[Vignette] Cheer up, Baby!

Processed with VSCO with a7 preset

CHEER UP, BABY!

.

Fluff, Family, Slice-of-Life || Vignette || T

.

Starring DIA’s Chaeyeon, B1A4’s Jinyoung, OC’s Josephine Jung

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

Specially made to celebrate Jung Chaeyeon’s 20th (Korean Age) B’day

.

I only own the plot and the OC

.

Berkat kedua kakaknya, perlahan terbentuk pelangi setelah hati Chaeyeon terus dirundung hujan.

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Tungkai jenjang Chaeyeon menguntai langkah sepanjang trotoar menuju rumahnya. Surainya yang kecoklatan tergerai, menutupi wajahnya yang tertunduk. Tetapi bila diperhatikan baik-baik, masih terlihat ranum merah nan kecilnya yang mengerucut. Ekspresi wajahnya suram, kusut, bagai menanggung beratnya beban hidup.

Meski ini adalah hari istimewanya, kenyataan menghadapkannya pada peristiwa lain. Ya, hari ini genap dua puluh tahun sejak tangisan pertamanya di dunia. Seharusnya hari ini akan menjadi spesial. Seharusnya Chaeyeon bergembira. Seharusnya senyum cerah senantiasa terukir di wajahnya. Seharusnya ia menghabiskan hari dengan riang, bukan dirundung kecewa seperti ini.

Terkutuklah pengurus ekstrakurikuler drum band yang memasang pengumuman hasil seleksi mayoret! Chaeyeon yang mendatangi papan pengumuman tadi pagi dengan hati penuh harap harus menelan bongkahan pahit kekecewaan akibat namanya tak tercantum sebagai mayoret yang terpilih. Padahal selama dua minggu menunggu hasil seleksi fantasi Chaeyeon mengenai dirinya sebagai mayoret sudah terbentuk jelas di benak. Membayangkan ia berada di barisan paling depan, dengan kostum mayoret yang elegan, sepatu boots berhak sembilan sentimeter yang membuatnya makin terlihat tinggi, berjalan mengitari trek, memimpin pasukan drum band di belakang sambil memutar tongkat mayoret lalu melemparkannya ke angkasa; pasti amat mengagumkan. Namun, tampaknya Chaeyeon harus mengubur impiannya saat ini.

Dan coba tebak siapa yang terpilih? Na Sohye, gadis yang – menurut Chaeyeon – tidak secantik dirinya, tidak semahir dirinya, dan tidak semengagumkan dirinya. Oh, terserahlah mau dikatakan itu hanya berlandaskan rasa cemburu atau apa, tetapi Chaeyeon ingat jelas bagaimana skill gadis itu dalam menguasai tongkat mayoret saat seleksi dibandingkan dengan dirinya. Memang perbedaannya tak terlalu mencolok, tetapi ambisi Chaeyeon mengatakan bahwa bila dibandingkan, maka dirinyalah yang lebih pantas.

Sebersit pemikiran muncul di benak Chaeyeon. Mungkinkah Sohye terpilih karena ia adalah anak Kepala Sekolah? Oh, ya. Bisa jadi, mengingat Kepala Sekolahlah yang mendukung ekstrakurikuler drum band ini agar dapat berjalan, termasuk semua subsidinya akan berbagai peralatan yang terbilang tidak murah itu.

Sebuah kaleng soda bekas yang tergeletak di trotoar entah kenapa mengundang hasrat Chaeyeon untuk menendangnya. Dengan satu gerakan kaki yang cukup kuat, kaleng merah tak berdosa tersebut melambung tinggi, sebelum akhirnya kembali menghempas tanah dengan suara cempereng.

“NA SOHYE! AKU MEMBENCIMU!!!” seru Chaeyeon.

Bersamaan dengan itu, sebutir air matanya menetes. Lega rasanya ia bisa memuntahkan rasa sesak yang sudah ia pendam sejak pagi.

Sekarang, yang diinginkan gadis itu adalah cepat sampai di rumah, membaringkan diri di kasur atau mencurahkan isi hati pada kedua kakaknya.

***

Oppa! Cepat sedikit!”

Josephine menyilangkan tangan di depan dada, dengan jari jempol serta telunjuk kanan masih menjepit mulut balon agar udara yang telah ia hembuskan tidak keluar. Lidahnya mendecak, tidak sabar akan Jinyoung yang menurutnya terlalu lama dalam mengikat balon.

“Sabar! Kau pikir mengikat balon itu mudah, huh?” Jinyoung melempar balon putih yang sudah ia ikat ke sembarang tempat, lalu lanjut mengikat balon yang ada di tangan Josephine, sementara gadis itu meneruskan dengan meniup balon lainnya. “Kau sendiri tidak bisa mengikat balon, kan? Makanya kau minta tolong padaku?”

Josephine melepas bibirnya sejenak dari mulut balon – tentu saja setelah menjepitnya dengan jempol dan telunjuk – lalu nyengir. Bagaimanapun, Jinyoung benar. Ia hanya bisa meniup balon tanpa mengikatnya.

“Lihat ini!” Jinyoung yang sudah selesai mengikat balon mengusap tangannya ke celana. “Sejak tadi berarti aku menyentuh ludahmu secara tidak langsung. Ew.”

Josephine hanya merespon dengan gelengan kepala. “Cih. Seperti kita baru bertemu kali ini saja.”

Ck.”

Senyum tipis Josephine terukir melihat ekspresi merajuk Jinyoung. Berani taruhan, itu hanyalah sandiwara. Dusta. Sedikit aegyo saja maka kejengkelan kakak angkatnya itu pasti hilang.

Maka dari itulah, setelah menyerahkan balon terakhir yang telah ia tiup untuk diikat, Josephine menghempaskan bokong ke sofa, persis di sebelah Jinyoung, lalu membaringkan kepala di paha pemuda itu.

Benar, kan? Sedikit gerakan sha sha sha dengan menggerakkan kedua tangan yang mengepal di depan tulang pipi seimut mungkin sudah berhasil meluruhkan raut merajuk dari sulung keluarga Jung tersebut.

“Astaga ….” Jinyoung mengalihkan wajah sejenak, lalu kembali menatap Josephine. “Ya! Kau sedang berusaha membujukku sekarang? Dengan aegyo?

Eoh,” sahut Josephine dengan senyum jahil.

Jinyoung mendecakkan lidah, geli. Tangannya terulur untuk mengusap rambut Josephine lembut.

Dan tindakan itu berhasil membuat jantung Josephine berdebar tak keruan.

“Oh, ya!” Josephine buru-buru terduduk, mengurangi kontaknya dengan Jinyoung, atau jantungnya akan tak terkendali. Bukan hanya menegakkan tubuh, gadis itu bahkan beranjak dari tempat duduknya, mencoba menenangkan debaran jantungnya agar suasana tak menjadi canggung.

Cake-nya sudah jadi oppa beli, kan?” lanjut Josephine.

Mungkin sekarang saatnya Josephine merutuk, karena tahu-tahu Jinyoung bangkit dari sofa, lalu menyampirkan lengan pada pundak mungil gadis itu. Demi seluruh sketsa baju desainnya, jantungnya kembali berulah.

Tapi tampaknya Jinyoung sama sekali tak ada niatan untuk menurunkan tangan. Lagipula, Josephine juga menikmati sentuhan kakak angkatnya.

“Sudah kuletakkan di meja makan,” balas Jinyoung lembut sambil menggiring Josephine menuju ruang makan. “Lilin pesananmu juga sudah kubeli. Tapi aku berharap lilinnya baik-baik saja, karena tadi sempat kuletakkan di dalam tas kantor. Semoga saja tidak sampai tertindih laptop.”

“Astaga, kenapa pula oppa letakkan di dalam tas kantor?”

“Supaya … tidak lupa?”

Ck.”

Manik Josephine seketika membulat begitu melihat bungkusan merah cukup besar di atas meja makan. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Dengan gesit tetapi hati-hati tangannya mengeluarkan kotak warna cokelat dari bungkusan tersebut, lalu membuka tutupnya. Sebuah chocolate cake dengan krim berwarna peach. Sejumlah ceri disusun membingkai sisi kue bagian atas. Sedikit di tengah, terdapat tulisan Selamat ulang tahun, Chaeyeon-ie! berwarna merah.

“Wah! Oppa!” Josephine bertepuk tangan. “Neomu yeppeo! Di mana oppa membelinya? Berapa harganya?”

“Toko kue dekat kantorku. Lima belas ribu won,” jawab Jinyoung. “Cukup murah, kan?”

Eoh! Tapi, mana lilinnya?”

Jinyoung menyerahkan lilin angka dua dan nol ke tangan Josephine. Gadis itu menancapkannya dengan hati-hati ke permukaan kue. Setelah itu diraihnya korek api yang ada tak jauh dari kotak kue. Beberapa kali menggesek ujung batang korek dengan sisi kotaknya, tetapi tak ada api yang menyala. Sang gadis mulai kesal.

Oppa, kau bisa?” Josephine yang mulai menyerah menyodorkan koreknya pada Jinyoung.

Aigoo, begini saja kau tidak bisa?” ledek Jinyoung.

Bukannya mengambil korek dari tangan Josephine, Jinyoung malah meraih tangan gadis itu dalam genggamannya, lalu bersama-sama mengarahkan dan menggesekkan ujung korek pada sisi kotak dengan tenaga dan penekanan sedikit lebih kuat. Sebuah percikan kecil, lalu akhirnya di ujung korek itu terdapat api yang mulai menari-nari.

Tuh, apinya sudah menyala,” celetuk Jinyoung.

Josephine mengerjap beberapa saat. Sejak tadi ia sibuk menenangkan jantungnya yang kembali berulah. “Oh? Oh.”

“Kau melamun, ya?” tanya Jinyoung. Tangannya kembali terulur untuk mengacak poni kecoklatan Josephine. “Aigoo ….”

Jung Jinyoung! Berhentilah dengan semua skinshipmu!

“Cepat! Nanti apinya padam! Aku tak mau membantumu menyalakannya lagi setelah ini!”

“Oke, oppa.”

Dengan hati-hati Josephine mendekatkan korek ke sumbu lilin. Segera saja api menyambar sumbu dan sekarang mulai menari-nari anggun di atas sumbu, sementara Josephine meniup api di korek, memadamkannya.

Beberapa sekon kemudian, bel pintu rumah berdering. Perlahan Josephine berjalan ke pintu rumah sambil membawa kue beserta lilin. Jinyoung mengekor di belakangnya.

Perasaan Josephine sulit dideskripsikan. Akankah kejutan yang telah mereka siapkan untuk si bungsu berhasil?

***

Perjalanan yang bagi Chaeyeon terasa untuk seabad itu pun akhirnya berakhir. Hembusan napas leganya keluar begitu kakinya melangkah memasuki teras rumah. Dengan lunglai ia mengangkat tangan, hanya untuk memencet bel pintu rumah yang terletak dua jengkal di atas kepalanya.

Dua dentingan pertama, tidak ada respon. Pintu putih itu masih tertutup di hadapannya. Chaeyeon mulai memencet bel kembali.

Dua dentingan berikutnya. Terdengar suara kunci pintu yang terbuka, tetapi tidak dengan daun pintunya. Chaeyeon mencoba membuka kenop, mendorong sedikit daun pintu itu sambil melongokkan kepala, dan –

SURPRISE!!!

Kedua kakaknya muncul dari balik pintu, dengan sebuah kue ulang tahun lengkap dengan lilin di tangan kakak perempuannya. Chaeyeon mengarahkan tangan ke mulut, terharu. Tak ia sangka kedua kakaknya menyiapkan kejutan untuknya seperti ini.

Bahkan lantai ruang tamu pun dipenuhi dengan balon warna-warni. Sangat indah.

“Saengil chukahamnida, saengil chukahamnida. Saranghaneun Chaeyeon-ie, saengil chukahamnida ….”

Kakak laki-lakinya bertepuk tangan dengan meriah. Begitu disodorkan kue, Chaeyeon otomatis melipat tangan seperti orang berdoa dan menutup matanya. Dalam hati, ia mengucapkan banyak permohonan dan rasa syukur.

Setelah itu ia membuka mata, kemudian memadamkan api yang menari-nari dengan satu tiupan, menyisakan asap tipis. Kembali tindakannya disambut dengan tepuk tangan meriah dari Jinyoung.

Oppa, eonni!” Jinyoung menghambur ke pelukan kedua kakaknya. Tadinya ingin menahan tangis, tetapi sepertinya benteng air matanya terlalu lemah. Kristal bening kini berjatuhan menuruni pipinya.

“Terima kasih sudah mengingat ulang tahunku. Aku pikir tak ada yang ingat akan hari istimewaku. Kalian sudah memberiku penghiburan setelah apa yang kualami sepanjang hari ini.”

Dan gadis itu kembali terisak, bahkan setelah Josephine mendekapnya erat.

Aigoo, uri Chaeyeon-ie. Ada apa denganmu hari ini, huh?” ujar Josephine sambil menepuk punggung adik angkatnya pelan. “Mau bercerita pada eonni dan oppa?”

Chaeyeon mengangkat kepala dari dekapan kakaknya, lalu mengangguk. Dengan punggung tangan ia menghapus sisa-sisa air mata yang masih menetes.

“Nanti setelah Chaeyeon ganti baju, Chaeyeon mau bercerita pada eonni dan oppa, oke?” ucapnya. “Boleh sambil makan kuenya bersama-sama, kan?”

“Tentu saja!” Kali ini Jinyoung yang menjawab. “Kue itu, kan, sudah menjadi milikmu.”

Chaeyeon tersenyum tipis. Kedua kakaknya memang tak pernah gagal dalam membuatnya bergembira.

Tetapi ada satu hal yang sejak tadi Chaeyeon rasa janggal.

“Jinyoung oppa,” panggilnya.

“Hmm?”

Chaeyeon memiringkan kepala sedikit. Bagaimana ia harus mengatakan pertanyaannya tanpa membuat kakaknya tersinggung?

“Itu … mengapa sejak tadi Jinyoung oppa tak berhenti merangkul Jose eonni?”

 

-fin-

Advertisements

4 thoughts on “[Vignette] Cheer up, Baby!

  1. Owuowuowu hai aku lagi menjelajah blog kak grace nih wkwk. Pas banget ada jinyoung oppa di sini. Wkwk. Kenapa pas diakhir kalimat tuh, aku merasa Jinyoung ada rasa sama Jose ya? wah wah aku menghayal Jose itu aku gapapa ya? /Digampar kak grace/ /eh aku panggil kak grace eya? Wkwk/

    Ini komen macam apa ya 😦 so kenal pisan ih aku 😦

    /Lari ke ff yg lain/

    Like

    • hai kak SantiiAng (benarkah aku manggilnya begitu saja? hehehe maafkan jika salah) pertama-tama terima kasih loh sudah mau berkunjung ke blogku ini hehehe 😀
      yaapp… untung kakak peka hahahah jadi memang di jung siblings ini aku memang membuat sedikit unsur incest pada dua orang ini, yaitu jose dan jinyoung, dimana mereka semacam menyimpan rasa pada satu sama lain hahahaha 😀

      terima kasih loh sudah mau baca ya kak XD

      Liked by 1 person

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s