[Ficlet] Déjà vu

954df7576d699528e66e908e3b721724

DÉJÀ VU

.

Friendship, Hurt-Comfort, School-life, Slice-of-life || Ficlet || Teen

.

SF9’s Rowoon with a girl

.

“Sometimes if you cry because you couldn’t control, or if you’re in a depression from hurtful trying, I’ll be with you, I’ll give all of my mind to you.”

So Beautiful (SF9)

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Ketika Rowoon berpapasan dengan gadis bernama Claretta Song tersebut, kedua manik mereka bersirobok. Meski sekilas, Rowoon dapat menangkap kesedihan amat mendalam yang tersirat dalam obsidian sang gadis. Bahkan ketika dara itu sudah membelakanginya, Rowoon memperhatikan dari bahasa tubuh gadis itu, yang jelas-jelas menunjukkan bahwa sesuatu terjadi padanya.

“Claretta!” seru Rowoon.

Gadis Song itu berbalik, tetapi tidak beranjak dari posisinya. Rowoonlah yang berinisiatif untung menghampiri dara bersurai kecoklatan tersebut.

“Ada apa denganmu?” tanya Rowoon. Pemuda itu menatap lekat-lekat netra sang gadis.

Claretta tidak menjawab apa-apa. Tahu-tahu, gadis itu menghambur ke pelukan Rowoon, lalu terisak dengan hebatnya. Seolah semua beban yang sejak tadi ia tanggung tumpah keluar.

Entah dari mana, tetapi Rowoon merasa bahwa penyebab dari kesedihan sang gadis adalah karena salah satu anggota keluarganya meninggal. Rowoon menggerakkan tangannya untuk mengelus kepala serta rambut gadis tersebut. Sebelah tangannya lagi menepuk-nepuk pundak Claretta. Didekapnya gadis itu erat.

“Aku mengerti, nona Song. Menangislah. Semuanya akan baik-baik saja,” ujar Rowoon serak. Suaranya ikut bergetar.

***

Rowoon tiba-tiba terbangun dari tidur lelapnya. Kedua maniknya membelalak lebar untuk sejenak. Napasnya terengah-engah. Keringat mengucur di dahi serta punggungnya, membasahi bagian belakang piyama hitam berpola logo Chelsea F.C yang ia kenakan. Sesaat kemudian, ketika ia disadarkan bahwa ia masih berada di kamarnya yang gelap akibat lampu dipadamkan, ketegangan sang pemuda berkurang. Dipejamkannya mata selama beberapa saat, sementara desahan lega meluncur dari mulutnya.

Pemuda Kim tersebut tak mengerti akan maksud mimpi yang tiba-tiba mendatanginya. Claretta Song, yang menangis dalam dekapannya. Tangisan gadis itu terasa nyata, jelas terdengar, dan bagai menyimpan kesedihan yang amat besar. Rowoon dapat merasakan hancur hati, pilu, serta keputusasaan yang bercampur kemarahan dari setiap isakan yang dikeluarkan sang gadis. Bahkan pelukan dan sentuhannya untuk Claretta terasa nyata.

Rowoon bukanlah tipikal orang yang percaya mengenai makna tersirat dari setiap mimpi. Bukan juga tipe insan yang meyakini bahwa setiap mimpi akan menjadi kenyataan. Mimpi hanyalah mimpi, tak ada sangkut pautnya dengan kehidupan nyata, begitu prinsipnya. Mungkin mimpi memang ada kaitannya dengan kejadian yang kita alami sebelum tidur, tetapi kontribusinya hanya sampai situ. Tidak ada peranannya dalam menentukan masa depan kita kelak.

Namun, mau disangkal dengan cara apapun, tetap saja kejadian dalam mimpinya barusan terus berputar di benak Rowoon, memaksa pemuda itu untuk terus memikirkannya. Rowoon bahkan sudah mencoba mengabaikannya dengan berbaring, memejamkan mata, dan berniat untuk kembali tidur, tetapi hasilnya nihil. Gara-gara mimpi tak masuk akal tersebut pemuda itu hampir gila sekarang.

“Baiklah, baiklah!” ucap Rowoon kesal pada dirinya sendiri. Lelaki itu kembali terduduk. Terdiam untuk beberapa saat, tetapi tak ada jawaban yang ia dapat.

Jengkel, ia pun mengambil ponsel yang ia letakkan di lantai. Menggunakan aplikasi Line ia mengirim pesan kepada Claretta, meski sangsi gadis itu akan menjawab di pagi-pagi buta seperti ini.

RW_Kim

Claretta, apa kabarmu? Baik-baik saja, kan? Bagaimana dengan keluargamu?

Ta.Claretta

Wah, kamu bangun pagi sekali. Ada apa, kah?
Puji Tuhan aku dan keluargaku baik. Kenapa?

Kembali Rowoon menghembuskan napas lega. Setidaknya, itulah jawaban yang memang ia harapkan.

RW_Kim

Tak ada apa-apa. Maafkan aku mengganggumu pagi-pagi buta seperti ini

Ta.Claretta

Bukan masalah. Lagipula ini memang jam bangun tidurku.

Rowoon tidak membalas. Ia pun mematikan ponsel, lalu kembali menyelimuti diri dengan selimut. Gadis itu baik-baik saja, kan? Ya sudah, apa lagi yang perlu ia khawatirkan?

Meletakkan kepalanya di bantal yang empuk, Rowoon bersiap untuk kembali terbang ke alam mimpi, melanjutkan tidurnya yang terpotong, meski sangsi ia akan mendapat jatah tidur yang cukup mengingat sebentar lagi alarm bangun paginya akan berbunyi.

***

Tiga minggu kemudian …

Rowoon tentu sudah lupa akan mimpinya mengenai Claretta waktu itu. Ayolah, selama ini tentu banyak mimpi yang datang silih berganti di setiap kesempatan tidur malam pemuda tersebut. Lagipula, bagi Rowoon semua mimpinya tak memiliki arti khusus yang membuatnya merasa perlu untuk mengingatnya.

Tungkai jenjang pemuda tersebut melangkah meniti setiap ubin di lorong sekolah. Hari telah sore, suasana sekolah telah sepi karena mayoritas siswa sudah kembali ke kediamannya masing-masing. Rowoon juga seharusnya sudah pulang sejak tadi, kalau ia tak perlu berlatih baseball untuk pertandingan antar sekolah berikutnya.

Dari kejauhan, matanya menangkap sosok seorang gadis bersurai panjang. Penglihatannya masih tergolong bagus, sehingga hanya dengan menyipit sedikit Rowoon bisa tahu siapakah sosok yang ia lihat di sana. Adalah Claretta, sahabatnya.

“Claretta!” Rowoon berseru.

Gadis itu hanya menoleh, tetapi tidak beranjak barang selangkah atau dua langkah. Rowoonlah yang dengan setengah berlari menghampiri gadis tersebut.

Wajah gadis itu tampak pucat. Matanya sayu dan sembab. Kantung mata terlihat jelas di bawah kedua rongga matanya.

Kedua tangan Rowoon bergerak untuk menangkup pipi sang dara. Ditatapnya gadis itu lembut.

“Kau … baik-baik saja?” Rowoon bertanya dengan hati-hati.

Perlu diketahui, ini adalah hari keempat semenjak meninggalnya ibu Claretta akibat serangan jantung mendadak. Acara pemakaman sendiri sudah dilakukan dua hari yang lalu, dan sejak kemarin Claretta sudah kembali masuk sekolah. Tetapi tampaknya kesedihan belum sirna dari gadis garis Song tersebut.

Claretta mengalihkan wajahnya. “Aku baik-baik saja.”

“Bohong,” sahut Rowoon cepat.

Gadis itu mengangkat kepalanya, menyiratkan sebuah tatapan yang Rowoon artikan sebagai kalau sudah tahu mengapa masih bertanya?.

Tiga sekon kemudian, tetes demi tetes likuid bening mulai meluncur dari pelupuk mata sang gadis, diikuti dengan isakan pelan, lalu berubah menjadi tangisan keras.

Rowoon bertindak cepat. Kedua tangannya bergerak untuk melingkar di pundak sang gadis, membawa Claretta dalam dekapannya. Dipeluknya sang gadis erat. Rowoon membiarkan Claretta menumpahkan semua kesedihan, kegalauan, pilu, gundah, sepi yang ia rasakan.

Mendadak Rowoon merasa dejavu. Ini adalah perasaan yang pernah ia rasakan sebelumnya. Sepertinya ia pernah melakukan hal yang sama di masa lampau; mengelus kepala seorang gadis yang menangis dengan sangat hebat, menepuk-nepuk pundaknya, berusaha menghiburnya.

Barulah Rowoon disadarkan akan mimpi yang ia alami sekitar tiga minggu yang lalu. Di sanalah hal serupa pernah ia lakukan, bahkan dengan gadis yang sama. Bedanya, itu hanya mimpi, sedangkan ini kenyataan.

Rowoon memeluk Claretta lebih erat lagi, berusaha merasakan rasa sedih yang dirasakan gadis itu. Claretta tak berkata apa-apa, ia hanya pasrah menangis dan menangis dalam dekapan Rowoon. Meski demikian, kesedihan yang ia rasakan dapat juga terasa oleh sang pemuda.

Bahkan tanpa sadar Rowoon pun ikut menitikkan air mata.

“Aku mengerti, Claretta­-ya,” ujar Rowoon dengan serak. Suaranya mulai bergetar karena sarat emosi. “Aku mengerti. Aku paham benar apa yang kau rasakan sekarang.”

Sembari tetap mengelus puncak kepala Claretta, Rowoon berharap penghiburan yang ia berikan dapat dirasakan oleh gadis tersebut. Rowoon sadar, ia tak dapat berbuat apa-apa. Kata-kata penghiburannya tak dapat mengembalikan ibu sang gadis yang telah pergi. Ia paham betul elusan atau tepukan yang ia berikan mungkin tak bisa mengurangi kesedihan mendalam yang Claretta rasakan.

Tetapi, setidaknya ia berusaha. Sebagai sahabat, ia akan tetap berada di sisi Claretta. Menghibur gadis itu, menemani gadis itu dalam mengambil langkah demi langkah ke depan.

Bukankah itu guna seorang sahabat?

-fin-

 

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] Déjà vu

  1. mom! astaga mooooommmmm!!!!

    donna bacanya sambil dengerin so beautiful, dan pas banget dua kali putaran lagunya abis, tau tau udah tamat aja ff nya mom :”) ini bagussss moommmmm thumbs up buat teh mom! ❤ jadi sebelumnya perasaannya si rowoon ini beneran bakal kejadian ya, dan ternyata beneran terjadi 😦 serius mom terbawa suasana banget aku bacanya….

    mana ada ya mom pria di dunia ini waktu tau sahabatnya sedih langsung dipeluk, ditenangin gitu. MANA ADA! /tendang tong sampah/ lebih baik kelapa nikah sama tokoh fiksi aja gimana mom? muehehehe XD

    nice fic mom! keep writing yaaaah uri momteaaaa ❤

    Like

    • aduh… makasih sayang utk pujiannya hahahhaha… serius? sampai kebawa baperkah? ahhahaha
      iya nak sayangnya ini hanya fiksi oppa itu fana dan we have to deal dengan cowo2 di luar sana yang sayangnya malah ga pekaan hihihi…
      astaga… sana culik rowoon bawa ke KUA sana XD
      makasih ya sayang udah mampir yeeeyyy

      Liked by 1 person

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s