[Vignette] Let Me Know

picsart_12-14-03-23-15

LET ME KNOW

.

Angst, Friendship, Romance, Schoo-life || Vignette || PG-15

.

Starring SVT’s Hoshi, SVT’s DK, GFriend’s Yuju

.

“Melepas orang yang kau sayangi juga adalah bentuk cinta.”

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

Poster By ByunHyunji @ Poster Channel

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Kwon Soonyoung tak pernah menyangka bahwa kehadiran Choi Yuna dalam hidupnya akan membawa sebuah bencana. Bukan, Yuna bukanlah iblis di balik senyum manis yang siap mengancan nyawa Soonyoung. Bukan itu. Yuna adalah dara tulus yang setiap pagi selalu menyebarkan keceriaan melalui sapaannya yang merdu, gadis ramah yang selalu menebar tawa.

Namun, justru di situlah letak permasalahannya. Kebaikan dan keramahan yang ia bagikan itu memiliki potensi besar untuk membuat Soonyoung menjadi pengkhianat.

Dahulu, Soonyoung adalah tempat satu-satunya bagi Seokmin untuk bercerita mengenai Yuna. Bukan rahasia lagi kalau pemuda itu menaruh perasaan pada si gadis Choi, dan tampaknya sang gadis juga merasakan hal yang sama. Hampir setiap hari Seokmin selalu menjejali rungu Soonyoung dengan kisah tentang Yuna. Yuna yang cantik, Yuna yang membagi kimbap-nya untuk Seokmin, suara Yuna yang merdu di ruang musik, dan sejuta cerita lainnya. Biasanya Soonyoung hanya menanggapi dengan tawa, atau menyahut, “Ya, semua orang yang sedang jatuh cinta pun akan bilang begitu.”

Intinya, Soonyoung sama sekali tak tertarik dengan topik mengenai Choi Yuna.

Sampai ia diberi kesempatan untuk mengenal dara tersebut.

Berawal dari Yuna yang memergokinya saat sedang berlatih koreografi di studio sekolah dengan alasan menunggu Seokmin yang tengah berlatih vokal. Keduanya bercakap untuk beberapa saat. Tak Soonyoung sangka ternyata bercengkrama dengan Yuna itu mengasyikkan. Banyak topik yang mereka bahas, mulai dari sekolah hingga sedikit ide gila mengenai debut sebagai idol.

Sebelum Seokmin datang untuk menjemput calon kekasihnya, Soonyoung dan Yuna bahkan sudah saling bertukar kontal, dan berjanji akan melanjutkan percakapan di chat.

Soonyoung tak bermaksud untuk mengkhianati Seokmin, tetapi ia tak bisa menolak panah cinta yang ditembakkan melalui kehadiran Yuna. Awalnya hanya rasa nyaman dan senang berinteraksi dengan gadis surai hitam itu, lama-kelamaan berubah menjadi rasa rindu. Hampa rasanya bila sehari tak bertemu sang gadis. Ia bagai ketergantungan akan sosok Choi Yuna.

Hal yang lebih berbahaya, perasaan ini membuat Soonyoung ingin memiliki Yuna. Ia tak bisa lagi meresponi cerita Seokmin tentang gadis itu seperti dulu. Sekarang, setiap kali Seokmin bercerita, hal yang Soonyoung ingin lakukan adalah marah. Mengapa? Karena ia pun ingin mengalami apa yang Seokmin rasakan, bahkan lebih.

Cemburu? Entahlah.

Saat itulah Soonyoung sadar bahwa dirinya telah jatuh cinta.

Soonyoung dilanda dilema. Satu sisi ia tak ingin kehilangan persahabatannya dengan Seokmin. Ia sudah mengenal Seokmin sejak sekolah dasar, dan rasanya tidak lucu persahabatan mereka kandas hanya karena seorang gadis. Tetapi, di sisi lain, rasa ingin memiliki Yuna itu sangat besar. Fantasi Soonyoung mengenai dirinya menggamit tangan Yuna erat dan dengan bangga memperkenalkan gadis itu sebagai kekasihnya sudah merajalela. Rasa sayangnya pada Yuna sudah tak terbendung.

Haruskah ia berkata jujur? Atau lebih baik ia menyimpannya sendiri?

***

“Yuna-ya.”

“Hmm?”

“Kau, apa kau benar-benar menyukai Seokmin?”

Gadis itu menoleh sejenak mendengar pertanyaan Soonyoung yang tiba-tiba. Mulutnya yang sedang mengunyah roti kacang menghentikan kegiatannya. Manik gadis itu mengerjap.

“Memangnya kenapa?” Yuna kembali mengalihkan pandangan, dan kalau Soonyoung tidak salah lihat, pipi gadis itu memerah.

Soonyoung menghela napas. Jelas terlihat bahwa hati gadis itu sudah terpaut pada sahabatnya, dan selama ini Yuna hanya menganggapnya sebatas teman. Tidak akan ada yang berubah, bahkan bila dipaksakan sekalipun.

“Aku menyukaimu.”

Soonyoung buru-buru menutup mulutnya. Oh, God! Mengapa bibirnya bergerak sendiri tanpa diperintahkan? Mengapa frasa sakral itu harus terucap sekarang, pada waktu dan tempat yang tidak tepat?

Percuma berharap bahwa Yuna tak mendengarnya. Soonyoung tak tahu seberapa keras suaranya ketika berkata-kata, tetapi sekon kemudian tahu-tahu Yuna sedang menatapnya dengan netra membelalak.

Gadis itu mendengar ucapannya.

Soonyoung berusaha menjelaskan, tepatnya meluruskan. Yuna mungkin salah paham, dan Soonyoung tak ingin Yuna mendapat kesan yang buruk tentangnya. Tetapi gadis itu sontak berdiri. Masih dengan wajah yang bahkan tak mau menghadap Soonyoung ia pun berujar, “Maaf, aku tak bisa menerima perasaanmu.”

Setelah itu ia pergi.

***

Soonyoung telah mencoba. Ia telah mencoba untuk jujur, karena menurutnya kejujuran serta keterbukaan adalah hal yang terpenting dalam persahabatan. Tetapi inilah yang ia dapat, ditinggalkan, disalah mengerti.

Kedekatannya dengan Yuna kandas secara tiba-tiba. Tak ada lagi percakapan kecil di studio tari, sambil menunggu Seokmin selesai latihan vokal. Jangankan bercakap-cakap, mengharapkan Yuna menyapanya tiap pagi seperti dulu saja bagaikan berharap akan salju di musim panas. Terlihat jelas bahwa Choi Yuna menghindarinya. Setiap kali gadis itu menyadari presensinya, Yuna akan membuang muka, mengalihkan pandangan, atau kalau perlu berbalik.

Sapaan Soonyoung hanya dianggap angin lalu. Chat yang pemuda itu kirimi tak pernah dibalas, dibaca pun tak pernah. Soonyoung dan Yuna bagaikan dua orang yang tak saling kenal.

***

Man, gue suka sama Yuna. Maaf.”

Soonyoung tak bermaksud mencari gara-gara. Ia hanya berusaha jujur di hadapan sahabatnya. Meski tahu bahwa kejujuran tak selalu menyelesaikan masalah, tetapi itu lebih baik daripada hidup dalam kebohongan, hidup di balik topeng. Soonyoung bukan asal ucap. Perkataan itu sudah ia pikirkan jauh-jauh hari, termasuk bagaimana Seokmin akan merespon sudah menjadi pertimbangannya.

Soonyoung ingin menambahkan bahwa meski demikian, ia tetap menyetujui hubungan Seokmin dengan Yuna, bahwa ia merasa persahabatannya lebih penting dibandingkan dengan cinta, bahwa meski sulit tetapi ia rela tak harus memiliki gadis itu. Namun ia tak diberi kesempatan sebab amarah telah terlebih dahulu menguasai sang pemuda Lee, menyebabkan dua bogem mentah melayang ke dagu Soonyoung, disusul tinju dan pukulan berikutnya yang bertubi-tubi.

Sialnya, Soonyoung pun terbawa emosi dan membalas semua serangan Seokmin. Jadilah dua orang itu bertengkar pada pagi hari di aula olahraga sekolah, tanpa sadar mengundang penonton dari berbagai kelas.

“HEI KALIAN!!!”

Suara familiar itu mengusik pendengarannya. Sepersekian sekon ia menoleh, mendapati Yuna yang berdiri di barisan terdepan kerumunan orang dengan tangan yang menutupi mulut. Hati Soonyoung bergejolak. Ini bukanlah pemandangan yang pantas dilihat oleh gadis itu. Seketika besar hasrat Soonyoung untuk menghentikan adu jotosnya.

Tetapi nampaknya Seokmin tidak mengizinkan, karena pemuda itu masih dengan amarah penuh melancarkan serangan-serangan, yang mau tak mau memaksa Soonyoung untuk membalas, atau setidaknya melindungi diri. Soonyoung ingin berhenti, tetapi nyala marah yang tersirat di mata lawannya mengatakan tidak.

“BERHENTI!!!”

Entah bagaimana caranya, tahu-tahu Yuna mengambil posisi di tengah dua pemuda itu, melerai keduanya. Semuanya terjadi begitu cepat. Soonyoung adalah pihak yang terlebih dahulu menyadari. Begitu Yuna muncul, ditariknya kembali lengan yang sudah siap untuk memberi tonjokan pada tulang pipi Seokmin.

Tetapi sepertinya sang rival terlambat menyadari.

BHUAK!

Sebuah tonjokan mendarat di wajah Yuna yang mulus. Bersamaan dengan itu, sang gadis kehilangan kesadaran dan terjatuh ke lantai kayu.

Saat itulah Seokmin sadar, dan matanya membola melihat sosok Yuna yang tahu-tahu tergolek di kakinya.

“Yuna-ya. Yuna-ya!” Soonyoung mengambil posisi berjongkok, lalu menggoyang-goyangkan pundak gadis itu. Tidak ada respon.

Seokmin bertindak cepat. Mengabaikan godam rasa bersalah yang menghantam dadanya berulang kali, ia langsung membawa gadis Choi itu dalam gendongan, lalu melarikannya ke ruang kesehatan. Meninggalkan tempat kejadian perkara serta Soonyoung yang juga diliputi rasa bersalah.

***

Tidak ada faedah dari adu jotos itu sebenarnya, selain skors tiga hari untuk kedua pemuda itu serta lebam terutama di bagian wajah. Oh, jangan lupakan perasaan marah sekaligus merasa bersalah yang masih bercokol di hati keduanya.

Dengan lunglai Soonyoung menyeret langkah menuju ruang kesehatan. Sebenarnya ia sudah tak punya muka untuk menghadap Yuna, tetapi ia rasa ia masih butuh memberi penjelasan, meluruskan kesalahpahaman yang mengguncang perasaan tiga sahabat ini.

“Yuna-ya … “ panggil Soonyoung lemah.

Suara Yuna terdengar dari balik tirai yang tertutup. “Hmm?”

“Kau marah padaku?”

“Entahlah ….” Gadis itu menjawab diikuti suara helaan napas.

Soonyoung menundukkan kepala. Digigitnya bibir bawah untuk sejenak, seraya otaknya mencari kata-kata yang tepat untuk memulai.

“Maafkan aku. Perasaan egoisku, perasaan sayangku padamu, perasaan ingin memiliki ini telah menghancurkan perasaan kita. Aku tahu sebenarnya bahwa Seokmin lebih dulu menyukai dirimu, dan kau juga menyukainya. Meski itu aku tetap bersikeras menyatakan perasaanku, berharap dengan itu semuanya akan berubah. Ya, memang berubah. Tetapi aku tak mendapatkan apa yang kudambakan, tetapi sebuah bencana.”

Tirai di hadapan Soonyoung mendadak terbuka. Soonyoung mengangkat wajah, disambut dengan Yuna yang sedang menatapnya lembut. Senyum manis terukir di ranumnya yang merah.

“Soonyoung-ah. Aku pernah membaca sebuah kutipan bahwa melepas orang yang kita sayangi juga merupakan sebuah bentuk cinta. Justru dari itulah kau menemukan makna dari cinta sejati.”

“Selain itu,” lanjut sang gadis, “kita tetap teman, kan?”

Soonyoung menganggukkan kepala. “Ya, tetap teman.”

“Soonyoung-ah.”

“Ya?”

Yuna menepuk pundak pemuda Kwon itu pelan. “Datangi Seokmin. Kau juga perlu meluruskan kesalahpahaman ini dengannya. Suatu hari aku mungkin akan pergi dari kehidupan kalian, tetapi persahabatan kalian tidak boleh sampai goyah karena seorang gadis. Pertemanan yang telah kalian bangun jauh lebih penting dibandingkan romantisme dengan seorang wanita.”

“Baiklah.” Untuk kedua kalinya pemuda itu menganggukkan kepala. “Sekali lagi aku minta maaf.”

“Tak apa. Semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana belajar dari kesalahan itu dan tidak melakukannya lagi,” balas Yuna sambil tersenyum. “Ayo, kita temui Seokmin bersama-sama.”

.

“Well, it’s true that I have been hurt in my life. Quite a bit. But it’s also true that I have loved, and been loved, and that carries a weight of it’s own. A greater weight, in my opinion. In the end, I’ll look back on my life and see that the greatest piece of it was love.”
–Sarah Dessen (This Lullaby)

 

-fin-

Advertisements

4 thoughts on “[Vignette] Let Me Know

  1. Ini jugaaaaaaa wkwkw aku udah baca sejak lama tapiii belom komen :’) /lalu digampar karena jadi sider/

    GATAU KENAPA AKU DEMEN BANGET SAMA MEREKA BERTIGA INIIIII HIHIHIHIIIII SO KYOOOOOTTTTTTT X’) dan karakternya yuju bener2 motivasi sekali dia :’) sudah sepatutnya seorang gadis memiliki sifat seperti dia di dunia nyata :’) tidak membela satu pihak dan menyakiti pihak lainnn :’))

    GOOD JOB KALIAN SEMUA YOSH PERJUANGKAN CINTA KALIAN SAMPE BABAK BELURRRR!!!!! /nggelinding/

    Like

    • GEGARA EFEK MAMA 2016 INI TAU KAN YG ADA SPECIAL STAGE HOSHEY YUJU HAHAHAH JD BKIN BEGINIAN…
      Cinta itu gbs memilih, cinta itu patut diperjuangkan, tp cinta butuh akal sehat jg hahahaa #aseek…
      Makasih sayy udah mampir…

      Liked by 1 person

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s