[Vignette] Truthfully, I …

tdi1

TRUTHFULLY, I …

.

Romance, School-life, Hurt-comfort, Angst || Vignette || PG-15

.

Starring Gu9udan’s Hyeyeon, Lee Chan aka SVT’s Dino

.

“Aku masih mencintaimu.”

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

Poster credit: Poster by; Deypratiwi

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Ini sudah bulan kedua semenjak hubungan Cho Hyeyeon dengan Lee Chan berakhir. Seharusnya ini adalah waktu yang tepat bagi Hyeyeon untuk kembali mengisi hatinya dengan lelaki baru. Ini adalah saat yang baik baginya untuk kembali ke masa puber – mengalami apa itu jatuh cinta, bertindak sebagai gadis malu-malu ketika berada di dekat pria yang ia sukai. Seharusnya Hyeyeon bahagia karena kini hatinya bebas untuk mencintai pria lain yang mungkin lebih baik dari Chan.

Seharusnya.

Kenyataannya, gadis Cho itu kerap diserang rasa rindu yang mendalam ketika sedang sendirian di kamar. Berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit saja dapat membuatnya menitikkan air mata, terutama bila kenangan akan sosok Lee Chan kembali menyerbu benak. Meski ia telah berusaha membuang semua benda yang ada hubungannya dengan sang mantan kekasih, namun tetap saja rasa kehilangan seringkali menyesakkan dada. Tak jarang tiap malam gadis itu menangis tersedu-sedu di balik bantal. Memori akan sentuhan, senyum, tawa, suara, canda Chan kerap muncul di pikirannya, menyebabkan rasa menyesal gadis itu semakin dalam.

Belum lagi adegan Chan yang sedang asyik bercengkrama dengan gadis lain, tak peduli apakah gadis itu hanya sekadar teman atau Chan memang menyukainya, sudah cukup untuk membuat Hyeyeon mengeluarkan kristal bening amarah. Namun mau marah bagaimana? Toh pemuda Lee itu sudah bukan lagi miliknya. Sama seperti hatinya yang kini – secara status – sudah bebas, demikian juga hati Lee Chan. Pemuda itu kini memiliki kebebasan untuk memilih siapa yang akan menjadi tambatan hatinya. Bukan begitu?

Seharusnya Hyeyeon merelakan Lee Chan. Seharusnya Hyeyeon berbahagia apabila Chan bahagia, walau kebahagiaan itu ia dapatkan dari gadis lain. Seharusnya Hyeyeon benar-benar menepati kata-katanya ketika mengharapkan kebahagiaan untuk Lee Chan ketika ia berhasil menemukan gadis yang lebih baik.

Namun, tampaknya Hyeyeon harus kembali menarik frasa yang telah diucapkannya.

Tak perlu dihitung berapa kali rasa menyesal menghampiri sang gadis karena telah mengakhiri hubungan manis satu setengah tahun mereka. Kalau saja waktu itu Hyeyeon tak bersikap terlalu cemburu dua bulan lalu, pertengkaran hebat itu tak perlu terjadi, dan mungkin Hyeyeon masih ada dalam rangkulan Chan sekarang.

Huft …. Kalau mengingat itu, rasanya Hyeyeon harus menguras air mata kembali. Kantong air matanya sudah mulai kosong dan matanya sudah terlalu lelah menangis. Demi Tuhan, tak bisakah ia menikmati sisa hari-harinya dengan tenang, dengan bahagia, tanpa perlu memikirkan Lee Chan?

Hyeyeon melangkahkan tungkainya ke sembarang arah. Gadis itu benar-benar tak punya tujuan. Sebenarnya bel pulang sekolah sudah lama berbunyi dan sekarang sekolah sudah sepi, tetapi gadis itu belum ingin pulang. Hyeyeon ingin menghilangkan gundah yang kembali bersarang di hatinya terlebih dahulu. Gulana yang semenjak siang tadi mendobrak hatinya akibat cemburu melihat perhatian Chan kepada Yena yang menurutnya terlalu berlebihan.

Gadis Cho itu tidak ingat tempat mana saja yang telah ia lalui, sampai akhirnya ia sadar tungkainya telah membawanya ke lapangan basket sekolah. Sebuah bola jingga bundar tergeletak persis di tengah-tengah lapangan. Tak tahu apa yang harus dilakukan, Hyeyeon berjalan menghampiri bola itu, meraihnya, memantulkannya beberapa kali ke tanah sebelum akhirnya melemparnya ke ring.

Tidak masuk.

Hyeyeon hanya menatap bola bundar yang memantul-mantul di tanah itu dengan tatapan nanar. Ia menghela napas. Sejak dulu ia memang tidak dianugerahi bakat dalam olahraga, jadi apa yang ia harapkan dari sebuah lemparan asal ke ring basket?

“Coba konsentrasikan pada pergelangan tangan. Kemudian fokus untuk melempar bola ke kotak merah yang ada di papan itu.”

Hyeyeon buru-buru menggelengkan kepala. Sial. Kenapa di saat-saat seperti ini pun kenangan akan Lee Chan kembali menyerang otaknya?

AAAAAHHHH! ENYAHLAH KAU, LEE CHAN!”

Ia tidak tahan lagi. Ia sudah tidak sanggup dihantui oleh masa lalunya, oleh berbagai kenangan manis namun menyedihkan bersama mantan kekasih. Ia ingin menghilangkan Chan dari seluruh aspek kehidupannya. Ia ingin melupakan Lee Chan. Ia ingin.

Namun apa daya? Otaknya sering kali kalah bertarung dengan hati kecilnya. Ketika otaknya memutuskan untuk merelakan, batinnya kembali memunculkan memorinya akan Lee Chan, membuat gadis itu akhirnya menyerah dan kembali menangis.

“APA KAU MERINDUKANKU?! APA KAU MERASAKAN JUGA APA YANG KURASAKAN?!”

Hyeyeon berseru keras-keras. Sekolah telah sepi, mungkin tak akan ada yang mendengarkannya. Kemungkinan terburuk adalah satpam sekolah menemukannya dan menyuruhnya cepat pulang. Tak apa, setidaknya ia telah mengeluarkan semua hal yang selama ini menyesakkan hatinya.

“AKU RINDU PADAMU, CHAN!!! SANGAT RINDU!!!”

Bodoh. Memangnya lelaki itu mendengarnya? Kalau pun sudah mendengar, memangnya lelaki itu mau kembali padanya?

“Kau rindu padaku?”

Suara itu …

Dwimanik Hyeyeon seketika membulat. Cepat-cepat ia mengatupkan ranum merahnya. Ingin ia melangkah – kalau perlu berlari – meninggalkan tempatnya berpijak sekarang, tetapi entah mengapa tungkainya serasa tak mau digerakkan. Gadis itu hanya diam di tempat, dengan jantung yang berdegup cepat dan perasaan tak karuan.

“Jawab aku, Cho Hyeyeon. Kau merindukanku?” tanya suara itu lagi.

Tak ada jawaban yang bisa Hyeyeon berikan selain sebuah gelengan kuat. Yah, meski benci harus menyangkal perasaan, namun ia harus tetap bersikap tabah di hadapan sang mantan kekasih, kan?

“Lalu teriakan tadi itu apa?”

Sial, rutuk Hyeyeon. Sejak kapan pria itu ada di sini? Sejauh mana ia mendengar semua tumpahan perasaannya itu?

Hyeyeon masih bungkam, membiarkan pertanyaan lelaki itu menguap di udara.

Sepertinya ini adalah waktu yang baik untuk kabur. Satu langkah ke depan, menjauhi lelaki itu. Dua langkah, memperlebar jaraknya dengan pemuda Lee tersebut. Tiga langkah, berusaha menghilangkan presensi –

sebelum akhirnya pergelangannya digenggam erat. Dengan sebuah tarikan, tahu-tahu kening Hyeyeon menumbuk pelan dada bidang sang lelaki. Kembali manik almondnya membola ketika lelaki itu mendekapnya erat.

“Aku juga rindu padamu. Amat sangat rindu.”

Hyeyeon mengerjap. “C-Chan ah ….

Suara lelaki itu bergetar. “Tiap hari aku bertanya-tanya, bagaimana kabarmu? Apakah kau bahagia? Apakah kau sudah menemukan tambatan hati yang baru?”

Gadis itu menelan ludah, terkejut dengan pengakuan mantan kekasihnya.

“Terkadang aku memperhatikanmu dari jauh. Kau terlihat murung. Ingin rasanya aku menghampirimu dan memelukmu erat, menanyakan apa hatimu susah, siapa yang membuatmu sedih, dan memberitahumu bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi aku takut kau sudah tak ingin kutemui lagi, hingga aku mengurungkan niatku. Aku memang bodoh, lebih memilih menghindar.”

“Chan, aku – “

Lelaki itu melepas pelukan hangatnya. Hyeyeon menangkap tatapan lembut yang diberikan oleh Lee Chan, lelaki itu. Tatapan lembut yang dalam, dimana Hyeyeon masih menemukan sinar kasih sayang.

“Kamu baik-baik saja kan selama ini?”

Hyeyeon mengangguk.

“Maafkan aku, karena keegoisanku aku lebih memilih untuk mementingkan gengsi daripada peduli padamu. Aku lebih memilih untuk membiarkanmu menangis sendirian daripada mengambil resiko menghadapi pertanyaan orang-orang mengenai hubungan kita ketika kita sudah putus tetapi aku masih menghiburmu. Aku melihatmu menangis, tapi tak berani mendekat. Aku menangkap ekspresi sendumu, tetapi tak kuasa bertanya. Maafkan aku, Hyeyeon-ah, maafkan aku.”

Sebutir kristal bening kembali jatuh menuruni pipi Hyeyeon. Jemari Chan bergerak, menghapus jejaknya.

“Chan ….” gumam Hyeyeon, memaksakan seulas senyum. “Aku tidak apa-apa.”

“Jangan pernah menyembunyikan perasaanmu lagi dariku, oke?” sahut Chan, membalas senyumnya.

Keduanya terdiam, membiarkan keheningan menyelimuti.

“Hyeyeon-ah ….”

“Hmm?”

“Aku mencintaimu.”

Kedua sudut bibir Hyeyeon terangkat. “Aku juga.”

“Aku masih mencintaimu. Selamanya akan seperti itu.”

“Aku juga.”

Chan meraih jemari Hyeyeon dan menggenggamnya erat. Ditatapnya gadis itu dalam-dalam. “Mau memulai lagi semuanya dari awal? Bersamaku?”

Tak mampu gadis itu mendeskripsikan perasaannya sekarang. Terharu, bahagia, lega, semuanya beraduk menjadi satu. Hatinya serasa penuh bagai ingin meledak.

Perlahan namun pasti, Chan mendekatkan wajahnya pada Hyeyeon. Dengan perlahan pula gadis itu menutup kelopak matanya.

Dan dua ring basket yang saling berhadapan di ujung-ujung lapangan itu pun menjadi saksi bisu atas kecupan manis mereka sore itu.

 

-fin-

Advertisements

2 thoughts on “[Vignette] Truthfully, I …

  1. KAAAAAK GECEEEEEEE APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP HATI DD YANG TERLALU LEMAH INIII?

    Pas banget ya castnya dino padahal baru kemaren kita gosipin doi yang mulai belajar jadi bgsdh karena ajaran hyung2nya….
    Berhasil bikin baper gilaaaa, sambil bayangin ala2 drama korea yang tiba2 dino nongol entah dari mana, dari langit ketujuh, dimensi lain, ato nembus dari bawah tanah sambil bilang “kau rindu padaku?” Itu berasa kayak….. “Yatuhan tolong enyahkan hamba dari bumi karena suara mantan yang tiba2 bikin aing susah lupa.”

    Suka banget sama karakternya lee chan disini. Dambaan kaum wanita banget, kata2nya itu lho kak bikin tenang, seneng, bahagia, lega asdahajlalqowjsbdkwkshwkajhdwkksbdhs

    Sudah cukup sekian aku tidak ingin membahas endingnya……..biarkan mereka berdua bertukar kehangatan….meanwhile yang disini kedinginan bikos hujan deres /sapa peduli don/

    KEEP WRITING KAK! ❤

    Like

    • wahahahahhhaaa… jadi dapet kan feel dinonya gara2 baru kita bahas kemarin XD
      agak kesal ketika mencoba melupakan mantan terus suaranya terngiang di telinga ato sosoknya tertangkep mata wakakakak move on nya makin lama…

      terus mendadak dino jadi pacar-able gitu ya hihihi…

      makasih loh don sudah mampir XD

      Like

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s