[Vignette] Contritio

moodboard-1

CONTRITIO

.

Angst, Romance, Friendship || Vignette || T

.

Starring Boys24’s Jaehyun, OC’s Kim Nayoung
(mentioned!) Boys24’s Haejoon

.

“Pertanyaannya, mengapa pula Jaehyun harus membohongi perasaannya sendiri?”

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

Big thanks to ninegust for the moodboard

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Segudang penyesalan menumpuk di hati Kim Nayoung, membuat kristal bening gadis itu kerap mengalir. Rasa menyesakkan akhir-akhir ini menggerogoti perasaannya, menyesakkan dadanya. Ini bukan soal nilai-nilai pelajaran sekolahnya yang mulai menurun, bukan pula soal jepit rambut biru muda yang dihilangkan adiknya. Bukan.

Lantas, ada apa?

Salahkanlah pemuda sialan bernama Choi Jaehyun itu. Dan mungkin hati kecil Nayoung yang rapuh patut dipersalahkan pula.

Nayoung dan Jaehyun adalah sepasang teman baik, setidaknya demikian pemikiran gadis itu. Mereka memang tidak selalu pergi kemana-mana berdua, namun percakapan sehari-hari mereka membuat Nayoung dapat mengambil kesimpulan bahwa ia dan Jaehyun berteman dekat. Nayoung tak tahu apakah Jaehyun merasakan hal yang sama atau tidak, bahkan tidak peduli. Yang penting, selama ia bisa tetap dekat dengan Jaehyun, itu sudah cukup.

Kriteria teman dekat bagi Nayoung adalah perhatian, jujur, loyal, humoris, tetapi tidak cerewet. Dan Jaehyun memenuhi semuanya. Jaehyun perhatian, bahkan ia tak henti-hentinya mengirimi pesan singkat pada Nayoung memintanya untuk cepat sembuh ketika gadis itu sedang sakit.

Jujur. Nayoung mengapresiasi kejujuran Jaehyun ketika pemuda itu mengaku menghilangkan kepingan disket berisi tugas komputer teman-teman sekelas, menyebabkan kelas mereka tak dapat mengumpulkan tugas tepat waktu. Bahkan ia menerima konsekuensi pemotongan nilai teman-teman sekelas ditimpakan padanya karena ini adalah kelalaiannya.

Loyal? Jaehyun tetap menjadikan Nayoung sebagai salah satu anggota kelompok kerja untuk praktikum Biologi meski saat itu mereka sedang bersitegang.

Humoris? Jaehyun punya selera humor yang baik, yang selalu sukses membuat Nayoung tertawa terbahak-bahak ketika pemuda itu menceritakan sebuah lelucon.

Dan tidak cerewet. Jaehyun adalah pendengar yang baik. Nayoung kerap menceritakan susah hatinya pada Jaehyun, dan pemuda itu tidak sibuk sendiri atau mencekoki Nayoung dengan segudang nasihat. Biasanya Jaehyun akan duduk bertopang dagu, matanya yang menatap iris Nayoung lekat-lekat, mendengarkan dengan baik setiap kata yang terucap dari bibir Nayoung tanpa melewatkan satu frasa pun.

Poin tambahan, Jaehyun dianugerahi paras yang tampan dan otak cemerlang. Bukankah ia adalah tipikal kekasih idaman?

Tidak. Nayoung sih tidak menyukai Jaehyun. Jaehyun memang baik, tetapi status Jaehyun tak lebih dari sekedar teman sekelas.

Lagipula Nayoung tidak ingin merasakan cinta dulu saat ini. Ia ingin berkonsentrasi pada pelajarannya. Ia tak ingin suasana hatinya dirusak oleh oknum tak bertanggung jawab berinisial cinta, seperti saat-saat dulu.

Setidaknya sekarang.

Sampai akhirnya cupid memutuskan untuk menembakkan panah cinta pada hati Nayoung.

Sampai akhirnya entah untuk sebuah alasan gila apa Kim Nayoung memutuskan untuk kembali membuka pintu hatinya.

Mengizinkan sosok Jaehyun masuk, mengisi ruang kosong dalam batinnya. Membuat cara pandangnya terhadap pemuda itu berubah.

Awalnya semua baik-baik saja. Meski Nayoung tak lagi memandang Jaehyun sekadar sebagai sahabat, tetapi Nayoung menikmati kedekatannya dengan lelaki itu. Jaehyun pun sepertinya tidak berubah. Ia tetaplah lelaki penuh perhatian seperti yang Nayoung kenal. Nayoung berniat menyimpan perasaannya seorang diri sebab ia tak yakin dengan respon Jaehyun kalau ia memberi tahu yang sebenarnya. Ia takut persahabatannya serta kedekatannya dengan Jaehyun akan berakhir bila pemuda itu tahu. Tak apa. Bisa berada dekat Jaehyun pun sudah lebih dari cukup untuk Nayoung.

Semuanya berjalan normal, seperti biasa.

Sampai akhirnya gadis Kim itu dihadapkan pada situasi krusial dimana Jaehyun sendirilah yang bertanya siapa yang gadis itu sukai.

Heol. Nayoung kebingungan. Kalau ia mengaku, itu hampir tak ada bedanya dengan menyatakan perasaannya pada Jaehyun dan harga dirinya sebagai gadis pasti akan langsung jatuh di hadapan pemuda itu. Apa berbohong saja, menutupi kenyataan?

“Aku menyukaimu.”

Bibir Nayoung bergerak tanpa bisa ia sadari. Suaranya keluar tanpa bisa dicegah. Sesaat kemudian, seakan teradar apa yang baru saja ia lakukan, manik gadis itu membulat seraya bibirnya terkatup rapat.

Di hadapannya, Jaehyun sedang menatapnya dengan tatapan yang tak bisa ia artikan.

Jantung Nayoung bertalu-talu. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Perasaannya bagai diguncang ketika menanti jawaban yang akan keluar dari mulut Jaehyun.

“Terima kasih sudah menyukaiku,” sahut Jaehyun akhirnya. “Tetapi maaf, aku tak bisa membalas perasaanmu.”

Kalimat terakhir itu sukses membuat hati Nayoung hancur berkeping-keping. Bukan patah menjadi dua bagian seperti yang sering terlukis dalam gambar-gambar, tetapi ini lebih kepada remuk menjadi serpihan-serpihan kecil hingga Nayoung sendiri tidak tahu serpihan mana bertemu serpihan mana untuk dapat memperbaikinya kembali.

Matanya terasa panas. Pandangannya memburam untuk sejenak karena air mata. Gadis itu mengerjap beberapa kali mengusir air matanya. Dipaksanya mengangkat kedua sudut bibir, mencoba tersenyum, meski getir.

Ahaha ….“ Gadis itu berusaha keras tertawa. “Tak apa. Aku hanya … ya … Asalkan kau tidak marah saja padaku.”

Jaehyun menggeleng. “Tidak, kok. Aku tidak marah. Aku bahkan menghargai kejujuranmu.”

Merasa tak ada gunanya lagi berpijak di tempat yang sama – selain membuat rasa malu makin menyelimutinya, Nayoung pun mengambil tiga langkah mundur, sebelum akhirnya berbalik dan berlari kencang meninggalkan tempat itu.

Tak tahu hendak lari ke mana, intinya ia ingin melarikan diri dari hadapan Jaehyun.

Sambil berlari, isakannya pun mulai terdengar.

Saat itulah Nayoung merutuki perasaannya yang begitu saja jatuh cinta pada Jaehyun. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

***

Sejujurnya, Jaehyun tahu gadis itu menangis. Kalau mau jujur pula, saat ini Jaehyun sedang dalam mode mengutuk dirinya sendiri akibat membuat seorang gadis menangis. Ia sudah tahu wanita adalah makhluk rapuh yang menggunakan perasaan lebih daripada pikiran, dan konon membuat seorang wanita bersedih adalah tindakan terjahat yang pernah dilakukan. Air mata wanita itu berharga, dan Jaehyun merasa bersalah telah membuat Nayoung menggali sungai kecil sendirian.

Namun apa yang bisa Jaehyun lakukan? Mengejar langkah gadis itu? Menarik pergelangan tangannya lalu mendekap Nayoung erat dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja?

Pertanyaannya, kenapa pula Jaehyun harus membohongi perasaannya sendiri? Mengapa Jaehyun sampai berkata dusta pada gadis itu?

Ya, Jaehyun menyukai Nayoung. Sangat. Jaehyun jatuh cinta pada surai hitam panjang gadis itu, Jaehyun jatuh cinta pada senyuman Nayoung yang amat manis. Jaehyun jatuh cinta pada sinar mata gadis itu apalagi jika sedang senang, Jaehyun jatuh cinta pada keceriaan gadis itu. Jaehyun jatuh cinta pada semua aspek yang Nayoung miliki.

Mengenal Nayoung dan menjadi teman dekat gadis itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada hidupnya.

Nayoung yang manja. Nayoung yang polos. Nayoung yang mungil. Nayoung yang rapuh. Perpaduan itu menyebabkan Jaehyun ingin selalu berada di dekat gadis Kim itu, ingin melindunginya dari kemaksiatan dunia sekitar.

Dan tanpa sadar sikap ingin melindungi itu berubah menjadi butir-butir cinta.

Jujur saja, mendengar pengakuan Nayoung sore itu bagaikan sebuah keajaiban bagi Jaehyun. Oh, ternyata bukan hanya dia saja yang merasakan perasaan ini sendirian. Nayoung juga merasakannya. Nayoung juga menyukai dirinya. Dua frasa yang diucapkan sang gadis sore itu mampu membuat hati Jaehyun terasa penuh bagai ingin meledak rasanya.

Tetapi mengapa respon Jaehyun layaknya air dingin terhadap wajah Nayoung?

Simpel. Jaehyun hanya tidak ingin mengecewakan Lee Haejoon, sahabatnya, yang sudah sejak dulu menyukai Nayoung. Haejoon yang cerewet, yang kerap mencekoki Jaehyun dengan cerita tentang Nayoung – yang jelas dilebih-lebihkan. Dari cerita pemuda itu lah Jaehyun sadar bahwa Haejoon benar-benar mencintai Nayoung.

Sementara ia menyukai Nayoung.

Mencintai dan menyukai. Serupa namun tak sama. Mencintai memiliki bobot yang lebih berat, sehingga Jaehyun pun memutuskan untuk mundur.

Itulah yang menyebabkan Jaehyun secara tak langsung menolak perasaan Nayoung, hingga membuat gadis itu menangis.

Sejak itu hubungan mereka pun renggang. Terlihat jelas Nayoung berusaha menghindar darinya.

Saat itulah Jaehyun merutuki perbuatannya sore itu. Penyesalan memang selalu datang terlambat.

***

Dua minggu kemudian. Sekolah mereka, tepatnya angkatan mereka digemparkan dengan sebuah berita. SI playboy Lee Haejoon akhirnya menemukan tambatan hati, yaitu Kim Nayoung, gadis dari kelas tetangga. Memang akhir-akhir ini semua bisa menyaksikan adegan pedekate Haejoon pada Nayoung, terutama ketika gadis itu sedang duduk sendirian merenung di kantin. Dari mulai sekotak kecil cokelat hingga sebuket mawar merah, semuanya pernah sang gadis terima.

Hingga akhirnya, puncaknya, sebuah kue tart krim putih, lengkap dengan lilin berbentuk hati warna merah muda di atasnya. Haejoon meminta Nayoung meniup lilin tersebut jika ia menerimanya sebagai kekasihnya. Dan tanpa disangka Nayoung meniup dua lilin hati tersebut. Di depan teman-teman lainnya.

Semua orang bertepuk tangan.

Tak heran, meski playboy, Haejoon dikaruniai wajah tampan dan otak cemerlang. Patut diperhitungkan sebagai calon kekasih, kan?

***

Jaehyun melangkahkan tungkai menuju perpustakaan sekolah, tempat yang sudah dijanjikannya ketika hendak bertemu dengan Nayoung. Bau ruang perpustakaan yang terdiri atas bau pewangi ruangan bercampur dengan bau buku memasuki indra pendengarannya.

Jaehyun mengedarkan pandangan ke sekeliling, kemudian obsidiannya tertumbuh pada sebuah meja dengan dua kursi yang bersebelahan. Memorinya membawanya pada kejadian ketika mereka duduk bersama, sedang mencari referensi untuk tugas sejarah, lalu karena kelelahan Nayoung pun tertidur pada pundak Jaehyun.

Sudut-sudut bibir Jaehyun tanpa sadar terangkat begitu ia mengingatnya.

“Hei.”

Jaehyun merasa seseorang menepuk bahunya dari belakang. Jaehyun menoleh, mendapati sosok Nayoung yang sedang tersenyum ke arahnya. Perasaan Jaehyun saja atau memang Nayoung tambah cantik?

“Sudah lama menunggu?” tanya Nayoung.

Jaehyun menggeleng. “Dua menit. Bukan waktu yang lama, kan?”

Nayoung tertawa kecil. Oh, betapa Jaehyun rindu akan tawa itu.

“Omong-omong, ada apa memintaku kemari?” tanya Nayoung lagi.

Pemuda Choi itu membasahi bibir bawahnya. Kata-kata yang sudah ia persiapkan sejak tadi hanya tertahan di ujung lidah, tak mampu untuk terucapkan. Lidahnya mendadak kelu. Tenggorokannya bagai tercekat.

“Selamat atas hari jadimu dengan Haejoon,” ucap Jaehyun akhirnya. “Akhirnya sekarang kau tidak perlu mengeluh menjadi jomblo terus, ya.”

Nayoung menatap iris Jaehyun lekat-lekat, seolah menilik dasar hati terdalam pemuda itu. “Ucapanmu itu tulus?” tanya sang gadis.

Jaehyun menyelipkan tawa canggung. “Hahaha …. Tentu saja, nona!”

Bohong, jerit hati kecilnya.

Nayoung pun menyunggingkan sebuah senyum. Manis. Hangat bagi batin Jaehyun. “Terima kasih, Jaehyun-ah.”

“Kau … mencintai Haejoon?”

Pertanyaan macam apa itu, Choi Jaehyun? Jaehyun merutuki dirinya sendiri, merasa bodoh karena telah melontarkan pertanyaan tak masuk akal seperti itu.

Gadis itu mengangguk. “Tentu saja.”

Jaehyun menunduk. Tak tahu harus berkata apa. Otaknya buntu, tak ada yang bisa ia pikirkan.

“Semoga kau bahagia,” ucap Jaehyun pada akhirnya. Lirih, getir.

Lagi-lagi Nayoung tersenyum. “Kau juga. Semoga kau cepat menemukan tambatan hatimu.”

Nayoung menepuk pundak Jaehyun dua kali, sebelum akhirnya berbalik dan tungkai jenjangnya melangkah meninggalkan pemuda itu. Jaehyun menatap kepergian Nayoung dengan tatapan nanar.

.

Kim Nayoung, tak tahukah engkau bahwa aku hanya bisa bahagia bila bersamamu?

 

-fin-

Advertisements

3 thoughts on “[Vignette] Contritio

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s