[Vignette] By That Coffee Shop

moodyutamomo

BY THAT COFFEE SHOP

.

AU, Slice-of-life || Vignette || G

.

TWICE’s Momo, Pentagon’s Yuto

.

“Aku harap kopi ini dapat menenangkan suasana hatimu.”

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

Big thanks to Dyvictory for the moodboard

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Bekerja paruh waktu sebagai salah satu barista di sebuah kafe kecil membuat Hirai Momo berkesempatan untuk bertemu banyak orang. Berbekal senyumannya yang ramah dan wajah yang selalu tampak ceria, ia menyambut berbagai macam costumer, lalu menyajikan kopi terbaik sesuai dengan yang mereka pesan. Sudah puluhan jenis pengunjung yang ia layani, dari mulai murid sekolah, mahasiswa, orang dewasa, seorang ibu satu anak, businessman berdasi, sekelompok gadis, hingga sepasang kekasih. Tinggi, pendek, tampan, cantik, tua, muda, semua pernah ia temui. Dan semuanya mendapat pelayanan sempurna dari Momo. Ya, gadis itu memiliki ketetapan untuk memberi pelayanan maksimal kepada seluruh pengunjung, tanpa membeda-bedakan seorang pun.

Tetapi di antara puluhan pengunjung yang Momo layani selama lima jam waktu kerja setiap harinya, hanya ada satu pelanggan yang berhasil memikat hati Momo. Pelanggan itu selalu datang pukul setengah lima sore (ya, kalau pun sampai telat, hanya lebih beberapa menit), tiga puluh menit setelah Momo memulai shift-nya.

Momo tidak tahu identitas lengkap pelanggan tersebut. Momo hanya tahu inisial Yuto, nama yang selalu digunakan pemuda itu untuk melakukan pemesanan. Gadis Hirai itu bahkan tidak tahu apakah itu nama asli atau hanya sekedar alias – banyak yang memberi nama inisial saat membeli orderan, asal tahu saja.

Pemuda itu selalu memesan menu yang sama; iced Americano saat cuaca panas atau hot cappuccino latte ketika hari dingin, tanpa tambahan gula. Setelah mendapatkan pesanannya, ia selalu duduk di tempat yang sama; pojok kanan utara kafe yang menghadap ke jendela. Biasanya ia akan menghabiskan satu setengah hingga dua jam di sana, entah itu datang dengan laptop untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar merenung atau memanfaatkan fasilitas wifi gratis melalui ponselnya.

Ia bukanlah pemuda yang gemar menebarkan senyuman manis pada gadis-gadis, bukan juga pria ramah yang menyapa Momo dengan kalimat gombal saat melakukan pemesanan. Ia tidak datang mengenakan pakaian atau atribut menarik perhatian, tidak. Ia hanya datang mengenakan kaus oblong berbeda setiap harinya, celana panjang hitam, dan jaket abu gelap. Gaya bahasanya seperti orang Jepang pada umumnya, cepat dan tegas, bahkan terkadang Momo seperti merasa Yuto sedang kumur-kumur. Suaranya rendah dan dalam. Iris gelapnya memberi sorot tajam, dan rasanya tak pernah sekali pun ranum merah itu mengukir sebuah senyum.

Oh, mungkin pernah. Entah apa yang sedang dipikirkan lelaki itu, tetapi ketika Momo mengatakan line dasarnya “Ini pesanannya. Selamat menikmati!”, lelaki itu menyunggingkan senyum tipis.

Saat itu Momo ingat dirinya harus berusaha keras agar tak berhenti tersenyum malu-malu layaknya orang puber. Pipinya terasa panas, dan hatinya berbunga-bunga.

Momo tak tahu apa yang membuatnya terpikat pada sosok Yuto. Pemuda itu tak terlalu tampan – ya, Momo pernah bertemu pelanggan yang lebih tampan yang bahkan membuat rekan kerjanya memaksa gadis itu untuk bertukar posisi sementara agar temannya bisa melayani sang pemuda. Yuto tak ramah, Yuto jarang tersenyum. Tetapi, somehow, dara Hirai itu kerap mencari sosok Yuto. Bila sudah waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, Momo mendapati dirinya bertanya-tanya akan presensi Yuto. Bila sudah selesai melayani pemuda itu, Momo akan melabuhkan pandangannya pada pojok utara kafe, hanya untuk melihat Yuto, dan hanya terinterupsi sejenak bila ada pelanggan lain yang harus ia layani, lalu ia akan melanjutkan kegiatannya kembali.

Sebenarnya, besar hasrat Momo untuk sekedar menghampiri meja nomor dua belas – meja tempat Yuto biasa duduk. Apa yang akan ia lakukan? Entahlah. Mungkin mengajak berkenalan. Lalu? Momo tidak tahu. Yang pasti, ia ingin sekali-sekali hadir dalam kehidupan pria itu bukan sekedar sebagai barista coffee shop yang belum tentu pemuda itu ingat, tetapi sebagai teman yang bisa diajak berbicara. Siapa tahu, percakapan apa yang dapat ia bangun bersama sang jaka.

***

Suatu sore pukul lima kurang dua puluh menit. Seperti biasa, pemuda itu kembali memasuki wilayah kafe. Momo yang sedang diam-diam mengecek ponsel pun menghentikan kegiatannya. Senyumnya merekah.

“Irasshaimase,” ucap gadis Hirai itu riang.

Ada yang aneh dari Yuto hari ini. Yuto memang expressionless, selalu datang dengan wajah datar tanpa ekspresi. Hanya saja hari ini Momo merasa ada yang berbeda darinya. Tatapan sedih terpancar dari bola mata yang biasa menyorotkan sinar tegas dan tajam. Selain itu, meski tak terlalu terlihat, tetapi Momo dapat menangkap perasaan galau dari wajah pelanggan tetapnya.

“Mau pesan apa?” Momo bertanya dengan suara yang ia coba buat selembut mungkin, meski sebenarnya ia tahu menu regular pemuda tersebut.

“Satu hot cappuccino latte,” ujar sang pemuda, serak. “Atas nama Yuto,” tambahnya.

Tuh, kan?

Momo memencet layar mesin kasir, memasukkan pesanan pemuda itu. Setelah melakukan transaksi pembayaran dan memberikan nota pemesanan, pemuda itu duduk – di tempat biasa, tentunya – sementara Momo mulai meracik minuman yang dipesan.

Diambilnya satu cangkir kertas. Seperti biasa, ia selalu menuliskan nama pemesan di cangkir. Sama seperti sekarang, tangannya menggerakkan spidol hitam untuk menorehkan tulisan Yuto di cangkir. Momo melirik pemuda yang sedang duduk dekat jendela tersebut. Kepalanya ditelungkupkan di atas meja, ditutupi dengan tangan. Sang gadis memiringkan kepala, bertanya dalam hatinya ada apa gerangan dengan Yuto.

Seulas senyum tersungging di bibir Momo. Pelan-pelan, tangannya kembali ia gerakkan, menuliskan beberapa patah kata di cangkir kertas yang masih ia pegang.

“Yuto-san. Aku tak tahu apa masalahmu, tetapi aku harap kopi ini dapat menenangkan suasana hatimu. Ganbatte!”

Setelah itu ia mulai dengan proses peracikan hot cappuccino latte-nya.

Ketika mengantarkan pesanan, Momo tak lupa memberikan senyum manis, yang hanya dibalas pemuda itu dengan sebuah anggukan kecil. Meski Momo harus kembali ke meja kasir di mana ia melayani pengunjung lainnya, manik gadis itu diam-diam mengawasi Yuto, menunggu responnya.

Oh, Yuto menyadari tulisan tangan Momo. Pemuda itu terlihat sedang membacanya baik-baik.

Dan, senyum tipis pun tersungging di bibir Yuto.

Momo menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan diri untuk tidak berteriak senang. Pasalnya, hatinya sudah berbunga-bunga sekarang. Bagai seorang pahlawan yang pulang dari medan perang dengan membawa kemenangan, Momo puas bisa menghibur seorang pelanggan yang sedang dilanda gulana. Apalagi notabene sang pemuda adalah pelanggan favoritnya.

Gadis Hirai itu bisa menghembuskan napas lega sekarang. Setidaknya, ia berhasil mendapatkan reaksi Yuto seperti yang diharapkan. Momo pun mulai melanjutkan kegiatannya melayani pelanggan lain.

Pukul enam kurang lima belas menit. Yuto yang sepertinya sudah selesai dengan urusannya bangkit berdiri, dan berjalan menuju ke pintu keluar kafe. Saat melewati meja kasir, obsidian Momo bersirobok dengan milik pemuda itu, dan kepalanya agak tertunduk, malu.

Lelaki itu mengacungkan cangkir kertas tempat hot cappuccino latte-nya, dan bibirnya mengukir kurva bahagia. Mulut pemuda itu mengatakan sesuatu, yang meskipun diucapkan tanpa suara, tetapi Momo dapat membaca gerakan bibirnya.

“Arigato.”

Momo membungkukkan badan hampir sembilan puluh derajat. Dibalasnya salam pemuda itu dengan lambaian tangan dan sebuah senyum lebar. Merasa senang, karena perbuatannya perasaan pemuda itu jauh lebih baik.

Dan juga, jauh di lubuk hatinya Momo berharap bisa mengenal pemuda itu lebih dan lebih lagi.

-fin-

 

Advertisements

2 thoughts on “[Vignette] By That Coffee Shop

  1. TEHMOOOOOOMMMMM TAU GAA SIIII, KELAPA BACANYA SAMBIL SENYUM-SENYUM SENDIRI BAYANGIN YUTO BAKAL PEKA DAN NGENOTIS MBA MOMO DENGAN SEBUAH AJAKAN BERKENCAN GITUUU /ditampar sama yang nulis/

    sukaaa banget mom sama jalan ceritanyaaa, bahasanya mengalir syahdu ulala seperti cintaku pada shinwon /gak/ pokoknya MI LAIKKK MI LAIIKK DONNA LAIK THIISSS :))))) terus nih ada apa dengan yuto? apakah doi menangos karena habis diputusin pacarnya? lalu dia segera move on ke mba mba barista yang suka sama kamu AAAAAAAAAAAAAAAAA /ditebas/

    nice fic, mom! keep writing dan kuharap ini ada sekuelnya dari sudut pandang yuto yayayayayayaaaa ❤ ❤

    Like

    • wahahahaha… whay? becoz yutonya sesuatu banget di sini? XD
      sequel ya? hahahahahhaa di lapak sebelah juga minta sequel sik kupikirkan yaa… tapi makasih loh sudah mampir ke sini…
      HIDUP YUTO-MOMO!! HIDUP!!! /melipir/

      Liked by 1 person

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s