[Ficlet] Tanggal 24

ir-req-tanggal-duapuluh-empat-e1466253151212.png

TANGGAL 24

.

Slice-of-life, sad, angst, romance | Ficlet | T-rate

.

Starring Lee Donghyuck aka NCT’s Haechan, Seo Hye In aka SMRookies Girls’s Herin
with Mark Lee aka NCT’s Mark

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

Poster by IRISH @ Poster Channel


.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Rintik hujan yang mengguyur kota Seoul tak menghalangi niat Donghyuck untuk tetap beranjak menuju bandara Incheon. Bukan masalah harus berbasah-basahan sedikit, asalkan sore ini ia sampai di sana. Lagipula tubuhnya sudah dibungkus dengan jas hujan. Tak ia pedulikan sepatunya yang mulai lembab karena tak sengaja menciprat genangan. Lelaki itu terus berlari, melanjutkan perjalanannya.

Ia pun tak mengeluh ketika harus duduk manis di lobi, menunggu. Sesekali pandangannya ia lempar ke pintu kedatangan penerbangan internasional, melihat apakah gadisnya sudah sampai atau belum. Sudah hampir dua puluh menit sejak kedatangannya, namun dari sekian banyak orang lalu-lalang yang ia lihat, Donghyuck belum juga menemukan batang hidung sang gadis.

Tak apa … Donghyuck menghibur diri. Hari ini kan tanggal 24. Ia pasti datang.

Terngiang dalam pendengaran Donghyuck tentang janji yang gadis bernama Seo Hye In itu berikan. Sambil tangan mungilnya merangkul leher Donghyuck, Hye In mengucapkan ikrarnya.

“Aku akan kembali tanggal 24. Percayalah.”

Dua kalimat itulah yang membuat Donghyuck enggan beranjak dari bangkunya, walau sampai sekarang tanda-tanda kedatangan sang gadis tak juga terlihat.

“Donghyuck-ah!”

Seruan itu mengalihkan pandangan Donghyuck dari gerbang kedatangan untuk sejenak. Kepalanya menoleh, mencari asal suara. Penglihatannya berhasil menangkap sosok Mark Lee yang sedang berlari ke arahnya.

“Oh, hyung!” sahut Donghyuck sambil melambaikan tangan. “Ada apa hyung kemari?”

Mark mengambil tempat duduk di kursi kosong sebelah Donghyuck. Sejenak ia tidak dapat menjawab. Mulutnya terlalu berkonsentrasi untuk memasok oksigen pada paru-parunya. Akibat berlari, napasnya jadi terengah-engah.

“Justru itu yang hendak kutanyakan padamu.” Mark meletakkan tangan pada pundak Donghyuck. “Sedang apa kau di sini?”

Donghyuck melirik gerbang kedatangan untuk yang kesekian kalinya. Kedua sudut bibirnya terangkat. “Menunggu Hye In,” jawabnya. “Aduh, kenapa gadis itu lama sekali, ya? Apa penerbangannya mengalami keterlambatan? Apa ia pergi ke kamar kecil dahulu? Apa perlu kuhubungi saja dia?”

Manik Mark berkedip beberapa kali. “Hye In? SEO HYE IN?”

Donghyuck mengangguk. “Sejak tadi ia tidak datang-datang, hyung,” ujarnya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana. Jemarinya hendak menekan nomor ponsel Hye In, namun Mark merebut ponselnya.

Hyung! Kembalikan ponselku!” seru Donghyuck.

Mark menatapnya dengan pandangan yang sulit ia artikan, seolah-olah awan kelabu menutupi penglihatannya yang indah. Melihat itu, Donghyuck memiringkan sedikit kepalanya dan balas melemparkan tatapan tak mengerti.

Hyung, ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?”

Tatapan yang sukar dimengerti itu perlahan berubah menjadi tatapan sedih, seraya dengan suara bergetar Mark berucap, “Kau masih belum bisa melupakannya ya?”

“Siapa?”

“Seo Hye In.”

Donghyuck tertawa bingung. “Untuk apa aku melupakannya? Ia hanya pergi ke Amerika untuk sementara waktu dan sudah berjanji akan kembali. Mengapa aku harus melupakannya? Hye In akan sedih bila ia tahu aku lupa padanya, hyung. Lagipula aku mencintainya. Jadi bagaimana mungkin aku dapat melupakannya?” Lelaki itu mengulurkan tangannya, bersiap mengambil ponselnya yang ada dalam genggaman Mark. “Kembalikan ponselku, hyung. Aku hendak menghubunginya.”

Bukannya menyerahkan ponsel pada pemiliknya, alih-alih Mark meletakkan kedua tangannya pada pundak Donghyuck. “Donghyuck-ah, sadarlah…”

“Huh?”

“Seo Hye In sudah tiada, Donghyuck. Gadis itu sudah pergi semenjak tiga bulan yang lalu. Kau sendiri yang bilang kau tak mau menghadiri pemakamannya.”

Berita singkat tersebut berhasil memporak-porandakan perasaannya, menyilet-nyilet hatinya hingga terasa perih. “Pergi?” ulangnya dengan suara serak.

TIDAK MUNGKIN! jerit Donghyuck dalam hati. Hye In sudah berjanji akan kembali. Ia bukanlah orang yang mengingkari janji!

“Hye In tidak bermaksud mengingkari janjinya, Donghyuck-ah,” balas Mark sambil menepuk-nepuk punggung Donghyuck. “Hanya saja ia begitu menderita akibat penyakitnya, sehingga Tuhan berbelas kasihan padanya dengan memanggilnya pulang.”

Adegan detik-detik keberangkatan Hye In ke Amerika untuk pengobatannya kembali berputar pada memori Donghyuck. Hye In yang kurus dan lemah duduk di kursi roda. Wajahnya tirus, kulitnya pucat, lingkaran hitam terlihat jelas di sekeliling matanya. Satu-satunya yang menunjukkan bahwa gadis itu bertahan adalah pancaran sinar dari maniknya.

“Aku akan kembali tanggal 24. Percayalah,” bisik gadis itu. “Saat itu aku akan berdiri di hadapanmu sebagai seorang gadis sehat, yang siap membalas cintamu dengan segenap kekuatanku.”

Nyatanya, gadis itu tak pernah menampakkan dirinya lagi.

Sebutir kristal bening meluncur menuruni pipi Donghyuck. Hatinya terasa pilu saat ia kembali dihadapkan pada kenyataan. Demi seluruh jumlah pasir di tepi laut, ia sangat merindukan gadisnya.

Mark sepertinya melihat tangisnya, karena itu ia merangkul pundak Donghyuck. “Sudahlah, Donghyuck. Tak usah ditangisi. Hye In sudah bahagia di sana. Karena itu, ayo kita pulang.”

Tidak, tidak. Donghyuck menggelengkan kepala. Dihapusnya air mata yang berjatuhan dengan punggung tangan. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam seluruh emosi yang bergejolak dalam dadanya. Irisnya kembali menatap gerbang kedatangan dengan penuh harap. Ia pasti datang. Seo Hye In pasti datang.

“Apalagi yang kau tunggu, Donghyuck-ah?” ujar Mark. “Kau masih menanti kedatangannya? Apa belum cukup penjelasanku barusan?”

Hyung!” seru Donghyuck. Benteng air mata yang sudah susah payah ia bangun pun kembali roboh. Bahkan kali ini kerusakannya hebat. Donghyuck terisak.

“Kau tahu betapa sulitnya menerima kenyataan bahwa orang yang kau cintai telah pergi? Kau tahu bagaimana rasanya menanti tanpa kepastian yang jelas, hanya berharap pada janji yang telah dibuat? Tahu seberapa sukarnya melupakan seseorang yang amat kau sayangi, orang yang amat berarti bagimu? TAHU?”

Pertahanan Donghyuck lepas sudah.

Mark tidak menjawab. Ia hanya diam ketika untuk beberapa saat Donghyuck menutup mulutnya dengan tangan dan menangis dalam diam.

Setelah mereda, Donghyuck menegakkan kepalanya. “Rasanya sakit, hyung.” Ia menunjuk dadanya. “Setiap kali aku dihadapkan pada kenyataan, di sini terasa perih. Aku pun menyadari bahwa aku belum siap dengan fakta ini. Itulah sebabnya aku memilih hidup dalam kebohongan, kebohongan yang mengatakan bahwa suatu hari kelak di tanggal 24, Hye In akan pulang.”

“Aku tahu,” sahut Mark.

Donghyuck tidak merespon. Alih-alih, bibirnya susah payah menyunggingkan sebuah senyum getir, seraya ia melanjutkan kata-katanya.

“Aku tidak akan pulang.” Donghyuck menatap Mark. “Meski pilu namun tetap ku menunggu.”

-fin-

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] Tanggal 24

  1. “yang siap membalas cintamu dengan segenap kekuatanku” yaampun…yaampun………. Kata2 itu…. Singkat tapi ngena banget mooommm TT^TT terus endingnya “meski pilu namun kutetap menunggu.”

    Nyeseeeeek bangeeeetttt…don baper parah ini ndatau lagiiiii, sangking sayangnya si donghyuck ini sampe rela mengesampingkan kenyataan, rela hidup dalam sebuah kebohongan yaa…. Emang kekosongan hati itu tida bisa ditepis ya… Ingin rasanya kupeluk dia mom aaaaaaaa😭😭😭😭😭😭😭 perjuanganmu tidak sia2 bung!!!!!

    Like

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s