[Ficlet] Bedtime Story

moodjinyoungbed

BEDTIME STORY

.

Fluff, Friendship, Slice-of-life || Ficlet || T

.

Starring GOT7’s Jinyoung and a girl

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

Big thanks to Dyvictory for the moodboard

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Nampaknya dewi langit sangat sedih dan belum mau berhenti menangis, itu sebabnya sejak tadi hujan deras tak kunjung mereda. Demikian kesimpulan Junior. Lelaki itu menyesap teh hangatnya, kemudian memperbaiki letak kacamata dan kembali tenggelam dalam buku biologinya.

Hal yang paling enak dilakukan saat hujan deras seperti malam ini adalah tidur. Berbaring di atas kasur yang empuk dan menghilang dibalik selimut hangat. Memejamkan mata, menunggu kantuk menjemput dan berharap akan sinar mentari esok.

Kalau bukan karena ulangan biologi yang menanti esok hari, sudah dari tadi Junior akan merebahkan diri di tempat tidur. Meringkuk di balik selimut dan membiarkan raga terbang ke alam mimpi.

JEDEEEEERRRR!!

Petir kembali menggelegar untuk ke empat kalinya. Untuk sepersekian detik Junior memang terkejut, namun selanjutnya khayalannya kembali bekerja.

“Apakah dewi langit sedang bertengkar dengan sang dewa?” gumamnya dalam hati. “Apakah sang dewa benar-benar marah hingga menimbulkan guntur berulang kali? Apa yang mereka ributkan? Dewi langit yang selingkuh? Putra mereka yang sukar diatur?”

Suara dentingan bel apartemennya membuyarkan imajinasi pemuda bermarga Park tersebut akan pertengkaran dewa dan dewi langit. Ia pun bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu depan.

“Siapa?” tanyanya melalui interkom. Tak ada jawaban.

Begitu Junior membuka pintu, terlihatlah seorang gadis berambut hitam sebahu sedang menatapnya sayu sambil memeluk erat sebuah bantal putih. Gadis itu mengenakan piyama dengan gambar panda serta alas kaki berupa sendal berbentuk koala.

Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah tetangga seberang apartemen sekaligus sahabat sejak kecilnya, Song Maudy.

Gadis yang lebih memilih untuk pergi ke Seoul dan tinggal sendirian di apartemen dibandingkan menetap bersama orang tuanya di Jinhae-gu hanya demi menyusul Junior. Karena gadis itu tidak dapat hidup tanpa Junior.

Baiklah, abaikan kalimat terakhir karena itu berlebihan. Sahabat kecilnya tidak pernah berkata seperti itu pada Junior, tapi bolehkan ia berandai-andai?

“Ada apa?” Itu kalimat yang pertama keluar dari mulut Junior setelah tujuh detik diisi dengan keheningan, hanya menatap satu sama lain.

Maudy mengucek mata kanannya. “Hujan deras. Petir. Aku tidak bisa tidur,” sahut gadis itu. “Aku mau tidur di kamarmu,” tambahnya lagi.

Kalau gadis yang berkata seperti itu adalah gadis yang tak ia kenal, mungkin Junior akan terkejut setengah mati. Gadis gila macam apa yang membiarkan dirinya tidur begitu saja di kamar seorang laki-laki?

Tapi ini adalah Song Maudy, temannya sejak kanak-kanak, orang yang bahkan sudah pernah mandi bersama dengannya saat umur lima tahun.

Junior menyunggingkan senyum tipis. Rupanya gadis itu belum berubah, masih takut akan petir. “Masuklah,” ujarnya sambil merapatkan diri ke dinding, membuat jalan bagi gadis berpiyama itu.

Sementara Maudy berjalan ke kamar Junior dengan tetap memeluk erat bantalnya, Junior pergi ke dapur sejenak, hendak membuat minuman hangat. Junior tahu sahabatnya penggemar cokelat, dan hari hujan seperti ini akan sangat cocok bila ditemani secangkir cokelat panas.

Begitu Junior kembali ke kamar, ia menemukan Maudy sedang duduk di tempat tidur dengan selimut menutup lutut hingga jari kakinya.

“Nah, minum dulu.” Junior menyodorkan cangkir cokelat panas. “Kau suka cokelat kan?”

Gadis itu menyesap cokelat panas, menghirup aromanya, kemudian menatap Junior lembut. “Gomawo,” balasnya tak lupa disertai senyum manis.

Junior mengangguk. “Kau tidur saja dulu. Aku masih harus belajar untuk ulangan biologi besok.”

Setidaknya Junior sempat menghafalkan jenis-jenis imunoglobin beserta penjelasannya, sebelum gadis bermarga Song itu kembali memanggil namanya. Suaranya memang pelan, tetapi cukup untuk mengganggu konsentrasi belajarnya.

“Ada apa?” tanya Junior akhirnya. Ia membalik arah duduknya sehingga bisa menghadap Maudy.

“Sini.” Maudy menepuk bagian kasur yang kosong di sampingnya. “Temani aku tidur.”

“Ini kan sudah aku temani,” balas Junior.

Maudy menggelengkan kepala. “Tetap saja aku belum bisa tidur. Lagipula ini sudah malam, kau butuh istirahat. Percuma belajar hingga larut malam, tidak akan masuk ke otak.”

Seperti yang sudah terjadi selama mereka saling mengenal selama tiga belas tahun, Junior tidak pernah bisa menolak permintaan Maudy. Meski dengan memutar bola matanya dan dengusan yang keluar dari mulutnya, pada akhirnya Junior menghampiri tempat tidur dan berbaring di samping Maudy. “Puas?” ucapnya.

Belum cukup, Maudy menatap Junior manja. “Bacakan cerita … ” pintanya.

Junior mendelik. “Eh? Macam anak kecil saja.”

“Biar. Soalnya aku masih belum bisa tidur,” balas Maudy.

Junior menghela napas. Lagi-lagi ia tidak bisa menolak permintaan gadis itu. “Aku tidak punya buku cerita. Kuceritakan karanganku saja, ya.”

“Hmm.”

Junior membasahi bibir bawahnya, seraya otaknya menggali kotak imajinasinya. Sementara Maudy menatapnya dengan penasaran.

“Ada seekor kucing. Bulunya putih, bersih. Matanya biru. Manis sekali. Selain itu ada seekor anjing. Bulunya abu-abu, sangat terawat. Tidak seperti kucing dan anjing lainnya, mereka hidup akur. Ya, memang ada saatnya mereka ribut untuk hal-hal kecil, seperti memperebutkan daging ayam, tapi setelah itu mereka kembali rukun.”

“Suatu hari sang kucing mendatangi rumah si anjing, minta izin untuk tinggal di sana sementara waktu, sebab rumahnya kebanjiran. Sebenarnya si anjing tidak mau berbagi rumah, tetapi karena tidak tega akhirnya ia mengizinkan sang kucing tinggal bersama.”

“Awalnya sang anjing mendapati si kucing cukup merepotkan dan menyebalkan. Bayangkan saja, makanan yang telah susah-susah dikumpulkan si anjing selama musim panas dimakan begitu saja oleh si kucing. Belum lagi si kucing suka bermalas-malasan sementara sang anjing membereskan rumah.”

“Tapi, lama-kelamaan, perasaan sebalnya pada sang kucing mulai berubah. Perasaan jengkel itu mulai digantikan dengan perasaan yang lain.”

“Nampaknya sang anjing mulai menyukai si kucing.”

Setelah mendengarkan cerita Junior dengan sungguh-sungguh, kantuk mulai menghampiri Maudy, membuatnya menguap. “Setelah itu?” tanya Maudy di sela-sela menguap.

“Sayangnya sang anjing tidak berani menyatakan perasaannya pada si kucing karena ia tidak tahu apakah si kucing menyukainya juga atau tidak,” lanjut Junior dengan senyum. Maniknya menatap Maudy lembut.

Maudy menarik selimutnya sampai ke dagu. “Kalau menurutku, sih, si kucing juga menyukai si anjing.”

“Belum pasti juga,” sahut Junior sambil menyelipkan sehelai anak rambut di belakang telinga sahabatnya. “Sudah, tidur saja dulu. Nanti kalau si kucing sudah menceritakan kepadaku bagaimana perasaannya terhadap si anjing, baru ceritanya kulanjutkan ya.”

Maudy mengangguk patuh. “Hmm … ” Ia pun memejamkan matanya.

Junior mengelus-elus kelopak mata Maudy, memastikan gadis itu sudah terbang ke alam mimpi. Pandangannya tertumbuk pada pipi gadis itu yang agak tembam, kemudian beralih pada ranum merahnya.

Setelah melihat irama napas gadis itu yang benar-benar tenang, sudut-sudut bibir Junior terangkat. Perlahan didekatkannya wajahnya pada wajah Maudy.

Cup!

Ditempelkannya bibirnya pada pipi kemerahan gadis itu. Dan kembali Junior tersenyum.

“Selamat malam, Song Maudy,” bisiknya. “Semoga kau mimpi indah.”

-fin-

Advertisements

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s