

Tahu-tahu pemuda Hong itu terisak. Isakannya amat memilukan bagi Eunha, membuat batin gadis itu terasa makin perih. Ketika isakan Joshua sudah menjadi tangisan, Eunha membawa lelaki itu dalam dekapannya.

“Jangan menangis, Josh. Semuanya akan baik-baik saja,” ucap Eunha seraya menepuk pundak pemuda itu beberapa kali.

Sepertinya Joshua menyimpan kesedihan yang luar biasa dalam karena butuh beberapa saat sampai ia menghentikan tangisannya. Bahkan, meski awalnya tak ingin tangisannya ikut tumpah, namun Eunha tak bisa mencegah air matanya untuk tidak ikut keluar.

“Eunha-ya ….”

“Hmm?”

“Kau adalah sahabatku yang terbaik. Kau mungkin tak punya perasaan apa-apa terhadapku, tetapi kau selalu ada untukku. Kau selalu ada di sampingku.”

Eunha menggigit bibir bawahnya keras, mencegah isakannya kembali keluar. Joshua tidak tahu, Joshua tidak pernah mengerti perasaannya. Mungkin sampai seterusnya Joshua akan menganggap dara itu sebagai seorang sahabat, tidak lebih.

Itulah kenyataan yang paling menyakitkan.

Joshua kembali berujar, “Terima kasih.”

Eunha hanya dapat menyahutnya dengan anggukan.

Gadis itu merasakan telapak tangan Joshua memegang tengkuknya. Kemudian jantungnya berdebar tak keruan ketika mendapat Joshua yang perlahan-lahan mendekatkan wajah ke arahnya. Eunha pada awalnya tak mengerti apa yang akan pemuda itu lakukan, tetapi intuisinya menyuruhnya untuk memejamkan mata.

Sesaat kemudian, sesuatu yang basah dan lembut menempel pada permukaan bibir Eunha. Meski bau alkohol yang kuat menyerangnya, tetapi perasaan hangat dan manis lebih menguasai pikiran Eunha. Gadis itu menarik napas dalam-dalam, mencoba menyimpan detik demi detik momen ini dalam hatinya.

Joshua mungkin tidak akan ingat peristiwa malam ini karena ia berada di bawah pengaruh alkohol, tetapi bagi Eunha malam ini akan menjadi malam yang memorable untuknya.

 

-fin-

Advertisements

5 thoughts on “[Vignette] In A Bottle of Soju

  1. “Kau adalah sahabatku yang terbaik. Kau mungkin tak punya perasaan apa-apa terhadapku, tetapi kau selalu ada untukku. Kau selalu ada di sampingku.”
    Dasar om tak peka! -,- udah tak peka, bikin hati Eunha teriris, serang ank orang lagi. Belum pernah lihat gigi menari om Joshua ni 😂

    Like

  2. Sepertinya Eunha ga ngeh kalo kebanyakan orang mabuk biasanya ngomong jujur dan ya kalo seumpama dia mau denger perasaan Joshua sampe selesai di telepon mungkin dia bakal melayang dan aku khawatir kalo dia gak bakal balik /PLAK/
    Betewe si Jace jahat amat ih. Duh nanti ku interogasi abis-abisan tuh orang kalo udah pulang. Tenang Josh, Bebe selalu ada di pihakmu, selama kau mau ganti rambut jadi coklat lagi :v /modus mode on!/
    Oke sepertinya lama lama aku bakal nyampah yang sama sekali gak berfaedah. Sampe jumpa dan semangat Kace!

    Like

  3. KAKCEEEEEEEEEEEEEEE KENAPA INI ADA KISSEU NYA KENAPAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA??????????????????? IYA INI TUH LEBIH MEMBEKAS DARIPADA FF YANG PERTAMA KUBACA. DAN TERNYATA BENAR KALO JOSH EMANG PUNYA JIWA-JIWA PHP xD TAPI LEBIH BAIK MEREKA SAHABATAN AJA, BIAR JOSH BISA SAMA AKU :’V IYA AKU TAU, AWALNYA JOSH EMANG SUKA SAMA JACE. TAPI BERHUBUNG JACE ENGGAK PEKA, JOSH BERPALING DEH KE AKU //DIBAKAR MASSAL//

    Like

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s