[Ficlet-Mix] Beyond The Fantasy

Processed with VSCO with a5 preset

BEYOND THE FANTASY

.

AU, Fantasy, Supernatural, Slice-of-life || Ficlet-Mix || PG-13

.

VICTON’s Seungsik, Byungchan, and Sejun

.

© 2016 by Gxchoxpie, thehunlulu, & ninegust

.

We only own the plot

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

[1]

Seungsik menggeser tungkainya ke samping kanan dan begitu kepalanya ia tolehkan ke kiri, seberkas bayangan yang menyerupai asap hitam serta merta mengikutinya. Begitupula saat pemuda itu bergeser ke kiri, maka bayangan itu juga akan mengikutinya—lebih tepatnya, bersembunyi di balik tubuh Seungsik sendiri.

Maka si pemuda berangsur-angsur menaiki anak tangga guna berkaca di dalam kamarnya. Dengan langkah tergopoh, diraihnya kenop pintu kamarnya kemudian berkaca dengan gusar. Dahinya mengernyit samar, berusaha mencerna apa yang maniknya tangkap di dalam cermin.

“Apa yang kau takutkan dariku, Pemuda Tampan?”

Sekonyong-konyong tanpa ada seorang pun manusia di dalam kamar selain dirinya, sebuah suara berat menggema tepat di telinga Seungsik. Pandangannya mengabur lantaran kali ini bayangan itu tahu-tahu sudah berpindah posisi; berdiri tepat di depan si pemuda sembari membetulkan penutup kepalanya.

“K-kau?” Respons yang sangat wajar kala Seungsik berhasil melihat bayangan itu berubah menjadi sosok dirinya dengan aura yang berbeda 180 derajat.

“Ya, aku adalah dirimu.”

Telunjuknya segera turun, tangan yang satunya ia gunakan untuk menutup mulutnya yang terbuka sempurna. Seorang Seungsik sedang berbicara dengan dirinya sendiri—sekaligus dengan mata kepalanya sendiri.

Ia tak percaya. Sungguh tak percaya dengan fenomena yang belum seutuhnya dapat dicerna otaknya, sebelum akhirnya sosok kembarannya itu mengulurkan tangan—bermaksud mengajak Seungsik untuk berkenalan.

Seungsik sendiri belum tergugah untuk membalas jabat tangan sosok misterius itu. Sepasang maniknya bergulir dari atas ke bawah, mengamati penampilan lawan bicaranya dengan seksama. Tubuh pemuda misterius yang mengaku sebagai dirinya itu berbalut pakaian serba hitam yang menyerupai algojo. Jika memang benar, kembaran Seungsik itu adalah seorang algojo.

Tanpa sadar uluran tangan Seungsik terangkat, lantas menjabat balik acara berkenalan itu.

“S-siapa kau sebenarnya? Dari mana kau datang?”

Algojo itu membuka masker yang ia kenakan, membalas tatapan Seungsik dengan sorot tajam dan seringaian sembari—

“Dan untuk apa kau mengikutiku?“

—memamerkan gigi taringnya yang memanjang keluar.

Seungsik terperangah hebat. Ingin rasanya pemuda itu berlari menjauh dari sadapan mata si algojo, menelepon ibunya agar cepat pulang, ataupun kabur dari rumahnya. Kalau bisa, detik itu juga dirinya memecahkan jendela kamar lalu lompat dari sana. Namun semua itu hanyalah andai-andainya semata, karena ia tidak akan bisa merealisasikannya. Semua sudah terlambat dan ia tahu takdir pahit itu pasti akan datang.

Dengan kata lain, Seungsik sudah mendaftarkan dirinya untuk menjadi target algojo itu. Pemuda itu sedang berada di ambang kematian sekarang.

“Apa tujuanmu untuk datang kemari?”

Algojo itu mendengus. “Aku adalah dirimu, Kang Seungsik yang selama ini hidup berdampingan denganmu sejak kau lahir hingga sekarang. Kau tahu apa yang membuatku datang kemari?”

Seungsik terdiam sesaat. Bola matanya bergerak kesana-kemari memandang gerak-gerik si Algojo, hingga makhluk itu mengangkat pedangnya lalu melirik benda itu sekilas—memberi isyarat pada Seungsik menggunakan kedua matanya.

“A-apa aku akan mati?” tanya Seungsik terbata. Tiba-tiba saja ritme jantungnya berubah menjadi cepat, ia mengambil napas dalam-dalam.

“Tidak, Seungsik-a ….” Algojo itu berderap mendekati presensi Seungsik, lantas bergumam kecil, “Mengapa semua manusia selalu berprasangka jika dirinya akan mati jika bertemu dengan makhluk sepertiku? Sebodoh itukah manusia sehingga otaknya dijejali oleh doktrin-doktrin tidak jelas yang belum diketahui kebenarannya?”

SLING!

Pedang itu berhasil menyayat dada Seungsik, dengan cekatan si algojo menancapkannya tepat pada jantung si pemuda yang nyaris limbung. Hingga beberapa saat berikutnya Algojo itu membuka suara, “Kau akan menjadi penggantiku, Kang Seungsik.”

BRUK!

Seungsik kehilangan kesadarannya, tubuhnya mencium lantai dengan sempurna diikuti aliran darah yang menyebar kesana-kemari.

“Selanjutnya Dewa akan mengutusmu untuk berada di posisiku sebagai malaikat pencatat amal buruk manusia. Yang harus kaumonitori setiap detik adalah dirimu sendiri yang sebentar lagi akan bereinkarnasi sebagai Kang Seungsik. Karena terlalu banyak dosa yang telah kauperbuat selama kau hidup di bumi, maka Dewa mengizinkanmu untuk terlahir kembali dengan perantara seorang bayi.”

Dengan telaten si Algojo menjelaskan seluruh tabiatnya yang tidak bisa dibilang buruk itu. Di dekatnya, arwah Seungsik mendengarkannya dengan seksama, lantas mengambil alih sebilah pedang dari tangan si Algojo lalu membunuhnya.

Gumpalan asap hitam membumbung tinggi, dan kini saatnya arwah Seungsik berlutut sambil memejamkan matanya. Sesaat setelah itu ia kembali membuka kelopak matanya, beranjak menuju cermin sembari menatap lamat-lamat penampilannya yang telah berubah. Ia telah menjadi seorang algojo dengan sebilah pedang di tangan kanannya.

Selanjutnya, seonggok jasad miliknya telah berubah menjadi abu yang akan ditiupkan Seungsik pada seorang bayi yang baru saja lahir. Siapapun itu, jika seorang bayi ditiupkan abu tersebut, maka ia akan tumbuh menjadi dirinya; Kang Seungsik yang selalu ia kenal.

#-#-#

[2]

Meski Byungchan telah memberi sebuah sorot tajam kepada gadis di hadapannya, kenyataannya gadis itu tak dapat mengalihkan pandangan darinya. Gadis itu masih menatapnya dengan berbinar-binar. Bahkan kurva bahagia itu masih tersirat di wajah sang gadis yang putih susu.

Dalam hati Byungchan melontarkan sejuta umpatan yang bisa ia ucapkan.

Gadis yang sering dipanggil Yoo Elaine itu masih duduk di tempat tidurnya, bersila. Senyum lebarnya masih terukir. Semua kegiatan yang Byungchan lakukan diperhatikannya baik-baik, tanpa mempedulikan bahasa tubuh pemuda itu yang sudah jelas-jelas terlihat tak nyaman. Byungchan menghela napas. Mungkin Elaine terlalu dungu untuk mengartikan sebuah kode tatapan mata.

“Apa aku setampan itu?” tanya Byungchan pada akhirnya, tak tahan. Tangannya disilangkan di depan dada. Maniknya menatap gadis itu lurus-lurus.

Elaine mengeluarkan cengiran khasnya. “Yep. Kau sangat tampan.”

Cih,” balas Byungchan sarkastik. Ia tahu ia tampan, tapi tak bisakah Elaine berhenti menatapnya?

Lelaki itu memberikan lirikan tajam pada Elaine. “Aku mau ganti baju sebentar. Kau bisa keluar barang beberapa saat?”

“Tidak bisa,” ucap Elaine cepat. “Aku tetap di sini.”

Alis mata Byungchan terangkat sebelah. “Heol. Serius?”

Gadis itu mengangguk tegas.

Byungchan memutar bola matanya. “Terserah,” ucapnya dengan diiringi dengusan. Tanpa basa-basi lelaki Choi itu mengangkat kaos oblong putih yang sejak tadi menutupi dada bidangnya. Belum cukup, lelaki itu juga membuka handuk yang melilit pinggangnya.

Dua tindakan yang sukses membuat sang gadis memekik tertahan dan memalingkan wajah. Kedua maniknya terpejam erat. Seulas senyum sinis tersungging di bibir Byungchan. Hahaha …. Tampaknya dara tersebut mulai menyesali keputusannya untuk tetap tinggal.

Masih dengan posisi membelakangi Byungchan, gadis itu berseru, “Cepat pakai bajumu!”

Ckckck ….” Byungchan mendecakkan lidah. “Kau sendiri yang bilang tidak mau keluar. Kenapa sekarang menyembunyikan wajah seperti itu? Tak tahan dengan pesonaku, huh?”

“Cepat pakai bajumu!” Gadis yang tak menghiraukan perkataan Byungchan tersebut malah menggerutu. “Cerewet sekali.”

Kini lelaki itu sudah berpakaian rapi. Kaos Polo hijau beserta celana jeans selutut telah terpasang. Tak lupa Byungchan menyisir rambutnya yang hampir kering.

Ketika Byungchan keluar meninggalkan kamar, Elaine masih dengan setia mengekor di belakangnya. Senyuman masih terpampang jelas di bibir merah gadis itu.

Byungchan menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Buru-buru Elaine pun menghentikan derap, seraya kelopak matanya berkedip beberapa kali. Byungchan kembali melemparkan tatapan tajam padanya, yang disambut gadis itu dengan ekspresi bingung.

“A-ada apa?” Elaine bertanya terbata-bata. “Kenapa tiba-tiba berhenti?”

“Tak bisakah kau berhenti mengikutiku? Aku juga butuh waktu untuk sendiri!” sahut Byungchan yang sudah jengkel.

“Tidak bisa.” Gadis itu menggeleng cepat.

Kening Byungchan berkerut. Ekspresi tidak suka masih tergambar dengan jelas di wajahnya. “Kenapa?”

“Kau lupa ya?”

“Apa?” Pemuda tersebut makin tidak mengerti.

Sang gadis tersenyum manis sambil berputar di tempat hingga tiga kali. Bagian bawah gaun putihnya ikut mengembang ketika gadis itu berputar.

.

“Aku kan malaikat pelindungmu,” ujar Elaine. “Aku harus selalu mengawasimu. Itulah sebabnya aku harus selalu berada di dekatmu.”

#-#-#

[3]

Aku melangkahkan kakiku menyusuri jalan beraspal ini. Kulirik jam tangan yang melingkar tepat di pergelangan tangan kiriku, di mana jarum jam sudah menunjuk angka sebelas lewat 32 malam. Bukan perkara mudah ternyata mengadakan kelas malam, kurasa tubuhku sebentar lagi akan ambruk sebentar lagi.

Malam ini tak seperti malam – malam sebelumnya, dimana beberapa sosok manusia masih sempat menampakkan eksistensinya. Namun karena cuaca yang hari ini sangat tak mendukung, mungkin itu salah satu alasannya kenapa kompleks perumahan yang aku singgahi ini terlihat sepi, bagai tak ada tanda – tanda kehidupan sama sekali.

Dari kejauhan nampak samar – samar cahaya biru, membuatku sedikit menyipitkan kedua mataku refleks saat berhadapan dengan cahaya itu. Merasa penasaran akhirnya aku mengikis jarak pada benda yang berbentuk bola dengan beberapa bolongan di sisi – sisinya, di setiap bolongan tersebut itulah cahaya biru tersebut muncul.

Aku tersenyum sekilas lantas memasukkan benda aneh itu kedalam tas ranselku, lantas melanjutkan perjalanan kerumahku yang sempat tertunda tadi.

***

“Aku pulang!”

Tak ada jawaban yang biasanya aku dengar dari kedua kakakku, yang biasanya, sih, pada jam-jam seperti ini sedang memakan popcorn mereka sambil menonton televisi, acara pertandingan sepak bola. Tapi kali ini, yang aku temukan hanyalah keadaan kosong melompong, serta suara pijakkan kaki yang diciptakan olehku.

“Kak Hui?” Aku mengetuk pintu kamar berlabel ‘manchester united’ tersebut lalu mendorong gagang pintu perlahan, menemukan eksesistensi sang kakak tengah tertidur pulas dengan posisi terlentang sambil menggenggam ponselnya.

Aku melangkah mundur dan menutup kembali kamar berdominasi merah itu, manikku dialihkan dengan pintu berwarna hijau yang terletak di lantai dua. Ah, aku terlalu malas untuk menaikki tangga di saat-saat seperti ini. Jadi aku memutuskan untuk tak mendatangi kamar Kak Jonghyun, dan memilih untuk memasukki kamarku yang terletak tepat di seberang kamar Kak Hui.

***

Uh, lagi-lagi aku tak bisa memejamkan mataku, dan bagus kali ini aku kehabisan obat tidurku. Kedua manikku tiba-tiba dikejutkan dengan satu cahaya yang menembus tas ranselku, Oh iya, aku sampai lupa, benda bercahaya itu masih ada di tasku!.

Setelah itu buru-buru aku beringsut ke meja belajar tempat menyimpan tas ranselku disana. Sret. Dan terbukalah resleting tas itu sehingga menampakkan benda aneh yang ia temukan saat ia melakukan perjalanan kerumah ini.

Aku penasaran dengan benda ini, apa saja kegunaannya, dan kenapa pula seseorang berani-beraninya membuang sampah berkilau ini sembarangan, sampai di tengah jalan seperti itu.

“Apa ini bola tendang?” tanyaku pada diriku sendiri,

Kutengkelngkan kepalaku demi melihat benda ini secara jelas. “Ini seperti hiasan rumah” ungkapku lagi. Setelah lama menerka-nerka, aku baru sadar, bahwa sebenarnya benda ini adalah bola disko yang mungkin saja terjatuh saat mobil pengangkutnya melintasi kompleks perumahan ini.

Baru saja aku ingin melangkahkan kakiku kearah ranjang, lantaran terlalu lelah setelah berdiri beberapa menit, namun kakiku malah tersangkut diantara sela-sela kaki kursi belajar. Ugh, sial.

Prang!

Bola itu pecah, setelah itu sepersekon kemudian asap biru mulai memenuhi kamarku, membuatku ingin mati saja karena kesulitan bernapas. Beberapa kali aku mengucak kedua mataku kasar, lalu selanjutnya mencubit pelan pipi tirusku sampai terasa sakit ketika dwimanikku samar-samar mengangkap seorang pemuda berbaju layaknya pangeran aladin tengah melambai – lambaikan tangannya kepadaku, dengan senyum manisnya.

“Hai, aku Lim Sejun! Senang bertemu denganmu wahai nona ceroboh”

Buru-buru aku menjauh beberapa langkah darinya, “K-kau si–”

Stop, jangan bicara lagi.” Ia membungkam bibirku dengan telunjuknya. “Karena kau telah membebaskanku dari bola khianat itu. Aku akan mengabulkan tiga permintaanmu, tapi jangan lebih, ya?”

 

-fin-

thehunlulu’s Note:

“BHAY AJA INI GA JELAS BANGET TOLONG GAKUADDDD BUNUH AQ OM ALGOJO BUNUH AQ MAS SEUNGSIK!!!!!”

Gxchoxpie’s Note:

“Entah ff macam apa ini astagaaa… Tapi makasih ya Mas Byungchan dkk sudah mau dinistain sama kita-kita… Buat KelapaQ selamat datang juga di kumpulan VICTON stan … Semoga langgeng(?) sama Seungsik ya…
Anyway, mind to review?

ninegust’s Note:

“INI APAAN SIH,

POKONYA

AKU SAYANG KELAPA SAMA TEHMOM, UDAH ITU AJA”

-ROMA-

Advertisements

3 thoughts on “[Ficlet-Mix] Beyond The Fantasy

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s