[Vignette] Fever

Processed with VSCO with c3 preset

FEVER

.

Family, Slice-of-life || Vignette || G

.

Starring PTG’s Hongseok, OC’s Yang Hyeeun
with
PTG’s Yan An

.

Hongseok menahan Hyeeun untuk berkencan dengan Yan An. Mengapa?

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Hari itu akhir pekan, tetapi Hyeeun tetap bangun pagi layaknya hari biasa. Memang pagi ini ia punya agenda khusus, yakni berkencan dengan Yan An. Kekasihnya yang berkebangsaan Cina itu ada jadwal kuliah di siang hari hingga sore, dan mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama di café dekat kampus hingga jam kuliah Yan An tiba.

Sebenarnya, mau ada atau tidak ada acara berkencan pun Hyeeun akan tetap bangun pagi. Sudah tipikal gadis itu tidak bisa tidur sampai siang.

Saat sedang melipat selimut Pocahontas tebalnya, ponselnya berdenting. Di layar, tertera notifikasi ada pesan Line yang masuk. Sempat mengira bahwa Yan Anlah yang mengiriminya pesan, atensi Hyeeun teralih sejenak dari selimutnya, meninggalkan benda itu masih dalam keadaan setengah terlipat. Namun ternyata Hongseok sang kakaklah yang mengirim pesan.

Hyeeun-ah. Kau jadi pergi pagi ini bersama Yan An?

Sudut-sudut bibir Hyeeun terangkat membaca pesan Hongseok. Astaga … kamar mereka hanya terpisah beberapa langkah dan Hongseok lebih memilih untuk berkirim pesan daripada berbicara langsung dengannya?

Gadis Yang itu mulai mengetik pesan balasan. Jadi. Kenapa?

Balasan dari Hongseok datang dua puluh detik kemudian. Kalau kau tidak pergi hari ini, bisa tidak?

Seketika kening gadis itu mengernyit. Lho, ada apa?

Namun belum sempat Hyeeun membalas, Hongseok sudah mengiriminya pesan kembali. Aku sakit.

Hyeeun mendecakkan lidah. Tawa geli terselip seraya ia mengetik pesan balasan. Ckckck. Seorang Yang Hongseok yang sering fitness rupanya bisa sakit juga, ya?

Setelah itu ia melempar ponselnya ke tempat tidur lalu bergegas menuju kamar kakaknya. Sesampainya di sana, ia menjumpai Hongseok masih terbaring di tempat tidurnya. Membungkus diri dengan selimut berlogo Manchester United.

“Aigoo ….” Hyeeun kembali mendecakkan lidah seraya menghampiri tempat tidur, lalu duduk di tepiannya. Diletakkannya punggung tangan pada kening sang kakak. “Sejak kapan kau sakit?”

“Entahlah,” balas Hongseok serak. “Yang pasti tadi aku tiba-tiba terbangun karena merasa kedinginan. Seluruh tubuhku menggigil dan terasa ngilu.”

Tsk. Itu artinya kau masuk angin, oppa.” Hyeeun bahkan sempat-sempatnya memberi sebuah sentilan di kening Hongseok, yang hanya direspon pemuda itu dengan sebuah aduhan pelan, tanpa punya tenaga membalas. “Sudah kubilang tidak perlu berolah raga sampai harus pulang malam. Apa gunanya punya bentuk badan bagus tetapi mudah sakit?”

Hongseok hanya diam saja, malah mengalihkan atensi dengan memainkan ujung selimutnya.

Hyeeun bangkit berdiri, hendak berjalan keluar, namun pergelangan tangannya ditahan oleh Hongseok.

“Mau ke mana? Kau benar-benar tidak bisa mengundur acara kencanmu dengan Yan An?”

Gadis itu mencoba mengulum senyum, namun tidak berhasil. Tawanya malah meledak dan ia terbahak untuk beberapa saat, membuat Hongseok bingung.

Aigoo, aku harusnya memotret ekspresimu tadi, oppa!” serunya. “Ekspresimu sangat lucu! Bagaikan anak anjing yang akan ditinggal oleh majikannya.”

“Apa katamu?”

“Sudahlah.” Hyeeun mengibaskan tangan. “Aku tidak akan ke mana-mana. Hanya ke kamarku sejenak untuk mengambil ponsel, mengirimkan pesan pada Yan An bahwa aku tak bisa menemuinya hari ini karena tidak diizinkan oleh manusia bernama Yang Hongseok yang tiba-tiba sakit, lalu kembali ke ruangan ini. Puas?”

Hongseok menyunggingkan senyum tipis sebagai respon. Sekon berikutnya, Hyeeun melangkahkan tungkai menuju ruangannya. Tangannya kembali gesit melanjutkan melipat selimut dan merapikan tempat tidurnya sesegera mungkin. Diambilnya ponsel di atas kasur, lalu mengirim sebuah pesan Line pada Yan An.

Yan An, maaf, sepertinya aku tak bisa menemuimu pagi ini. Kak Hongseok sakit. Anyway, semangat untuk jadwal kuliahnya, ya! Love ya! ^^

Setelah meletakkan ponsel di meja belajar, gadis itu dengan cepat menuruni tangga rumahnya menuju dapur. Ia menuangkan dua cup beras ke penanak nasi, menuangkan air bersih, serta memasukkan sedikit daging ayam cincang beku ke dalamnya. Setelah itu ia menekan tombol cook. Kegiatan berikutnya, Hyeeun mengambil sebuah baskom kecil, mengisinya dengan air, kemudian pergi ke ruang setrika di belakang untuk mengambil sebuah waslap, dan kembali menuju kamar Hongseok.

“Lama sekali,” gerutu Hongseok begitu Hyeeun memasuki kamarnya.

Hyeeun kembali duduk di pinggir tempat tidur. Ia mencelupkan waslap ke dalam baskom berisi air, memerasnya, lalu meletakkan waslap basah itu di kening Hongseok. “Selain mengirim pesan pada Yan An, aku juga membereskan kamarku, lalu memasak bubur untukmu dan mengambilkan peralatan kompres ini. Sementara kau,” Hyeeun merapikan beberapa anak rambut Hongseok yang mencuat, “berani taruhan kau hanya berbaring sambil melihat-lihat ponsel.”

“Aku, kan, sedang sakit,” balas Hongseok tak mau kalah.

Sang gadis mengambil kembali waslap di kening kakaknya, membasahinya, memeras airnya, kemudian kembali meletakkannya di kening Hongseok. “Karena itu, jangan banyak protes. Sudah baik aku sampai merelakan acara kencanku dengan Yan An demi merawatmu.”

Hongseok mengukir sebuah senyum pada adiknya. “Omong-omong, sudah ada balasan dari Yan An?”

“Entah. Aku belum melihatnya,” sahut Hyeeun sambil mengangkat bahu.

Ketika Hongseok mengatakan bahwa punggungnya agak pegal, Hyeeun menyarankannya untuk berhenti berbaring dan mencoba posisi duduk. Gadis itu bahkan membantu kakaknya untuk duduk bersandar dengan bantuan bantal. Dan seperti sebelumnya, tangan si bungsu keluarga Yang itu dengan cekatan mencelupkan dan memeras waslap untuk kompres.

Tangan Hongseok terulur sedikit untuk menyelipkan beberapa anak rambut Hyeeun di balik telinganya. “Maafkan oppa-mu ini yang merepotkanmu, Hyeeun-ah. Kau bahkan harus membatalkan janjimu dengan Yan An.”

Hyeeun mengerucutkan bibirnya sejenak, tetapi tak bisa dipungkiri kata-kata Hongseok membuatnya ingin tersenyum. “Gwaenchanha. Aku yakin Yan An akan mengerti. Yang pasti, kau banyak istirahat saja hari ini. Aku mungkin akan banyak menghabiskan waktuku di kamar, mengerjakan tugas. Kalau ada apa-apa kau Line aku saja seperti tadi pagi, oke?”

Geurae, Hyeeun-ah.”

Hyeeun bangkit berdiri. Ditentengnya serta baskom serta waslap yang ia gunakan untuk kompres. “Oppa, aku mau ke bawah sebentar, mengganti air kompresan serta melihat bubur yang kumasak. Setelah ini, kau makan bubur, ya? Biar minum obat.”

“Aku tidak perlu mandi pagi?” tanya Hongseok.

“Memangnya kau kuat untuk mandi?” Hyeeun balas bertanya. “Tidak perlu, lah. Nanti panasmu tidak turun. Kau hanya butuh cuci muka, atau setidaknya berganti baju. Perlu kubantu untuk ganti baju? Tapi, jujur saja, oppa, aku masih belum terbiasa melihat kotak-kotak di perutmu itu.”

Hongseok tertawa geli. “Kotak-kotak katamu …. Ya sudah, tidak perlu. Aku bisa berganti baju sendiri.”

Hyeeun melangkahkan tungkai keluar dari kamar. Menuruni tangga menuju dapur, membuang air yang ada di baskom ke wastafel. Setelah itu ia mengecek bubur yang ia masak di penanak nasi. Oh, sudah matang. Hyeeun mengambil sendok dan mangkok, menuangkan satu porsi bubur ke mangkok, mengambil segelas air putih, lalu kembali ke kamar kakaknya.

“Makanlah.” Hyeeun menyodorkan mangkok serta gelasnya. “Biar minum obat setelah ini.”

Gomawo, Hyeeun-ah,” balas kakaknya.

“Perlu kusuapi?”

Hongseok menggelengkan kepala. “Tidak perlu.”

Sambil menunggu Hongseok menghabiskan makanannya, Hyeeun merapikan sedikit kamar kakaknya yang menurutnya agak berantakan. Dibenahinya bantal-bantal yang terlihat berserakan tanpa pola di tempat tidur, mengumpulkan pakaian kotor yang ditumpuk begitu saja di sudut kamar, merapikan selimut yang bergulung-gulung, bahkan merapikan kertas-kertas di meja belajarnya. Hyeeun bahkan sempat meminta izin kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel, melihat apakah ada balasan pesan dari Yan An.

“Oh, Yan An bilang jadwal kuliahnya mendadak dirubah, menjadi jam pagi,” ucap Hyeeun sambil mengacungkan ponsel. “Ia bilang ia akan menjenguk kemari nanti siang.”

Hongseok menegak air di gelas sebelum menjawab, “Oh, baguslah kalau begitu.”

Hyeeun merogoh kantongnya, mengeluarkan satu strip obat penurun panas yang sempat ia ambil, lalu melemparkannya pada Hongseok. “Minum obat dulu, setelah itu istirahat. Aku akan ke bawah untuk mencuci mangkokmu, lalu mengerjakan tugas di kamar.” Gadis itu meraih mangkok kotor yang telah dipakai kakaknya. “Panggil aku kalau ada apa-apa, oke?”

***

Bunyi bel pintu rumah yang berdenting mengalihkan atensi Hyeeun dari tugasnya. Tadinya ia hendak diam saja, berharap Hongseok akan sadar lalu membukakan pintu. Tetapi begitu menyadari bahwa Hongseok sedang sakit, Hyeeun akhirnya menyeret langkah menuju pintu rumah.

“Siapa?” tanyanya seraya membuka pintu. Ketika mendapati Yan Anlah yang berkunjung lengkap dengan senyum manisnya, mood Hyeeun serta-merta berubah. Ekspresi gadis itu mendadak senang, bahkan ia menyambut kekasihnya dengan pelukan erat karena gembiranya.

“YAN AN!” seru Hyeeun. “Kau benar-benar mampir!”

“Tentu,” sahut Yan An. “Seorang pria harus menepati janjinya.”

Hyeeun melepas pelukannya. “Masuklah,” ia berujar. “Hongseok oppa masih tidur, aku tidak tega membangunkannya. Tak apa, kan?”

Yan An menyerahkan kotak kertas jinjing berisi dua cup caramel macchiato, yang membuatnya mendapat pelukan erat kedua dari Hyeeun. Ia juga menyerahkan satu plastik kresek berisi buah-buahan. Untuk Hongseok, ujarnya.

“Tak apa,” balas Yan An. “Ia pasti butuh istirahat. Lagipula, menghabiskan siang hari bersama Nightingale bukanlah sesuatu yang buruk.”

Hyeeun memiringkan kepala. “Nightingale?”

“Kau tak tahu Nightingale? Gadis perawat pada perang Krimea, ingat?”

“Ah ….” Hyeeun mengangguk. “Kau membuatku malu, Yan An.”

“Kau menjadi perawat Hongseok sejak pagi, kan? Itulah mengapa aku menyebutmu Nightingale. Perawat cantik yang baik hati dan penuh dedikasi.”

Sebuah tepukan melayang ke bahu pemuda itu, disusul dengan suara tawa Hyeeun yang khas. “Cukup dengan semua gombalanmu, Yan An.”

Dan pasangan kekasih itu tertawa. Sampai akhirnya dentingan di ponsel Hyeeun meredakan tawa mereka.

Hyeeun mendapati notifikasi Line dari Hongseok yang memintanya untuk ke kamarnya. Hyeeun tersenyum. Ia memasukkan ponsel ke kantong celananya, lalu menggamit tangan Yan An.

“Hongseok oppa memanggil. Tugasku sebagai Nightingale kembali dimulai. Ayo, temani aku. Lagipula kau mau bertemu Hongseok, kan?”

Yan An membalas ajakan gadisnya dengan senyum manis, sebelum mengangguk menyetujui. “Ayo.”

-fin-

Advertisements

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s