[Vignette] In A Cup of Coffee

photogrid_1466870749570

IN A CUP OF COFFEE

.

Romance, Friendship, Hurt-Comfort || Vignette || T

.

Starring SVT’s Joshua and OC’s Choi Eunha

.

Bolehkah ia kembali berharap?

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot and the OC

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Ujung jemari Eunha berulang kali mengetuk permukaan meja café, menunggu pesanan iced blended cocoa-nya tiba. Gadis itu duduk dengan bertopang dagu. Manik almondnya menatap ke luar jendela, asyik menikmati pemandangan insan yang lalu lalang.

Secuil ide gila muncul di benak Eunha. Bagaimana kalau di antara manusia yang melintas, terdapat batang hidung Joshua Hong?

Ah, tidak mungkin. Buru-buru Eunha menggelengkan kepala, berusaha mengenyahkan pikiran sinting itu dari otaknya. Gadis itu merutuk dalam hati. Sesulit itukah melupakan sosok Joshua dari hidupnya? Berulang kali Eunha bersumpah untuk menghilangkan Joshua dari seluruh aspek kehidupannya, berulang kali juga gadis itu melanggar janjinya. Kata-kata yang bertujuan melenyapkan lelaki berkulit putih hidung mancung itu dari berulang kali ia ucapkan, namun semua berakhir sia-sia. Perjuangannya untuk menghindari Joshua pun harus menemui jalan buntu. Pada akhirnya senyum manis Joshua kerap kali muncul dalam benaknya.

Mungkinkah jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Eunha masih menyimpan rasa pada pria bergaris Hong itu, tak peduli berapa kali gadis itu menyangkalnya?

“Pesanan atas nama Joshua ….”

Suara panggilan penjaga café mengalihkan lamunan Eunha untuk sejenak. Diraihnya ponsel yang tergeletak di meja, lalu tungkai jenjangnya melangkah menghampiri konter pengambilan pesanan. Tangannya hendak mengambil cup plastik bertengger manis di lapisan marmer permukaan konter ketika sebuah tangan lagi lebih dulu meraihnya.

Sorry, pesanan itu punya – “

Protes Eunha terhenti ketika maniknya bersirobok dengan insan yang mengambil cup pesanannya. Gadis itu meneguk ludah. Kelopak matanya mengerjap berkali-kali, memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Oh, jangan lupakan sensasi panas yang menjalar di pipinya serta jantungnya yang mendadak berdegup kencang.

“Ini punyamu?” Suara bariton itu berujar. “Tapi di sini namanya tertulis ‘Joshua’.”

Ini bukanlah halusinasi seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya. Kali ini sosok di hadapannya berbicara. Suaranya dapat terdengar jelas oleh rungu Eunha. Begitu juga tatapan lembutnya, senyuman maut khasnya …

Joshua Hong benar-benar muncul di hadapannya!

Haruskah Eunha menghambur ke pelukan Joshua dan mengatakan betapa ia merindukannya? Tidak, itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Bagaimanapun perasaannya pada Joshua sejak dulu hanyalah sebatas cinta bertepuk sebelah tangan. Joshua hanya menganggap Eunha sebagai sahabat. Salah sendiri mengapa Eunha terperosok pada lubang bernama cinta.

Oii, Choi Eunha. Minuman ini punyamu?” ujar Joshua lagi. “Kamu pesan dengan nama ‘Joshua’?”

Pandangan Eunha teralih ke cup iced blended cocoa-nya yang berada dalam genggaman Joshua. Rasa malu seketika menyerangnya. Buru-buru tangannya merebut gelas plastik itu. Digigitnya bibir bawahnya. Baiklah, sekarang Joshua Hong sudah tahu bahwa Choi Eunha masih belum bisa move on darinya. Demi seluruh kukis cokelat yang tersimpan di kulkas rumahnya, hal yang paling diinginkan Eunha sekarang adalah menghilang ditelan oleh bumi.

***

Ya Tuhan, kenapa sejak tadi lelaki Hong itu tak berhenti menatap Eunha? Gadis yang sudah jengah diperhatikan terus menerus itu hanya menyedot minumannya, berusaha terlihat santai. Padahal lihatlah tangannya yang gemetar seiring dengan sensasi kupu-kupu di perutnya akibat perbuatan lelaki itu. Jemarinya menggenggam erat cup minumannya, tak lupa mengatur posisi cup sedemikian rupa sehingga membuat tulisan ‘Joshua’ menghadap dirinya. Pelajaran yang Eunha dapat hari ini: Jangan memesan sesuatu dengan nama aneh-aneh karena kau tak pernah tahu siapa yang kau temui kelak.

Terdengar sebuah tawa kecil dari mulut Joshua, yang Eunha tangkap sebagai tawa geli. “Kau memesan minuman dengan namaku?” celetuk lelaki itu. “Why?”

Sudah Eunha perkirakan sebelumnya kalau kata-kata itu akan keluar dari bibir Joshua, cepat atau lambat. Hanya saja sampai sekarang Eunha masih belum menemukan frasa yang pas untuk membalasnya. Jadi yang gadis rambut coklat itu lakukan hanyalah menyedot minumannya sambil melempar tatapan ke luar jendela, berusaha mengulur waktu, berharap bahwa Joshua tak akan mengulang kembali pertanyaannya dalam rangka menuntut jawaban.

Joshua yang duduk di hadapannya mengaduk tiramisu frappucino-nya dengan sedotan. “Kau menghilang. Kemana saja kau selama ini?”

Menghindarimu, bisik Eunha dalam hati. Tapi gadis itu tak berani mengutarakannya.

“Kau menghindariku? Kenapa?”

Untuk sepersekian sekon manik Eunha membola. Ia yakin Joshua bisa membaca pikirannya hanya dengan kemampuan menatap, dan itu berbahaya.

Suara bariton Joshua kembali terdengar. “Apa kau tidak merindukanku?”

Berulang kali pertanyaan Joshua menggema dalam hati Eunha. Apa ia tidak merindukan Joshua? Bohong kalau sampai ia menjawab ‘ya’. Tak bisa ia sangkal matanya yang selama ini melirik ke sana kemari hanya untuk mengetahui keberadaan sahabatnya. Tak dapat dipungkiri hatinya yang terasa hampa ketika sehari tak melihat batang hidung lelaki itu. Percuma menghindar atau berpura-pura memutuskan komunikasi, karena di akhir rasa rindu menyesakkanlah yang akan menggerogoti jiwanya.

“Aku merindukanmu,” ujar Joshua lagi, tak menghiraukan kebisuan Eunha. “Rasanya aneh melalui hari-hari tanpa dirimu. Selama ini kan kita selalu bersama. Kita menghabiskan hari-hari di kantin kampus dengan mendengarkan celotehanmu, lalu akhir pekan akan kita isi dengan belajar bersama – lebih tepatnya aku belajar dan kau bermain di laptopku. Kau minta ditemani membeli baju dan kau selalu menanyakan pendapatku apakah baju itu bagus atau tidak. Kau mengomel tentang para dosen yang menyebalkan, dan aku selalu siap mendengarkan.”

Joshua menyedot minumannya, lalu menghela napas. “Tapi akhir-akhir ini semuanya terasa janggal tanpamu. Duniaku tidak seriang biasanya. Duniaku sepi, hampa, kosong. Tak ada lagi Choi Eunha yang cerewet, Choi Eunha yang merengek minta ditraktir donat cokelat, Choi Eunha yang minta ditemani dan ditunggui walau hanya sekedar ke toilet, aku merindukan itu semua.”

“Kadang aku bertanya dalam hati,” lanjut lelaki itu, “apa kita sedang saling marah? Apa kita sedang bertengkar? Apa aku sudah berbuat salah padamu? Tetapi ketika kuingat-ingat lagi rasanya kita tidak ada masalah apa-apa. Hubungan kita selama ini baik-baik saja. Ingin aku bertanya apa yang terjadi padamu, tetapi seperti yang sudah terjadi, aku tak pernah bisa menemuimu.”

Ingin rasanya Eunha menjelaskan pada Joshua bahwa tak ada yang salah dari lelaki itu. Joshua masihlah seorang sahabat yang menaruh perhatian serta kepedulian pada Eunha. Yang salah adalah hati Eunha yang mengartikan perilaku Joshua itu sebagai rasa sayang, hatinya yang membiarkan dirinya jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Yang salah hanyalah perasaan Eunha yang mengikatnya begitu erat, yang membuatnya merasa cemburu berlebihan bila ada gadis lain yang bercengkrama dengan Joshua, yang menyebabkan ia uring-uringan bila sehari saja tidak bertemu dengan Joshua, yang mengakibatkan gadis itu mengalami ketergantungan akan seorang Joshua Hong.

Yang salah adalah bagaimana cinta datang tanpa diundang dan mengganggu jalannya persahabatan murni mereka.

“Choi Eunha,” panggil Joshua lembut. “Kau marah padaku?”

Hanya sebuah gelengan pelan yang dapat Eunha berikan sebagai respon.

“Kalau tidak marah, katakanlah sesuatu.” Nada suara Joshua terdengar memelas. “Kau tak punya kata-kata yang hendak disampaikan untukku?”

Banyak. Banyak sekali. Eunha menjerit dalam hati. Terlampau banyak sampai Eunha tidak tahu ia harus mulai dari yang mana. Berjuta pertanyaan melintas di benaknya. Tapi tak ada satu pun yang Eunha lontarkan. Kenapa? Entahlah. Lidahnya seakan kelu, tak mampu untuk digerakkan. Kerongkongannya tercekat, tak ada suara yang bisa dikeluarkan. Bibirnya terkatup rapat.

Joshua menghela napas menghadapi kebungkaman gadis itu. “Baiklah, kalau kau masih tak mau bicara. Tapi setidaknya boleh, kan, aku memastikan kalau persahabatan kita sebenarnya baik-baik saja?”

Getir, itulah yang Eunha rasakan. Seperti yang dulu-dulu, Joshua tak pernah menganggapnya lebih dari sekedar sahabat. Hal itulah yang membuat Eunha memutuskan untuk melupakan Joshua. Ralat, melupakan rasa cintanya terhadap Joshua. Mungkin lebih tepatnya membuang semua perasaan sayangnya terhadap Joshua. Eunha ingin menjalani hari-hari persahabatan tulus mereka seperti dulu, tanpa diiringi dengan embel-embel cinta.

Gadis Choi itu memaksakan seulas senyum – senyum pahit, seraya bola kepalanya mengangguk pelan.

Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa saat ketika kedua insan itu sibuk dengan pikirannya masing-masing. Joshua dengan kegiatannya mengaduk minuman sementara Eunha dengan pose andalannya – menatap ke luar jendela.

“Oh, ya,” Joshua mengangkat kepala, menatap obsidian sahabatnya lekat. “Aku akan pergi.”

Tiga kata itu berhasil menarik atensi Eunha, dan juga membuka gembok yang sejak tadi mengunci bibir gadis itu rapat-rapat. Tiga kata itu mampu membuat Eunha mengeluarkan suara. “Oh? Kapan? Kemana?”

Sudut-sudut bibir Joshua terangkat sedikit, membentuk senyum tipis. Sepertinya ia senang kembali mendengar suara khas Eunha. “Besok. Aku harus kembali ke LA untuk menemani papa. Sendirian di sana tanpa ada istri yang menemani sepertinya merupakan hal yang berat bagi papa.”

Pertanyaan berikutnya yang keluar dari bibir Eunha. “Kapan kau kembali?”

Joshua menundukkan kepalanya. Tatapan matanya berubah sendu. “Aku belum bisa memastikan.” Matanya melirik Eunha sejenak, melihat responnya. Air muka gadis itu ikut berubah muram. Buru-buru Joshua melanjutkan, “Hei! Kita kan tetap bisa berkomunikasi satu sama lain. Aku tentu tidak akan menetap di sana, suatu hari aku pasti kembali. Dan kau akan jadi orang pertama yang kuberi tahu ketika aku kembali ke Korea.”

Kata-kata itu sukses mengembalikan senyum tipis Eunha.

“Eunha-ya,” panggil Joshua lembut.

Gadis bersurai cokelat itu menegakkan wajah, menatap sahabatnya. “Hmm?”

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Untuk semuanya.” Joshua menyahut dengan senyum. “Untuk persahabatan kita, untuk kedekatan kita, untuk setiap momen yang kita lalui bersama. Terima kasih telah menjadikanku teman terdekatmu, telah mempercayakanku untuk menyimpan semua rahasiamu. Terima kasih karena kau lebih memilih untuk menumpahkan air mata padaku, mengutarakan kekesalan padaku, memutuskan untuk meredam amarah pada orang lain bersamaku. Terima kasih untuk semua omelanmu, untuk semua ceritamu, kecerewetanmu, rengekanmu, pesan singkat di tengah malam. Aku tak akan bisa melupakan semuanya, nona Choi. Semuanya akan tersimpan di memoriku. Semuanya akan menjadi ingatan yang menyenangkan yang akan selalu kuputar kembali jika aku merindukanmu di LA kelak.”

Terima kasih juga telah mengizinkanku jatuh cinta padamu, telah mengajariku apa arti mencintai, dan apa arti melepaskan, balas Eunha dalam hati.

“Ketika aku pergi nanti,” lanjut Joshua, “tetaplah menjadi seperti Eunha yang sekarang. Eunha yang ceria, yang senyumannya dapat memberikan kebahagiaan bagi orang lain. Kalau kau sedih, kau dapat menceritakannya padaku. Tetaplah menjadi Choi Eunha yang rajin, yang cerewet. Jangan suka membantah pada kembaranmu. Meski terkadang ia terlihat menyebalkan, tapi Seungcheol hyung adalah kembaran yang peduli padamu dan selalu menjagamu. Arachi?”

Eunha bukanlah gadis yang cengeng, tapi kata-kata Joshua memaksa kelenjar air matanya bekerja secara berlebihan. Mengapa kata-katanya terdengar seperti mereka tak akan bertemu lagi untuk selamanya?

“Jangan menangis,” ujar Joshua seraya ibu jarinya mengusap pipi Eunha. “Kalau kau menangis rasanya aku semakin berat untuk pergi.”

Cepat-cepat Eunha menghapus satu bulir air mata yang turun dengan punggung tangannya.

“Sampai aku kembali, maukah kau menungguku?”

Ini kata-kata perpisahan, Eunha tahu itu. Gadis itu mengangguk.

Bibir Joshua membentuk kurva, tersenyum. “Aku akan selalu menyayangimu.”

DEG! Jantung Eunha bagai berhenti berdetak.

Apa katanya barusan?

Aku akan selalu menyayangimu…

Aku akan selalu menyayangimu…

Aku akan selalu menyayangimu…

 

Empat frasa itu terus terngiang di rungu Eunha. Manik gadis itu membulat, masih tak percaya kalau kata-kata itu akan keluar dari bibir Joshua Hong. Ia terlalu terkejut sampai tak sadar kalau Joshua sudah mengucapkan sampai jumpa padanya. Begitu Eunha kembali sadar, Joshua sudah berjalan membelakanginya, hendak meninggalkan café.

Aku akan selalu menyayangimu…

Secuil harapan tumbuh di lubuk hati Eunha tanpa bisa ia cegah.

Selama Joshua pergi, bolehkah ia kembali membangun asa?

Bolehkah ia kembali berharap?

 

-fin-

Advertisements

8 thoughts on “[Vignette] In A Cup of Coffee

  1. Joshua manis banget di sini, meski dia PHP(?) sama Eunha 😂
    Susah emang ya kalo sahabatan beda gender, ujung2nya pasti begini 😭😭😭 tapi … Semoga mereka jadian deh(?)
    Kasian Eunha kalo terus berharap sendirian(?) 😢
    Keep writing, Gece! ❤❤

    Like

    • hwhwhwhw sebenarnya aku ndak tahu kak mau bawa hubungan mereka kemana (insert armada’s song) satu sisi pen dibikin jadian tapi sisi lain lebih seneng begini saja hahahah 😀
      makasih ya kak sudah berkunjung…

      Like

  2. “Terima kasih juga telah mengizinkanku jatuh cinta padamu, telah mengajariku apa arti mencintai, dan apa arti melepaskan, balas Eunha dalam hati.”

    MAS JOSH KAMU PHP!

    P
    H
    P

    tolong kak itu mas josh diajarin peka dikit kalo sama cewek, saya yang baca ikutan greget pengen banget rasanya teriak di kupingnya “woi mas, eunha itu sayang sama kamu, kenapa kamu tega jadiin dia sahabat-zone?” /sotoy banget don/ /digebuk/
    ceritanya sweet, baper baper manja(?) kak :3 buruan lah joshua pulang ke korea, terus nembak eunha awww..

    btw ini blog baru kah? pertama buka langsung disuguhi lagunya seventeen :” :” baguss kak ceritanya fluff banget, ditunggu kedatangan mas josh ke rumahku /salah/ ke korea 😀

    Like

    • Kyaaaaa.. Dirimu dtg2 komen panjang kusenang 😄😄😄
      IYA GATAU AKU JUGA GREGET SAMA JOSH DIA GA PEKA BANGET… ENTAH APA MAKSUDNYA GA JELAS DIA JG NAKSIR EUNHA APA GA TP KERJAANNYA BUAT EUNHA BAPER MULU… kasian eunha…
      Hihihi thanks ya sayy sblmnya sdh mampir… Semacam second home gitu khusus fic doang… Wahahahaha becoz lagunya sebong yg ini nuansa cokelat….

      Liked by 1 person

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s