[Ficlet] New Friend

new-friend-req

NEW FRIEND

.

School-life, Friendship, Slice-of-life || Ficlet || PG-13

.

Starring Gu9udan’s Sally, SVT’s Jun

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

Poster by Kyoung @ Poster Channel

.

“Sally. Panggil aku Sally.”

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Seharusnya setelah menyelesaikan bisnis buang air kecil di toilet Sally segera kembali ke kelas. Sally bukan tipikal gadis yang menggunakan alasan hendak ke toilet untuk keluyuran atau semacamnya, bukan. Jika ia berkata hendak ke toilet, itu berarti ia benar-benar menuju toilet. Entah itu buang air kecil, buang air besar, mencuci tangan atau sekadar merapikan rambut dengan bantuan cermin wastafel, tetapi memang ia benar-benar ke toilet, dan biasanya setelah dari toilet Sally akan segera kembali.

Sejatinya, itulah yang hendak dilakukan gadis itu, sampai seekor kupu-kupu biru metalik menggelitik pandangannya saat sedang membasahi tangan dengan sabun.

Bahkan kupu-kupu itu masih berputar-putar rendah di sekitar Sally dengan anggun walau gadis itu sudah memberi gerakan mengusir.

Bagai terhipnotis, perlahan Sally melangkahkan tungkai mengikuti arah terbang kupu-kupu tersebut. Pandangannya seolah telah terikat pada lembah gemulainya sayap kupu-kupu yang bergerak. Sesekali tangannya terulur, mencoba menangkap, tetapi kupu-kupu terlalu gesit dan menghindar, kemudian kembali mengangkasa dengan anggunnya. Senyum Sally terukir.

Langkah demi langkah ia lalui, tanpa sadar tungkainya membawanya ke mana. Maniknya yang terlalu fokus membuatnya lupa akan kelas yang ia tinggalkan. Kecantikan kupu-kupu mengalihkan segalanya.

TUK!

Sebuah puntung rokok tahu-tahu jatuh tepat di hadapan Sally. Bersamaan dengan itu, kupu-kupu biru menghilang entah kemana. Saat itulah Sally sadar kalau kini ia berada di kebun belakang sekolah.

“Maaf, ini rokokmu – “ Sally mendongak, dan netranya seketika membola begitu melihat seragam yang dikenakan sosok yang sedang duduk dengan enaknya di salah satu ranting pohon.

“Kau murid sekolah ini?” Sally mengganti pertanyaannya.

Eoh,” jawab murid laki-laki itu singkat, bahkan tak sedikit pun menolehkan kepala pada Sally.

“Sedang apa kau di sini? Bukankah seharusnya kau berada di kelas? Dan rokok? Kau merokok?” berondong Sally.

Terdengar suara menguap sekilas dari sang laki-laki sebelum menjawab. “Pelajaran biologi. Pelajaran tidak berguna untukku yang akan menjadi akuntan kelak. Membosankan, ditambah dengan gurunya yang selalu marah-marah. Apa motivasiku kalau begitu untuk masuk kelas biologi?”

Sally geleng-geleng kepala mendengarnya. “Tetap saja kau tidak boleh berkeliaran di sini. Akan lebih baik kalau kau tertidur di kelas tetapi setidaknya kau masih hadir.”

“Tidur? Memberi diri untuk dilempar penghapus papan tulis maksudmu?”

Mendengarnya, Sally bungkam.

“Kau sendiri?” Lelaki itu kini ganti menatap manik Sally lurus-lurus. Kepalanya dimiringkan sedikit ke sebelah kanan. “Sedang apa di sini? Kenapa bukan berada di kelas?”

“Aku baru saja dari toilet,” sahut Sally, “justru ini sedang dalam perjalanan kembali ke kelas.”

Sudut bibir lelaki itu terangkat sebelah. “Kembali ke kelas katamu? Cih. Kau pikir aku bodoh?” Ia turun dari peraduannya di salah satu ranting pohon dengan satu gerakan, dan langsung mengambil posisi menghadap Sally. “Dengar ini nona, meski aku anak baru, aku tahu kalau kebun belakang sekolah ini berakhir dengan jalan buntu. Tidak ada jalan untuk kembali ke kelas seperti katamu kecuali kalau kau berbalik.”

Benar juga.

“Jadi … “ Pemuda itu melanjutkan kata-katanya. “Kurasa kita sebanding. Sama-sama sedang membolos. Akan adil kalau kita saling tidak melaporkan satu sama lain.”

“Tidak bisa!” balas Sally cepat. “Kesalahanmu ada dua: membolos serta merokok. Aku tidak bisa mentolerir perokok, terutama siswa perokok. Lagipula,” Sally gantian memiringkan kepalanya sedikit. “aku tidak membolos.”

“Tetap saja, berkeliaran di jam pelajaran seperti ini serupa dengan membolos, kan?”

“Daripada kau!” Sally menatap iris sang pemuda lurus-lurus “Bukankah tertulis di buku peraturan sekolah kalau kita tidak – “

Mendadak mata gadis itu membulat saat tahu-tahu sesuatu yang basah menempel pada permukaan bibirnya. Sally mengerjap. Punggungnya menegang. Otaknya semacam tak mau untuk diajak berpikir.”

Satu detik …

Dua detik …

Hingga akhirnya gadis itu sadar apa yang sedang terjadi. Seorang lelaki telah menciumya!

Cepat-cepat dikerahkannya seluruh tenaga untuk mendorong lelaki itu menjauh.

“A-apa yang baru saja kau lakukan? Huh?!” Sally berusaha untuk marah, tetapi kegugupannya mengalahkan segalanya.

Lelaki itu hanya tersenyum simpul. “Ternyata memang benar. Ciuman adalah hal yang paling ampuh untuk membungkam seorang wanita.”

Sally menyipitkan matanya, tak percaya akan apa yang baru saja ia dengar “What? Kau gila, ya?”

“Mungkin. Sedikit.”

Gadis itu hanya dapat geleng-geleng kepala.

“Perkenalkan, aku Wei Jun Hui. Siswa baru di sini.” Lelaki itu mengulurkan tangan, tetapi ketika beberapa sekon menunggu dan tak ada balasan, ia menggamit tangan Sally. “Tadinya aku terpikir untuk hanya bertahan selama dua minggu di sekolah ini, tetapi thanks to you, aku sepertinya akan bertahan lebih lama. Kau gadis yang menarik menurutku.”

Sally sama sekali tidak terpengaruh oleh kata-kata tersebut. Bibirnya mengerucut.

“Boleh aku tahu siapa namamu, nona?”

“…”

“Tidak mau menjawab?”

Pasrah, Sally pun menggumam. “Sally. Panggil aku Sally.”

 

-fin-

Advertisements

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s