[Vignette] The Chocolate Mystery

2016-12-19 06.16.03 1.jpg

THE CHOCOLATE MYSTERY

.

Fluff, Romance, School-life || Vignette || Teen

.

VICTON’s Subin, OC’s Sophie Han
with
Gu9udan’s Hyeyeon

.

“Jadi, dari mana semua cokelat-cokelat ini berasal?”

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot and the OC

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Sophie kembali berdiri di hadapan loker berpintu besi abu-abu tersebut. Sesekali ia melirik ke sekeliling, memastikan tak ada orang yang mengawasi atau mencurigai kegiatannya. Jantungnya berdegup begitu kencang, dan keringat dingin mulai membasahi punggung serta tangannya. Digigitnya bibir bawah, gugup.

Setelah yakin keadaan sekitar cukup aman, perlahan gadis Han itu mengeluarkan sebatang cokelat dari saku rok seragamnya. Cokelat batang yang telah ia tambahkan pita putih sebagai ornamen pada bungkusnya. Sejenak ia ragu, karena itu ia menoleh ke belakang, kepada Cho Hyeyeon, sahabatnya, yang sedang mengawasinya di dekat sebuah pilar, beberapa meter di belakangnya. Ketika Hyeyeon menganggukkan kepala tegas, Sophie seakan mendapat kekuatan baru. Gadis itu pun melanjutkan kegiatannya.

Tangannya perlahan membuka pintu loker itu, kemudian meletakkan cokelat yang ada pada genggamannya di dalam. Bahkan Sophie sempat menatap cokelat tersebut agar posisinya terlihat rapi. Setelah merasa cukup, gadis itu menyunggingkan senyum, seraya menutup pintu loker bertuliskan Jung Subin tersebut.

Masih dengan senyum lebar ia berjalan cepat menghampiri Hyeyeon. Sophie mengaitkan lengannya dengan lengan sahabatnya.

Somehow rasanya menegangkan,” ucap Sophie sambil berjalan. “Seolah aku takut kalau-kalau sampai seseorang menangkapku.”

“Menangkap?” ulang Hyeyeon. “Seakan kau berbuat kriminal saja.”

Kedua gadis itu tertawa.

“Tapi Hyeyeon-ah,” celetuk Sophie, “kau yakin Subin sunbae akan tahu kalau itu cokelat dariku?”

“Kau mau Subin sunbae tahu apa tidak, sebenarnya?” Hyeyeon balik bertanya.

Sophie mengeluarkan sebuah helaan napas. “Entahlah. Satu sisi aku memang tidak ingin dia tahu, karena aku akan sangat malu. It’s some kind embarrassing to be a secret admirer like this. Tapi aku bisa berbuat apa, aku menyukainya.” Gadis itu menundukkan kepala. “Namun, di sisi lain, terkadang aku ingin dia menyadarinya.”

“Tapi lebih baik mana, memberinya secara diam-diam seperti ini atau secara langsung?” balas Hyeyeon.

Sophie mendesah. “Lebih baik seperti ini, sih.”

“Ya sudah.” Hyeyeon menggamit lengan Sophie. “Ayo kembali ke kelas. Aku belum mengerjakan tugas matematika. Pinjam buku tulismu, ya!”

***

Setiap pagi sebelum bel sekolah berbunyi Sophie selalu menyempatkan diri untuk mendatangi lorong wilayah kelas tiga, kelas kakak tingkatnya. Ia sengaja datang agak pagi karena belum banyak siswa yang datang. Tujuannya memasuki daerah tersebut hanya satu; mencari loker Jung Subin, kakak kelasnya, kemudian meletakkan sebatang cokelat di dalamnya. Hanya itu, setelahnya Sophie akan pergi.

Sophie memang menyukai Subin. Sejak lelaki Jung itu menjadi pengurus OSIS yang menyapanya saat pertama kali Sophie datang ke sekolah ini kelas satu dulu, Sophie sudah tertarik padanya. Gadis itu masih ingat jelas senyum ramah Subin ketika menyambutnya, lalu mengantarkannya ke ruang kelasnya. Terlebih, Subin juga ternyata adalah kakak kelas yang menjaga kelas mereka waktu itu, didampingi seorang gadis pengurus OSIS lainnya. Sejak itulah Sophie menyukainya.

Dan rasa itu tak hilang bahkan ketika Sophie sudah naik kelas sekalipun.

Sophie bukan anak yang pemberani, yang mampu mengungkapkan perasaannya dengan baik. Satu sisi ia ingin terus bertemu Subin, tetapi di sisi lain ketika berpapasan dengan lelaki itu ia hanya menunduk, menahan degupan hebat di jantungnya. Maka dari itulah ia meminta bantuan sahabatnya, Hyeyeon, bagaimana cara mengungkapkan rasa sukanya yang sejujurnya tak tertahankan. Dan itulah jawaban Hyeyeon; semua cokelat-cokelat itu.

Tetapi akhir-akhir ini ada yang aneh. Setiap istirahat, Sophie selalu menemukan sebatang cokelat di lokernya. Bukan, jika kau berpikir bahwa Subin yang mengembalikan cokelat pemberian gadis itu, jawabannya adalah bukan. Karena ini adalah cokelat yang berbeda bungkusnya dengan yang diberikan Sophie. Cokelat ini berbungkus ungu, tanpa hiasan apapun. Sedangkan Sophie tak pernah lupa memberi sebuah pita pada cokelatnya.

Kejadian ini tak hanya sekali atau dua kali. Setiap istirahat pertama ia akan menemukan sebatang cokelat, tanpa pesan apapun. Entah dari siapa. Awalnya memang gadis Han itu penasaran, namun lama-lama ia berusaha tak memikirkannya dan langsung memakannya saat itu juga, detik ketika ia menemukannya.

Walau jujur saja, pertanyaan akan asal-usul cokelat tersebut tak bisa hilang dari benaknya.

Pernah ia mencoba bertanya pada Hyeyeon, tetapi gadis Cho itu hanya mengangkat bahu tanda tak tahu. Lagi jawaban Hyeyeon, “Mungkin dari penggemar rahasiamu.”

“Tapi siapa?” balas Sophie, penasaran.

“Entahlah,” sahut Hyeyeon singkat.

Dara Han itu hanya mendengus kesal. Jawaban Hyeyeon sama sekali tidak membantu.

Dan kejadian itu berlangsung esoknya, esoknya, dan esoknya. Sophie masih dengan rutinitasnya memberi cokelat diam-diam di loker Subin setiap pagi, dan saat istirahat ia menemukan kudapan serupa di lokernya sendiri.

***

Pagi ini Sophie datang agak telat dari biasanya. Tidak sampai benar-benar terlambat, sih. Hanya saja ketika ia sampai, sekolah sudah agak ramai, lebih ramai dari biasanya ketika ia datang. Salahkan Seungwoo sang kakak yang bangun terlambat akibat begadang main game semalam. Oh, mungkin juga Sophie harus mengajukan tuntutan pada Sunhwa, kakaknya yang paling tua, karena sejak kepergiannya kerja praktek tiga hari yang lalu rutinitasnya menjadi kacau. Tak ada yang bisa mengantar Sophie lagi selain Seungwoo, sedangkan pemuda itu bisa dibilang tak dapat diandalkan.

Sekarang bagaimana? Haruskah aku tetap memberi cokelat ini? batin Sophie dalam hati.

Baiklah, apa yang sudah menjadi tugasnya tak akan ia abaikan, apalagi ini adalah tugas cukup mulia; pemberian kepada seseorang yang ia sukai.

Tergesa-gesa Sophie setengah berlari menuju kelasnya untuk meletakkan ransel biru berat berisi buku-buku paket yang tebal. Setelah itu, ia berlari menaiki tangga menuju lantai dua, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah barat gedung sekolahnya, di mana lorong kelas tiga berada.

Terlalu sibuk berlari menyebabkan gadis itu tak memperhatikan jalan.

BRUKK!!

Gadis itu merasa kepalanya menghantam dada seseorang. Terkejut, ia melepas genggamannya terhadap cokelatnya. Cokelat berhias pita biru muda itu terjatuh ke lantai, bersamaan dengan Sophie sendiri yang jatuh terduduk.

“Joesonghaeyo.”

“Kau tak apa-apa?”

Dua suara itu terucap secara bersamaan, tetapi pendengaran Sophie cukup tajam untuk dapat menerka suara yang terasa familiar tersebut. Ia mendongak sedikit, kemudian maniknya seketika membola ketika terkaannya benar.

Jung Subin sedang berada di hadapannya, sekarang berjongkok, lalu menatap matanya lurus-lurus.

SUNB – “

Sophie salah tingkah. Kepalanya sontak ia tundukkan. Pipinya mulai terasa panas. Obsidiannya melirik ke kanan dan ke kiri mencari cokelat yang lepas dari genggamannya. Ketika sudah ditemukan, cepat-cepat tangan gadis itu terulur untuk meraihnya, sebelum Subin melihatnya.

“Cokelat itu, untuk siapa?” Suara bariton itu berujar.

Sophie meringis. Oh, sial. Pemuda itu melihatnya.

Apa yang harus ia lakukan sekarang? Cokelat itu jelas-jelas untuk Subin. Jadi, haruskah ia jujur sekarang? Tapi itu akan terasa amat memalukan. Atau, berbohong? Lalu memasukkannya ke loker pemuda Jung itu saat istirahat nanti? Tetapi Subin akan tahu kalau itu darinya.

Jadi, keputusan apa yang harus ia ambil?

Setelah berpikir keras selama kurang lebih tiga puluh detik, gadis itu pun menyodorkan cokelat batangannya, tepat di depan wajah Subin. Tak lupa Sophie menundukkan kepala, malu. BIsa ia tebak wajahnya sudah semerah kepiting rebus sekarang.

“Untuk sunbae,” ujarnya.

Sophie mengangkat kepala – hanya sedikit – untuk melihat reaksi lelaki di hadapannya. Obsidian subin memang membola, tetapi senyum terukir di bibir pemuda tersebut. Senyum tak sangka, kalau Sophie boleh tebak.

“Untukku?” ulang Subin.

Sophie mengangguk. Jantungnya berdegup begitu kencang.

Subin tak langsung meraih cokelat tersebut. Terlebih dahulu ia membantu sang dara Han untuk berdiri. Setelah itu barulah ia mengambil cokelat dari tangan Sophie.

“Lain kali hati-hati kalau jalan,” celetuk Subin. “Kau bisa saja terluka lebih parah saat menabrak orang. And, anyway, thanks for the chocolate.” Lelaki itu mengacungkan cokelatnya.

Ne, sunbae.”

“Oh, ya. Aku juga punya sesuatu untukmu.”

Kalimat terakhir yang diucapkan Subin membuat Sophie mengangkat kepala. Tatapan malunya berubah menjadi tatapan penasaran. Gadis itu memperhatikan baik-baik pemuda di hadapannya yang sedang merogoh sesuatu di dalam kantung celana seragamnya.

Kemudian sebatang cokelat dikeluarkan.

Meski sekilas, Sophie melihat corak ungu dari bungkus cokelat tersebut. Dan mata gadis itu membulat.

“Untukmu,” ucap Subin seraya menyodorkan cokelat pada Sophie.

Gadis itu mengerjap beberapa kali. “I-ini … ini cokelat yang biasa kutemukan di lokerku ….” Sophie menatap pemuda di hadapannya. “Semua itu dari sunbae?”

Subin memiringkan kepala sejenak. “Hmm.”

“T-tapi ….”

“Aku menyukaimu, Sophie Han.”

WHAT?!

Kembali Sophie mengerjap. Apa kata kakak kelasnya tadi? Pendengarannya tidak sedang bermasalah, kan?

“Aku tertarik padamu sejak kau menjadi penari pembuka acara pentas seni dua tahun lalu. Kau tampak cantik dengan baju tradisional Korea yang kau kenakan,” ungkap Subin.

Diam-diam memori Sophie membawanya ke pentas seni saat ia masih duduk di bangku kelas satu. Ia memang ditugaskan menjadi salah satu dari penari acara pembukaan. Penampilan yang amat baik di awal tetapi mengenaskan di akhir. Kesalahan gerakan membuatnya harus mengalami keseleo di bagian pergelangan kaki. Untungnya, ia masih bisa berpose dengan normal di akhir.

“Ah … begitu,” sahut Sophie malu-malu.

“Aku pernah memergokimu memasukkan sesuatu di lokerku. Ketika kubuka, isinya cokelat dengan pita ungu. Dan esok paginya aku juga mendapat cokelat yang sama, begitu dengan esoknya, dan esoknya. Selama ini aku hanya berpura-pura tidak tahu, tetapi aku senang kau juga punya rasa yang sama denganku.”

“Mungkin kau akan menganggapku pengecut, pria yang tak berani, tetapi selama ini akulah yang meletakkan cokelat-cokelat itu di lokermu. Maaf, karena aku baru mengatakannya sekarang,” lanjut Subin.

Sophie buru-buru menggelengkan kepala. “Ah, bukan masalah besar, sunbae. Terima kasih untuk cokelat-cokelat pemberianmu, kalau begitu.”

Lelaki itu meletakkan cokelat bungkus ungunya di tangan Sophie. “Untukmu.”

“Terima kasih.”

Ketika Subin menatap obsidiannya dengan lembut, Sophie tak bisa berbuat apa-apa selain mengalihkan pandangan dan menunduk. Jujur saja, ia tak mampu melawan tatapan lawan bicaranya tersebut. Bahkan dengan menatap saja Subin mampu membuat jantungnya menggila.

“Aku punya sebuah pertanyaan untukmu,” ucap Subin. “Tetapi kau tak perlu menjawabnya sekarang, karena bel masuk sebentar lagi akan berbunyi. Ini adalah pertanyaan yang perlu kau pikirkan secara matang. Karena itu, nanti saja kau berikan jawabannya padaku, saat pulang sekolah. Tak apa, kan?”

Sophie mengangguk.

Perasaan apa ini? Rasa penasaran, cemas, risau, tetapi senang, gembira, berbunga-bunga bercampur aduk dalam hatinya. Seribu satu rasa bermain dalam batinnya, membuat dadanya bungah seolah mau meledak.

“Kau mau menjadi pacarku?”

 

-fin-

Advertisements

3 thoughts on “[Vignette] The Chocolate Mystery

  1. TYDAQ

    TYDAQ

    TYDAQQQQQQQQQQQ

    KENAPA SUBIN MANIS BANGET YARABBI GAKUAT AKU, AKU MAU PINGSAN AJA ABIS MIMISAN GINI, BYE. KAKTEH AKU KECEWA, KAKTEH BISA BISANYA MEMBUATKU MALAM MALAM BEGINI TERIAK TERIAK SAMPE DIMARAHIN TETANGGA SEBELAH /GA/ SUMPAH INI CUTE, AKU GREGETAN BANGET BACANYA SAMPE MAJU MAJU BADANKU, KALO MAU TAU AKU JUGA GIGIT JARI WAKTU DIA TABRAKAN. OKE FIX INI FIC TERMANIS MINGGU INI, SUDAH PUAS KAKTEH MEMPERMALUKAN DIRIKU KAK SUDAH?. ><

    MAKASIH FICNYA BUAT DENGUNG JANTUNGKU SAMPE KEDENGERAN PADAHAL MAKE HEADSET /GA

    LOVE, ROMA KESAYANGAN KELAPA DAN KAKTEH ❤

    Like

    • wahahahaha… abis subin mukanya imut bgt dek jadi bawaannya pengen bikin fluff mulu… sophienya juga imut… ah dasar kapel ini sayang bgt lah pokoknya jadi kapel imut yang bawaannya malu2 mau gitu kyaaaa…
      kamu aja gregetan bacanya gimana sophie yang ngalamin ini hahahah sudah pingsan pingsan kali dia /plak
      anyway, makasih ya sayang udah mampir XD

      Liked by 1 person

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s