[Vignette] Just Because

req-gecee2

JUST BECAUSE

.

Romance, drama, idol-life || Vignette || T

.

Starring BTS’ Jimin and a girl

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

Poster by : Laykim @ Indo Fanfictions Arts

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

“PARK JIMIN!” teriaknya begitu aku membuka pintu apartemenku. Aku menatap wajahnya sejenak. Ekspresinya tidak terlihat senang. Wajahnya terlihat kusut seperti butuh disetrika, ah maksudku butuh penghiburan dariku.

“Chaeyoung-ah … ”

Aku berusaha meraih tangannya, tetapi ekspresi tubuhnya seperti tidak mau disentuh. Uh-oh. Oke, aku mengerti. Gadis ini marah padaku, walau aku tidak tahu apa sebabnya.

Baiklah, aku memilih untuk mengalah. Berargumen bukanlah pilihan yang baik untuk dilakukan saat ini. “Masuklah,” ujarku padanya. Ia masuk dan duduk di sofa abu apartemenku.

“Ada apa?” Aku mencoba bertanya dengan hati-hati.

“Kau sudah melihat internet hari ini?”

Aku menggeleng. Oh, ayolah. Aku baru saja bangun dan mandi pagi. Lagipula manajerku belum mengabarkan artikel apapun yang harus kulihat. Jadi aku kira tidak ada hal penting yang menyangkut diriku atau boyband-ku.

Chaeyoung mengeluarkan selembar kertas yang terlipat dari tasnya dan melemparkannya ke meja ruang tamu. Aku mengambilnya, membukanya perlahan, dan mulai membacanya. Kurasakan pelipisku berdenyut-denyut ketika membaca artikel tersebut.

“Kau bilang tempat kemarin merupakan tempat yang aman untuk berkencan. Tetapi mengapa masih ada kamera yang dapat menemukan kita?” Dia menyilangkan tangan di depan dada. “Dan lihat semua komentar itu!”

Aku membaca semua komentar itu satu per satu. Kebanyakan bernada sama. Mengecap yang tidak-tidak tentang Chaeyoung. Oh, ini memang keterlaluan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa ia adalah wanita penggoda! Apa maksud dari semua ini?

“Jimin-ah,” panggilnya.

Ne?”

Ia mendesah. Lelah.

“Aku ingin mengakhiri hubungan kita.”

Entah mengapa aku tidak terkejut mendengarnya mengucapkan kalimat keramat itu. Ini sudah kesekian kalinya kami bertengkar karena masalah yang sama. Inilah resiko dari berhubungan dengan seorang artis. Kau harus siap dengan segala komentar bahkan kebencian yang dilontarkan para penggemar kepadamu.

Dan Chaeyoung belum siap.

Kalau aku ingin egois, aku tidak mau melepaskannya. Aku masih mencintainya. Aku tidak peduli akan apa yang dikatakan para fans itu tentang hubungan kami karena bagiku ia tetap kekasihku. Aku mencintainya apa adanya. Tetapi aku tidak bisa hanya mementingkan keegoisanku saja. Ia terlihat tertekan. Ia tidak terlihat bahagia.

Kalau aku hendak membuatnya bahagia, hal pertama yang harus kulakukan adalah melepasnya, bukan?

***

Pertemuan pertama kami bisa dibilang cukup unik. Kami bertemu pertama kali dalam sebuah fan meeting di Busan. Tidak seperti fans lainnya yang datang dengan memakai baju-baju atribut BTS, ia hanya datang dengan kaos putih longgar dan celana jeans yang sudah mulai memudar. Ia mendapat tempat duduk yang menurutku paling baik dari semua tempat duduk yang ada, barisan paling depan dan bangku paling tengah. Tempat paling baik untuk melakukan eye contact dengan semua member BTS. Tapi ia tidak terlihat tertarik. Percayalah padaku kalau kukatakan bahwa ia tertidur di acara fan sign kami!

Di sebelah gadis itu kulihat seorang gadis lain yang berkali-kali berusaha membangunkannya. Berbeda dengan Chaeyoung, gadis di sebelahnya ini mengenakan sebuah jaket baseball hitam dengan logo BTS di bagian dada sebelah kiri. Ia juga memakai sebuah topi hitam bertuliskan ‘SUGA’ di kepalanya. Kalau yang aku tebak, gadis dengan jaket hitam itu pasti memaksa Chaeyoung untuk menemaninya ke acara fansign ini.

Di tengah acara sesi tanya jawab, tiba-tiba Chaeyoung bangkit berdiri dan dengan begitu saja ia meninggalkan ruangan. Aku ingat saat itu aku melihat wajahnya sekilas dan ia terlihat mengantuk. Tentu saja bisa kau tebak mendadak semua mata tertuju pada gadis itu. Suasana cukup riuh sejenak dengan bisik-bisik para audience sebelum akhirnya Rapmon hyung berhasil mengalihkan perhatian kembali.

Aku begitu penasaran kemana gadis itu pergi. Dengan alasan ingin ke toilet, aku meninggalkan ruangan lewat belakang panggung. Aku cukup terkejut begitu menemukannya sedang meringkuk di bangku tunggu panjang dekat toilet wanita. Berhubung di dekat situ ada sebuah café kecil, aku memutuskan untuk membeli kopi sejenak sebelum membangunkan gadis itu.

Jeogiyo … ” ujarku perlahan sambil sedikit menggoyangkan bahunya. Ya ampun, bisa-bisanya ia tidur di tempat seperti ini.

Tidak seperti A.R.M.Y lainnya yang mungkin akan berteriak histeris begitu mendapati namja setampan dan seimut diriku yang membangunkannya, gadis ini hanya membuka sebelah matanya, menguap, lalu bergumam tidak jelas sebelum akhirnya terduduk dengan perlahan.

Nugu … seyo?” gumamnya dengan mata masih setengah terpejam.

Entah aku harus merasa sakit hati atau lega karena gadis ini tidak mengenalku. “Jeoneun Park Jimin imnida.

“Oh.” Hanya itu responnya. Aku menyodorkan kopi yang kubeli dan ia meminumnya tanpa banyak bicara. Aku masih ingin melanjutkan obrolan dengannya, karena kalau mau jujur, aku memiliki rasa ketertarikan padanya. Tetapi aku tidak bisa menghilang begitu saja sementara para A.R.M.Y menunggu. Kami akhirnya hanya saling bertukar nomor ponsel dan aku memintanya untuk bertemu lagi suatu hari nanti.

Dunia ini memang sempit. Rupanya Yoon Chaeyoung adalah adik sepupu dari nuna stylist yang biasa mengurusi makeup dan tata rambut kami – informasi yang membuatku cukup terkejut apalagi begitu menyadari bahwa ia sama sekali tidak mengenali diriku. Ini kebetulan yang sangat bagus. Aku bisa memanfaatkan nuna stylist untuk mendekati gadis itu, dan memang benar. Aku sering memaksa nuna stylist untuk meminta Chaeyoung datang.

Saat itu aku mulai sadar bahwa aku telah jatuh cinta.

Kami pergi berkencan untuk beberapa kali – secara diam-diam tentu saja agar tidak ketahuan oleh media dan membuat rumor tersendiri. Jika aku sedang pergi jauh untuk urusan BTS, aku sering mengiriminya pesan singkat di sela-sela waktuku. Setelah 3 bulan, aku memutuskan untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Aku memintanya untuk menjadi kekasihku. Dan betapa senangnya aku ketika ia memenuhi permintaanku.

Pada awalnya semua berjalan dengan baik. Tidak ada yang tahu bahwa kami berpacaran kecuali 6 member BTS lain dan nuna stylist, yang semuanya telah kupaksa untuk tutup mulut dan menjaga rahasia hubungan kami. Namun sepintar-pintarnya kau menyembunyikan suatu hal, suatu saat pasti akan ketahuan. Begitu juga dengan hubungan kami. Entah kami yang kurang pintar atau media-media itu yang terlalu pintar, suatu hari kami menemukan sebuah artikel yang mengungkap tentang hubungan kami. Oh, jangan lupakan komentar-komentar pedas bernada mengkritik yang dilontarkan terutama terhadap Chaeyoung. Aku mungkin siap dengan kamera yang terus membuntutiku sepanjang hari, tetapi gadis itu tidak. Ia risih bila kehidupan pribadinya terungkap.

Itulah awal pertengkaran kami yang pertama. Dan dilanjutkan dengan pertengkaran-pertengkaran selanjutnya.

Intinya, sejak bertemu denganku, hidup damai Chaeyoung menjadi hancur berantakan.

***

Aku tidak bisa berdiam seperti ini. Aku yakin ini adalah sebuah kesalahpahaman. Aku dan dia tidaklah seperti apa yang dikatakan melalui komentar-komentar pedas tersebut. Aku benar-benar tulus mencintainya, dan aku yakin ia juga tulus mencintaiku, tidak hanya sekedar memanfaatkan ketenaranku.

Dua bulan lagi BTS akan mengadakan fan sign di Seoul. Dengan menyamar aku membeli sebuah tiket VVIP. Aku menitipkannya pada nuna stylist dan memintanya untuk memberikannya pada Chaeyoung. Melalui pesan singkat aku meminta gadis itu untuk datang.

Jadwal BTS yang padat membuat waktu terasa berlalu begitu cepat. Tidak terasa hari fan sign Seoul itu tiba juga. Bisa kubilang hatiku terasa cemas. Apakah Chaeyoung menerima permintaanku? Apakah gadis itu akan datang?

Pada awalnya aku tidak melihat gadis itu. Bahkan sampai acara dimulai, rasanya aku masih belum menemukan bayangannya. Lengkap sudah rasa kecewaku. Chaeyoung tidak akan datang. Aku pun memasang senyum palsu di hadapan para A.R.M.Y karena aku tidak mau terlihat sedih. Ketika Jin hyung sedang mengatakan sesuatu pada para audience, aku hanya bisa menatap sedih bangku kosong di barisan paling depan yang aku yakin adalah bangku milik Chaeyoung. Aku mendesah. Sedih, kecewa, kesal, frustrasi semuanya bercampur menjadi satu. Rencanaku untuk memberinya kejutan di depan para fans berantakan sudah.

Empat puluh lima menit setelah acara berlangsung, tiba-tiba pintu ballroom terbuka, dan seorang gadis dengan jaket baseball hitam serta snapback ungu bermotif gigi monster masuk. Seketika aku menghela nafas lega dan senyumku mengembang. Aku mengenali snapback itu. Aku memberikan snapback itu pada Chaeyoung ketika hari peringatan satu bulan hari jadi kami. Ia memberikanku snapback berwarna pink sebagai gantinya. Meskipun gadis ini menutupi matanya dengan lidah snapback, tetapi semakin gadis ini berjalan mendekat, semakin aku dapat memastikan bawa itu adalah Chaeyoung dari postur tubuhnya.

Chaeyoung berjalan ke barisan depan dan duduk di bangku kosong yang terdapat di sana, mengabaikan komentar para fans yang seketika membuat ballroom terdengar ribut. “Lihat gadis itu!” “Bukankah ia kekasih Jimin oppa?” “Tapi mereka sudah putus, kan?” “Berani sekali ia datang kemari … ” dan berbagai komentar lainnya yang bercampur baur di keributan tiba-tiba itu.

Untungnya J-Hope hyung berhasil menenangkan audience. Acara dilanjutkan dengan penampilan rap singkat dari Rapmon hyung. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari Chaeyoung. Ia masih sama, tidak terlihat tertarik dengan acara seperti ini. Ia hanya duduk dengan kepala tertunduk dan tangan terlipat di depan dada.

Ketika tiba giliranku untuk memegang mic, tak bisa kupungkiri jantungku berdegup begitu keras.Ini tidak mudah. Menjelaskan semuanya kepada fans dan membuat mereka mengerti.

“Aku ingin memulai dengan satu pertanyaan. Adakah di sini yang pernah merasakan namanya jatuh cinta? Apakah kalian punya seseorang yang kalian cintai dengan sepenuh hati?”

Suasana seketika riuh dengan pertanyaan pembuka dariku. Kebanyakan dari mereka berteriak “OPPA SARANGHAE!!!”. Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Ketika suasana sudah mulai tenang, aku pun melanjutkan.

“Aku pun memiliki seorang gadis yang aku cintai dengan sepenuh hati. Dia bukanlah wanita penggoda seperti komentar kalian selama ini. Bahkan perlu kukatakan bahwa pada awalnya ia sama sekali tidak tertarik padaku. Ia terlihat tidak peduli bahwa aku adalah Park Jimin, dancer dari BTS. Ia adalah orang yang sama yang meninggalkan ruangan di tengah-tengah acara pada fan sign di Busan beberapa waktu yang lalu.”

“Akulah yang terlebih dulu tertarik padanya. Aku tertarik dengan sikap acuh tak acuhnya. Jika kalian bertanya mengapa aku mencintainya, hmm, tidak ada alasan khusus. Mungkin hanya karena ia adalah Yoon Chaeyoung, gadis yang tetap bersikap apa adanya di hadapanku walaupun pada akhirnya ia tahu bahwa aku adalah seorang idol.”

Aku menarik napas sejenak, mengambil jeda dari monologku. Sejenak kulirik Chaeyoung. Gadis itu sudah mulai mengangkat kepalanya.

“Kalian ingin oppa kalian bahagia, bukan? Namun aku tidak bisa bahagia jika aku melihatnya bersedih. Dan ia akan terus bersedih jika kalian terus mengirimkan komentar-komentar bernada jahat atau mengganggu privasi kehidupan pribadinya. Jadi kumohon, Armies, jangan lakukan hal-hal itu lagi, karena bukan hanya dia yang bersedih, tetapi juga aku. Jika kalian merasa khawatir kegiatanku di BTS akan terganggu dengan hubungan kami, percayalah, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku akan mengatur waktuku dengan baik sehingga kami tidak akan mengecewakan kalian semua.”

Suasana masih hening ketika aku membungkukkan badan mengakhiri pidato singkatku. Semuanya seperti terhipnotis, hingga seorang gadis yang duduk di sayap kanan ballroom bertepuk tangan keras-keras dan diikuti oleh A.R.M.Y lainnya, disusul dengan teriakan “OPPA SARANGHAEEEE!!!” yang bersahut-sahutan.

Dengan sebelah tangan memegang mic, aku berjalan menuruni panggung dan menghampiri tempat duduk Chaeyoung. Gadis itu mengangkat kepalanya dan menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku memintanya untuk berdiri. Dan di ruangan ini, di hadapan 1500 A.R.M.Y yang memenuhi ballroom, aku mengucapkan sebuah kalimat yang sudah ingin kukatakan dari dulu.

“Chaeyoung-ah, maukah kau memulai semuanya kembali denganku?”

 

 

-fin-

Advertisements

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s