[Vignette] My Childhood Friend

1437819975093

MY CHILDHOOD FRIEND

.

Fluff, Friendship, Slice-of-life || Vignette || PG-15

.

Starring EXO’s Baekhyun and a girl

.

“Can I kiss you once?”

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Cha ….”

Aku meletakkan tumpukan album foto yang sedikit berdebu itu di dekat Baekhyun. Mata lelaki berambut cokelat gelap itu berbinar dan tangannya langsung bersemangat mengambil satu album yang bersampul depan warna putih. Ia sibuk membolak-balik album foto itu sementara aku mengusap-usap album foto lainnya, berusaha menghilangkan titik-titik debu yang menempel.

“Lihat ini,” ujarnya sambil menunjuk sebuah foto. Aku melongokkan kepala mencoba untuk melihat. Foto hari ulang tahunku yang ketiga. Aku yang tersenyum manis di samping kue ulang tahun yang dihias dengan tema Little Mermaid. Saat itu aku hanyalah seorang gadis cilik berambut pendek ala tokoh kartun Dora dengan gaun persis seperti milik Princess Snow White dari Disney.

“Kau memberikanku itu sebagai hadiah ulang tahun,” sahutku dengan dagu yang menunjuk ke arah lemari bonekaku. Kebetulan boneka panda pemberian Baekhyun letaknya paling dekat dengan kaca pintu lemari itu, sehingga paling mudah terlihat. Boneka panda yang selama lima belas tahun menjadi milikku itu sama sekali belum pernah kucuci, jadi badannya yang berwarna putih sudah terlihat kotor.

“Wah … kau masih menyimpannya rupanya.” Baekhyun tersenyum. “Ingat saat acara tiup lilin? Aku menangis karena tidak diperbolehkan ikut tiup lilin.”

“Tentu. Dan seingatku aku bahkan punya bukti gambar akan adegan itu.” Aku mengambil album foto itu dari pangkuan Baekhyun, membalik halamannya beberapa kali sembari mataku meneliti semua foto itu satu demi satu. Ketika aku menemukannya, aku menyodorkan album itu kembali pada Baekhyun.

Baekhyun butuh sekitar sepuluh detik menatap foto itu sebelum tawa kecil terdengar dari mulutnya. “Wah, aku terlihat jelek sekali di situ.”

Aku hanya mengulum senyum, dalam hati membenarkan perkataannya. Di foto itu, yang menjadi fokus objek adalah aku yang sedang meniup lilin ulang tahun dan diapit kedua orangtuaku. Namun kalau diperhatikan lebih lanjut, di sebelah kanan foto ternyata ada gambar Baekhyun yang sedang berusaha lepas dari pelukan ibunya yang tidak memperbolehkannya ikut meniup lilin bersamaku. Wajah Baekhyun yang sedang merengek dan tertangkap kamera membuatku ingin tertawa.

Baekhyun mengambil album kedua yang bersampul depan warna biru. Sementara ia melihat-lihat foto, aku menatap ketiga album lain yang tergeletak, membuatku terpikir akan sesuatu. Sepertinya terlalu banyak kenangan yang aku buat bersama dengan lelaki berkaos putih itu. Boleh dikatakan Baekhyun telah menemaniku bahkan sejak aku baru lahir. Orangtua kami memang berteman dekat sejak mereka kuliah, dan sepertinya persahabatan mereka itu diwariskan pada kami.

Baekhyun yang nakal, yang merebut boneka teddy bear-ku sedemikian rupa sehingga sobek dan kapasnya berhamburan. Baekhyun yang jail, yang menggunting rambut Barbieku karena impiannya yang ingin menjadi hairstylist – itu dulu, sekarang bila kutanya apa cita-citanya ia hanya mengangkat bahu. Baekhyun yang cerdik, yang memberitahuku bagaimana cara membohongi Park seonsaengnim saat aku lupa mengerjakan PR dulu. Baekhyun yang cerewet, yang selalu mengomeliku tiap kali aku jatuh dari sepeda saat sedang belajar mengendarainya. Baekhyun yang perhatian, yang hampir selalu mengunjungiku tiap aku sakit – dari mulai aku sakit flu biasa dan hanya dirawat dirumah dimana Baekhyun datang dengan hebohnya dan membawakan cokelat batangan untukku sampai aku sakit demam berdarah dan dirawat di rumah sakit lalu Baekhyun mengunjungiku tapi kami hanya diam-diaman karena canggung hingga kedua ibu kamilah yang saling mengobrol dan heran akan kebisuan kami.

Baekhyun yang mengajariku bahwa mengayuh pedal sepeda dan membiarkannya ketika menuruni jalanan menurun yang curam adalah hal paling menyenangkan di dunia. Baekhyun memberitahu bahwa kenikmatan dari bermain ayunan adalah merasakan angin menerpa wajah kita. Baekhyun juga memberitahu bahwa langit yang berwarna jingga saat menjelang sore adalah pemandangan paling indah yang pernah ada.

Sekarang, namja bergigi ompong karena terlalu sering makan permen itu telah berubah menjadi seorang namja berambut cokelat yang tampan. Suaranya yang cempereng itu telah tiada, digantikan dengan suara berat yang terdengar dalam. Senyuman manis yang dijamin akan membuat siapapun meleleh ketika melihatnya itu telah menggantikan cengiran bodohnya selama ini. Mau tidak mau, aku sekarang dipaksa untuk melihat Baekhyun sebagai seorang pria.

“Yoomi-ya, kau masih ingat ini?” Suara berat Baekhyun membuyarkan lamunan semuku. Aku menoleh, memberikan tatapan ada apa? padanya. Telunjuk Baekhyun menunjuk ke sebuah foto. Aku dan Baekhyun yang saling berpelukan di kebun belakang rumahku. Appa yang memotret adegan tersebut. Tangan Baekhyun yang belepotan tanah – karena sebelumnya kami memang habis membangun puri dari tanah kebun belakang yang disirami air – mendekap erat diriku yang saat itu mengenakan terusan berwarna putih. Otomatis noda tanah menempel di bajuku. Aku ingat setelah itu eomma mengomel karena noda tanah itu sulit dibersihkan.

“Sepertinya kenangan kita terlalu banyak, Mi,” ujar Baekhyun yang hendak menutup album itu, tetapi tidak jadi. Ia malah menunjuk satu foto lagi. “Lihat ini!”

Kami berdua yang sedang menatap ke kamera dengan jari tangan membentuk pose huruf V. Baekhyun yang tersenyum lebar dan aku yang tersenyum dipaksakan. Bagaimana tidak? Di foto itu rambutku terlihat sangat aneh – hasil karya Baekhyun yang saat itu masih terobsesi menjadi hairstylist dan dengan sembarangan memotong rambutku.

“Sudahlah ….” Aku menutup album itu dan mengambilnya dari pangkuan Baekhyun. Tidak ingin ia terlalu lama fokus ke foto-foto masa kecilku yang masih culun hingga melupakan aku sekarang yang sudah jauh lebih cantik.

Baekhyun menyandarkan kepalanya ke tepi tempat tidurku. “Pengalaman mana dari masa kecil kita yang paling kau ingat sampai sekarang?” tanyanya.

Aku menerawang sejenak. Sejujurnya hal yang paling aku ingat adalah ketika pertama kali Baekhyun mencium bibirku saat kelas 2 SD dulu. Oh mungkin lebih tepatnya mengecup. Ah, entahlah. Yang pasti saat itu bibir Baekhyun benar-benar menempel pada permukaan bibirku walau hanya sekilas. Aku bahkan masih ingat percakapan yang terjadi saat itu.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” protesku kaget saat tiba-tiba Baekhyun menghampiriku dan tanpa berkata apa-apa menempelkan bibirnya pada bibirku.

Baekhyun hanya menatapku dengan tatapan tidak merasa bersalah. “Kemarin aku melihat eomma menonton drama dan ada adegan seperti itu. Jadi aku hanya ingin mencobanya,” jelasnya polos.

“Ish ….” Aku menggosok-gosok bibirku, seolah-olah bibir Baekhyun adalah hal paling menjijikkan yang pernah ada. “Byun Baekhyun, itu hanya boleh dilakukan oleh dua orang dewasa! Kita kan masih kecil?!” seruku sok dewasa.

Dan hal yang kupikirkan saat itu adalah bagaimana kalau aku sampai hamil.

Aku tersenyum ketika memori masa kecil itu kembali melintas di benakku, namun aku tidak berani menjawab pertanyaan Baekhyun barusan dengan jawaban yang sejujurnya. Aku tidak berani membayangkan apa respon yang akan ia berikan nantinya. Jadi aku hanya tersenyum dan membalik pertanyaan itu. “Kau sendiri?”

“Ehm ….” Baekhyun mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagu – kebiasaannya kalau sedang berpikir. “Pertandingan basket pertamaku saat kelas delapan.” Kedua matanya yang berwarna gelap kembali menatapku. “Kau berlari ke tengah lapangan untuk memelukku ketika tim ku menang.”

“Aku? Tidak … aku … aku hanya ….” Aku mulai salah tingkah. Astaga, berapa skinship yang sudah kubuat dengan namja ini sebenarnya? Kenapa sekarang setelah diingat-ingat, terasa sangat banyak?

“Kau tidak bisa mengelak, nona Choi. Kau benar-benar memelukku saat itu,” ujar Baekhyun dengan senyum kemenangannya.

Aku hanya mengibaskan tangan, berharap agar Baekhyun tidak membahas hal itu lagi. “Pengalaman lain?” tanyaku, berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

“Saat kita dihukum Lee seonsaengnim lari keliling lapangan.”

Aku terkikik mendengar jawaban itu, sembari adegan tersebut muncul kembali di benakku seperti adegan film. Kejadian itu terjadi sekitar dua minggu yang lalu. Aku dan Baekhyun sama-sama tidak membawa buku ekonomi – bukan karena kesepakatan – dan kami disuruh menunggu di luar kelas, tidak boleh mengikuti pelajaran hari itu. Namun di luar kami malah mengobrol dengan asyiknya, bahkan sampai tertawa-tawa. Lee seonsaengnim marah besar dan menyuruh kami lari mengelilingi lapangan bola sampai bel berbunyi.

“Ada lagi?” tanyaku.

Baekhyun menundukkan kepala sedikit, seulas senyum geli terukir di bibirnya. “Sebenarnya ada, tetapi ini mungkin terdengar gila bila diingat kembali,” sahutnya.

“Ceritakan saja.”

Baekhyun menatapku sejenak sambil menggigit bibir bawahnya. Tatapan matanya menyiratkan keraguan haruskah-aku-menceritakannya-atau-tidak. Kuletakkan tanganku di bawah dagu, membuat postur siap mendengarkan. Baekhyun malah tertawa.

“Hanya sebuah pengalaman gila ketika aku mengecup bibirmu saat SD dulu. Kau juga pasti sudah lupa.”

Jantungku serasa berhenti berdetak mendengarkan perkataan Baekhyun barusan. Ini … bagaimana ia bisa memikirkan hal yang sama dengan yang kupikirkan?

Baekhyun menoleh sejenak ke arahku. Mata gelapnya menatapku dalam-dalam. Senyum manis itu kembali terukir di bibirnya. Demi Tuhan, mengapa sekarang perutku terasa mual? Mengapa sekarang jantungku malah berdebar begitu cepat? Aku hanya menundukkan kepala, berusaha menghindari tatapannya. Sepertinya balas menatap Baekhyun dalam situasi seperti ini adalah hal yang berbahaya.

Suara berat namja itu terdengar lagi. “Can I kiss you once?”

Aku mengangkat kepalaku sejenak, memastikan bahwa pendengaranku tidak salah. “Mwo?”

Can I kiss you once?” ucapnya, lagi. Berarti telingaku memang tidak salah mendengar.

Aku tidak tahu apa yang harus kujawab. Suasana canggung mendadak melingkupi kami.

Baekhyun menundukkan kepala, senyum masih terukir di bibirnya. Ia sibuk memainkan buku jarinya – mungkin bentuk pelariannya dalam situasi canggung seperti ini. “Yah, kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa.”

Aku mengambil satu album dan pura-pura membersihkan halaman depannya dengan punggung tanganku. “Kurasa kita bisa melakukannya,” gumamku.

Jinjja?”

Aku mengangguk.

Baekhyun bangkit berdiri. Sebelah tangannya ia ulurkan untuk menyuruhku ikut berdiri. Sejenak, perasaan canggung itu muncul lagi. Jantungku berdebar begitu keras dan perutku kembali mual. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku hanya memejamkan mataku rapat-rapat – setidaknya ini yang sering kulihat dari drama-drama korea.

Kurasakan sebelah tangan Baekhyun meraih pinggangku dan menariknya mendekat. Nafas Baekhyun yang terasa hangat di wajahku. Dan kemudian, bibir Baekhyun yang menempel pada bibirku – untuk kedua kalinya.

Hanya sebuah kecupan singkat, tetapi itu membekas di ingatanku. Begitu kami melepas tautan bibir kami, kupeluk dia erat-erat. Hari itu, untuk kesekian kalinya aku disadarkan bahwa Byun Baekhyun di hadapanku bukanlah lagi seorang anak kecil yang merengek minta dibelikan permen, tetapi seorang Byun Baekhyun yang telah mengenal apa itu artinya cinta.

 

-fin-

Advertisements

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s