[Ficlet] Kidnapped?

picsart_10-05-03-35-02

KIDNAPPED?

.

Slice-of-life, Romance || Ficlet || G

.

SF9’s Youngbin, OC’s Kim Yooin
(mentioned!) SF9’s Inseong

.

“Setidaknya ini yang dapat kulakukan untukmu.”

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot and the OC

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“Kau butuh liburan, Yooin-ah ….“

Bagi gadis super sibuk layaknya Kim Yooin, frasa liburan tidak ada dalam kamusnya. Menjadi mahasiswa teknik kimia program percepatan membuatnya harus menjalani kuliah dari pagi hingga petang. Yooin yang aktif pun kerap dilibatkan sebagai panitia berbagai kegiatan kampus dan tentu saja dengan kewajiban hadir dalam rapat ini-itu. Jangankan untuk liburan, bila Youngbin sang kekasih hendak mengajaknya berkencan, ia sudah harus mengatakannya pada Yooin jauh-jauh hari atau Yooin akan mengomelinya tentang jadwalnya yang padat.

Satu sisi, Youngbin kasihan akan kesibukan Yooin. Tapi mau bagaimana lagi, tampaknya gadis itu menikmatinya. Lagipula bila diberitahu, Yooin akan berargumen dan kalau sudah begitu Youngbin akan mengalah. Tak mampu ia melawan perdebatan seorang gadis kritis macam Yooin.

“Tak ada waktu,” begitu sahut Yooin setiap diajak rehat barang sejenak oleh Youngbin.

Youngbin berpikir keras. Ia ingin mengajak gadisnya keluar menikmati dunia, tetapi tak ingin kena omelan. Apa yang harus ia lakukan?

***

Manik Yooin seketika membola begitu menyadari kalau ia terbangun bukan di kamarnya. Ia mengerjap sejenak, berusaha mengenali keadaan sekitar. Sudah jelas ia berada dalam sebuah mobil, dengan pemandangan pasir putih bertemu laut biru terhampar di hadapannya. Ombak bergulung menjilat bibir pantai. Sangat indah, hingga mampu membuat Yooin tersenyum.

Kemudian Yooin berpikir: siapa yang membawanya kemari? Ia, yang masih mengenakan piyama biru muda dengan celana sepertiga paha, dibungkus dengan selimut tebal bercorak teddy beari yang ia kenali sebagai property kamarnya, dan sabuk pengaman yang melintang menekan perutnya. Ditambah rambut coklatnya yang agak awut-awutan.

Aish ….“ Yooin mendengus. Jemarinya digunakan untuk menata rambut seadanya. “Siapa yang berani membawaku ke sini? Dalam keadaan seperti ini?”

Yooin melongokkan kepala. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain di luar. Berbekal selimut tebal yang ia gunakan untuk membungkus ujung kepala hingga ujung kaki, Yooin memutuskan untuk keluar dari mobil. Mengabaikan dinginnya angin pagi yang sekonyong-konyong menyerbu.

“Hai princess. Sudah bangun?”

Kepala Yooin sontak berputar begitu suara familiar itu memasuki rungunya. Youngbin sedang menatapnya dengan senyum merekah. Gadis Kim itu melempar tatapan kesal.

“Kau yang membawaku kemari?”

Dangyeonhaji!” sahut Youngbin. Langkahnya menguntai, perlahan menghampiri sang kekasih. Sementara Yooin hanya diam dengan tangan terlipat di depan dada.

Youngbin mendekatkan wajah ke arah Yooin, lalu memberikan tatapan jenaka. “Aku sedang menculikmu, nona Kim. Satu hari ini kau adalah tawananku. Kau harus selalu berada di sisiku. Tidak ada tapi-tapian, tidak ada bantahan, tidak ada perdebatan. Aku tidak menerima penolakan, asal kau tahu.”

Dua sekon, sebelum akhirnya Yooin memalingkan wajah. “Ck. Tawanan katanya. Satu hal, kau menculikku tanpa pemberitahuan sebelumnya.”

“Memangnya ada penculik yang memberitahu kapan ia –“

Begitu Yooin mengangkat tangan, kata-kata Youngbin terhenti. Yoobin pun melanjutkan, “Tidak. Justru karena kau bukan penculik maka sudah seharusnya kau memberitahuku terlebih dahulu kalau mau mengajak berkencan. Secara tata-krama, kau tidak bisa seenaknya memaksa orang untuk mengikuti jadwalmu. Kau harus tanya orang itu terlebih dahulu apakah ia punya waktu luang atau tidak. Ckckck …. Kau akan mendapat masalah besar dari Inseong setelah ini, Kim Youngbin.”

Sebelah sudut bibir Youngbin terangkat, dan raut wajahnya sama sekali tak menunjukkan penyesalan. Ia hanya tenang mendengar semua omelan Yooin. Setelah gadis itu sepertinya selesai, barulah Youngbin menyahut. “Omong-omong tentang Inseong, ide penculikan ini justru berasal dari kembaranmu itu.”

Eh?”

“Inseong bilang, wajahmu kalau di rumah kusut layaknya pakaian butuh disetrika. Kau itu terlalu sibuk, Yooin-ah. Ada kalanya kau butuh rehat sejenak, keluar dari rutinitas. Ayolah, nikmati keajaiban yang disediakan oleh alam.”

“Aku ada jadwal mengajar les privat hari ini, Kim Youngbin,” Yooin berujar. “Akan tidak baik kalau aku tiba-tiba mengatakan bahwa aku hari ini tak bisa mengajar, kecuali karena sakit.”

“Nah! Katakan saja kau sakit.”

“Itu namanya berbohong.”

Demi pohon kelapa yang sedang melambai, Youngbin tidak dalam keadaan siap untuk babak perdebatan baru sekarang. Tetapi bukan Kim Yooin namanya jika langsung menerima sesuatu begitu saja sebelum dianalisa.

“Lagipula, kau akan mengajakku berkencan di sini seharian? Di pantai yang nampaknya tak ada kehidupan lain selain kita berdua dan mungkin hewan melata di pasir? Akankah itu tampak membosankan?” Yooin melirik piyama yang ia kenakan. “Bagaimana dengan pakaian? Kau akan membiarkanku mengenakan piyama ini seharian? Lalu makanan? Kalau yang kulihat tadi, kau sama sekali tak membawa bekal makanan di mobil, kan?”

Senyum Youngbin merekah. Rasa syukur ia ucapkan dalam hati karena telah seluruh pertanyaan Yooin tadi telah membuka jalan untuk menjelaskan pada sang kekasih mengenai konsep penculikannya. Ini lebih baik dibandingkan menemui jalan buntu seperti sebelumnya, di mana ia tak bisa berkata apa-apa.

“Inseong membekaliku dengan beberapa bajumu yang aku yakin sangat nyaman dipakai untuk menyambut kencan musim panas. Kau bisa berganti baju di bagian belakang mobil – tenang, aku tak akan mengintip. Dan tentu saja kita tak akan menghabiskan hari hanya di sini. Aku hanya mengajakmu kemari untuk melihat sunrise. Setelah itu, kita akan berkelilng kota – hanya kita berdua. Kalau ada tempat yang ingin kau kunjungi, katakan saja. Intinya, seharian ini kau bersamaku. Bagamana? Atau kau punya ide lain?”

Yooin terlihat berpikir sejenak. Dimainkannya buku jari, sembari benaknya mempertimbangkan berbagai kemungkinan.

Yah, mungkin kau ada benarnya. Aku butuh liburan, butuh keluar dari rutinitas. Aku bisa menukar jadwal mengajarku nanti. Kau benar, Youngbin-ah. Sejujurnya, aku jenuh.”

Youngbin tersenyum. Tangannya terangkat mengusap puncak kepala sang gadis. “Aku tahu, Yooin-ah. Aku sangat tahu. Maka dari itulah aku menculikmu kemari.”

Bersama dengan itu, semburat jingga mulai muncul di langit. Sebuah pendaran cahaya jingga seakan keluar dari permukaan laut, perlahan-lahan. Perpaduannya dengan langit yang agak kelabu menghasilkan lukisan alam yang sangat indah.

“LIHAT!” seru Yooin. “Matahari terbit!”

“Hmm … “ sahut Youngbin. “Indah, bukan?”

Melihat senyum Yooin yang sejak mentari terbit itu tak henti-hentinya merekah menimbulkan sebuah perasaan senang yang tak terdeskripsikan di hati Youngbin. Semua jerih lelahnya mempersiapkan ide liburan kecil-kecilan ini seakan menguap, digantikan dengan perasaan puas.

Youngbin berjalan menghampiri Yooin. Sebelah tangannya merangkul pundak mungil Yooin, seraya sang gadis menyandarkan kepala pada dada kanannya.

Lelaki itu pun berbisik. “Jadi, haruskah kita mulai petulangan kita?”

Yooin memberi jawaban berupa sebuah anggukan tegas, sebelum akhirnya meminta izin untuk berganti baju dan berlari menuju mobil.

Menatap kepergian sang gadis, Youngbin tersenyum.

.

Nikmatilah hari ini, Kim Yooin. Setidaknya ini yang dapat kulakukan untukmu.

 

-fin-

Advertisements

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s