[Oneshot] The One Beside Me

moodchaeyoungeunwoohospital

THE ONE BESIDE ME

.

Angst, Friendship, Slice-of-Life || Oneshot || T

.

Starring TWICE’s Chaeyoung, ASTRO’s Eunwoo

.

© 2016 by Gxchoxpie

.

I only own the plot

.

Big thanks to Dyvictory for the moodboard

.

“Sejak kedatangannya, sepertinya keseharianku tak akan sama lagi.”

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Begitu Chaeyoung tahu bahwa tubuhnya sedang diserang penyakit tifus yang mengharuskannya menjalani rawat inap di rumah sakit, gadis itu langsung membujuk ibunya untuk memesan kamar kelas satu – kamar inap dengan hanya dua pasien dalam satu ruangan. Berbagai cara dilakukan untuk meyakinkan sang ibu, mulai dari berkata-kata baik hingga merengek. Agar bisa beristirahat dengan tenang, agar tidak terganggu pasien lain, dan segala agar lainnya yang diucapkan demi meyakinkan ibunya.

Akhirnya Nyonya Son mengalah. Meski memang agak berat dari segi biaya bila dibandingkan dengan kamar kelas dua atau kelas tiga, toh ini untuk kepentingan putrinya juga. Ibu mana sih yang tidak ingin anaknya cepat sembuh?

Jadi, di sinilah Son Chaeyoung sekarang. Duduk bersandar pada sandaran tempat tidur rumah sakit, sedang memindah-mindahkan saluran televisi dengan remote sambil menyiratkan ekspresi bosan.

Tadinya Chaeyoung pikir berada di kamar sendirian adalah hal yang menyenangkan. Tak dapat ia sembunyikan kebahagiaannya begitu mengetahui belum ada pasien lain di kamarnya, selain dirinya. Beranggapan bahwa kamar berukuran delapan kali sepuluh meter itu adalah miliknya sendiri, membayangkan ia tak perlu berbagi televisi dengan pasien sebelah, bebas mandi berlama-lama karena kamar mandi dalam kamar hanya dikuasainya seorang.

Namun, siapa yang sangka keadaannya akan berubah sedrastis ini? Saat dimana kebosanan menyerbu, Chaeyoung tak bisa melakukan apa-apa selain pasrah menerimanya. Ibunya tak bisa menemani gadis itu setiap saat. Seberesnya gadis itu mandi, sarapan, dan menegak obat paginya, Nyonya Son akan meninggalkan gadis itu untuk berangkat kerja dan baru akan kembali pada jam makan siang.

Chaeyoung sudah menyiasati kebosanan tersebut dengan berbagai cara – menonton televisi, membawa beberapa koleksi novel serta komiknya dari rumah, membawa buku pelajaran (yang pada akhirnya sama sekali tak ia sentuh), membuka aplikasi sosial media di ponsel hingga kuotanya habis (terkutuklah rumah sakit tanpa wifi ini!), hingga mengajak berbicara teddy bear cokelat kesayangannya. Namun hasilnya nihil. Rasa bosannya tak kunjung hilang.

Kesal, Chaeyoung memencet tombol power pada remote televisi. Bersamaan dengan menghitamnya layar kotak kaca tersebut, Chaeyoung melemparkan remote dalam genggamannya ke kasur. Setelah itu tangannya terlipat di depan dada. Bibirnya mengerucut. Berbagai kata-kata bernada menggerutu terangkai dalam batinnya.

Demi boneka Stitch ukuran raksasa yang diberikan Tzuyu padanya sebagai hadiah ulang tahun, kenapa ia harus tinggal di rumah sakit begitu lama? Apakah penyakit tifus memang lama untuk disembuhkan? Apakah sesulit itu untuk penyembuhan penyakit tifus? Belum lagi akibat penyakitnya Chaeyoung tidak diizinkan untuk mengonsumsi makanan yang bertekstur keras. Jangankan jajan, mencicipi barang sepotong ayam goreng yang ibunya bawa dari kedai untuk makan siang pun tak diperbolehkan. Satu-satunya yang boleh ia konsumsi hanyalah bubur buatan rumah sakit yang hambar tanpa rasa. Empat hari dirawat di rumah sakit sudah cukup membuat Chaeyoung muak akan bubur putih tanpa garam itu.

Masih dengan perasaan jengkel, Chaeyoung merebahkan kepalanya pada bantal yang ditumpuk agak tinggi. Bila ia jatuh tertidur, berarti ini adalah tidur ketiga kalinya dalam kurun waktu dua jam, saking bosannya.

Menatap dinding yang berwarna putih, ditemani dengan keheningan yang menyelimuti, Chaeyoung memelankan irama napasnya. Tarik panjang, keluarkan, tarik panjang, keluarkan. Perlahan matanya terasa berat. Mungkin kantuk sudah berada di depan pintu, setiap menjemput.

Namun kesadarannya yang hampir menghilang mendadak kembali ketika ia mendengar suara pintu terbuka. Sempat mengira itu adalah ibunya, Chaeyoung langsung menegakkan tubuh, melongokkan kepala untuk melihat karena kali ini terdengar seperti lebih dari satu orang yang memasuki ruangan.

Benar saja. Seorang ibu berkaus merah masuk, bersama dengan seorang suster yang sedang mendorong sebuah kursi roda. Seorang anak laki-laki duduk di kursi roda tersebut. Rambutnya hitam, kontras dengan kulitnya yang putih susu. Matanya bulat, irisnya berwarna gelap. Dalam sekali pandang, Chaeyoung bisa mengambil kesimpulan bahwa pemuda ini adalah orang yang ramah.

Sang anak laki-laki naik ke tempat tidur kosong di sebelah Chaeyoung, sementara sang suster memindahkan gantungan infusnya dan merapikan beberapa hal lainnya. Menjelaskan secara singkat pada sang ibu mengenai beberapa prosedur rumah sakit, selaini itu letak kamar mandi, pispot, handuk, dan apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat.

“Kalau ada apa-apa, bisa panggil suster dengan memencet bel ini, ya,” ucap sang perawat sambil menunjukkan tombol yang terhubung dengan kabel panjang. “Selamat beristirahat,” ujarnya lagi sebelum akhirnya meninggalkan kamar.

Chaeyoung mengamati bagaimana sang ibu membereskan perlengkapan mereka – menyusun pakaian di lemari kecil sebelah tempat tidur, menggantungkan handuk, meletakkan perlengkapan mandi di loker dekat ruang mandi, dan menyusun botol-botol air mineral di meja. Mondar mandir sepanjang ruangan tersebut layaknya sebuah setrika.

“Eunwoo-ya, ibu pergi dulu ke minimarket di lantai bawah. Kau tunggu saja dulu di sini, oke?” ujar sang ibu.

Anak lelaki itu mengangguk. “Ne, eomma. Hati-hati, ya. Cepat kembali!”

Seperginya ibu tersebut, ruangan kembali hening. Tidak ada lagi suara grasak-grusuk yang sejak tadi mengisi ruangan.

“Hei.”

Chaeyoung menoleh, mendapati anak lelaki itu sedang tersenyum ke arahnya. Sekon berikutnya, gadis surai pendek itu menoleh ke sana kemari, seolah mencari makhluk lain yang mungkin saja sang pemuda maksud. Tetapi setelah itu ia merasa bodoh, tak ada orang lain selain mereka berdua di dalam kamar itu. Chaeyoung pun menunjuk dirinya sendiri dan membuat gestur mulut Aku?.

Lelaki di hadapannya mengangguk. “Siapa lagi?”

Senyum Chaeyoung ikut terukir. Senyum menertawakan dirinya yang tampak dungu.

“Ruangan ini tampak nyaman. Ada TV, pendingin serta penghangat ruangan – tergantung cuacanya seperti apa – kamar mandi dalam, kasur yang empuk. Makanannya juga pasti enak!” Lelaki itu membuka percakapan.

Chaeyoung menaikkan sebelah alisnya. Pertama, apakah lelaki ini tak pernah pergi ke rumah sakit sebelumnya? Apa selama ini ia hanya dirawat di klinik bobrok tanpa fasilitas memadai? Bukankah fitur-fitur yang ia ucapkan tadi adalah hal dasar yang wajib dimiliki setiap rumah sakit? Hal kedua, makanannya enak katanya? Hah! Tunggu sampai ia mencoba bubur hambar yang memuakkan itu!

Namun Chaeyoung tak berani berkomentar. Menurutnya tak pantas melawan perkataan orang yang sama sekali belum ia kenal.

“Oh ya, namamu siapa?” tanya lelaki itu.

“Chaeyoung,” jawab gadis itu ramah. “Son Chaeyoung.”

“Nama yang indah … ” sang lelaki menyahut dengan senyum. “Namaku Eunwoo. Cha Eunwoo. Senang berkenalan denganmu, Chaeyoung-ssi.”

Chaeyoung hanya menganggukkan kepala, namun tak dapat ia lepas tatapannya dari kurva pada ranum lelaki itu. Senyum yang indah, melengkapi fitur wajahnya yang tampan. Chaeyoung mulai menganggap Cha Eunwoo memiliki senyum manis yang memikat.

Tunggu. Apa katanya barusan? Manis?

Hah, sepertinya sepulangnya dari rumah sakit Chaeyoung harus memeriksakan penglihatannya. Mulai terjadi ketidaknormalan pada dwimaniknya, sepertinya.

.

Tapi, untuk beberapa alasan, Chaeyoung mempunyai firasat dengan kedatangan Eunwoo sebagai teman sekamar akan mengubah hari-hari Chaeyoung di rumah sakit. Sepertinya kesehariannya di rumah sakit tak akan sama lagi.

***

Psst! Chaeyoung-ah!”

Ini sudah kali ketiga lelaki itu memanggil namanya. Oh Tuhan, tak bisakah ia diberi waktu untuk istirahat sejenak? Bagaimana pun ini adalah rumah sakit dimana orang-orang dengan keadaan tubuh lemah datang untuk beristirahat, ya kan? Apa makhluk di sebelahnya ini tak mengerti tata karma rawat inap di rumah sakit?

Jutaan gerutuan mulai terbentuk di hati Chaeyoung. Sejak tadi gadis yang memang berniat ingin tidur siang itu sudah mengambil posisi berbaring dengan membelakangi Eunwoo. Namun entah Eunwoo yang dungu tak bisa mengartikan gestur atau apa, lelaki surai hitam itu kerap kali memanggil nama Chaeyoung, layaknya seekor anjing yang melingkar di sekitar kaki sang tuan dan menggonggong kecil, mengajak bermain.

“Son Chaeyoung! Chaeyoung-ah!”

Cukup sudah. Kesabaran Chaeyoung sudah mulai menipis. Demi bubur putih tawar yang memuakkan itu, ingin rasanya Chaeyoung menyumpal mulut Eunwoo dengan tisu toilet agar ia diam. Baiklah, ia tahu mungkin Eunwoo bosan, tapi apa perlu sampai harus mengganggu orang lain? Dan lagi, apa katanya barusan? Chaeyoung-AH? Heol. Ini bahkan belum dua hari lewat sejak pertemuan pertama mereka, dan lelaki itu sudah berani memanggilnya dengan panggilan informal?

Chaeyoung membalik tubuhnya. Kali ini ia berbaring dengan menghadap Eunwoo. Eunwoo yang sedang manis dengan kaki bersila di tempat tidurnya pun mengukir senyum.

“Puas?!” tanya Chaeyoung kesal.

Gomawoyo, Chaeyoung-ssi,” balas Eunwoo.

Tadinya Chaeyoung ingin mencak-mencak, tetapi senyuman manis yang dilontarkan Eunwoo padanya membuat gadis surai pendek itu mengurungkan niat. Kata-kata pedas yang ingin ia muntahkan pada akhirnya hanya tertahan begitu saja, sebelum ia telan kembali.

“Ada apa?” tanya Chaeyoung akhirnya. Meski raut wajahnya masih kesal, tetapi nada jengkelnya sudah menghilang.

Sinar mata Eunwoo terlihat berbinar-binar. “Kau pernah tahu rasanya kabur dari rumah sakit?”

Manik gadis itu membola sejenak seraya kepalanya menggeleng. Apa yang hendak ia bicarakan? Jangan bilang ia –

“Kau mau ikut aku kabur?”

“NE?” Chaeyoung terkejut, sampai tak sadar ia setengah berteriak.

“Tak perlu terkejut seperti itu.” Anehnya, Eunwoo masih duduk manis dengan senyum tenangnya yang terukir, membuat besar hasrat Chaeyoung untuk menjitak kepalanya. “Sekedar informasi, aku adalah ahli dalam urusan kabur dari rumah sakit.”

Meski berusaha untuk tak tertarik, nyatanya Chaeyoung sekarang duduk dengan kaki bersila, mengharapkan lelaki itu melanjutkan kata-katanya.

“Sejak aku divonis menderita gagal ginjal saat usia lima tahun, sebagian besar hari-hariku dihabiskan di rumah sakit. Hidupku penuh dengan pantangan. Tidak boleh makan ini, tidak boleh minum itu. Tidak diizinkan untuk mencicipi kudapan yang terlihat lezat sebab itu ternyata tak baik untuk kesehatanku.” Eunwoo menyunggingkan sebuah senyum getir. “Bahkan untuk berlari-lari pun aku tidak boleh. Aku tidak boleh sampai terlalu lelah, atau kesadaranku akan hilang. Bayangkan rasa frustrasinya seorang anak lelaki tujuh tahun yang tidak diizinkan main sepak bola dengan teman-temannya.”

Untuk beberapa saat lamanya Chaeyoung tertegun, tak menyangka cerita seperti itu bisa mengalir dari mulut seorang Cha Eunwoo. Dan tanpa ia sadari, rasa ketertarikannya pada pasien sebelah tempat tidurnya itu makin besar.

“Memasuki kelas lima sekolah dasar, aku sudah tidak diizinkan masuk sekolah. Aku diharuskan banyak istirahat di rumah dan menjalani home schooling. Memang pada awalnya teman-temanku sering membesukku di rumah, tetapi perlahan mereka menghilang. Ya, aku bisa berbuat apa? Lagipula mereka pasti punya kesibukan sendiri daripada sekedar mengunjungiku setiap hari. Itu yang selalu kukatakan pada diri sendiri apabila rasa kesepian menyerangku.”

“Memasuki usia masuk sekolah menengah, aku harus menjalani perawatan intensif. Rumah sakit adalah tempat tinggal kedua bagiku. Bahkan sudah sering aku menjalani rawat inap selama seminggu di rumah sakit, lalu pulang ke rumah untuk tiga hari, lalu kembali lagi ke rumah sakit. Begitulah keadaanku sekarang,” ujar Eunwoo mengakhiri kisahnya.

Chaeyoung memeluk bantalnya erat, dengan benak yang bingung apa yang harus ia berikan sebagai respon. “Tetapi kau tetap terlihat bahagia,” ujar gadis itu akhirnya.

“Tentu saja! Mengapa harus bersedih? Lagipula, banyak hal menarik yang bisa kau temukan di rumah sakit, kau tahu?”

Jujur, Chaeyoung tidak mengerti akan jalan pikiran Cha Eunwoo. Sewajarnya orang yang diharuskan menjalani hidup di rumah sakit memiliki ekspresi yang muram, menyalahkan keadaan, bersungut-sungut, dan melewati hari demi hari dengan berat. Apalagi dengan divonis penyakit yang – menurut Chaeyoung – amat parah seperti itu. Tetapi kelihatannya Eunwoo berbeda. Chaeyoung bisa mengambil kesimpulan bahwa Eunwoo adalah tipikal orang yang selalu bisa melihat sisi positif dari segala yang terjadi. Eunwoo tidak terlihat mengeluh. Ia bahkan menikmati kehidupannya.

Satu hal lagi yang mengganjal di hati Chaeyoung. Lihatlah bagaimana gembiranya pasien di sebelahnya itu, sementara ia yang rasanya hampir setiap saat mengeluh jenuh dan ingin pulang. Perbedaan kontras itu bagai menegurnya telak.

“Chaeyoung-ssi,” panggil Eunwoo. “Kelihatannya kau juga punya cerita menarik. Keberatan apabila menceritakannya padaku?”

Cerita menarik apanya … batin Chaeyoung. Satu-satunya alasan ia terbaring di sini hanyalah karena sebuah penyakit ringan – bila dibandingkan dengan Eunwoo – yaitu tifus. Ini baru hari keempatnya menginap dan tak ada satu hal pun yang berhasil mengesankan hatinya. Apa yang bisa ia ceritakan?

“Tak ada yang istimewa,” Chaeyoung memulai kisahnya setelah sebelumnya berdeham beberapa saat. “Aku hanya kemari karena tifus. Kau tahulah, jajan sembarangan. Lalu ini hari ketigaku di sini dan aku – “

Chaeyoung menghentikan kata-katanya begitu menyadari suatu hal. Eunwoo menatapnya dengan penuh seksama. Manik pria itu seakan berbinar-binar saat mendengar ceritanya. Begitu kedua iris mereka bertemu, Chaeyoung dapat merasakan pipinya yang memanas.

“Jangan menatapku seperti itu,” ucap Chaeyoung salah tingkah. Ia memainkan buku jarinya, gugup.

Eunwoo malah tertawa kecil. “Loh, mengapa? Kau ini gadis menarik serta kisahmu juga menarik. Jadi apakah salah kalau aku menatapmu layaknya tadi?”

“Lupakan.” Kata-kata yang sudah Chaeyoung susun untuk melanjutkan cerita pun menguap entah kemana. Dengan alasan mengantuk, Chaeyoung berbalik membelakangi Eunwoo dan berbaring. Lebih baik ia menatap dinding sampai kantuk menjemput daripada harus panas-dingin menghadapi tatapan lelaki itu.

Tarik napas … Keluarkan … Tarik napas … Keluarkan …

Chaeyoung sedang sekuat tenaga meredakan jantungnya yang mendadak berdegup dengan tidak normal; dua kali lebih cepat dan lebih keras hingga ia takut Eunwoo dapat mendengarnya.

“Chaeyoung-ssi.”

Chaeyoung meringis pelan. Apa lagi sekarang?!

“Hmm?”

“Mau menemaniku kabur nanti malam?”

Ya Tuhan, ajakan tak masuk akal apa lagi kali ini? Mengapa sepertinya lelaki itu sangat ingin kabur dari rumah sakit? Bukan, lebih tepatnya mengapa sepertinya lelaki itu sangat ingin mengajaknya kabur dari rumah sakit?

“Lihat nanti saja.”

***

Rumah sakit sudah sepi. Hening menyelimuti. Yah, sebenarnya keadaan rumah sakit memang selalu sepi dan hening. Hanya saja di siang hari masih banyak insan yang lalu-lalang sepanjang koridor dan suaranya bisa sampai ke kamar rawat Chaeyoung. Tetapi di malam hari kesibukan sudah menurun, sehingga keheningan yang tercipta benar-benar terasa.

Dan sekarang Chaeyoung bosan. Akibat terlalu banyak tidur saat siang tadi membuatnya sekarang terjaga. Ia sama sekali tak merasa mengantuk. Baik mata maupun raganya benar-benar terasa segar. Chaeyoung memang bosan, tetapi ia tak tega membangunkan ibunya yang tertidur di kursi penunggu dengan posisi tegak. Ibunya pasti amat lelah, dan Chaeyoung ingin memberi beliau waktu istirahat. Gadis itu sudah mencoba menyiasati dengan menonton televisi dengan volume suara mendekati nol, tetapi jenis siaran yang muncul di tengah malam seperti ini hanyalah film action berdarah-darah penuh pertarungan yang sama sekali tak Chaeyoung suka.

Di tengah kebosanan yang mulai menggerogoti hati Chaeyoung, tiba-tiba rungu sang gadis menangkap suara berderik dari pintu depan. Seketika Chaeyoung terduduk. Pendengarannya ia tajamkan, seraya dalam hati selaksa doa ia panjatkan. Ya Tuhan, jangan sampai Chaeyoung bertemu dengan makhluk halus di sini.

Masih dengan diliputi perasaan takut, tirai rumah sakit yang ada di hadapannya tahu-tahu terbuka. Hampir saja Chaeyoung berteriak ketakutan kalau saja maniknya tak menyadari siapa yang datang. Cha Eunwoo, dengan sebuah kursi roda.

“Kau sedang apa?” tanya Chaeyoung dalam bisikan.

Eunwoo masih dengan senyuman manis khasnya. “Kau harus menepati janjimu tadi siang, nona Son.” Lalu ia menepuk kursi roda yang ia bawa. “Ayo, naik.”

“Kemana?”

“Kabur.”

Ck. Chaeyoung mencibir. Orang gila, umpatnya dalam hati. Mau kabur kemana? Memangnya keluar dari rumah sakit itu semudah adegan-adegan dalam drama?

Tetapi kelihatannya Eunwoo belum mau menyerah. Ia masih berdiri di sana, masih dengan senyuman yang sama, masih dengan tatapan mengajak yang sama. Perlahan-lahan, pendirian Chaeyoung pun goyah. Mulai diliriknya sang ibu yang sedang terlelap. Benaknya mulai mempertimbangkan berbagai kemungkinan.

Rasanya tak salah kalau mencoba.

Akhirnya, dengan sangat perlahan agar tak menimbulkan suara Chaeyoung pun turun dari tempat tidurnya dan duduk di kursi roda yang dibawakan Eunwoo.

“Tetapi dengan satu syarat,” ucap Chaeyoung.

“Apa?”

“Kembalilah secepatnya sebelum ibuku terbangun.”

***

Kekhawatiran Chaeyoung berangsur hilang begitu menyadari bahwa sejak tadi Eunwoo membawanya ke tempat-tempat yang terbilang umum, seperti ruang tunggu, melewati meja para suster jaga, melewati deretan mini market yang ada di rumah sakit. Dengan kata lain, sepertinya tak ada sama sekali konsep kabur yang dimaksud Eunwoo.

Tempat terakhir kemana Eunwoo membawanya adalah ke taman di bagian atap rumah sakit. Begitu mereka sampai, udara dingin yang menusuk menyambut mereka. Chaeyoung seketika bergidik dan memeluk diri, sebelum akhirnya Eunwoo melepas mantel yang ia kenakan dan menyampirkannya pada pundak sang gadis.

Chaeyoung yang agak terkejut dengan tindakan Eunwoo melemparkan tatapan heran, membuat Eunwoo sedikit salah tingkah.

“Tak perlu menatapku seperti itu.”

“Bukan itu,” balas Chaeyoung. “Ada apa denganmu? Mengapa tiba-tiba membawaku kemari? Mengapa kita, oh maksudku kau tidak jadi kabur?”

“Untuk apa kabur selama kau masih di sini?”

Ne?” Manik Chaeyoung membola untuk kesekian kalinya.

“Son Chaeyoung … “ Eunwoo memanggil namanya lembut. “Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu di sini. Kau tahu? Kau adalah gadis pertama yang berhasil mengubah duniaku. Kau gadis yang menarik dan menyenangkan. Aku senang bisa berkenalan denganmu.”

Sungguh ada yang aneh dengan Eunwoo malam ini. Chaeyoung tahu benar itu, tetapi tidak ingin mempermasalahkan. Meskipun sebenarnya jantungnya sudah mulai tak karuan, tetapi Chaeyoung berusaha mengabaikan. Pandangannya ia fokuskan pada sosok di hadapannya, yang masih menatapnya dalam, dibalik wajahnya yang mulai memucat.

Eunwoo maju satu langkah ke depan, mengikis jaraknya dengan gadis Son itu, lalu mendekatkan wajah dan menempelkan bibirnya dengan lembut pada kening Chaeyoung. Sementara Eunwoo memejamkan mata, mata Chaeyoung terbelalak.

Dan jangan lupakan rasa bergejolak di dadanya yang membuatnya ingin meledak sekarang.

***

Esoknya, Chaeyoung terbangun begitu merasa goncangan keras pada tubuhnya. Rupanya itu adalah tindakan sang ibu. Chaeyoung menyipitkan mata sejenak, sembari frasa rutukan kembali terbentuk di hatinya.

Ya Tuhan, apakah dalam status sakitnya pun ia harus tetap bangun pagi-pagi buta?

“Ada apa, Ma?” tanya Chaeyoung masih dalam keadaan setengah sadar.

“Kau tahu anak laki-laki yang selama ini menjadi pasien di sebelahmu?”

“Hmm. Lalu?”

“Dia meninggal subuh tadi.”

WHAT?!

Empat frasa yang diucapkan ibunya mampu mengembalikan seluruh kesadaran Chaeyoung, bahkan dapat membuatnya langsung terduduk. Chaeyoung mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna perkataan ibunya. Tidak, tidak mungkin. Ia pasti salah dengar.

Tangannya terulur berusaha menyibak tirai tempat tidur sebelah. Kosong, tanpa ada jejak satu pasien pun. Tempat tidurnya bahkan sudah dirapikan, siap untuk ditempati pasien baru.

Chaeyoung menutupi mulutnya dengan tangan, menahan gelombang kesedihan yang mencoba memporakporandakan hatinya. Ia tak percaya akan berita yang baru saja ia dengar. Tepatnya tidak mau percaya.

“Tidak mungkin kan, Ma? Huh?” Chaeyoung menatap sang ibu sendu, berharap ini hanyalah sebuah lelucon. “Eunwoo hanya pindah kamar, kan?”

Sayangnya tidak.

“Katanya tengah malam kemarin keadaanya mendadak kritis dan langsung dibawa ke ruang ICU. Sejak itu ia di sana sampai sekitar jam tiga pagi, lalu … pergi.”

Tengah malam?

Tunggu sebentar.

Bukankah tengah malam itu Eunwoo sedang bersamanya di taman rumah sakit? Beserta dengan angin malam yang amat dingin yang mengibarkan rambutnya, bukankah itu Eunwoo? Bukankah tengah malam itu Eunwoo mengecup keningnya lembut?

Atau … itu semua hanya mimpi?

Tetapi mengapa terasa sangat nyata?

Chaeyoung menyentuh dahinya perlahan, seraya tetes demi tetes air matanya mengalir.

Bila itu semua hanya mimpi, tolong katakan bahwa ini juga merupakan bagian dari mimpi, dan bangunkan ia sekarang. Chaeyoung yakin ketika ia bangun, semuanya akan kembali normal dengan Eunwoo yang masih tertidur lelap di sebelah tempat tidurnya. Ya, pasti.

Namun ketika Chaeyoung mencubit lengannya sendiri, rasa sakit langsung menjalar.

Ini bukanlah mimpi.

Dan itu membuat hatinya tambah hancur. Isakannya makin kuat.

Tepat saat itu sebuah kartu pos jatuh dari sela-sela selimutnya. Chaeyoung turun sejenak dari tempat tidur untuk mengambil lembaran kartu tersebut, membolak-baliknya sebentar mempertanyakan asal-usul benda itu, lalu mulai membaca.

                Aku akan pergi untuk beberapa saat. Aku tidak tahu kapan aku akan kembali, tetapi suatu hari nanti aku berharap kita akan bertemu lagi, walau di keabadian sekalipun. Sampai saat itu tiba, aku harap kau tidak melupakanku.

~E.W Cha~

 

Meski hanya berupa sebuah inisial, Chaeyoung tahu jelas siapa pengirim kartu pos tersebut, dan itu membuat tangisannya makin pecah. Diremasnya bantal erat-erat, berusaha mengusir rasa sedih dan rasa kehilangan yang hebat yang menguasai hatinya. Menatap tempat tidur sebelah yang kosong menimbulkan rasa sesak dan pilu makin mendalam di hati Chaeyoung, dan tangisan gadis itu tak berhenti.

Kehidupannya meski sedikit tetapi berubah sejak bertemu Eunwoo. Eunwoo yang punya segudang cerita menarik, Eunwoo yang selalu berpikir positif, Eunwoo yang selalu menyunggingkan senyum manis, Eunwoo yang kadang menyebalkan tetapi lebih sering menyenangkan.

Dan sekarang sosok seperti itu harus pergi. Untuk selamanya.

Chaeyoung terdiam. Rasa pilu di hatinya berangsur hilang, tetapi digantikan dengan rasa baru lagi, yaitu kosong. Dan rindu.

Saat itulah Chaeyoung baru menyadari satu hal.

Ia jatuh cinta pada Cha Eunwoo.

-fin-

Advertisements

7 thoughts on “[Oneshot] The One Beside Me

  1. OMO GECEYAAAAAAAAAA!
    Kenapa kamu tega banget sama aku???? Ihh sumpah aku udh berkaca2 loh pas mamanya chaeng bilang eunu meninggal. eh gataunya yang ngajak chaeng keliling2 tengah malem tuh arwahnya???? Omaigattt mewek ini aku mewekkkkk. Sumpah ini FF Sad chaengwoo yang pertama dan kamu sukses membawakannya T^T
    padahal cuma oneshot tapi ngena cee ngenaa huhu
    makasih banget ya gece sayang udh bikinin FF Chaengwoo ❤
    maap juga telat bacanya huhu

    Like

    • waahahhaha sampai direblog 😀 makasih kak tyav sebelumnya sudah mampir loh.. tbh aku selama ini menunggu kak tyav mampir sebenarnya hahahaha menunggu respon kak tyav tepatnya
      hihihi.. jeongmal mianhaeyo kaaakkk… nggak tau waktu itu kepikiran bikin ff chaengwoo dengan latar belakang RS dan sad end ahahahaha aku ga nyangka loh ini membuat kaktyav sampai terharu gitu… hehehehe
      dan yesh, agak susah nyari ff chaengwoo yang sad… dan terima kasih untuk pujiannya kak tyav… saranghaeeee
      *salam chaengwoo shipper*

      Like

  2. HUWAAAAAAAAAAAAA

    kak ini apaa?? jelaskan ini apaa?? kenapa….kenapa…..ah sudahlah……
    kenapa eunwoo harus pergi? :” dan kenapa chaeyoung harus menyadari perasaannya saat eunwoo udah ga ada?

    oke fix kak tanggung jawab pokoknya hidupin lagi eunwoo terus mereka pacaran pokoknya ga mau tau!! /dikeplak/

    NICE STORY KAK GECEEEEEEEE ILY! ❤

    Like

How does it taste?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s